Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menjalani hidup dengan cara yang salah


Bibi aku nambah lagi” kataku seperti orang tidak makan satu bulan, Papi terdiam melihatku.


Perut harus di isi juga, melihat tatapan kak Eva yang melihatku seperti mangsa yang siap ditelan, aku harus makan banyak, agar siap menjawab pertanyaan mereka.


Aku nambah dua kali, sedangkan Papi dalam piringnya belum juga habis, aku sudah selesai.


Berniat ingin naik ke kamar ku mau mandi, badanku mulai terasa sangat bau, dari jarak dua meter masih terasa menyengat.


Aku yakin mereka semua Bingung melihatku, tapi aku tidak perduli, lapar makan, mengantuk tidur, ingin mendapat hiburan tinggal pergi keluar cari hiburan, itu caraku menikmati hidup untuk saat ini.


Merasa sudah kenyang, aku berdiri ingin mandi, karena antara gatal dan rasa lapar sama-masa menyiksa, tapi aku memilih makan dulu yang pertama agar kuat menghadapi pertanyaan mereka semua, melihat tatapan menyelidiki semua keluargaku, aku merasa seperti aku dikepung oleh mereka semua.


“Kamu mau kemana Tan?


Kamu pikir hanya begitu saja, datang, makan, lalu tidur?”


“Aku mau mandi dulu.”


“Setidaknya kamu jelaskan, kamu dari mana saja, kemana mobil kamu, terus uang yang tiga pulu juta untuk apa?


kamu harus jelaskan


kami sudah menunggu dari tadi, masa kamu menyuruh kami menunggumu jug” mata Kak Eva menatap tajam ke arahku.


“Iya, aku mandi dulu,”


“Tapi”-


“Sudah jangan di paksa, di bilang Lae, ia mau mandi dulu.”


Suami kak Eva menghentikannya.


Aku naik keatas dengan sikap biasa seakan tidak terjadi apa-apa, kalau biasanya aku sangat menghormati mereka, tapi aku kali ini merasa sangat berubah


“Kenapa sih Pa?”


Aku berdiri di depan tangga mendengar kak Eva merepet dengan kesal.


“Ma, ia habis dari Bar, dengan penampilan seperti itu tidak pulang berhari-hari, mama tidak bisa menebaknya?”


kata lae dengan suara pelan.


“Apa? maksudmu papa ia habis makai barang setan itu?”


“ Sttt pelan kan suaramu, Iya,” kata Laeku, dari penuturan lae aku bisa tahu, ia banyak tau tentang keadaanku saat ini.


“Iya Tuhan, ia telah merusak dirinya, ini menyebalkan, ia sangat berubah setelah Netta pergi


Ini bisa membuatku jadi gila, pertama Arnita, terus Jonathan, kedua orang ini membuatku kesal, mereka berdua sudah gila,”


kata Eva menutup wajahnya tidak percaya, aku melihat Papi membatu dengan pandangan kosong, tapi aku tidak bisa tau reaksi wajah Mami.


Aku tidak perduli, walau wajah Mami cemberut sekalipun.


Beberapa menit selesai mandi, untung otakku masih bisa diajak berpikir, aku turun menepati janjiku untuk bicara dengan keluargaku.


Saat turun aku sudah ditunggu di ruang tamu, aku duduk didekat Papi.


“Sekarang katakan apa yang terjadi, desak kak Eva dengan sikap tidak tenang, terlihat sangat kecewa.


“Kakak mau dengar yang mana?” tanyaku santai, aneh, aku sudah melakukan banyak kesalahan seperti itu, tapi aku tidak sedikitpun merasa bersalah.


“Semuanya Jonathan, iya ampun…!


Kamu dari mana saja selama empat hari, ada apa?kenapa?” wajah kak Eva menegang menahan marah.


“Memang kamu masih anak kecil Tan, kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan kamu?” Tanya kak Eva.


“Iya aku tidak tahu apa selanjutnya, dompet ponsel mobil semua hilang,” kataku, Mami menatapku dengan wajah panik, ia sudah menghitung semua kerugian, dalam benaknya mungkin Mami sudah menjumlahkan kerugian sama yang di Bandung.


“Gila, terus kamu begitu saja tidak melakukan apa-apa?”


Mata itu menatapku dengan tajam .


Mami, Papi dan suami kak Eva hanya diam, hanya diam jadi pendengar yang baik.


“Terus aku harus bagaimana?” Aku juga menatapnya balik tidak kalah tajam


“Kamu kehilangan semua, apa kamu ingin menghancurkan keluarga ini, apa kamu harus seperti ini?”


“Seperti apa?”


“Kamu sangat berubah sekarang, ini sejak Netta pergi kata kak Eva, menyebut nama Netta lagi membuatku marah, aku bersusah payah melupakan nama itu dari pikiranku, tapi kak Eva dengan seenaknya mengungkitnya lagi.


“Kakak kenapa bawa-bawa nama dia lagi?,” kataku kesal.


“Iya kan, sejak ia pergi hidup kamu rusak Tan, kamu seakan menghukum dirimu sendiri, kamu melakukan hal-hal yang merusak dirimu sendiri,” kata Kak Eva.


“Sudah, Ma jangan didesak terus, biarkan lae ini tidur,” suami kak Eva menghentikan, ia tahu kalau aku sudah mulai marah.


Saat ini Kak Eva sudah tinggal di rumah Mami lagi, saat Arnita tidak ada lagi, Papi membujuk kak Eva untuk tinggal lagi di rumah, takut Mami dan papi kesepian, bahkan saat itu, kedua orang tua itu saling diam-diaman sejak pembakaran harta berharga milik Mami.


Tas mewah dan di sepatu dengan harga selangit, Aku bisa lihat mereka duduk diam-diaman.


“Jangan ungkit-ungkit dia lagi, aku tidak suka, kakak itu terlalu bawel, malas kembali ke rumah ini, lebih baik aku tidak pulang ke rumah.”


Berdiri meninggalkan mereka, melihat kunci mobil Papi di atas meja, mengambilnya dan pergi.


“Tan, kamu mau kemana, mobil papi mau kamu hilangin lagi?” teriak kak Eva.


“Pinjam.”


Papi lagi-lagi hanya diam, melihatku yang semakin hari semakin rusak,


sebelum aku melajukan mobil keluar, aku melihat Papi sekilas, beliau memijat keningnya melihat kelakuanku, aku yakin Papi sangat stres melihat kelakuanku yang semakin menyusahkan.


Tapi Papi menahan diri ia hanya diam.


Melajukan Mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa tujuan lagi, aku tidak tahu harus kemana lagi, tidak punya pekerjaan, semua barang pribadi dan identitas ku hilang, sekarang tidak tahu lagi mau ngapa-ngapain, ponsel tidak punya, keluar dari rumah terus mau ngapain? keluyuran seperti seperti orang bodoh.


Saat melewati jalan aku melihat ada tempat penjualan mobil, kebetulan teman yang punya, terpaksa aku gadaikan mobil Papi, karena aku tidak punya uang pegangan.


Lumayan walau cuma kasih pinjam 20 juta, yang penting aku beli ponsel dulu.


Sekarang ponsel sudah ada di tangan, aku main ke rumah teman, teman waktu kuliah


ternyata mereka di apartemennya lagi main kartu, tapi pakai taruhan uang, aku pikir kalau aku menang bisa dapat uang tambahan.


Bukannya menang aku malah hancur, aku tidak terlalu fokus, hanya jadi pengalih perhatian supaya beban di pikiranku berkurang.


Aku tidak begitu memikirkan persoalan uang, aku hanya anggap sebagai hiburan,


berharap beban ini berkurang, masalah uang masih banyak uang Mami, seolah olah aku membalaskan dendam.


Ternyata aku kalah, ponsel yang baru aku beli kini jadi taruhan


Hancur mulai hidup ini.


Bersambung....