
Besok harinya keluarga kami masih ramai di rumah oppung, dan di rumah ibu mertua, tadinya aku pikir Tivani tidak akan mau tidur di lantai beralaskan tikar, ternyata ia mau, Netta selalu mengajarinya banyak hal, termasuk adat dan tradisi di keluarga kami.
Sehari setelah pesta, kami semua masih suasana gembira, seperti biasa kalau keluarga mengumpul pasti makan-makan besar , makanan khas Batak, karena beberapa hari ini bosan makan daging, jadi siang itu kita bakar- bakar ikan.
Pulang kampung kali ini paling berkesan, karena kolam ikan inang mertua sudah bisa di panen, jadi ikan kali ini hasil nangkap dari kolam ikan, Candra paling pertama yang masuk ke kolam ikan berlumpur, Riko penasaran ia juga masuk.
Kalian bisa bayangkan anak-anak kota seperti Tivani , Kak Eva masuk ke dalam lumpur hebohnya sudah seperti orang yang sedang nonton sirkus.
Tivani teriak-teriak saat ia terjebak di dalam lumpur, Kak Eva sudah tahu badannya segede induk gajah masuk ke dalam lumpur dan terjebak, kakinya tidak bisa gerakkan, mami tertawa ngakak melihat wajah tubuh Kak Eva berlumuran lumpur saat ia terjatuh.
“Pah … tarik donk”
“Aku mengendong Jeny, bagaimana mu tarik kamu, merangkak saja lalu naik,” ujar suaminya.
Tawa keras dan teriakan dari mereka mengundang perhatian orang -orang yang lewat, karena kolam ikan tersebut, di pinggir jalan, aku hanya berdiri di sisi kolam.
“Bapak Paima, ayo masuk …! Tangkap ikan masnya biar kita masak,” teriak tante Ros, tapi melihat lumpurnya yang setinggi lutut membuatku malas.
“Sudah kuras saja kolamnya, bagi-bagikan saja sebagian sama tetangga biar papi nanti yang bayar sama inang Tika,” ujar papi.
Hartika Lora Lumbanraja anak pertama Lae Saut, karena itu Lae dipanggil bapa Tika, jadi inang mertua sudah punya cucu pertama.
Tadinya, ikan emas dari kolam itu di tangkap pakai jaring dan dipancing, tetapi karena banyak tetangga yang ikut melihat kehebohan keluarga kami, papi meminta kolam ikannya di panen sekalian.
“Ayo-ayo anak-anak muda!Parasian, Lamhot, Andreas, Gopal sini kuras airnya nanti amang boru kasih gaji.” bapa uda suami tante Ros memanggil adik-adik Netta, mendengar kata di gaji anak-anak remaja itu bersemangat.
Pakaian Tivani penuh lumpur, tetapi itu tidak mengurangi antusiasnya untuk ikut menangkap ikan di kolam yang sudah di kuras tersebut, kak Eva, Tante Ros ikut-ikutan dan beberapa maktua dan keluarga yang lain ikut turun ke kolam, jadilah kolam itu kolam manusia.
Mami tertawa sampai terkancing celana saat melihat mereka berebut di dalam kolam.
“Lihat mami kamu, tertawa sampai ngompol,” ujar papi padaku.
Aku sama Netta hanya tertawa, kami berdua bagian merekam, ini momen hari yang paling seru dalam keluarga kami, setelah di tante memisahkan sebagian untuk kami, inang mertua datang bawa plastik lalu ia membagi-bagikan ikan mas dari kolam ikannya untuk tetangga. Raut wajahnya terlihat tulus, walau tetangga yang sering mengosipi dan membencinya ikut berdiri ia ikut membaginya. Berbeda sama tante dan mami.
“Gak usah di kasih sama si kurang ajar itu, sekarang di lihat matanya, kalau keluarga itoku, bukan keluarga yang melarat seperti yang diucapkan mulutnya itu”
“Uda Mi, gak enak nanti dengar”
“Memang dari dulunya keluarga ini selalu anggap sepele sama kita, saat oppungmu juga hidup dia sering hina,” ujar tante Ros ikut geram.
Mungkin tetangga di kampung itu sudah tabiat seperti itu, selalu syirik dan dengki sama tetangga yang lebih dari mereka, begitu juga dengan tetangga inang mertuaku.
“Sudah Tante, lihat inang mertua, tidak dendam”
“Ya, biarkan saja Bou, biar dia dapat balasan dari Tuhan”
“Ya, tapi nanti bou perlu bicara dulu sama mereka, biar tidak kebiasaan,” ujar tante Ros.
“Ya, Ros, cuci kakimu biar kita bicaralah dulu sama mereka”
Jadi mereka berdua marah , karena tetangga inang mertua, beberapa kali menghina adik-adik Netta.
Melihat mereka pergi ke rumah tetangga sirik tersebut aku diam saja, urusan mamalah itu kalau mereka mau jambak-jambakan.
Walau aku sama Netta sudah melarang, tetapi merek berdua tetap pergi, mungkin ada baiknya mereka bicara agar tidak kebiasaan menghina lagi.
*
Durian samosir rasanya memang sangat khas , enak dan gurih tidak semua orang suka makan durian. Tivani dan Candra bahkan ingin muntah saat mencium aroma durian, tetapi aku dan Netta memang jago makan buah berduri tersebut.
Ini pertama kalinya untuk kami ikut ke kebun, Inang mertua punya kopi samosir.
“Bapak paima, coba panen kopi biar kita olah enak mana sama kopi Sidikkalang, nanti kita kasi lihat sama bapa uda”
“Biji kopi dari samosir lebih enak Bang, aromanya lebih enak, coba ini olah Bang”
“Ya, kopi Samosir lebih harum,” ujar mami.
Anak kota datang ke ladang jadinya seperti itu, Kak Eva gatal-gatal terkena ulat bulu dari daun-daunan, Tivani seluruh tangan dan kakinya bentol-bentol di gigit nyamuk kebun yang besar-besar, mami dan tante Ros serasa bernostalgia, kebun yang kami datangi . Kebun yang mereka kerjakan saat masih mudah.
“Dulu kakak pernah jatuh dari pohon itu,” ujar tante menunjuk pohon jengkol yang sudah sangat tua.
Mami langsung tertawa ngakak.
“Itu gara-gara anak muda tampan yang aku sukai dulu”
Mereka berdua seperti dua sahabat yang saling berbagi cerita, mami setelah tua dan setelah tobat, ia tidak punya banyak dekat lagi, belakangan ini hanya tante Ros sahabat dekatnya satu-satunya. Senang melihat mereka berdua akrap.
Kami berharap tante Candra kembarannya akrap juga sama tante, aku yakin jika orang tuanya akur kakak beradik anak-anak mereka juga akan akur.
Beruntung bapa uda sama papi sangat akrap karena mereka sudah bersahabat dari muda.
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terima kasih sudah baca karya saya,semoga kakak suka dan terhibur dengan karya saya,bantu komen dan kasih masukan di setiap bab ya.
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat