
Setelah Netta menutup pintu, aku pikir Netta akan memberiku kiss rindu, ternyata ....
Ia mengganti pakaiannya, memakai kebaya serba hitam.
‘Iya ampun Jonathan otak gadong ... latteung! masih sempat - sempat ya memikirkan hal itu' Aku memaki diriku sendiri.
Dug … dig.. dag …!
Lagi-lagi jantung berdendang lagi, suara jantungku semakin bertalu. ‘Apa yang di pikirkan Netta? Aku yang aneh …. Apa Netta yang lupa kalau dia meninggalkan surat untukku? '
“Tolong kancingin Bang kebayanya dari belakang,” ucap Netta.
Ia terlihat sangat cantik dengan kebaya berwarna hitam, dipadukan sarung berwarna hijau, hampir semua ibu- ibu di keluarga kami memakai kebaya hitam, karena pesta hari ini pesta meninggal jadi seragamnya hitam artinya berduka.
Tanganku meraih resleting kecil kebaya Netta, model kebayanya resleting belakang.
“Sudah …,” ucapku membersihkan putih-putih di kebaya Netta.
“Tunggu sebentar iya Bang, aku dandan dulu.” Netta mengeluarkan tas makeup-nya dari koper miliknya.
Aku sudah berpakaian rapi, duduk menonton Netta bersalon sendiri, ia menata rambut sendiri, kalau tadi ibu mertuaku tatanan rambutnya mirip sinden Jawa, kali ini anaknya lebih cantik, rambutnya di sanggul sedikit di belakang, mirip pramugari, dijepit menggunakan hiasan untuk mempercantik rambut, beberapa menit kemudian.
“Tolong jepit di sini bang,” pinta Netta menyuruh menjepitkan bros kecil di belakang.
“Kamu bisa salon juga Ta?” tanyaku penasaran, sepertinya, Netta punya banyak talenta.
Selain kemampuannya membuat hati orang berdebar-debar iya juga bisa membuat mata orang tidak berkedip melihatnya.
“Bagus gak bang?” tanya Netta melihatku dengan senyuman.
“Bagus bangat,” ucapku memuji, bukan hanya sekedar pujian, hasil salonnya memang cantik, natural dan sederhana tetapi manis, ia tidak menor. melihatnya sangat cantik, ingin rasanya aku mencubit pipinya.
“Diajarin teman waktu di Jerman, aku juga bantuin teman buka salon, jadi aku dapat ilmu,” kata Netta.
“Kamu sangat cantik, Ta,” aku memujinya.
Membalasnya dengan senyuman tipis ,tersenyum begitu ia terlihat seperti kelopak bunga mawar yang baru mekar di pagi hari, aku jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya pada Netta setelah kami menikah.
“Abang sudah?” tanya Netta memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tinggi.
“Sudah, ayo.”
Dalam rumah hanya kami berdua, semua orang sudah berkumpul di halaman rumah oppung.
“Ini… abang serapan dulu deh sedikit, nanti makan siangnya lama jam satu,” kata Netta menarik ku duduk di kursi, lalu menyodorkan piring berisi nasi goreng.
Tadinya belum lapar, tetapi karena ini Netta yang memberikannya aku memaksanya masuk kedalam lambungku.
“Kamu tidak Ta?
"Sudah tadi waktu abang mandi, aku makan sedikit," ucap Netta.
Karena bantuan air putih nasi goreng itu akhirnya habis juga.
Saat keluar dari rumah Netta lagi-lagi membuatku sport jantung, kali ini ia merapikan kancing kemejaku, sejak dari tadi aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya menurut dan diam. Netta merangkul tanganku sambil berjalan
‘Tuhan…!Ini bukan mimpi kan .… Seseorang! kalau ini hanya mimpi tolong jangan bangunkan aku ….!’ teriakku dalam hati, jika ada yang menganggap ku lebay saat itu, hal itu memang benar, aku baper, aku lebay, aku kegirangan, semua itu terjadi karena ada Netta bersamaku.
Masih sulit dipercaya yang terjadi mulai saat aku datang, banyak kejadian yang membuatku seperti hidup dalam dunia mimpi..
Setelah kesepakatan Raja parhata dan semua keluarga besar, oppung kami di gondangi karena ia sudah saur matua 'Mauli Bulung' sudah punya cucu dan cicit.
Ada sebagian daerah dalam Batak jika anaknya meninggal, jika orang tuanya meninggal tidak boleh digondangi.
Tetapi ada uppasa Batak mengatakan :
Asing ladang asing do sihapurna
Asing Huta asing do adatna.
Arti pepatah Batak itu, setiap tempat beda adatnya.
Semua berjalan baik, jika ada kesepakatan keluarga dan raja adat.
Karena bapak Netta atau mertuaku sudah meninggal lima tahun yang lalu jadi tidak apa-apa untuk digondangi.
(Gondang adalah alat musik Batak)
(Masih acara dalam rumah) karena masih pagi.
Semua orang sudah mengambil posisi masing-masing, acara adat sudah di mulai ternyata, benar dugaanku semua mata menatap Netta, ia sangat cantik saat ini, aku ikut meliriknya, memastikan yang bergelayut di lenganku, benaran tangan Netta bukan mimpi.
Saat kami berdua berdiri di pinggir, di dekat pintu karena rumah Oppung tidak muat menampung semua keluarga, tiba-tiba ….
“Tuson kamu ( Kesini kalian )” Ibu mertuaku melambaikan tangannya.
Netta menarik kursi di tempat duduk khusus cucu oppung yang meninggal.
“Na lelenggan hamu nadua"(Lama bangat kalian berdua) kata mertua saat kami duduk.
Netta hanya membalas dengan senyuman untuk omelan ibu mertua.
BY copas hanya visual lambang ulaon saur matua.
*
Ulaon di alaman(acara di halaman)
Deretan acara berjalan
pegal rasanya kaki ini menari dari pagi hingga sore, tapi ada rasa senangnya juga, aku bisa manortor bersama Netta.
Semua acara sudah selesai, kini acara terakhir mengantar orang tua itu ke peristirahatan terakhir
hari sudah mulai gelap, saat peti kayu berwarna coklat itu digotong ke tempat pemakaman yang akan di makamkan di samping oppung doli suaminya dan di sana juga dimakamkan anak sulungnya tulangku yang baik hati, bapaknya Netta.
Saat petinya di turunkan dan sudah di tutup dengan tanah, tangisan kesedihan mewarnai pemakaman oppung, tapi saat aku menoleh kanan-kiri Netta tidak ada, ternyata ia berjongkok di batu Nisan bapaknya yang persis di deretan kuburan oppung, raut kesedihan terlihat jelas di wajahnya, aku tahu Netta sangat kehilangan sosok bapak yang sangat baik, semua juga tahu, kalau almarhum tulangku sangat sayang sama Netta, karena ia boru sasada di keluarga mereka.
(Boru sasada artinya anak perempuan satu-satunya di keluarga)
Aku juga mendekat dan berdiri si belakang Netta.
‘Aku datang tulang, maaf aku menyakiti perasaan Netta selama ini’ aku berucap dalam hati, semoga arwah Mertuaku mendengarnya.
Semua sudah bubar dari pemakaman oppung, tapi Netta enggan pulang dari makam bapaknya.
“Ta, ayo pulang nang,” bujuk ibu mertua melihat Netta menangis di kuburan tulang, ternyata tidak diduga Mami malah ikut menangis meraung-raung di kuburan bapak Netta, ia meminta maaf atas segala perbuatanya pada Netta.
Kini kuburan di kelilingi kami semua
“Bapa, nungga dokter si Netta bangga doho kan?( Bapa sudah jadi Dokter si Netta, bapak bangga kan?) ucap abang Netta yang paling besar, saat melihat Netta dan Mami menangis, ia dan istrinya balik badan dan ikut berjongkok di makam bapak mertuaku.
“Bereng ma boru hasian mon, amang ni gellengku! nungga hasea borum si sasadaon, dang lea be rohani akka jolmai mamereng au, di jungjung borumon do goarmu bapak ni saut ….!” Tangis nantulang ibu mertuaku di kuburan tulangku.
(Lihatlah anak perempuanmu ini, sudah berhasil dia, orang-orang tidak menyepelekan aku lagi pak…!)” Tangisan mertuaku mengundang air mata kami semua, Netta jadi kebanggaan keluarganya, kebanggaan kami semua.
“Sudah, sudah pulanglah kita, sudah malam masih ada acara di rumah” Tulang dari Bekasi mengajak kami semua meninggalkan pemakaman keluarga .
“Ini,” tanganku memberikan sapu tangan untuk Netta, matanya sembab karena menangis.
Setelah selesai acara pemakaman, sekarang acara keluarga, aku tahu akan ada keributan nanti, memang begitu biasanya, di sinilah nanti segala biaya dibacakan dan semua anak-anaknya membayar secara patungan.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)