Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Bercita-cita jadi polisi


Setelah Lae  merasa tenang, kami membujuknya nya kembali, aku melirik  ibu  mertuaku, aku salut sama mama Netta, walau edanya menuduhnya mencuri emas oppung, wanita tangguh ini hanya diam, ia tidak ingin ada keributan, ia  sangat banyak berubah setelah suaminya meninggal.


Beliau wanita tangguh sama halnya seperti Netta, tetapi entah kenapa hatiku merasa sedih saat melihatnya, aku tahu hatinya ingin berteriak marah atas tuduhan tanteku,  mungkin  inang  mertuaku sadar ia hanya seorang janda, Karena itulah abang Netta marah besar saat  mama mereka di  tuduh.


‘Sabar ya inang, suatu saat semua akan berubah, tidak akan ada lagi  keluarga yang menghina inang’ ucapku dalam hati.


Dalam mobil suasana hening, dari sekian banyak orang yang ada di mobil, tidak ada yang berani buka mulut.


Aku menoleh kaca ke belakang, raut wajah lae Saut masih menegang, istrinya atau inang bao itu, terlihat menenangkannya, Netta sibuk dengan ponselnya. Adik-adik Netta yang duduk di belakang terlihat diam .


(Inang bao >artinya istrinya Ipar)


‘Apa laeku ini semua takut ?’ Aku membatin.


“Dek nanti mau sepatu apa?” tanya Netta pada adik bungsunya memecah keheningan.


“Sepatu yang ada lampunya.”


Semua adik laki-laki Netta terlihat sangat takut dan patuh pada abang pertama mereka, karena lae Sautlah ganti bapak untuk mereka. Namun, sepertinya tidak untuk Netta, ia bercanda sama abangnya, membuat suasana jadi cair, lega rasanya jika suasana gembira dan bercengkrama seperti ini. Laeku ternyata orang yang menakutkan kalau marah.


Saat lagi asik bercerita, suasana juga sudah baik tiba-tiba Netta berkata ;


"Bang!"


"Ya."


"Di Jakarta saat ini apa pembukaan penerimaan polisi gak? tadi malam pengen aku kami bicarakan sama abang, tapi aku takut bou Candra mendengarnya, jadi kami tidak membahasnya."


"Buat Siapa?"


"Buat ito Rudi, aku ingat ada teman baik polisi kan?"


"Iya."


Netta menceritakan kalau laeku , cita-citanya ingin jadi seorang polisi sejak dulu, tetapi gagal terus karena tidak ada biaya dan tidak ada yang bekingan.


“Ito Rudi, sudah beberapa kali kalah ikut tes polisi, abang Nathan kan punya teman baik, seorang polisi tidak bisa dibantu bang?” kata Netta, tiba-tiba semua diam, mereka semua menatapku.


“Kalah berapa kali Lae?”


“Dua kali lae.”


"Makanya tadi pagi dia bilang ingin coba lagi ke Medan, aku bilang, kalau tidak ada orang dalam akan susah ujung-ujungnya pasti uang juga, coba tanyakan Pak Beny teman itu Bang."


“Gagal karena apa Lae?” Tanyaku penasaran.


“Tidak ada masalah, fisik semuanya bagus, karena aku tidak punya penyokong, tidak ada yang menjamin atau yang membawaku, taulah semuanya uang yang mengatur, temanku satu sekolahku bisa lolos karena ada orang dalam yang bawa, dan ada uang orang tuanya,” ujarnya.


 Rudi, badannya bagus, tinggi, tapi ia tidak mau meminta bantuan keluarga, ia berusaha sendiri maka itu ia kalah sampai dua kali karena tidak ada yang bawa.


“Sebentar aku tanya Beny, dia polisi  temanku di Jakarta."


Aku, tidak menggunakan earpone untuk menelepon Beny agar mereka semua bisa mendengar.


“Halo Bro apa kabar?” suara Beny di ujung telepon.


“Baik Bro, aku  menganggu, gak?”


“Kagak,  ada apa?”


“Gini adik ipar ku, adik Netta mau ikutan tes polisi, lagi ada penerimaan di Jakarta? "


“Adik ipar? Adik Netta …?”


“Iya.”


“Oh lu di kampung? apa kabar Netta? Netta sudah pulang dari Jerman?”


Karena posisi ponselnya aku speaker dan aku gantung didekat setir mobil, jadi apa yang aku bicarakan di dengar mereka semua, aku takut Beny mengungkit yang lain-lain di depan keluarganya, maka itu aku langsung potong pembicaraannya.


“Bro nanti kita bahas yang lain, kebetulan ini aku bersama keluarga Netta dan ipar ku.”


“Iya empat hari yang lalu di buka, tapi tidak tahu apa masih ada kuota, sebentar aku periksa dulu,” ucap Beny, kami menunggu dengan diam, terdengar Beny membuka komputernya dan mengetik sesuatu.


“Tolong usahain Bro, laeku tinggi, bagus badannya, tidak usah di ragukan bro, dia kalah sampai dua kali karena kurang dukungan uang taulah di kampung. " Aku mencoba menyakinkan Beny.


“Ini, aku sudah periksa pendaftarannya hari ini terakhir, kirim saja datanya nanti aku yang urus yang lainya, kebetulan masih ada kuotanya, gampang, aku yang bawa nanti,” ucap Beny santai.


Kamu semua terkejut kuota pendaftaran masih ada.


“Kamu yakin Bro? bisa di usahakan, Ni?”


“Yakin , kirim saja dulu datanya.”


Mobil itu tiba-tiba aku hentikan.


“Bisa.”


“Benarkah ….? Serius bang?”


“Bawa KTP gak lae, aku mau kirim dulu biar didaftarkan.”


Tiba-tiba semua orang riuh dalam mobil saling membantu, tadinya laeku mau mencoba ke Medan melalui jalur prestasi karena Netta tahu 'hepeng do mangatur sasudena'


(Uang yang mengatur segalanya) Kalau tidak ada uang dan dukungan orang dalam akan susah masuk polisi.


“Berkas-berkasnya juga aku bawa Lae, aku mau Foto kopi untuk kubawa ke Medan tadinya."


“Ta, Bantu foto semua berkasnya, kalau penting foto lae ini sebagai buktinya," pinta ku buru-buru.


“Bagusnya kalau di Foto pakai kemeja, ito Rudi tidak pakai kemeja,” kata Netta ikut  kerepotan.


“Ini, ini punya abang saja,” kata Lae Saut, ia membuka kemejanya .


Di tengah jalan, kami terpaksa berhenti, Netta sibuk mengambil foto Lae Rudi, ia juga  memfoto berkasnya dan memfoto orangnya.


Keluarga Netta sangat kompak saling bekerja sama, terlihat jelas raut wajah bahagia di wajah lae ku, terlebih ibu mertuaku, saat ini beliau memilih keluar dari mobil dan duduk di rumput tidak ingin menganggu.


Kami sibuk mengirim berkas-berkas Rudi, ibu Mertua keluar dari mobil yang sempit itu dan duduk dipinggir jalan, wajahnya terlihat sedih dan sesekali menyeka  air mata sudut matanya, tatapannya kosong, mungkin ibu mertuaku merindukan suaminya.


Saat Netta sibuk mengambil  foto aku mengambil  air mineral dari samping jok mobil.


“Ini Inang minum dulu,” ujar ku memberikan satu botol air mineral.


“Mauliate Amang ….”


(Terimakasih Nak) ucapnya menyeka keringat di dahinya, cuaca memang panas saat itu.


“Iya Inang.”


“Bang sini, apa lagi?” panggil Netta aku  meninggalkan ibu mertuaku yang duduk di pinggir jalan.


Setelah kami sibuk memfoto dan mengirim berkasnya, aku menunggu jawaban Beny.


“Kita tunggu dulu sebentar iya Lae,” ucapku.


“Aku berharap ito Rudi bisa masuk,” ujar Netta penuh harap.


Aku melihat  tangan ibu mertua  dilipat dan ia  berdoa dalam diam.


“Iya mudah-mudahan, kita hanya bisa berdoa dan berharap,” ujar ku cemas.


“Leleng dope lae nungga male au.”


(Masih lama tidak lae, sudah lapar aku) ucap lae kecilku dengan polosnya.


“Holan mangan do dipikkiri babam.”


(Hanya maka yang dipikirkan mulutmu) cletuk abangnya.


Kami semua tertawa mendengar kepolosan adik Netta lae kecilku, namanya Haposan Nainggolan.


“Sabar ya Lae,” ujar ku.


"Harap rohaku masuk Ibana asa unang leas be rohani namboru Candra."


(Aku berharap dia di terima biar gak sepele bou Candra) ujar Lae Saut.


Kami menunggu dalam mobil dan  berhenti di pinggir jalan. Apakah Lae bisa di terima jadi polisi? Doaku doa kami semua mudah-mudahan lae Rudi bisa masuk.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat