
Saat kami mengundang keluarga ke Bali untuk resepsi sederhana, ternyata ada tamu yang tidak diundang yang datang hari itu, mereka orang -orang mencari kesempatan di dalam kesempitan.
Semua kelakuan tante semakin ke sini semakin terbongkar, bahkan baru-baru ini ada seseorang dari tukang butik kebaya mewah tante belum di lunasi, padahal tante sudah beberapa bulan selesai.
Belum sampai di situ, ada orang Batak tukang Emas datang juga ke Bali menemui bapa uda beberapa hari yang lalu, ia bilang emas yang di pakai tante yang segede rantai kapal itu ternyata di sewa dar temannya yang buka toko emas.
Saat mereka tahu Edo ada di Bali makin datanglah mereka satu-satu yang mengaku tante punya hutang.
Ada sampai tiga orang datang bersama, katanya tante meminjam uang pada mereka bertiga, sebagai jaminannya SK pegawai negeri tante, masalahnya tante sudah dipecat, jadi datang mereka semua menemui Candra, Edo dan bapa uda.
“Ai na bohado si Rita si maop on di brotton on akka gellengna”
( Bagaimana si Rita kurang ajar ini, di gadaikan anak-anaknya, biarlah kamu mati di penjara itu) ujar mami geram, bukan hanya mami semua keluarga sangat marah .
Bagaimana tidak, tante meminjam dengan pakai bunga, semakin hari kalau tidak dibayar akan semakin bengkak.
“Ini … kalau benar tante punya hutang sampai seratus juta, mana surat perjanjiannya?” tanyaku curiga pada ketiga inang- inang yang mengaku tante punya hutang.
“Ya, kami modal percaya saja , karena kami sudah lama saling kenal”
“Bukan masalah soal lama sudah kenalnya Inang, kalau tante punya hutang pasti ada surat perjanjian hutang , dari mana kami percaya dia benar meminjam uang sebesar itu”
“Ini ada sms,nya, dia minta samaku malam- malam , lalu besok paginya aku mengantar ke tempat kerjanya”
“Tempat kerja apa ditranfer”
“Awalnya ditransfer sebagian, lalu aku antar sebagian,” ujarnya lagi.
Melihat gelagat mereka bertiga aku semakin yakin ada yang tidak beres.
“Ok, aku akan bayar, lalu berapa yang inang antar ke kantor?”
“Tiga puluh”
“Lalu berapa yang inang transfer?”
“Sepuluh”
“Eh dibotohodo marhitung, opat puluh dope I”
“Eh … tahunya kamu berhitung, empat puluh itu” Mami ikut emosi.
Aku meminta pengacara untuk menemui tante, untuk bertanya berapa jumlah nominal uang yang tante pinjam.
“Bege da inang, nion tentara, paraman nami sada nai polisi, nion si Riko kuliah hukum jadi akka gelleng namion akka parsikkola na timbo do, jadi molo manipu do rencanamu mulak ma hamu, dari pada masuk penjara”
(Dengar ya Inang, ini tentara, keponakan kami polisi, ini si Riko sekolah hukum, jadi anak-anak kami ini semua sekolah tinggi, tidak akan bisa di tipu, jadi kalau ada niat mau nipu, lebih baik kalian pulang saja dari pada masuk penjara) ujar papi dengan sopan, saat mami dan kakak Eva sudah emosi ingin manjanggola. Papi masih menghormati mereka
“Begini saya sudah meminta penjaga sipir untuk bicara dengan Tante, dia bilang hanya sepuluh juta hutang tante, kenapa jadi seratus juta?” Tanyaku.
“Ehe … dao nai ho ro tu Bali on holan manipu, lagian dang na mate jolmana Eda, mangolu dope, boi do sukkun on! tega maho mafitnah adekki!”
( Eee … jauh kali kalian datang ke Bali ini, untuk menipu, belum mati orangnya Eda, masih bisa ditanya. Tega kalian memfitnah adekku itu!) Teriak mami dengan suara keras. Ia emosi ketika tiga orang yang mengaku teman tante datang ke Bali ngaku-ngaku punya uang seratus juta sama tante.
“Mami tenang dulu, kita dengarkan apa alasan mereka”
Mereka bertiga mulai gugup buka tas dan pura-pura mengecek pembukuan, lalu mengecek nama di sana, ibu itu menelepon seseorang.
“Periksa dulu yang benar yang mananya, kau bilang seratus juta, ternyata sepuluh jutanya?”
“Salahnya rupanya aku Eda, sepuluh jutanya hutangnya, anakku yang mencatat”
“Pembohong kalilah Namboru ini, kau bilang kau antar tiga puluh juta kau transfer sepuluh juta. Cammananya Namboru ini!” Kak Eva berdiri di depan mereka.
Aku sengaja membiarkan kakak mandurdar.
“Bukannya begitu inang aku ini tukang koperasi, terlalu banyak yang minjam jadi lupa aku namanya”
“Mertuaku juga mantan tukang koperasi, semua orang yang meminjam padanya di catatnya baek-baek, kalau salah tekorlah bandar, jadi kalianlah kalau kalau kalian ini mengambil kesempatan dalam kesusahan kami”
“Lancang kali kau, boru apanya kau?’
“Gak usah kau tanya-tanya boru apa? Yang pasti boru Batak, tetapi bukan menipu, kalau klean mau nipu salah orang klien itu, ga tau klean siapa kami. KU viralkan penipu seperti klien biar terkenal sekalian”
Kak Eva mau dilawan , ngamoklah dia, direkam mereka bertiga dan siaran langsung kalau sudah kalap boru Batak si Garang malu-malulah sekalian, ramailah semuanya.
“Kalau begitu kalian bayarlah yang sepuluh juta itu!”
Tadinya aku dan Netta ingin bayar karena hutang memang harus di bayar tetapi mami dan Kakak Eva ….
“Bayar apa … ha! Hutangnya sepuluh juta apa seratus juta?”
“Sepuluh juta!”
“Kami gak mau bayar karena kalian menipu kami,” ujar kaka Eva maju ke depan mami.
Kami semua hanya diam menonton.
“Biarkan saja asa dibar-bar,” ujar Riko ia semakin memanas-manassin kak Eva.
“Ya, Kakak, kita bisa menuntut balik mereka dengan kasus penipuan”
“Ha dengar itu. Ito ini calon pengacara, kalian mau apa, Mau suruh bayar hutang lunas tidak ada bayar-bayar,” ujar Kak Eva.
“Akan aku laporkan kalian ke polisi.” Inang itu marah ia balik mengancam.
“Silahkan, kau pikir kami takut! Aku jamin uangmu yang akan melaporkan akan lebih banyak keluar dari uang yang akan kamu tuntut,” ujar kakak Eva.
“Hutang harus dibayar!”
“Apa perlu aku panggil polisi di Bali ini, biar diciduk kalian?” Kak Eva menekan lagi.
“Coba kalian datang dengan jujur mungkin anak-anak kami akan bayar, lihat itu menantu dan anakku dua-duanya dokter.” Mami menunjuk Tivani dan Candra.
Baru kali ini ia menyebut Tivani menantunya, kami semua hanya menonton, lumayan buat hiburan, iang-inang salah tempat datang menipu, mungkin ini bukan kasus pertama mereka karena terlihat pintar memainkan kata-kata dan peran masing-masing, tetapi sepandai-pandainya tupai melompat pasti pernah jatuh, begitu juga inang-inang ini.
“Baiklah kami minta maaf kembalikan saja uangku yang sepuluh juta lala kami akan pulang , tapi kami sebenarnya hanya jalan-jalan ke sini, lalu kami dengar kalau salah satu anaknya mengadakan pesta di sini kami merencanakannya,” ujarnya lagi.
“Maaf kami tidak akan mau bayar, minta saja sama tante di penjara, kalian meminjamkannya sama tante kan, mintalah sama dia,” ujar Kak Eva.
“Dia mana bisa bayar, dia penjara, kalian lah keluarganya yang membayarnya”
“Maaf bapa uda tidak punya uang, tunggu saja tanteku keluar dari sana baru dia bayar, kalian pulang apa kami panggil polisi, ini rumah edaku bukan rumah tante”
Kak Eva mengotot tidak mau membayar dan malah mengusir mereka bertiga. Orang penipu seperti itu perlu juga dikasih pelajaran, orang yang memancing di air yang keruh.
Bersambung