Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat Rumah Disatroni Orang Asing


Saat Rumah Di Satroni Orang Asing


Langit Jakarta sudah gelap menyisakan awan berwarna jingga di ujung barat, matahari sudah meninggalkan cakrawala akan digantikan bintang-bintang yang menghiasi langit.


Matahari dengan gagah memberikan sinarnya , aku masih berkutat menatap laptop di depanku,


aku hanya akan bergegas ke kamar mandi untuk membuka kran air milikku, habis itu akan duduk lagi di kubikel ku, sesekali berhenti memijit mata yang sedikit berair karena kelamaan terpapar layar laptop.


Kini, awan gelap sudah datang menyapa, aku masih berkutat di mejaku,


sejak malam yang indah itu dengan Netta, aku semakin bersemangat untuk bekerja.


aku ingin Netta menjadi seorang dokter, maka itu aku harus bertambah semangat demi masa depan kami.


Ting


Bunyi notifikasi ponselku, jari-jariku berhenti menari di keyboard laptop dan menyambar ponsel yang aku letakkan di meja sampingku.


‘Bang, jangan lupa di minum obatnya’


bunyi pesan Istriku Netta, hanya mendapat pesan mengingatkan minum obat aku merasa hari-hariku terasa semakin indah saja.


Netta bukan tipe wanita yang suka bermanja-manja, ia akan mengirim pesan bila ia rasa penting, dan ia akan menelepon jika sudah sangat urgent.


‘Baik sayang’


balasku,


itupun aku sudah dua kali menghapusnya, aku sengaja mengirim pesan yang manis agar Netta membalas dengan pesan yang manis juga.


Netta hanya membalas dengan pakai emoji senyum dan acungan jempol.


“Dasar Netta cewek kaku,”


kataku berucap pelan.


Aku berniat lembur malam ini karena aku harus memeriksa Progres pembagunan sebuah hotel.


Proyek kami selanjutnya proyek yang kami dapat melalui tender. Sebuah proyek besar, kami dapatkan tiga hari yang lalu.


Jika nilai proyek sudah di atas M, biasanya aku langsung extra sigap turun tangan memantau.


Aku harus memeriksa detail semuanya, kini semuanya sudah rampung, tinggal menunggu ijin IMB dan UKL yang belum turun.


Surat-surat yang sangat susah untuk turun, dan paling susah kami dapatkan.


Biasanya Perusaan kami jarang mendapat proyek yang mengurus IMB, dan AMDAL ( Amdal: Analisis dampak lingkungan) yang mengurusnya biasanya owner nya, karena sangat repot untuk mendapatkannya.


Tapi proyek kali ini sedikit berbeda, klien tidak mau repot, ingin terima beres saja.


Aku sudah mengabari Netta untuk pulang lembur agar tidak ditungguin,


kebetulan Netta hanya satu mata kuliah hari ini


jadi siang ia sudah ada di rumah.


Mataku masih terjaga, entah sudah berapa banyak gelas kopi sudah masuk ke lambungku aku tidak menghitungnya.


Terlalu fokus hingga melupakan waktu, saat kerjaan sudah selesai, aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanan sudah jam 21:00,


karena kebanyakan minum kopi aku tidak merasa lapar, memutuskan untuk makan malam di rumah karena masakan Netta enak.


Aku pulang setelah memastikan lampu Kantor mati, dan semua sudah terkunci.


‘”Selamat malam Pak Nathan,”


sapa pak sekuriti kantor memberi hormat.


“Malam pak, saya pulang ya.”


“Siap pak.”


Pulang ke rumah kira-kira jam setengah sepuluh, tidak biasanya jalan yang aku lalui kali ini lancar, kalau biasanya mau malam, pagi, siang


setiap kali aku melewati jalan itu selalu saja macet, sudah jadi makanan sehari-hari.


Sejak memutuskan membeli rumah baru dan tinggal dengan Netta, jarak tempuh dari kantor ke rumah memakan waktu lebih lama, karena makin jauh, kalau dari rumah Mami dekat.


Hingga mobilku tiba di depan rumah, tapi belum aku tekan remote pagarnya sudah terbuka.


Kok terbuka sih, tumben jam segini gerbang terbuka, apa Netta keluar?


Aku keluar dari mobil, setelah memasukkan mobil ke garasi, aku mengunci, kok tidak menurut ? apa rusak, saat aku periksa, mataku terkejut pagarnya sepertinya di rusak.


Aku pikirkan hanya Netta, aku berlari ke rumah.


Ya Tuhan,


jantung berdetak karena seisi rumah hancur diacak-acak.


Netta dimana, aku berlari ke sana kemari tidak menemukanya.


dengan panik aku berlari ke seluruh sudut ruangan , saat tidak ada sahutan dari Netta


aku semakin panik.


Kakiku serasa semakin lemas mataku serasa panas.


Sepertinya Perampok itu mengacak-acak semua isi dalam rumah.


Apapun boleh kalian ambil, asalkan Nettaku selamat .


Dengan tangan gemetaran aku menekan nomornya, aku mencoba menghubunginya,


tapi sepertinya ponselnya ada di bawa sofa.


Ponselnya ada, tapi orangnya tidak ada,


aku memutuskan menelepon polisi,


Baru saja ingin menelepon tapi suara krasak-kusuk terdengar di pantry dapur.


Aku terpaksa mengeluarkan benda kecil itu dari laci ruang kerjaku, benda berbahaya itu sudah lama aku miliki.


Tentunya sudah mendapat surat izin dari .


Biasanya kalau aku pulang malam dari luar kota, atau memantau proyek, aku selalu menyelipkannya di pinggangku untuk berjaga diri.


Kini benda jenis FN57 semi otomatis sudah aku arahkan pada lemari di dapur,


jika ia benar-benar perampok aku sudah siap menghadiahinya timah panas dari tanganku.


FN 57 ini aku miliki sudah lama, dan papi yang mengajariku, tapi Mami dan papi memiliki juga yang jenis Glock Mayer 12.


Bisa aku pastikan benda di tangan ku ini yang lebih jago, karena satu butir nya yang di muntah kan dengan kecepatan 1.2225 kaki per detik, bisa di pastikan daya rusak yang disebabkan benda buatan Belgia ini sangat parah.


Terus terang, tanganku sedikit gemetaran karena mungkin sudah lama tidak memegangnya.


Dengan sangat hati-hati, aku membuka lemarinya dengan kaki, sepasang kaki panjang berkulit putih tanpa alas kaki menyembul keluar.


Ia meringkuk di dalam lemari, walau hanya melihat kakinya saja, aku sudah paham siapa dia, aku memasukkan benda itu lagi ke pinggangku.


“Ta, kamu tidak apa-apa?”


aku berjongkok menarik tangannya, ia benar-benar ketakutan.


Wajahnya pucat dan rambutnya basah karena keringat, entah berapa lama ia bersembunyi di sana tanpa pasokan oksigen, aku menariknya keluar.


“Abang…!


ia menghamburkan dirinya, tangannya kuat merangkul pinggangku, Netta benar-benar ketakutan ,


aku bisa merasakan badannya bergetar, sampai bergetar bahkan tidak mampu berdiri.


“Tidak apa-apa sayang aku ada disini,”


kataku mengelus pundaknya menenangkannya.


Aku terpaksa menggendongnya untuk duduk di sofa, tangannya masih gemetaran,


dua orang polisi yang aku telepon tadi akhirnya datang juga.


Netta baru terlihat tenang, ia masih belum bisa bicara.


“Ini minum dulu sayang, tidak apa-apa ada polisi disini, ada aku juga jangan takut lagi, ceritakan seperti apa supaya polisi bisa mencarinya,”


Kataku tapi matanya malah menumpahkan banyak air, ia menangis ketakutan.


“Jangan di paksa Bro,


lu punya cctv’kan?


kita lihat dari situ saja,”


kata Beny temanku seorang polisi.


Ia juga yang menangani kasus waktu di kost Netta


Rumah kami di satroni orang yang tidak di kenal.


Siapa mereka ?


Belum tahu juga, karena Netta belum mau bicara .


tidak tega juga memaksanya untuk bicara.


Untungnya, kedua polisi itu pengertian tidak memaksa Netta.


Bersambung....