Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kejadian di tempat kerja


Kejadian Di Tempat Kerja


Dinginnya udara malam menembus jaket yang aku kenakan dan menyentuh kulitku.


Kopi tidak mampu membendung rasa kantuk yang menderaku saat ini, salah satu proyek yang kami kerjakan hanya memberi tenggak waktu tiga bulan.


Waktunya tinggal satu minggu lagi, kerja sudah seperti jaman penjajahan jepang, kerja paksa atau robusa.


Semua orang di kerahkan untuk mengerjakan proyek yang satu ini, bahkan beberapa pekerja yang bekerja di luar kota terpaksa di tarik untuk mengejar waktu yang sudah disepakati.


Semua orang bekerja siang malam, baik pekerja sipil maupun staf kantor, saling bahu membahu untuk mengejar waktu , bahkan ada beberapa orang yang belum tidur sampai dua hari dan tidak pulang-pulang selama seminggu ke rumah.


Hal seperti itu sebenarnya sudah hal biasa di perusahsan kami, itu sudah resiko sebagai pekerja kuli.


“Kamu mengantuk? tidur saja di mobil,”


kataku melihat Netta yang menatap dengan serius kearah bangunan.


“Tidak apa-apa, melihat mereka kerja keras begitu, jadi ingin ikut bantuin, kata Neta melihat para pekerja bahu membahu di bawah sorot lampu besar, terpaksa kami melakukan kerja malam karena bangunan kantor yang kami kerjakan di samping sekolah, jadi kalau siang-siang anak-anak hanya bisa mengerjakan yang ringan-ringan, karena guru protes anak-anak terganggu belajar jika tahap pengerjaannya di lakukan siang hari.


Itu juga penyebab pengerjaanya jadi molor dari waktu yang disepakati.


“Jangan, kamu istri Direktur hanya bisa duduk manis dan memantau seperti ini,”


kataku tersenyum tipis.


“Kenapa harus sampai abang yang turun tangan sih, memang tidak ada karyawan yang bisa mengatasinya?”


Netta menatapku dengan tatapan serius.


“Proyek kami banyak Netta, sepertinya kami kekurangan orang, mereka para karyawan yang lain saat ini memegang proyek yang di luar kota juga.


Kebetulan ini waktunya tinggal satu minggu, maka itu aku harus memantaunya agar mereka semua bekerja dengan serius.”


Netta terpaksa ikut, ia tidak mau aku tinggal di rumah karena besok hari minggu, jadi ia bisa begadang sekalian mendampingi suaminya sampai pagi, pakai jaket tebal Netta menyeruput kopi yang ditangannya.


“Kamu sepertinya sangat mengantuk, bang.”


Tanya Netta melihat mataku yang sudah mulai terasa sangat berat, padahal sudah dua gelas kopi yang sudah aku teguk.


“Iya ngantuk bangat, badanku capek karena lelah juga hari ini di kantor.”


“Apa abang harus ikut lembur?”


“Harus dek, kan sudah aku bilang tadi, kalau aku berdiri di sini saja berguna, pekerjaan itu kan cepat selesai, lihat’ semua mereka akan kerja dengan sungguh-sungguh tidak ada yang mengobrol dan bercanda kalau aku memantau disini.”


“Abang itu Direktur, tapi di sini aku lihat abang itu seperti pekerja.”


“Pemimpin yang bijak begitu dek, harus bisa melihat dan memantau anak buahnya, dan mau mendengar keluhan mereka.”


Malam sudah semakin larut, Netta mungkin merasa sudah mengantuk, memilih masuk mobil.


“Pak Nathan pulang saja, kasihan Ibu sudah mengantuk”


Ucap Toni manager di kantor.


“Tidak apa-apa, ia wanita kuat.”


Karena Netta memilih masuk kedalam mobil dan tidur di sana, mataku semakin berat, aku pikir kalau badan diajak bergerak mungkin tidak akan merasa ngantuk.


Aku berniat melihat –lihat sekeliling, membuang rasa malas, biar tubuh tidak mengantuk.


Aku melihat Netta sudah merebahkan tubuhnya di jok mobil dan tidur dengan pulas.


Mereka sebenarnya sudah menyuruhku pulang karena sudah malam.


Tapi karena Proyek ini punya klien yang VIP, maka itu tidak bagus mengecewakannya.


Mereka memiliki beberapa cabang di tiap daerah, maka setiap bangun kantor baru maupun renovasi seperti saat ini selalu kita yang mengerjakannya.


Maka itu, tidak ingin kecewa teman lama, aku sampai bela-belain ikut begadang memantau.


Kecelakaan kerja proyek sudah sering terjadi, tapi bagaimana kalau Direktur utamanya yang kecelakaan, itu baru aneh.


Baru juga berjalan ingin memakai safety, tapi tiba-tiba balok kayu yang di injak salah satu pekerja patah, mungkin rapuh karena berbulan- bulan di terpa hujan, karena terlihat mulai menghitam.


Nah, aku sekarang yang jadi masalahnya, balok kayu itu mendarat di pundak ku dan melukai kepalaku, darah mengucur deras mengotori wajah dan pakaian.


Ini real kesalahanku sendiri karena tidak memakai safety.


Sedikit mengecewakan, mengingat aku seorang direktur yang harus memberi contoh yang baik.


Masuk kearah berbahaya tanpa pengaman.


Tapi ada beberapa pasal yang membuat Bos tidak bisa disalahkan:


Pasal 1: Bos tidak pernah salah


Pasal 2: Kalau bos salah, kembali ke pasal 1


Niat ingin memantau malah memperlambat pekerjaan, melihatku terluka karena kejatuhan balok semua menjadi panik mereka menggotongku dengan darah mengotori seluruh pakaianku.


“Ambil mobil teriak kepala proyek dengan panik, tentu ia panik karena ini bagian tanggung jawabnya.


“Tidak usah, panggil istri saya di mobil, bawa saja aku ke pos.”


Di bopong ke pos pekerja, Netta terlihat berlari mendekat dengan wajah panik dan rambut masih acak-acakan.


“Oh, iya ampun! apa yang terjadi,” teriaknya panik, telapak tangan menutup mulutnya.


“Ayo bu hentikan pendarahannya” Toni meletakkan kotak persegi empat di samping Netta, dengan wajah panik Netta membuka obat P3K, kalau obat-obatan tidak perlu di khawatirkan, karena setiap proyek pasti menyediakan obat-obatan dengan lengkap.


Dengan cepat layaknya seorang Dokter, Netta mengobati luka di kepalaku.


Untung Netta ikut mendampingiku malam ini, kalau saja tidak ada, mungkin aku kehabisan darah .


“Waduh… kenapa jadi begini sih , lagian abang ngapain sih masuk ke proyek tidak memakai alat pelindung diri?”


Netta memarahiku di depan karyawan ku, mungkin ia belum tahu pasal-pasal bos.


“Aku itu jalan sama pak Toni justru ingin mengambil safety nya ,dek.”


“Hadeh, kalau sudah terluka seperti ini, siapa yang mau di salahkan coba?”


kata Netta jadi tiba-tiba galak.


“Balok kayu’nya,” aku bergurau.


“Cek, masih bercanda” Netta berdecak kesal.


“Pak Jonathan di bawah ke rumah sakit saja Bu, biar dapat penanganan.”


Pak Matiu kepala Proyek memberi saran.


“Iya bawa saja.”


Toni mengambil kunci mobil miliknya.


“Tidak usah pak, antar ke rumah saya saja, istri saya Dokter, dirawat di rumah saja.”


“Ke rumah sakit saja Bang, biar pundak dan tangannya di pasang penyangga,” Netta ikut membujukku.


“Tidak ke rumah saja, tolong hantarkan pulang ke rumah Ton, pakai mobilku saja.”


“Abang, bagaimana kalau kepalanya makin sakit nanti?” Netta menghela nafas panjang.


“Ah, udah,” pusing juga mendengar Netta marah-marah dari tadi.


Mungkin ia panik karena melihatku terluka, semua orang kena marah olehnya termasuk pak Mateu, ini pertama kalinya aku melihat marah seperti itu.


“Kenapa sih abang tidak menurut saja di ajak ke rumah sakit, nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana?”


ungkapnya lagi dengan volume suara lebih tinggi


Aku punya alasan sendiri kenapa tidak mau ke rumah sakit, aku tidak mau kabar ini sampai ke keluarga ku, ini akan di jadikan celah untuk Mami memarahi Netta nantinya.


Di obati di rumah masih bisa, ada Netta yang jadi Dokternya, hanya panggil tukang urut mungkin nanti.


Bersambung.....