
Suami dan ibu mertua kakak Eva memintanya untuk merawat kami, karena perkataan ibu mertuanya, kakak Eva merasa sangat sedih.
Terlalu sering mendengar kata hinaan dan ejekan untuk keluarga kami, membuat kakak tercintaku jadi baper.
“Kamu yakin Tan kamu yakin ibu Mertuaku tidak mengusirku?” Tanya lagi.
“Iya kak,” kataku berusaha tetap tenang.
Kadang keluarga bisa juga jadi duri dalam daging, sama seperti yang di alami keluarga kami, seharusnya duka kami, duka untuk tanteku juga, tetapi tidak untuk tante Candra saat ini, dari dulu tante selalu menganggap Mami saingannya, padahal dia adik Mami kandung.
Saat aku terjerumus dan Arnita juga salah langkah, tante menjelek-jelekkan keluarga kami ke semua orang, termasuk arisan satu oppung, terpaksa Mami keluar dari arisan saat semua memojokkan Mami.
‘Selamat pagi dunia …. selamat pagi Netta, aku berharap kamu baik-baik saja di sana’ ujar ku menghirup udara pagi.
Ini hari kedua aku tinggal di rumah Mami, itu artinya Netta sudah dua tahun sejak pergi, aku merasa sudah sangat lama, aku pikir setelah dua tahun aku bisa melupakannya , ternyata tidak, aku masih sering memikirkannya belakangan ini, tinggal satu tahun lagi aku harus sehat.
Aku turun ke bawah, ternyata rumah kami sekarang tidak memakai asisten rumah tangga lagi, kalau biasanya ada dua bahkan kadang tiga orang, ada supir, tetapi saat ini, terlihat kak Eva yang memegang kompor dan Arnita yang bagian mencuci piring, anak Arnita duduk anteng dalam kreta rodanya.
Iya ampun, aku merasa sangat aneh, belum bisa memahami situasinya , semua serasa baru bangun dari mimpi.
“Abang mau kopi?” Arnita melihatku.
‘Sejak kapan anak ini bisa mencuci piring? apa pengalaman hidup sudah mengubahnya?’ aku membatin.
Iya kami bertiga anak Mami, tiga-tiga sudah menikah, dan harusnya sudah punya rumah keluarga masing-masing, tetapi saat ini kami tidak ada satupun yang bersama pasangan masing-masing.
Arnita sudah berpisah dengan suaminya setelah melahirkan, kakak Eva belakangan aku mengetahuinya kalau ia meninggalkan pekerjaannya dan memilih mengurus Mami dan aku yang sakit.
“Oh iya ampun situasi apa ini?” Gumam Ku pelan.
“Tidak, aku tidak bisa minum kopi dek, nanti aku ambil,” kataku, kini saatnya tidak ada yang perlu melayani dan tidak perlu ada yang di layani.
Minum segelas air hangat, saat aku ingin keluar, melihat Papi di teras memegang kertas, aku pastikan itu kertas tagihan yang mungkin sudah jatuh tempo.
“Pi, pinjam mobil, aku ingin keluar sebentar.
“Oh mobil? iya itu ada,” katanya dengan ragu, menunjuk satu mobil berwarna hijau, saat melihat mobil yang di maksud, hanya mobil jelek model lama, mobil kijang tanpa AC.
“Haa??”
Seumur hidup belum pernah aku menaiki mobil yang satu ini dan tidak ingin.
“Pakailah masih layak, selama Papi beli belum pernah mogok,”
Papi tersenyum kecil.
“Papi pegang apaan?” memintanya dan aku membacanya.
“Jangan di pikirkan Tan, biar Papi yang mengurusnya, Mami mau di bawa pemeriksaan rutin, ternyata tagihannya yang bulan lalu belum di bayarkan, jadi di suruh bayar dulu baru melanjutkan ke tahap selanjutnya,”
wajahnya terlihat frustasi.
“Aku pegang dulu Pi,” ujar ku meminta kertas tagihan dari tangan Papi.
“Mau kemana Tan? kamu jangan jauh-jauh dulu nak, kamu belum sembuh.”
“Jangan khawatir Pi, kali ini aku tidak akan macam-macam lagi.”
“Kak Eva pinjam mobil, ada urusan sebentar.” Aku masuk lagi ke dapur.
“Jonathaaan…!” teriaknya marah kepalanya bagai keluar asap.
“Tenang kak, aku tidak macam-macam, kemarin ada kawan menawarkan pekerjaan samaku, harus ada yang kerja di rumah ini, kasihan dia, dia butuh minum susu, bukan minum teh manis seperti itu,” kataku menunjuk anak Arnita yang minum teh manis dalam botol susunya.
Kak eva ikut menoleh bocah tampan itu, wajah mirip si Juna si brengsek membuatku sempat kesal, tetapi anak itu tidak berdosa.
“Susunya habis Ta? Kok ga bilang, biar kakak beli,” kata kak Eva.
“Tidak usah kak, aku tidak enak sama kakak, jadi kakak yang beli susu terus,” kata Arnita
“Maka itu, aku harus pergi dan aku juga ingin mengambil motorku dari kantor polisi di Bandung,” menjelaskan dengan rinci dan memberi pengertian pada kak Eva, akhirnya ia mau juga memberikan mobilnya aku pinjam.
Sebagai anak lelaki yang membawa nama di keluarga ini, sudah waktunya bagiku mengeluarkan kartu AS.
Perhiasan Mami yang di bawa kabur sama Mikha, aku menyimpannya, villa milik Mikha sudah aku jual, dan mobil mewah milik Mikha, dari hasil uang Mami aku simpan.
Jadi sebenarnya aku menyimpan semuanya harta Mami, Aku pastikan Mami tidak akan bangkrut seperti yang di gosip kan semua orang, akan aku kembalikan semuanya dan aku akan membungkam mulut mereka semuanya.
Sekarang yang penting Mami sudah menyadari dan menyesali semua kesalahannya, dan berharap Mami kembali pulih .
Aku sudah mengabari Beny untuk membantuku, karena statusku memiliki predikat mantan, mantan napi, mantan rehabilitas, akan sulit di percayai orang.
Beny membantuku mencari pengacara, ternyata yang di panggil mantan pengacara waktu di kantor Naima, Perusahaan milik keluarga.
“Duduk sini, sehat lu bro,” Beny menatapku serius.
“Sudah,” jawabku sekedarnya, sebenarnya aku merasa tidak enak bertemu Beny, setelah hal-hal yang memalukan yang sudah aku lakukan dulu.
“Baiklah pesan minum apa?”
“Jus mangga saja,”ujar ku.
Kedua orang itu menoleh tiba-tiba Ke arahku, tidak percaya dengan minuman yang aku pesan.
“Bukannya dulu bapak sangat membenci jus?” Lina menatapku.
“Iya,” Beny ikut menimpali.
Itu dulu Lin, sekarang beda, ingin menjaga kesehatan dulu, saat di tawarkan rokok sama Beny, aku menolaknya karena aku tidak merokok lagi belakangan ini, berat awalnya tapi akhirnya bisa berhenti merokok juga.
Segala sesuatu itu, jika diniatkan dan ditekuni pasti akan berhasil.
“Ok baiklah, kamu banyak berubah sekarang bro, itu bagus, berubah untuk tujuan yang lebih baik itu yang paling berat, tapi sepertinya kamu berhasil melakukannya.
Sekarang kamu menggangu waktu liburku mau apa?” Beny menatapku dengan wajah sedikit jengkel, aku tahu ia jarang ada waktu libur, saat libur aku memakai waktunya untuk membantuku, aku tahu istrinya pasti sudah mengomel karena suaminya tidak ada libur untuk anak-anaknya.
“Waktu aku berharga bro,” kata Beny mengedikkan alisnya.
“Iya, iya nenek,” kataku ikut-ikutan kesal karena ikut di desak.
“Aku ingin mencairkan simpanan Mami jadi tunai, agar bisa di pakai untuk berobat, aku ingin rumah lama kami di beli lagi, aku ingin perusaan milik keluargaku kembali, dan aku ingin menjalankannya lagi.”
Lina mencacat semua permintaanku.
“Selamat datang kembali Jonathan yang dulu, temanku yang aku rindukan,” ucap Beny menatapku.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)