Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Durhaka pada orang tua



Setelah keadaan tenang barulah rincian biaya dibacakan lagi.


 “Baiklah aku bacakan tentang biaya untuk pesta adat kemarin. Total semua biaya ada 60 juta, Jonathan bayar setengahnya, untuk kedua abang Bekasi dan abang Saut, sisanya di bagi empat saja, tapi dibilang mama Candra tidak ikut, jadi tiga puluh jutanya di bagi tiga, ito Ros, bapak kembar, sama ito Rina di tutup. Iya”  ujar yang satu  dari kampung.


Semua keluarga menggeleng melihat tante Candra, padahal biaya untuk oppung sudah termasuk murah ketimbang biasanya karena kerbau oppung yang dipotong, makanya bisa biaya segitu.


‘Harta yang banyak tidak akan di bawa mati, perbuatan baiklah  harta yang abadi’


Tante Candra tidak  menanggung biaya pemakaman oppung, ada orang seperti Tante, ia mampu tapi tidak mau berbagi, padahal untuk keluarganya sendiri.


“Sudah ito, tutup saja biar cepat selesai, kita mau tidur, dari aku 10 juta sudah, ito kembar sepuluh juta,kakak Rini sepuluh juta sudah selesai,” kata Tante Ros.


Orang yang menganggap uang di atas segalanya tidak akan pernah merasa puas dalam hidupnya.


Tante Candra tega tidak mau ikut menanggung biaya pemakaman oppung, Tante sudah pantas disebut anak durhaka di dunia dan akhirat, saat oppung masih hidup mengurus pun  tidak mau, saat sudah meninggal pun untuk biaya pemakamannya juga tidak mau.


“Iya tutuplah Bang,” kata Tulang yang dari Bekasi.


Tapi lagi –lagi Tante Candra seakan belum puas jika tidak ada panggung keributan dan kehebohan, ia tidak akan puas jika tidak bertengkar maupun bikin rusuh.


“Baiklah, kita tutup untuk biaya untuk mama, tapi aku juga berhak memberikan pendapatku,” kata Tante Candra.


“Eta, eta modom ma hita! nalaho mamukka bada namai.”


(Ayo, ayo tidur ia mau bikin ribut)


Tante Ros mengajak semua orang untuk bubar, benar saja, tante seakan tidak dihargai, setengah dari keluarga yang ikut duduk di rumah itupun keluar.


“Duduk kamu Ros, kamu dengarkan aku bicara, jangan kamu pikir hanya kamu yang memberi untuk keluarga ini,” kata tante, tapi tidak ada yang menghiraukannya, semua meninggalkan, begitu juga Tulang dan Mami semua meninggalkan Tante Candra.


Tapi di luar terlihat ibu-ibu menjadikan tante Candra jadi topik pembicaraan, ia jadi omongan tetangga, hal yang memalukan untuk keluarga oppung Saut.



Didalam rumah adat hanya tersisa tulang yang di kampung dan kelurga Tante Candra, saat keluarga itu tidak ikut ambil bagian simpati orang langsung menghilang melihat mereka.


Aku juga memilih tidur dengan papi dan adik-adik Netta di rumah oppung di bawah, para wanita tidurnya di rumah Netta.


Tante Candra rencananya akan pulang besok pagi, aku malah berharap mereka pulang malam ini juga, aku sendiri sudah muak melihat kelakuan tante, tapi tidak untuk anak-anaknya, mereka justru korban dari ketamakan mama mereka, mereka kena imbasnya, terlihat ikut jadi bahan omongan di kampung.


Saat kami mau tidur, tidak tahu apa yang di katakan bapa uda, ketiga anak-anaknya minta pulang malam itu juga, kasihan karena ulah mama mereka yang memalukan mereka ikut malu.


“Bang… minta maaf untuk semua keluarga iya, kami ingin pulang malam ini, sudah tidak punya muka lagi di kampung ini apalagi di rumah ini, gara-gara Mama Candra.” Kata Bapa uda, saat kami mau tidur.


“Kenapa harus pulang sekarang, ini sudah malam, kasihan anak-anak, sudah tidur sini saja dulu,” ajak Papi yang terbangun padahal pukul 24:00.


“Tidak Bang, kami mending tidur di hotel saja, sudah tidak tahan lagi, aku sudah malu,” Kata bapa uda suami tante.


Candra dan kedua adik lelakinya ikut pulang, hanya anak perempuannya Lamtiar yang pulang belakangan sama mamanya.


Tidak melarang bapa uda untuk pulang, membiarkan keluarga itu melakukan semua yang ingin mereka lakukan.


Hingga pagi tiba berharap pagi ini hari yang indah, sebagian keluarga sudah pulang ke rumah masing-masing, tinggal hanya keluarga inti, ada ungkapan melakukan hal baik akan mendapat yang baik.


Menyenangkan keluarga Netta menurutku perbuatan yang baik, saat memikirkan jalan pulang, karena banyak keluarga yang pulang serentak hari ini.


Tiba-tiba ada teman dari Jakarta menelepon, saat bincang-bincang lama ia tahu lagi di kampung, ia menawarkan tiket pesawat diskon karena dia punya usaha travel untuk jalan kami pulang. Semua keluarga terlihat senang, karena ada pesawat gratis untuk kami pulang.


Karena harga tiketnya tidak mahal,maka aku yang bayar semuanya.


“Kita Ziarah terakhir ke makam oppung, sama bapak iya bang sebelum kita pulang,” ucap Netta, mendengar kata pulang bersama Netta, membuatku bersemangat, karena itu juga aku yang terbaik, sampai menerima tawaran teman yang memberikan diskon tiketnya untuk kami pulang.


Semua aku lakukan agar Netta terkesan padaku.


“Iya boleh, kita ajak mami sama Papi, ajak inang dan semua keluarga biar rame, tapi tidak usah ikut nenek Lampir.”


Karena kelakuan Tante Candra yang selalu membuat kerusuhan, ia benar-benar tidak ada yang menghiraukannya, jika ia ada, kami pergi, ia datang kami menjauh, ia seperti anak tiri karena kelakuannya.


Semua ziarah, Lamtiar yang kebetulan sudah bangun lebih awal, ikut diajak juga, tapi untuk mamanya tidak ada yang mengajaknya, nyonya besar itu masih tertidur lelap di rumah saat kami sudah pergi.


Mungkin ia bingung saat bangun tidak ada orang di rumah, karena semua ikut ziarah, saat kami sudah selesai ia terlihat datang, semua sudah bersiap pulang, ia ribut lagi.


“Kalian semua benar-benar tidak menganggap aku iya! kenapa aku tidak dibangunkan, ini juga mama, bapaku, aku juga anaknya,” katanya marah-marah.


Tidak ada yang menyahut, semua diam dan meninggalkannya di kuburan, terkadang ada rasa kasihan melihat tante seperti itu, tapi kelakuannya membuat orang berpikir dua kali, mengajaknya untuk mengobrol.


Terlihat Lamtiar menemani mamanya, ia duduk melihat mamanya melakukan drama tangis- menangis di kuburan oppung. Tapi semua tidak ada yang perduli, karena  tante tidak ikut dalam patungan biaya adat pemakaman oppung, semua orang mempertanyakan apa tujuan kedatangan satu keluarga ini ke kampung.


Seperti kebiasaan di kampung, kalau ada acara atau ada tamu pasti ada masak –masak dan makan besar, bahkan saat ini sepuluh ayam kampung yang akan akan dihidangkan,  masakan khas batak, ayam bakar sambal andaliman yang pedasnya bikin mulas perut, dan ikan mas na niura, ini sushi orang Batak, bahannya ikan mas mentah tanpa di masak yang di bikin bumbu kuning, pakai andaliman sebagai bumbunya yang membuat lidah bergetar.


Mertuaku Mama Netta yang jago memasak masakan khas Batak itu, keahlian itu menurun juga pada Netta jago masak.


Masakan kesukaan papi dan mami.


Mencoba berdamai semua keadaan, apapun yang diributkan Tante Candra, tidak ada satu orang menanggapinya menganggapnya seperti radio rusak, Agar hari ini menutup acara dengan damai.


 Bersambung …


Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook  kalian iya kakak agar  makin banyak lagi yang mampir.


Fb pribadi :Betaria Sonata Nainggolan


Fb:Menulis :Nata


IG:Sonata. ha


Youtube ku :NataNovel Channel


Terimakasih.