Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menuju Papua


“Buka untuk siapa?


Untuk abang yang memiliki wanita lain?


Apa untuk Bou yang selalu merendahkanku, untuk siapa?” Netta menatapku, suaranya meninggi, wajahnya memerah.


“Jadi buktikan kalau abang bisa aku percaya, baru aku yakin membuka hatiku untuk abang, hatiku sepenuhnya akan milik abang,”


kata Netta dengan nada tegas.


“Baiklah, keputusanku untuk menjauh sementara waktu mungkin hal yang tepat, kita berdua bisa mengkoreksi diri masing-masing.


Aku akan kembali nanti, saat kamu sudah siap menerimaku, aku akan menunggu kamu bersedia menerimaku kembali,”


“Iya, lakukan yang terbaik, aku yakin abang mampu mandiri,” ucap Netta.


Aku menyerah, membiarkannya ikut menyusun barang barang ku, membantuku membereskan barang-barang yang aku perlukan selama aku pergi, satu koper besar yang akan aku bawa besok merantau ke pulau unjung Indonesia.


Pulau yang terkenal dengan kekayaan tambang emasnya, kota Sorong Papua yang jadi tujuanku nanti.


Anak teman Papi membangun Hotel di kota Itu, jadi aku yang akan menanganinya nanti.


Oke.


Ini namanya turun tahta, tapi tidak mengapa, aku tipe orang pekerja, jadi kalau sudah biasa kerja tiba-tiba jadi pengangguran membuatku sakit badan.


Jadi kalau kita mengerjakan satu hal, kalau sudah keahlian kita hasilnya akan memuaskan dan maksimal.


Mungkin aku juga nanti kalau sudah tiba di Papua, aku rencana mencoba memakai koteka buat nambah pengalaman baru di kota itu.


“Abang tidak izin sama bou?” kata Netta saat aku mengangkat koperku kedalam mobil.


Netta bersedia mengantarku ke Bandara.


“Tidak perlu, untuk apa?”


Aku tidak membutuhkan orang lain mengantarku saat pergi kali ini, aku hanya ingin Netta, aku lebih senang lagi kalau ia melarang ku pergi, tapi sayangnya, ia mendukungku pergi.


Tapi jauh didalam lubuk hatiku aku tidak ingin pergi, aku ingin selalu bersama Netta saja.


Aku punya firasat kalau ia akan melupakanku dan pergi.


“Tapi nanti kalau Bou nyari abang bagaimana?”


tanya Netta wajahnya terlihat tidak enak.


“Bilang saja aku sudah merantau jauh ke ujung pulau Indonesia.”


Netta diam, aku berpikir apa ia tidak merasa sedih saat aku meninggalkannya, padahal aku merasa kehilangan saat ini.


Netta mengantar ku ke bandara Soekarno Hatta.


“Ta, kamu tidak sedih kalau aku pergi,” aku bertanya masih mengharapkan bibir mungil itu melarang ku pergi.


“Abang tidak akan selamanya di sana’kan?


kita akan bertemu lagi,”


Ucap Netta.


“Baiklah, pulang hati-hati,” kataku menarik koperku.


“Bang, boleh aku memberi perpisahan?”


Tanya netta, ia berdiri di samping mobil.


Aku kembali lemah untuk menjadi seorang yang lemah, aku tidak ingin meninggalkan Netta seperti itu, aku menatapnya aku merasa kalau ini akan pertemuan kami yang terakhir dengan Netta, aku melihatnya sangat berbeda saat ini, aku merasa ada bendungan didalam mataku yang ingin aku tumpahkan, aku tiba-tiba merasa sedih.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” mencoba menahan air dalam mataku agar tidak tumpah ke bumi.


Kenapa aku berubah jadi lelaki yang lemah? aku tidak ingin menangis di depan Netta, itu sangat memalukan.


Netta mendekat merangkul pinggangku dengan rangkulan yang sangat hangat, seakan itu perpisahan dan sentuhan terakhir, untuk kami berdua.


“Jaga dirimu baik-baik bang,” kabari aku kalau abang sudah sampai kata Netta melepaskan rangkulannya.


“Baiklah,” aku berpaling membelakanginya dan berjalan meninggalkan Netta yang masih menatap ke arahku, aku bisa tahu ia melihatku dengan tatapan bingung, karena pantulan kaca dinding Bandara memperlihatkan ya.


Aku mengerjap-erjapkan mataku agar air di mataku tidak tumpah, tapi tidak berhasil, aku memaki diriku yang tiba-tiba jadi lemah seperti ini, untung kaca mata hitam itu aku selalu aku bawa kemana-mana.


Jadi aksi menangis ku saat ini tidak ada yang tahu, hanya Tuhan dan aku yang mengetahuinya.


Aku mengantri di barisan, aku iseng menoleh ke belakang kearah pintu saat aku masuk tadi.


Oh Netta masih berdiri menatap ke arah ku, aku merasakan hatiku bagai diperas, wajahnya menatapku dengan sendu.


Oh tolong pergilah, jangan menatapku seperti itu, aku jadi lemah karena kamu kataku dalam hati.


Aku masih berbaris mendapat urutan di ruang check-in di Bandara Soekarno Hatta.


Melihat Netta masih berdiri di luar, membuatku ter-usik mengetik pesan ke ponsel Netta.


To Netta:


Pulang saja Ta, aku sudah tidak apa-apa, hati-hati di jalan, nanti aku kabarin kalau aku sudah sampai tujuan.


To abang Jonathan:


Abang tidak apa-apa, kan? abang tidak marah’kan?


Tadi aku melihat abang seperti orang marah.


To Netta:


Tidak apa-apa hanya aku buru-buru, takut ketinggalan pesawat, ok sekarang pulang iya.


To bang Jonathan:


Baiklah, terimakasih karena tidak marah Bang, daah hati-hati.


Duduk di ruang tunggu melamun membuatku hampir ketinggalan pesawat


Aku terlalu banyak melamun, memikirkan banyak hal terutama tentang Netta istriku.


Pikiranku tidak tenang, sebenarnya aku tidak tega meninggalkannya sendirian di rumah, apalagi Netta orangnya penakut.


Seorang ibu yang duduk di samping menegur, mungkin ibu yang baik hati itu melihatku melamun sejak dari tadi.


“Mau kemana dek?”


ia bertanya, aku belum menyahut.


”dek."


ia menepuk pundak ku tiba-tiba tersadar.


“Iya-iya-a Bu ada apa?” jawabku tergagap.


“Mau kemana?”


“Saya mau ke Papua Bu.”


“Pesawatnya sudah tiba, dari tadi orang-orang juga sudah pada naik,” kata ibu yang baik hati.


“Oh iya ampun benar, terima kasih ibu, hampir saja saya ketinggalan pesawat,” kataku setelah mengucapkan kata terimakasih. Aku berlari menenteng tas kecilku dan berlari meninggalkan wanita paruh baya itu.


Tinggal sedikit lagi saja aku akan ketinggalan pesawat, dengan nafas ter engah-engah dan sedikit bermandikan keringat, aku menjatuhkan panggulku, itupun aku duduki yang salah pula.


“Hei, itu tempat duduk betah Toh?”


suara bapak-bapak yang mengunyah sirih menatapku.


“Oh maaf pak, aku salah sahutku menggeser ekorku untuk berpindah tempat, sebelum aku di marah-marahin orang yang berkulit sangat gelap itu.


Mengusap dahi yang bermandikan keringat, hampir saja koperku tiba di Papua orangnya melamun di Bandara Soekarno Hatta, kan tidak lucu, untung wanita baik mengingatkanku, terima kasi lah untuknya, semoga hari-hari yang baik menghampiri ibu yang baik hati itu,


di panjangkan umurnya, di selamatkan ia sampai tujuan bila dalam perjalanan.


Bersambung....


Untuk kakak pembaca yang baik,mohon bantu karya saya ini dengan cara Like dan share ya kakak,terima kasih banyak pembaca setia....