
Saat Beny dalam perjalanan menuju kantor.
Suasana di di halaman kantor jadi perhatian warga sekitar karena ulah para preman kuali gosong ini, bagaimana tidak? kantor Naima Karya yang selama ini hening karena sudah tutup, tiba-tiba jadi perhatian banyak orang karena ulah mereka.
“Bang jangan berisik dong,” ujar seorang pemuda yang rumahnya tidak jauh dari kantor.
“Eh … Lu diam! Kalau lu masih ingin hidup!’ bentaknya dengan kasar.
“Iya Bang,” ucapnya dengan takut, ia masuk ke dalam rumah.
Nyali pemuda bertubuh kerempeng itu tiba- tiba ciut, seperti kerupuk di disiram air, saat salah seorang dari mereka mengacuhkan golok panjang, jangankan pemuda krempeng itu, aku saja merasa takut.
Para lelaki sanggar bertato itu sangat bringas, mereka tidak perduli dengan lingkungan sekitar, dengan beraninya mereka berempat menenteng balok kayu, dan memukul-mukul pagar.
“Keluar lu Jonathan, bayar utang mu!” Teriak salah seorang dari mereka.
“Utang …? Utang apa, perasaan aku tidak punya utang , utang sama siapa? baru juga mau ajuin tetapi sudah ditolak.
Lalu aku punya hutang sama siapa?” Semakin aku berpikir semakin aku bingung.
“Gue tahu lu ada di dalam brengsek, keluar lu!” Teriaknya mereka semakin lantang.
Bukannya aku takut untuk menghadapi mereka, kalau di suruh one by one sih masih mending, mereka berempat pasti menghajar ku sampai penyok jika aku keluar, diam dalam ruangan menunggu Beny cara yang paling tepat saat ini.
Karena aku juga belum tahu siapa yang punya utang sama mereka, karena selama dalam pusat rehablitasi, banyak hal yang berubah dan banyak hal yang tidak aku ketahui selama dipingit di pusat rehablitasi, karena selam di sana aku benar-benar tidak diperbolehkan untuk keluar.
Para preman bertampang sangar yang mendatangi kantorku saat itu. Mereka semakin marah karena aku memilih duduk diam dalam di kursi kerjaku.
“Itu kantornya sudah lama tutup Bang,” ujar salah seorang warga.
“Eh lu juga diam gak usah ikut-ikutan!” Bentaknya lagi.
Mental kerupuk jange si bapak langsung melempem.
Tidak lama kemudian akhirnya Beny datang bersama anak buahnya.
Melihat Beny datang, mereka berempat langsung diam, Beny sudah dikenal banyak preman di daerah Jakarta Timur, Beny di kenal berani dan tegas untuk memberantas sampah masyarakat seperti mereka.
Melihat para polisi itu datang, aku juga turun dari atas, tetapi tidak keluar dan mendengar apa yang mereka bicarakan, sesuai permintaan Beny, aku menurut, aku tidak keluar.
“Kami bukan preman Pak, kami hanya bekerja, Perusahaan ini tidak membayar hutang-hutangnya jadi kami disuruh dari perusahaan mengambil barang-barang di kantor ini,” ujar salah satu dari mereka.
“Bukan Preman kamu bilang? Dengan kamu berteriak dan membawa parang seperti ini kamu bukan hanya preman lagi tapi perampok!”
Beny menatap mereka dengan tegas.
‘Dari perusahaan?’
Setahuku, jika satu perusahaan punya hutang yang tidak bisa di bayar, ada prosesnya, jika pengadilan menyatakan pailit sesuai hukum yang berlaku, baru bisa mengambil aset perusahaan, untuk membayar hutang-hutang.
Aku terpaksa ikut keluar menghadapi para preman-preman bayaran itu.
“Kamu ngapain keluar Bro? sudah aku bilang tidak usah keluar,” kata Beny menatapku tajam.
Aku tahu apa yang di takutkan Beny, sebagai teman yang sudah tahu tentang kondisi mental ku, ia menjagaku untuk tidak keluar, tapi ada yang salah dari kedatangan para preman sangar itu.
“Kalau mereka memang benar dari perusahaan, Mana surat perintahnya, kalian dari perusahaan mana? Kalau benar ini dari perusaan semua ada prosesnya, mana surat-suratnya, setidaknya mana rincian hutang-hutangnya?” Aku merentangkan tanganku.
Mereka terlihat seperti cacing kepanasan, melihat satu sama lain, dan mulai gelisah aku semakin curiga.
“Iya benar, katakan dari perusaan mana yang menyuruh kalian,” kata Beny.
Tapi tidak diduga, mungkin karena ketakutan melihat Beny, salah seorang dari mereka berusaha melarikan diri. Melihat melarikan diri, Beny curiga pasti ada hal yang lain, dengan cepat Beny membidik kaki lelaki bertato itu, ia juga yang mengacungkan parang tadi ke warga.
Dooor …!
Satu butir timah panas menembus kaki, tetapi seolah -olah ia tidak merasakannya masih berusaha kabur, tidak mau kecolongan Beny arahkan ke kaki kiri lagi.
Dooor …!
Lelaki itu langsung tersungkur di jalanan tepat di depan kantorku, Karena kejadian itu, kantor itu menjadi tontonan orang yang sedang melintas, melihat temannya di hadiahi timah panas, ketiganya langsung angkat tangan.
Setelah di diborgol, Beny meminta anak buahnya mengeledah mobil yang ia kendarai tadi, ternyata benar di dalam bagasi di temukan banyak barang-barang berbahaya, bahkan saat di cek ada bungkus bekas narkoba di bawah jok mobil.
Di temukan juga botol bersumbu, yang tadinya ingin dilemparkan ke kantor ku, tidak bisa dibayangkan kalau botol menyala itu di lemparkan ke kantor, dan terbakar dengan pintu terkunci , bisa-bisa tadi, aku sudah jadi daging panggang.
Aku sempat terkejut saat ditanya Beny, botol itu untuk apa, ia mengaku untuk di lempar dan ingin membakar kantorku, rasanya benar-benar bikini syok.
Mereka di bawa ke kantor polisi untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
“Gila … ! Lu dalam bahaya besar Tan, harus hati-hati, sebaiknya urus semua hutang-hutang perusahaan dulu, agar tidak ada teror seperti ini,” kata Beny.
“Aku curiga ini bukan dari kantorku, tapi ini lebih tepatnya ada orang yang tidak mau aku balik lagi kerja ke perusahaan ini.”
“Iya itu lebih berbahaya lagi, pokoknya lu harus hati-hati,” ucap Beny.
“Siapa yang melakukan ini?”
“Lu yakin Bro bukan dari perusahaan?” Tanya Beny.
“Aku sudah memeriksa data-data perusahaan yang pernah jadi mitra kerja kami, lagian cara bar-bar seperti itu tidak logis jika dari perusahaan,” ujar ku masih merasa syok.
Tidak terbayangkan tadi, jika mereka melemparkan botol itu ke kantor dan membakar ku hidup-hidup, itu akan menjadi hal yang sangat menyedihkan karena aku masih tahap mau bangkit dari keterpurukan, bahkan saat ini semua keluargaku masih dalam tahap menyadarkan dari.
“Lu pulang saja Bro tenangkan dirimu, serahkan penyelidikan ini pada kami, gue akan kuliti mereka, jika tidak mau buka mulut siapa yang menyuruh mereka,” ujar Beny.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)