
Bagaimana Bapa uda tidak sakit, Bapa uda merasa sangat tertekan atas sikap istrinya yang tidak menghargainya, yang selalu bersikap semaunya, mami memang punya sikap jelek, tetapi tidak separah tante.
“Kenapa jadi bapa uda yang sakit, kenapa tidak nenek lampir itu saja,”ujar ku pelan, saat kami duduk di ruang tunggu, setelah mereka berdua dapat penanganan dokter.
“Kasihan amang boru,” ujar Netta.
“Aku khawatir pada bapa uda … sedangkan sehat saja, tante galak, bagaimana kalau sakit seperti ini, dia akan bertambah bar- bar nanti”
“Abang benar.” Netta juga berpikir sama denganku.
Baru juga kami bicarakan, tante sudah datang.
“Bagaimana Bang?” Tanya Edo panik wajahnya memerah menahan tangisan, wajar dia panik, tadinya hanya Candra yang sakit, tetapi sekarang bapa udah yang malah kritis.
“Aku bilang juga tadi pulang ke rumah,” ujar Tante, ia berlari ke ruangan bapa uda ia menangis keras , bahkan dalam keadaan genting seperti itu ia masih menyalahkan bapa uda.
‘Ampun suaranya sudah seperti ada yang meninggal, kenapa yang tidak kamu saja Tan yang stroke biar keluarga aman tenteram’ aku membatin, tidak ingin mendengar suaranya yang mengkelengar, aku memilih menjauh dari depan kamar bapa uda. Tidak berapa kemudian Edo mendekat.
“Makasih ya Bang, kalau abang tadi tidak mengantar Bapak, aku tidak tahu apa yang terjadi,” ujar Edo, ia mengusap buliran air di sudut matanya.
“Tidak apa-apa Do, bapa uda akan baik-baik saja”
“Kasihan abang Candra, hidupnya berantakan karena mama, padahal kami semua melarang, tapi, tidak pernah didengar”
Papi dan Kak Eva juga datang, mami sengaja di tinggalkan di rumah kalau mami ikut takut tante mengamuk lagi, Netta mencoba berkordinasi dengan rumah sakit tempat ia bekerja, karena rumah sakit yang saat ini, alat-alatnya tidak lengkap.
“Bang … amang boru harus dipindahkan dari sini, disini alat-alatnya tidak lengkap,” ujar Netta,
“Tapi kita tidak bisa asal pindahkan Dek, kita harus minta persetujuan tante”
“Memang kenapa kalau di sini Kak?” Tanya Edo.
“Amang boru harus cuci darah”
“Apa separah itu?” tanya papi kaget.
Saat diminta pendapat tante, lagi-lagi menolak ia selalu merasa benar dan sulit menerima masukan dari orang lain, kalau bukan keluarga sendiri, aku sudah meninggalkan tempat itu, tetapi aku tidak bisa melakukannya, mereka keluargaku, kasihan melihat Edo saat itu.
“Kenapa bou menolaknya, amang boru butuh penanganan serius,” ujar Netta.
“Aku tidak mau masuk ke rumah sakit itu, kami akan membawa rumah sakit yang lain”
“Sudahlah Dek, kita pulang saja dari tadi malam kamu tidak tidur” ujar ku.
Aku kasihan melihat Netta yang bekerja keras membantu kesembuhan bapa uda, tetapi tante selalu salah paham padanya.
“Kita tunggu dulu Bang, biar amang boru dapat penanganan”
“Tapi tante tidak setuju”
“Jangan pikirkan namboru, aku hanya ingin amang boru sembuh,” ujar Netta
Netta meminta Edo untuk membujuk membawa mereka berdua ke rumah sakit tempat Netta, karena tante menolak, ia ingin membawa mereka ke rumah sakit swasta yang lebih besar lagi.
“Rumah sakit itu mahal bangat ito, kenapa tante sok-sokan ke sana,” bisik Ka Eva.
“Dia ingin menunjukkan ke besannya, kalau mereka masuk rumah sakit yang sangat mahal dan setara dengan besannya,” ujar ku.
“Hadeeeh … tante, tante.” Kakak Eva menggeleng.
Dengan segala perdebatan yang panjang, akhirnya, mereka berdua dibawa ke rumah sakit yang diinginkan tante, tentunya lebih mahal lagi, kata tante agar pemulihannya sembuh
*
Kami datang menjenguk, Candra ia sudah pulih tetapi sayang istrinya masih di rumah orang tuanya. Saat kami datang ke rumah bersama semua keluarga, tulang Bekasi dan tulang Bogor juga ikut. Tadinya kami semuanya malas untuk menjenguk karena ujung-ujungnya bertengkar
Tetapi biar bagaimanapun keluarga tetaplah akan jadi keluarga selamanya tidak akan bisa dibuang.
Melihat saudara kembarnya seperti itu mami merasa kasihan, kalau dulu mereka berdua selalu saling menjelekkan di belakangnya, tetapi kali ini mami memilih jadi pendengar tidak banyak komentar.
Saat kami datang ke rumah Candra, tante tidak ia membawa bapa uda kontrol, hanya ada Feno dan Candra di rumah.
“Bagaimana dengan keadaanmu Can?”
“Sudah baik kan Bang, terimakasih Ta, untuk obat-obat yang kamu kirim”
“Ya Bang”
“Lalu sebenarnya apa yang terjadi, saat itu kami belum tahu apa yang sebenarnya”
“Kenapa kamu sampai merusak hidupmu?” Tanya papi, karena semua tahu mereka semua anak-anak yang baik dan takut sama tante.
“Maafkan aku bapa tua, karena membuat keluarga malu,” ujarnya dengan kepala menunduk.
“Ceritakan semuanya Bang, mumpung mama kamu tidak ada kalau ada yang bisa kami bantu, kami akan bantu,” ujar tante.
Candra menceritakan semuanya kenapa dia sampai bisa terjebak ke tempat itu dan sampai menggunakan barang setan itu. Awalnya ia menginap di rumah teman SMA nya yang tinggal di Jakarta. Ia tidak tahu temannya tersebut seorang pemakai dan pengedar, singkat cerita setelah beberapa hari ia menginap di kontrakan temannya, ia diajak ke bar di sana Candra di paksa mabuk, dalam setengah sadar ia dipaksa memakai narkoba tujuannya agar ia ketergantungan dan bisa jadi langganan darinya.
Mereka juga menguras isi atm milik Candra. Karena itulah banyak yang bilang tempat hiburan itu berbahaya, sarang penyamun dan penjahat.
Kalau model Netta dan Candra yang masuk ke sana sudah pasti akan jadi santapan empuk para penipu yang berkeliaran di sana.
“Aku tidak ada niat bikin bapak jadi seperti ini Bapa tua,” ujarnya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa kalau kamu sudah mengakui kesalahanmu ke depannya perbaiki lagi,” ujar papi.
“Aku butuh bantuan tulang sama bapa tua”
“Apa?”
“Aku ingin menjemput Tivani ke rumah orang tuanya”
Kami semua saling menatap, akhirnya Candra bersikap dewasa, ia tidak ingin masalah dalam keluarga berkepanjangan, ia berdamai dengan dirinya dan memilih ikhlas dengan pernikahannya.
“Bagus itu Bang, itulah tujuan tulang datang ke sini,” ujar tulang Gres.
“Molo naung di alap ho boru ni rajai denggan sian natua-tuana, ba … dengganma maen bertanggung jawab ma ho”
(Kalau kamu sudah meminang anak orang perempuannya dari orang tuanya kamu harus bertanggung jawab)
“Olo Tulang”
“Baiklah Mang, kalau kamu ingin keluargamu aman, bawa pisah rumah,” ujar tante Ros, ia juga datang dari Bandung untuk menjenguk bapa uda dan Candra.
“Tidak Tan, aku dan dia akan tinggal di rumah ini, biar mama tahu betapa hebatnya kelakuan menantu pilihannya,” ujar Candra.
Kami terkejut dengan rencana Candra, tadinya aku pikir ia akan tinggal di rumah hadiah pemberian ibu mertuanya, rupanya ia ingin menunjukkan pada tante seolah-lah ia berkata ;Apa hebatnya menantu kaya, inilah sikap menantu pilihanmu’
Aku setuju dengan Candra, melawan tante Candra tidak mempan dengan suara keras atau membantah, karena dia juga akan lebih keras, tetapi tunjukkan padanya dengan cara elegan kalau menantu kaya pilihannya bukanlah yang terbaik.
Jika dalam satu rumah ada dua api yang selalu bergesekan, maka akan menyebabkan kebakaran.
Maka keluarga berunding akan menjemput Tivani pada keluarganya, semoga berhasil dan ia mau diajak pulang.
Bersambung ….