
Membungkam Mulut Tetangga
Setelah berunding di rumah dan memastikan berapa harga sinamot, (mahar) barulah raja adat datang lagi ke rumah pihak perempuan
Itulah yang disebut’Marhata sinamot’ dalam deretan adat batak. Ada sedikit perbedaan di kampung Netta yang aku lihat dari adat pesta di Jakarta.
Kalau di Jakarta masih bisa dipersingkat, tetapi di kampung Netta semuanya harus-harus sesuai adat dari leluhur terdahulu, sama seperti pesta kami dulu.
Kalau dulu aku memang tidak menyimak sedikitpun tentang susunan acara pesta kami, karena memang dipaksa menikah.
Tetapi saat ini, aku memang serius mengikuti dan menyimak setiap acara demi acara mulai dari: Mangarisika kunjungan resmi keluarga mempelai pria ke rumah wanita, Pengenalan kedua calon pengantin, Marhusip, Pudun Sauta, Martumpol lalu saat ini Marhata Sinamot. Ternyata di kampung itu lebih detail dari pada di Perantauan.
“Jadi begini dulu saat pesta kita ya Dek, kayaknya lebih panjang susunan acaranya”
“Ya, sebenarnya di kampung itu sama di Jakarta berbeda susunan acaranya, makanya pepatah Batak Bilang seperti ini; Asing rura, asing duhutna, asing luat asingdo tong adatna” Ujar Netta.
“Artinya?”
“Begini Bang, setiap wilayah itu punya adat masing-masing, adat dari Jakarta tidak bisa kita paksakan di sini, begitu juga sebaliknya tata cara adat dari kampung ini, tidak bisa dibawa ke Jakarta, tetapi tujuannya tetap sama hanya ada sedikit perbedaan,” ucap Netta.
“Oh, begitu.|” Aku mengeluarkan catatan kecil dari saku celanaku.
“Abang mau ngapain?”
“Mau cacat … aku nanti mau jadi Raja adat dari Situmorang”
Netta tertawa ngakak saat aku bilang ingin jadi raja adat
“Ya, baguslah, biar kita dapat profesi baru,” ujar Netta tertawa.
“Karena yang aku lihat dari setiap pesta adat Batak, bayaran untuk setiap raja adat itu lumayan mahal, sekali pesta, saat pesta Arnita, raja adat yang dibayar untuk keluarga Nainggolan sekali tampil mami bayar lima juta,, coba kamu hitung dalam sebulan dia empat kali dapat panggilan empat kali lima sudah dua puluh juta”
“Ya, itu sudah salah satu profesi sebenarnya Bang, tetapi harus yang benar-benar paham adat batak, baru bisa jadi pemuka adat”
“Ya, ini mau belajar serius,” ucapku menahan tawa, tetapi melihat susunan acara dalam pesta Lae Rudi hanya mendengar hanya otakku sudah mumet duluan.
Pantas saja setiap kali orang Batak mau berpesta, setahun sebelum pesta semuanya sudah dipersiapkan, dan itu sangat menguras pikiran dan tenaga. Tetapi semakin dijalani dan dipelajari adat Batak ini, semakin menarik.
Setelah raja adat pergi untuk bicara mahar ke keluarga pihak perempuan, papi memintaku ikut agar tahu tentang adat Batak, jadi aku ikut, kami disambut dengan sangat baik dan hormat sama keluarga perempuan.
Tapi saat tulang raja adat dari Nainggolan menyebutkan harga sinamot, mereka kaget tidak percaya.
“Mauliate ma amang alai di hargai hamu do borukon nang pe on boru ni napogos naso marbapa”
Terimakasih Pak, karena kalian menghargai anak perempuanku ini, walau tidak ada sekolahnya dan dari keluarga yang miskin tidak punya bapak) Ucap mama Nely.
Bahkan itonya Nelly yang paling besar sangat terharu, ia memeluk adik perempuannya Nely, mereka tiga bersaudara, dan Nely anak perempuan satu-satunya dan juga anak terakhir, wajar keluarga mereka terharu karena anak perempuan satu-satunya menikah dengan laki-laki yang menghormati keluarga mereka.
“Olo sehat hamu ito , asa boi bereng onmu annon borumon”
(Ya, sehatlah ito, biar bisa kamu lihat ana perempuanmu ini berpesta) ujar tulang raja adat dari Nainggolan.
“Olo Amang, olo raja nami, amang tahe … mauliatema di Amatta Debata Pardenggan Basai, alai dilehon rokkap ni boruku sian keluarga na burju”
(Ya Bapah, ya raja, ya ampun … Terimakasih untuk Allah Bapak Surgawi, karena memberikan anak perempuanku jodoh dari keluarga yang baik) Ucapnya menangis.
Terharu rasanya karena bantuan kecil yang aku berikan pada lae Rudi, menumbuhkan kebahagian yang luar biasa untuk orang lain, aku melihat tawa bahagia dari mama Nely, rasa sakit yang ia rasakan seolah-olah tidak terasa saat ia tertawa bahagia.
(Undang semua keluarga inan … keluarga yang tidak pernah menjenguk selama sakit, panggil semua. Katakan pada mereka, menikah putriku, datang kalian semua kita merayakannya. Doakan anak perempuanku, bagi-bagikan mahar dari borumu ini, biar mereka tidak melihatmu sebelah mata lagi) ujar tulang raja adat kami, tulang mengatakan itu, karena mereka satu kampung dan sudah kenal bagaimana keluarga mereka.
Inang mama Nely semakin menangis mendengar nasihat tulang, bukan hanya inang itu, kedua anaknya ikut sedih bercampur bahagia. Karena mereka tidak menduga kalau lae Rudi akan menghormati mereka seperti itu, sebab beberapa minggu lalu Rudi sempat bertengkar dengan calonnya dan hampir gagal, karena itulah keluarga ibu mertua dan keluarga Nely juga gunjingan semua tetangga.
Tetapi kali ini, mereka akan diam, dan menjilat ludah mereka sendiri, aku yakin mendengar mahar Nely sebesar itu semua akan kaget.
Setelah pulang dari keluarga pihak perempuan, kami tiba di rumah, tiba-tiba calon mama menelepon inang mertua mengucapkan rasa terimakasihnya karena menghargai keluarga mereka.
Aku sedang duduk sama Netta di samping inang
“Isi ma?”
(Siapa Ma?) Tanya Netta.
“Eda calon edamu”
“Speaker Ma.” Netta menyalahkan speaker.
“Mauliate eda Saut, mauliate dokkon tu helaki dohot tu boru tai”
“Terimakasih eda saut, terimakasih bilang sama menantu dan anak perempuanmu”
“Olo Eda, sehat ma Eda, asa berengonmu borumi”
“Ya, Eda sehatlah eda , biar bisa kamu lihat anak perempuanmu menikah”
“Olo Eda, dang hina on akka tetangaon be si Nely dang ledekkon be”
(Ya Eda, tetangga tidak akan menghina dan meledek si Nely lagi, mereka tidak bilang lagi, wanita gagal menikah) ujar mama Nely.
Setelah menutup telepon aku penasaran dengan orang yang mereka sebutkan.
“Memang siapa Inang yang menghina?” Tanyaku .
Lae Saut dan Rudi ikut duduk di dekat kami, sementara mami dan keluarga yang lain ada di rumah oppung, rumah itu sudah tutup sejak oppung meninggal, tetapi Lae saut membersihkan dan sering tidur di sana, jadi tidak terlihat sebagai rumah kosong lagi.
“Itu amang rumahnya, sombong bangat orangnya, anak perempuannya dan mamanya beberapa hari yang lalu menghina si Nely
“Ya, Lae mereka semua menghina-hina kakak Neli saat kami lewat, dia bilang kakak Nely, pengemis cinta, lalu dibilang lagi ... boru-bor na gatal, bukan hanya dia mama juga di digosipin sama ibu-ibu yang di sana itu” ucap si Parasian
(Boru-boru na gatal> Perempuan yang ganjen>
“Jahat mereka”
“Ya Bang, parah mereka itu, habis kakak itu dihina-hina, apa lagi yang marah itu abang Rudi, terkabarlah ke semua kampung atas sama bawah, di gosipkanlah keluarga kakak itu dan keluarga kita,” ujar si Parasian.
“Terus apa kata si Nely?” Tanya Netta.
“Dia diam aja kakak itu, malah aku yang memukul si gila itu pakai kayu, palak kali ku rasa”
Bersambung