Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Apa Kamu Tidak Pernah Mencintaiku?


Aku masih diam dan membatu, Netta sudah berangkat kuliah aku masih mempertahankan egoku,


aku tidak mau dan tidak terima saat Netta menuduhku.


Saat Netta pergi aku juga pergi ke Dokter dan memeriksa.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya hasilnya keluar juga,


apa yang dikatakan Netta benar adanya.


Apa yang harus aku lakukan?


Saat hasilnya keluar dan aku mengetahui semua faktanya, aku tidak tahan lagi , aku ingin menenangkan diri, aku ingin menghilang dari semua tuntutan keluargaku, permintaan berat yang tidak bisa aku penuhi.


Belum juga hatiku mereda dengan semua kenyataan pahit ini, tiba-tiba Mami menelepon untuk keinginannya punya cucu.


Kali ini Mami pakai drama pakai menangis, aku tahu pasti Mikha sudah menjalankan rencananya.


Kepalaku sakit. Tidak tahan lagi untuk berjalan sendiri, masalah itu berderet datang padaku tanpa jedah.


Aku terpaksa datang ke rumah Mami lagi, ingin bicara apa adanya, ingin bicara jujur pada Mami.


“Jonathan kamu sudah meninggalkan Perusahaan, aku ingin kamu kembali, tapi harus menikahi Mikha,”


Kata Mami, mami hanya memikirkan dirinya tanpa melihatku yang hampir gila.


“Maaf Mi , aku tidak bisa, jangan ungkit lagi dengan Mikha, itu bukan anakku.”


“Kamu Jonathan, kamu itu bodoh, ada wanita yang memberimu anak


kenapa kamu malah menolaknya, Mami tidak mau tahu kamu harus menikahinya, ia tidak perlu apa-apa, jadi istri kedua juga ia mau, aku tidak menyuruhmu menceraikan Netta, aku tahu itu sangat berat, Netta juga tidak bisa memberi anak.


Mami pikir ia tidak keberatan, Mami hanya ingin punya cucu dari kamu, hanya itu apa salahnya menuruti keinginan Mami,”


katanya dengan wajah memelas dan acara tangisan.


Mami tidak memberiku ruang untuk bicara dan untuk menjelaskan, sementara aku tidak punya tenaga lagi hanya sekedar duduk saat itu.


“Aku tidak mau melakukannya, jangan paksa aku Mi, aku tidak ingin melakukan apapun saat ini.


Aku meninggalkan rumah dan Berakhir di Bar lagi.


Aku kembali ke rumah Netta, ia merawat ku dengan baik, ia tahu aku terpukul, ia tidak sedikitpun menunjukkan kemarahannya padaku, ia sabar merawat ku.


Aku berpikir tidak boleh seperti ini terus, itu artinya aku menyakiti Netta secara tidak langsung.


“Aku ingin bekerja di luar Kota,” kataku menghampiri Netta yang sedang duduk bersantai.


Aku tahu itu satu keputusan berat, Netta menatapku dengan tatapan, menimbang.


“Kapan?”


tanya Netta


“Mungkin dua hari lagi.”


“Baiklah kalau abang ingin seperti itu lakukanlah.”


“Kamu tidak ingin bertanya aku sama siapa, pekerjaan apa di luar kota mana?


Apa itu wajar sebagi seorang istri, Sebenarnya kamu mencintaiku, apa bukan sih, Ta?


Selama ini aku merasa kamu hanya melakukan begitu saja, sekarang jujur padaku apa kamu pernah mencintaiku?”


“Kenapa abang malah menanyakan hal itu sih?”


“Sekarang aku bertanya sekali lagi padamu. apa kamu mencintaiku?”


Netta terlihat diam, ada keraguan di matanya.


“Iya itu pertanyaan tidak masuk akal, Bang, kita sudah menikah, kan?”


tanya Netta.


“Tidak, tidak, aku ingin kamu jujur padaku, apa kamu mencintaiku?” desakku sekali lagi.


“Iya-a-a tentu,” jawaban Netta terlihat sangat ragu, aku tahu ia bohong, aku tahu ia menyembunyikan jawaban yang sebenarnya.


“Baiklah, sekarang aku mengganti pertanyaannya.


Apa kamu percaya padaku?”


Netta lagi-lagi terlihat ragu, saat itu juga aku merasa bodoh, harusnya aku tahu itu sejak awal Netta bukanlah orang bodoh, yang mudah memaafkan kesalahan orang lain dengan mudah.


“Tidak, aku tidak percaya,”


kata Netta mengaku akhirnya, aku belum percaya pada abang Nathan, aku tipe orang yang tidak mudah percaya pada orang lain,” ia akhirnya mengakuinya.


“Terus…! selama ini kita menjalani hidup berumah tangga, apa kamu tidak mempercayaiku sedikitpun?”


Netta mengusap punggung tangannya, menatapku dengan ragu.


“Aku hanya menjalani hubungan ini atas dasar pernikahan, karena kita sudah menikah, mungkin aku mempercayai abang tapi mungkin tidak banyak.”


“Apa? hanya sebatas itukah?” kataku terlihat sangat kecewa, bagaimana tidak, saat aku percaya 100 persen, mungkin kalau ada lagi di atas seratus persen mungkin, aku lebih dari situ mempercayainya, aku mempercayai Netta di segala hal, bahkan aku rela mempercayakan hidupku padanya.


Tapi Netta justru kebalikannya, ia tidak sedikitpun mempercayaiku.


“iya , aku tidak ingin munafik dan berbohong pada abang.”


“Terus waktu Mikha datang kesini mengaku hamil anakku, tapi kamu bisa percaya kalau itu bukan anakku?”


“Itu-karena aku sudah tahu kalau abang tidak bisa punya anak, untuk saat sekarang ini.”


“Apa!? itu artinya selama ini kamu tidak pernah percaya dan kamu juga tidak mencintaiku. Netta?”


Tanyaku.


“Jagan salah paham-aku-“


“Iya! kamu hanya memanfaatkan aku untuk membiayai kuliahmu, kan?”


“Kok jadi begitu?”


“Kalau saja waktu dulu aku tidak bilang tidak membiayai kuliahmu itu artinya saat itu kamu tidak mau menikah denganku, kan Ta?


Gila aku sangat memalukan saat ini.


Aku tidak menduga kalau aku akan menjadi lelaki yang jadi cengeng seperti ini, seumur hidup baru kali ini aku menangis, aku tidak bisa menahan perasaanku, saat aku sangat mencintai Netta saat ini, aku baru tahu kalau Netta tidak memiliki perasaan untukku sedikitpun.


Aku tidak bisa mencegah air itu untuk tidak tumpah, secepat kilat aku menyingkirkan tanda kelemahan itu dari wajahku,


karena menurutku, lelaki yang menangis adalah lelaki yang lemah, itulah yang aku pikirkan.


Melihat itu


Netta menundukkan kepalanya, ia sepertinya merasa bersalah, tapi bukan itu yang aku mau, aku ingin kejujuran dan keterbukaan dari Netta.


“Aku hanya ingin kejujuran mu Ta, apa itu benar?


Jika saat itu aku tidak menawarkan dukungan untuk kuliahmu, kamu tidak akan menikah denganku, kan?’


“Saat itu, iya bang, karena dari awal aku sudah mengetahui kalau abang punya kekasih, jadi aku tidak berpikir hal yang lain.”


Aku merasakan dadaku panas, ingin rasanya aku berteriak, mengeluarkan luapan emosi yang panas di dadaku. aku merasakan dadaku ingin meledak.


“Kamu wanita yang hebat Ta, aku akui, kamu wanita hebat, hebat bisa membuat perasaan seseorang hancur, kamu bertahan selama ini denganku tanpa cinta, tanpa rasa percaya padaku.”


“Apa abang mengharapkan cinta dariku?”


“Apa itu salah?


Apa aku tidak bisa mengharapkan cinta dari wanita yang sudah menjadi istriku?”


“Aku tidak tahu,”


Kata Netta, wajahnya dengan tatapan datar, aku tidak bisa menebak apa yang ia pikirkan, membuatku semakin gelisah.


“Aku kaget Ta, aku tidak menduga kalau kita selama menjalani satu rumah tangga, aku jatuh cinta padamu karena perhatian dan kesabaranmu Ta, kamulah yang sebenarnya yang menyadarkan ku, aku sangat menyukai perhatian yang kamu berikan padaku, aku sangat suka bagaimana kamu menghormati ku sebagai seorang suami, aku jatuh cinta padamu, aku menyukai apa yang kamu berikan padaku.


Tapi aku tidak menduga kalau Cinta dan perasaanku selama ini tidak berbalas, kamu melakukan semua itu untuk sebuah kewajiban dalam hukum pernikahan, itu benar’kan? berarti selama ini kamu membelaku, menjaga harga diriku itu semua karena kewajiban, Ta?”


“Maafkan aku, kalau aku salah Bang,”


kata Netta.


Iya ampun selama ini ia tidak pernah mencintaiku, perhatian yang ia berikan padaku hanya sebuah kewajiban sebagai seorang istri, bukan karena ia mencintaiku.


“Apakah orang sepertiku tidak pantas di Cintai. Ta?”


“Maafkan aku,” kata Netta lagi.


Bersambung