
.
Setelah hampir satu minggu di kampung, sebagian keluarga sudah pulang kembali ke Jakarta, tetapi, kami semua anak-anak oppu Saut masih betah di kampung, banyak hal yang kami lakukan, tidak ada bosannya jika tinggal di kampung. Satu hal yang membuatku ingin bangun cepat di pagi hari.
Saat pagi tiba, kami akan berlomba bangun untuk memungut buah durian, tante Ros, papi, mami yang selalu menang dari kami, mereka pergi bawa obor pagi-pagi, pulang-pulang bawa satu keranjang besar, saat kami datang tidak kebagian lagi.
“Besok pagi kita bangun jam tiga pagi Bang,” ujar Candra, malam itu, sebenarnya bukan hanya ingin makan buah durian saja, tetapi yang membuat suasananya seru, sensasi saat kita mencari buah duriannya, mengendus baunya di semak-semak lalu kita menemukannya, buatku itu sungguh menarik, kalau memakannya aku sudah bosan, karena selama di kampung hampir tiap hari makan buah durian.
Papi juga sibuk dengan bisnisnya, ia akan memasok biji kopi untuk cafenya dari kopi Samosir, karena menurut papi wanginya sangat harum.
Maka hari itu, mereka akan pergi ke kampung atas untuk melihat panen kopi, tulang Gres dan tulang kembar yang asli lahiran di kampung tersebut tahu , mana kampung yaang lebih banyak menghasilkan kopi.
Saat tidak ada tulang kami di rumah, mami, tante Ros mulai bercanda.
“Kalian para pengantin baru, jalan-jalan saja bulan madu,” ujar mami Netta tertawa saat di sebut mami pengantin baru.
“Ya, kalian bertiga sana, bulan madu hotel parapat sana,” ujar tante, meminta kami bertiga, lae Rudi, aku, candra.
“Tante ada-ada saja, memang kami pengantin baru, lae Rudi sajalah,” ujar Candra.
“Kalian berdua juga sama, si Jonathan pengantin baru stok lama”
“Sebenarnya kita cetak tiap malam, Tan, hanya adonannya gagal terus,” ujar Candra.
Mendengar kami bercanda hal ranjang, Lae Rudi keluar ia merasa sungkan karena ada Netta .
“Memangnya mau bikin bolu, pakai adonan,” ujar mami.
Netta ngakak mendengar kata adonan gagal.
“Makanya pakai strategi donk,” ujar tante.
“Sudah Tan, kalau kita dari semua gaya juga sudah dicoba, mulai dari gaya kupu terbang, gaya jungkir balik, gaya kapal selam,” balasku ikut bercanda.
“Berarti belum semua Pak Paima, coba dengan gaya cicak dinding,” ujar tante lagi makin eror.
Netta dan Tivani tertawa ngakak.
“Eeee … orang gila kalian semua,”ucap mami ia keluar.
“Jadi bagaimana … kalian mau pergi jalan-jalan tidak?” Tanya tante lagi.
“Ayo, aku belum pernah jalan-jalan ke liling Samosir.” Tivani membujuk Candra
“Ya uda ayo.” Candra setuju.
Tetapi Netta tidak setuju kalau hanya kami ber enam yang pergi, lagi-lagi ia mengajak pasukan Bodrex, kali ini lebih rame dari jalan-jalan kami pertama .
Walau kami sudah pernah jalan-jalan sama keluarga beberapa tahun lalu, tetap saja aku merasa antusias, aku dan Netta sudah berniat akan mengunjungi semua wisata yang ada di Toba Samosir.
Tempat yang tahun lalu tidak sempat kami kunjungi dengan Netta, kali ini lebih berbeda karena ada Lae Rudi dan istrinya ikut, mereka tahu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ini pertama kalinya untuk Tivani berkunjung ke Samosir kepingan surga di tengah pulau Danau toba.
Ia video call ke Paris menelepon maminya, memamerkan kalau Toba Samosir juga tidak kalau bagus dari Paris.
“Mi, kalau mami pulang sama Eda Lasria, kita akan datang ke sini lagi,” ucap Tivani mengarahkan camera ponselnya ke sekeliling pemandangan Danau Toba.
“Baiklah, Las juga sudah cerita sama Mami”
“Apa dia baik-baik saja?”
“Awalnya dia merasa takut, untuk kuliah setelah kalian pulang, tetapi belakangan ini, dia sudah mau berangka sendiri”
“Mi … keluarga Bang Can, ingin bicara dengannya karena kami masih ngumpul”
“Ok, Mami panggil”
Mami Tivani memberikan ponselnya untuk Lasria, keluarga berebut ingin bicara dengan Lasria.
Lasria saat ini tinggal di Paris bersama maminya Tivani, ia akan mulai kuliah Desainer di sana, karier yang sejak dulu impikan.
Dulu Lasria saat di Indonesia mengambil jurusan Farmasi, tetapi itu semua keinginan tante, bukan kemauannya.
Tetapi setelah ia diajak jalan-jalan ke Paris sama Tivani dan Candra, ia akhirnya mendapatkan sekolah impiannya, ia tinggal bersama maminya Tivani. Menurut Tivani maminya sangat baik dan menganggap Lasria sebagai anak.
“Apa abang mengizinkan dia jauh Can?” Tanya tante, setelah panggilan video call dengan Lasria berakhir.
“Bapak awalnya tidak mengijinkannya Inang, Bapak itu sampai nangis-nangis, tapi dari pada dia putus asa dan depresi atas semua masalah yang terjadi, jadi, kita sama abang membujuk Bapak, maka itu dia akhirnya mengizinkan”
“Dia kuliah di sana, buka hanya jalan-jalan?” Tanya Netta terkejut, karena ia tahu Lasria selama ini tidak pernah jauh dari keluarga apa lagi sama bapa uda.
“Awalnya hanya liburan kami ajak ke sana, tetapi setelah dia tahu Bapak sudah sembuh, dia minta ingin jadi desainer”
“Lalu kamu izinkan?” tanya mami.
“Ya gak papa Mi, kalau dia untuk mengejar cita-cita dan impiannya itu bagus,” ujar Kak Eva.
“Nanti kalau dia kawin sama bule di sana bagaimana?”
“Ih … mami kampungan, justru bagus dapat bule, biar ada keluarga kita yang kawin sama bule,” ujar Kak Eva.
“Gak ya, mami tidak setuju kalau lasria nikah sama orang Bule, dia anak perempuan satu-satunya, harus sama orang Bataklah, biar gak jauh sama keluarga,” sambungnya lagi.
“Mi, kalau sudah jodoh, siapa yang bisa melarang, biarkan saja , yang penting dia sehat, kita doakan agar maminya Eda Tivani sehat, agar bisa menemani dan membimbing Lasria di sana, hati si Lasria itu sedang terluka, kecewa sama tante, maka itu kita harus dulung dia”
Kebaikan dan ketulusan hati seseorang ternyata bisa menular, aku tahu itu dari Tivani, awal kami mengenalnya , dia wanita yang menyebalkan, sombong, judes itulah dulu yang aku lihat darinya, tetapi setelah Candra memperlakukannya dan mencintainya dengan tulus, ia berubah, lalu belakangan ia juga lebih mengenal keluarga kami melihat Netta yang selalu bersikap rendah diri dan apa adanya, melihat Arnita yang suka berbagi dan menolong keluarga, maka itu, belakangan Tivani juga tidak pernah perhitungan pada keluarga, baik kali ini, ia yang membayar hotel dan biaya jalan-jalan keluarga kami. Walau aku dan Netta menawarkan diri untuk ikut membayar tetapi ia menolak. Aku berharap Candra juga dapat berkat.
Karena keinginan terbesar kami dan Candra sama, sama-sama ingin punya momongan, aku percaya, semakin banyak orang yang mendoakan kita, semakin banyak berkat yang mengalir.
Setelah Ziarah ke makam amang mertua dan di kasih makan sama Lae saut kami akan pulang ke Jakarta.
Bersambung …