Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Di Penjarakan


Di Penjarakan


Apa bapak keluarga pasien?”


Seorang perawat menghampiriku.


“Iya sus, saya suami pasien.”


“Baik pak, mari ikut saya bapak harus mengurus administrasinya.


Dengan pikiran kalut aku mengikuti langkah perawat, melihat noda yang mengotori bajuku, kejadiannya tiba-tiba membuatku seperti habis mimpi.


Aku tidak menduga tujuanku membawa Netta jadi satu petaka besar, ia di lukai Mikha.


Hatiku bagai ikut di pukul, aku menyesal membawa Netta ikut menemui wanita itu.


Setelah mengurus administrasinya, Netta belum juga bangun,


aku merasa kepalaku berdengung pusing, banyak noda dari kepala Netta, aku panik, bahkan tanganku serasa bergetar melihat Netta terluka aku merasa sangat bodoh.


Saat ini menunggunya di rumah sakit, tanpa ada orang lain untuk teman berbagi pikiran rasanya membuatku bagai terdampar ke planet lain, tidak ada orang yang bisa diajak untuk bicara, bahkan saat ini aku bingung mau berbuat apa.


Mikha membuatku tidak punya pilihan lain.


Aku tidak ingin memberitahukan keluargaku, kalau saja aku memberitahukannya, pasti aku yang akan di salahkan karena yang melakukannya Mikha, wanita yang menjadi selingkuhan ku selama ini.


Masalah akan melebar kemana-mana.


Selingkuh itu awal-awalnya saja yang manis, semua baik-baik saja, tapi makin kesini nya terasa seperti sebuah hukuman, karena aku ingin menyudahi tapi ternyata tidak semudah seperti yang aku bayangkan, aku tadinya berpikir kalau bosan, kami sudahan tinggal putus seperti orang pacaran.


Ternyata Mikha tidak mau lepas, ia bagai benalu yang terus menempel dan menghisap ku


Tidak boleh seperti ini, aku harus melakukan sesuatu untuk membuat Mikha berhenti bersikap semena-mena.


Beny kemarin sempat menyinggung tentang pelajaran buat Mikha.


Mungkin ia punya solusinya,


“Halo apa Bro, ada apa?”


suara Beny di ujung telepon saat aku meneleponnya.


Berat rasanya menceritakan aib dan kebodohan ku pada Beny, tapi harus demi Netta, karena Netta jauh lebih berharga dari Mikha, Netta sepupuku, istriku juga.


“Netta masuk rumah sakit Bro.”


“Eh…kenapa? apa ada berandalan yang lain yang disuruh?”


suara Beny terdengar serius di ujung telepon.


“Tidak, bukan berandalan bro, justru yang melakukannya dia sendiri ,” ungkap ku terdengar frustasi.


“Haaa? Bagaimana bisa?”


“Mikha memukulnya pakai tempat tissue berbahan kayu di depan mataku lagi, aku ingin kamu menangkapnya atas penganiayaan pada Netta, aku tidak perduli sedikitpun padanya lagi.”


Aku merasakan urat leherku mengeras karena saling bertarikan.


“Tenang bro, jangan buru-buru, ingat lu itu siapa, lu itu seorang direktur, kalau kamu tidak bertindak hati-hati nama baikmu jelek.


Ingat Mikha itu siapa mu dulu,


takutnya melebar kemana-mana, keluarga lu juga yang malu, tidak ada solusi lain?”


Beny memberikan pendapatnya.


“Gue ga perduli bro, lakukan saja.”


“Ok baiklah, yang penting aku sudah beri nasehat untuk kamu,” kata Beny terdengar khawatir.


Menuggu Netta di ruangan itu sendiri, aku tidak tahan situasi seperti ini, aku membangunkannya, menggosok minyak angin ke hidung nya, berharap ia cepat bangun, tapi tidak berhasil.


Meletakkan kepalaku di samping ranjang Netta, niatku hanya ingin merebahkan kepalaku, tapi ternyata aku malah ketiduran sampai sore, aku merasakan tangan lembut mengusap kepalaku membuatku terbangun.


Saat membuka mata, tangan Netta yang membuatku bangun, Netta juga sudah bangun dari tidur panjangnya, aku pikir Netta akan lupa ingatan seperti sinetron Indonesia, akan lupa ingatan setiap kali kepalanya terluka, aku berpikir kalau ia bangun tidak akan mengenaliku.


“Abang lama bangat tidurnya, aku nungguin sampai bosan,” kata Netta masih sempat-sempatnya tersenyum menatapku.


Aku diam untuk mengumpulkan kesadaran, Netta masih menatapku dengan kepala di bungkus perban putih.


“Tidak apa-apa, hanya pusing dan jahitannya terasa perih, aku harus urus surat sakit ni, aku belum bisa masuk kuliah sepertinya besok.”


“Aku akan mengurusnya dek, kamu istirahat saja.”


Aku keluar hari sudah sore, langit sudah gelap itu, artinya aku ketiduran tadi hampir setengah hari.


Setelah mengurus surat izin sakit Netta. Aku baru merasakan kalau perutku sangat lapar, Aku ingin mencari makan, tapi meninggalkan Netta sendirian aku tidak tega.


Saat balik ke kamar


Netta kebetulan lagi makan, makanan rumah sakit. Membuatku makin lapar ,


“Abang sudah makan? “


“Belum, makan saja aku akan makan di luar nanti setelah kamu makan.”


“Ini abang makan saja, aku tidak berselera, kita harus pulang dari sini, aku tidak apa-apa, aku sudah membaca catatan medisnya, tidak ada yang perlu dikawatirkan, aku tidak betah tidur-tiduran di sini.


Abang makan ini saja nah, baru aku ganti pakaian, biar kita pulang, lebih baik aku istirahat di rumah saja,” ucap Netta seakan luka di kepalanya tidak apa-apa.


“Tapi apa kamu yakin tidak apa-apa, kepalamu tadi terluka parah dek,” kataku menatapnya lebih dekat, aku takut otaknya miring karena mendapat pukulan keras.


Tidak apa-apa bang, luka seperti ini hal biasa untukku, pernah ada lagi lebih parah dari sini, kena tanduk kerbau, lihat ada luka panjang di pinggang ku ,kan,” kata Netta memperlihatkan pinggangnya ada bekas luka panjang yang sudah mulai memudar sekitar sepuluh centi meter, aku tidak menyadarinya ada bekas luka di bagian itu, walau sering melihat tubuhnya, tapi aku tidak menyadari kalau ada bekas luka di sana.


Makanan rumah sakit makanan yang paling aku benci, karena rasanya hambar, tapi karena ada Netta yang duduk di depanku, membuatku memakan dengan lahap, mungkin karena efek lapar juga.


“Perban yang melilit di kepala ku di buka saja, ini kayak sakit akting saja seperti di TV-TV,” kata Netta tertawa.


Salut sama wanita yang satu ini, baru kali ini aku melihat wanita yang tidak banyak permintaan dan tidak ada kata – kata manja walau ia sedang sakit.


“Tapi memang tidak apa-apa kalau kita pulang seperti ini?” aku bertanya menatapnya dengan bingung.


Netta membuka perban yang melilit di kepalanya, mengganti dengan perban luka.


Kring


Kring


Saat menikmati makanan yang di berikan Netta, di suapan terakhir ada panggilan masuk dari Beny.


Melihat nama Beny di layar ponselku, aku yakin ada yang penting yang ia sampaikan padaku,


Buru-buru menyudahi setelah minum segelas air dan mengusap mulut dengan tissue, jari-jariku dengan cepat menekan tombol jawab.


“Halo bro.”


“Ia sudah di kantor Bro,”


“Baguslah,” kataku menatap Netta.


Beny tidak terlalu banyak komentar lagi, mungkin ia berpikir percuma melarang ku ini dan itu, karena apa yang aku pikirkan itu yang aku laksanakan.


Netta belum tahu kalau Mikha sudah di bawa kekantor polisi mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Aku pikir kalau Netta aku beri tahu akan merasa senang karena orang yang menyakitinya sudah mendapat ganjarannya.


“Ta, Mikha sudah dibawa ke kantor polisi.”


Wajah Netta datar tidak ada reaksi yang menonjol.


“Tapi abang tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa Ta, kita kan sudah bicara baik-baik, ia yang membuat kesalahan, setiap perbuatan akan ada akibatnya, “ kataku dengan pedenya.


Netta menatapku dengan tatapan mendikte, tatapan itu membuatku kikuk serba salah.


“Aku tidak setuju, jika satu perselingkuhan yang disalahkan perempuannya saja, lelakinya juga harus bertanggung jawab,” kata Netta, aku


terdiam merasa serba salah jadinya.


“Lepaskan saja bang, nanti kabarnya akan cepat menyebar, bukan hanya ia yang malu, abang juga akan kena nanti masalahnya makin melebar, sebaiknya selesaikan dengan cara lain.


lagian kasihan ia melakukan itu karena masih sayang pada bang Nathan.”


Kata Netta membuatku tidak bisa bicara.


Bersambung....