
Setelah menjelaskan semuanya pada keluarga tentang rencana kami, mereka semua akhirnya merima keputusan kami. Program bayi tabung akan kami lakukan tahun depan setelah lae Rudi menikah.
Setelah kami minta makan dari tulangku yang terakhir ya itu bapak Netta, karena beliau sudah meninggal, Jadi lae Saut yang menggantikan sosok tulang nantinya.
“Alai pangidoankku, ndang pola be sikkola nai Paimaon”
( Namun permintaan mami, jangan lagi sekolah mama harapan ini) ujar mami, ia menatap Netta yang di dekatku.
“Mi, jangan mulai lagi, tadi , sudah tenang sudah sepakat di ulangi,” ujar papi.
“Aku hanya mengutamakan keinginan hatiku, soalnya takutnya nanti jadi keterusan dia sekolah”
“Baiklah Mami, jangan khawatir, Netta juga bilang tidak waktu dekat, nanti beberapa tahun lagi,”jawabku.
“Baiklah, mami akan mendukung apapun keputusan kalian,”ucapnya kemudian saat melihat tatapan papi.
Mami, akhirnya tidak banyak bicara lagi, walau rencana itu tidak diwujudkan dalam tahun ini.
Bukannya ingin menunda-nunda, tetapi karena banyak pertimbangan , Netta juga rencananya di tempatkan hanya beberapa bulan di Bali, kita tidak tahu apa ia akan kembali di Jakarta apa di sini.
Sementara aku sendiri, jika boleh meminta, aku inginnya Netta bertugas di Bali saja, suasananya tenang dan damai, kala otak capek di paksa berpikir, buka pintu langsung di sambut hamparan pantai yang indah dan suara kicauan burung yang membuat jiwa terasa damai.
Sekarang aku mengerti kenapa tanah dan Villa di Bali itu harganya selangit, bahkan bisa dua kali sampai tiga kali lipat dengan villa yang di Jakarta. Benar, ketenangan dan kedamaian itu mahal harganya.
Bahkan mami dan papi betah tinggal di rumah kami di Bali, karena orang tua itu butuh udara segar dan ketenangan.
Saat pagi tiba.
“Papi tadinya ingin pulang ke Medan untuk bertani di sana, tetapi suasana di sini juga tenang,” ujar papi.
“Kita pindah ke sini saja Pi, bagaimana?” Mami melirik suaminya yang melakukan olah raga pagi di halaman Villa.
“Jangan …! Nanti eda sama ito pusing, mami kan orangnya bawel, kalau sekedar berkunjung ke rumah anak itu hal biasa, tetapi kalau untuk tinggal bersama ito, jangan, kecuali kalau mami itu nanti sudah tua dan reot, karena dalam adat Batak, orang tua harus tinggal di rumah anak laki-laki, ya nanti kalau sudah tua bangat tidak bisa urus diri sendiri, barulah tinggal di rumah ito,” ujar Kak Eva, itu juga yang mewakili hatiku.
Waktu di Jakarta juga aku memilih pisah dari mami alasannya karena itu juga, aku tidak mau mami itu terlalu mengurusi masalah rumah tangga kami berdua, aku tidak ingin Netta stres karena melihat sikap mami yang banyak aturannya.
Pesanku bagi orang-orang yang sudah menikah, lebih baik mengontrak satu petak rumah, tetapi hidup tenang … dari pada tinggal di rumah mewah orang tua, tetapi tertekan.
Karena ada ungkapan Batak yang mengatakan seperti ini;
‘Molo Jonok bau, molo dao angur’
(Dekat bau, kalau jauh harum > artinya kalau menantu dan mertua tinggal satu atap, mertua akan selalu melihat kejelekan menantunya.
**
Setelah beberapa hari tinggal di Bali, mereka akhirnya pulang, karena Arkan akan sekolah juga.
Setelah semua yang terjadi, aku pikir semua yang terjadi sama Candra akan berangsur pulih, tetapi malah sebaliknya.
Saat hari tenang tenang saat itu, tiba-tiba katanya papinya Tivani datang ke Bali, ke rumah baru mereka, bahkan terang-terangan meminta Tivani untuk meninggalkan Candra, ia mengatakan di depan bapa uda kalau besannya hanya benalu di keluarga mereka.
Hari itu aku baru memimpin rapat akhir bulan secara daring, karena aku malas kembali ke Jakarta, jadi kita rapat secara virtual saja, di tengah rapat, Lasria menelepon kalau papinya Tivani datang dan marah-marah.
“Ada apa?”
“Papinya Kak Tivani datang ke rumah, dia marah -marah”
‘Aduh … mengurus hal beginian aku paling malas, kalau orang lain yang bikin keributan, tinggal panggil polisi urusan selesai, ini … mau panggil polisi itu orang tua Tivani, tetapi dibiarkan, kasihan bapa tua’ aku membatin
“Candra ada gak Dek” Tanyaku lagi.
“Abang sudah berangkat kerja tadi pagi”
“Baiklah, sebenarnya , aku tidak mau ikut campur urusan keluarga mereka Dek, bagaimana kalau aku pesan mobil kamu yang membawa bapa uda ke rumah kami?”
“Ya, begitu juga bisa Bang, kasihan bapa dia mendengar kata -kata pedas dari orang ini,” ujar Lasria.
Mendengar suaranya bergetar sedih seperti itu, aku merasa ikut sedih juga , Lasria adik kecil untuk kami sama Netta, karena kami tempat curhat untuknya belakangan ini, aku tidak ingin melihat bapa uda dan Lasria merasa tidak dipedulikan, aku sudah mengalami apa yang dialami bapa uda.
Jadi aku memutuskan menjemput mereka berdua, lagian jaraknya rumah kami dengan rumah Candra juga juga dekat hanya butuh sepuluh menit.
“Gini saja Dek, bawa bapa uda keluar dari rumah, tunggu abang di dekat jalan masuk”
“Baik Bang”
Terpaksa aku menyudahi rapat hari ini, memutuskan menjemput Lasria dan bapa uda, saat aku menyetir melihat mereka berdua menunggu di pinggir jalan seperti itu, aku merasa bagian hatiku terasa sakit, rasanya tidak adil jika ada orang baik yang mengalami hal menyakitkan seperti itu.
Aku berharap itu tante yang merasakannya, bukan bapa uda dan Lasria.
Belakangan Edo juga marah pada tante karena perlakuannya yang di media sosial, ia juga marah katanya sama bapa uda karena tidak tegas pada istrinya.
“Kenapa jadi seperti ini? Bapa uda orang yang sangat baik, tidak banyak neko-neko dari dulu, tetapi dia mengalami hal sedih seperti ini”
Menghela napas panjang, menyingkirkan rasa yang sesak di dada, aku berharap keluarga kami bisa melewati semua ujian hidup ini.
Mobilku berhenti dipinggir jalan di dekat mereka, matahari pagi itu lumayan terik, alhasil wajah Lasria seketika memerah diterpa terik matahari.
Aku membantu bapa uda naik ke dalam mobil dan membawa mereka keluar dari rumah Tivani.
Aku bilang sama Lasria agar tidak usah memberitahukan Candra tentang apa yang terjadi di rumah mereka, aku tidak tahu apa aku sudah melakukan yang tepat atau bukan.
“Bapa uda sudah serapan?”
“Sudah serapan tadi Mang, di rumah, aku tidak tahu harus berbuat apa, bapa udah hanya ingin sembuh dan bisa menjalankan hidup yang normal, uda bosan duduk di kursi roda ini,” ujarnya terlihat putus asa.
“Ya, bapa uda pasti sembuh, Candra sudah bilang padaku kalau dia lagi berjuang untuk kesembuhan bapa uda”
‘Bersabarlah bapa uda, setiap masalah yang dialami semua orang itu proses hidup agar lebih dekat lagi sama penciptanya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, kalau Candra tau bapak mertuanya datang ke rumah meminta Tivani meninggalkannya. Aku juga tidak tahu apakah dia akan memilih orang tuanya atau suaminya?
Bersambung …
Kakak Baik jangan lupa vote like dan kasih hadiah ya, agar viernya naik