
Benar kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang paling melelahkan.
Setelah kejadian hari itu, Tante datang untuk meminta Netta untuk jadi menantunya, ia meminta seakan -akan Netta itu sebuah barang, Untungnya anak-anak Tante tidak setuju dengan rencana Tante.
Netta sudah menandatangani kertas putih bermaterai, tinggal coretan tangan dariku, habis itu tamat cerita kami dan Netta, tetapi aku tidak ingin melakukannya, aku ingin cerita hidup kami terukir abadi sampai tua. Sampai kapanpun aku tidak akan mau berpisah dengan Netta, aku yang akan berjuang lebih keras lagi untuk menyakinkan Netta.
Sejak mendengar Edo menyebut Bule Jerman tampan, aku merasa separuh jiwaku melayang, pikiranku kacau, aku tidak ingin seperti ini, aku berencana mencoba untuk menyusul Netta ke Jerman, aku sudah mempersiapkan semua, aku sudah meminta Lina si pengantin baru itu untuk mengurus pasport ku.
Aku memutuskan akan menemuinya ke Jerman, aku mencoba lagi ke Kampus Netta, Tetapi dari pihak Kampus melarang keluarga datang, karena mereka tinggal di asrama yang di sediakan pihak Kampus di Jerman, hanya di perbolehkan berkomunikasi lewat video call, itupun jam dan hari dan waktunya dibatasi, tidak bisa ditelepon pada waktu jam mata kuliah.
Keinginanku akhirnya tertunda, karena pihak Kampus Netta melarang keluarga datang sebab yang berangkat ke sana adalah orang –orang pilihan dari Kampus yang di biayai Negara, dan sudah bersedia untuk tidak di datangi keluarga, peraturan untuk mereka sangat ketat, bisa saja aku pergi menemuinya, kalau masalah alamat tempat tinggalnya, tinggal minta sama KBI yang ada di sana, tapi aku berpikir lagi, kalau aku datang dan berhasil menemui Netta, tapi pada akhirnya ia terkena masalah karena kedatanganku, beasiswa di cabut dan ia dapat teguran, aku tidak ingin ia dapat masalah, ia sudah berjuang matian-matian demi mengejar cita-citanya, aku tidak mau egois, aku akhirnya aku membatalkan rencana ku.
Aku hanya menitipkan ke bagian kampus sejumlah uang untuk biaya yang akan ia gunakan selama tinggal di Jerman, nomor Netta tidak bisa lagi dihubungi.
Aku duduk menatap kertas yang sudah bertandatangan itu, segala pikiran buruk menghampiriku, kabar Netta sama bule tampan seperti kata Edo membuatku tidak bersemangat, bahkan pekerjaanku berantakan, tetapi, apa yang bisa aku lakukan? aku hanya akan menerima keputusan Netta nantinya.
Walau hidupku akan hancur untuk kedua kalinya nanti jika ia tidak kembali lagi, tapi aku akan mencoba saat ini Menunggunya dengan sabar.
Pukul 07: 00 pagi.
Dalam kamar.
Hari ini badanku rasanya sangat berat untuk berangkat ke kantor, aku bersemangat membangun perusahaan dan bangkit karena Netta, tapi saat ini semangat seakan - seakan mulai hilang, saat Edo menyebut Netta dilirik banyak bule tampan.
Netta bisa membuatku hancur, Netta juga membuatku bersemangat.
Pagi itu, saat matahari sudah bekerja menunaikan tugasnya, aku masih memeluk guling yang selalu menemaniku tiap malam.
Tok …Tok …!
“Ini Papi Tan, boleh masuk?”Suara papi di balik pintu kamar.
“Iya Pi masuk saja.”
“Apa kamu kurang enak badan Tan, istirahat saja kalau lagi kurang enak badan, biar Papi yang menggantikan kamu ke kantor,” ujar Papi penuh perhatian.
“Tidak Pi hanya lagi malas saja, ingin tiduran.”
“Apa kamu memikirkannya?“
“Iya.”
“Kalau kamu yakin pada perasaanmu kamu harus mempertahankannya, tetap berdoa dan perbaiki diri lebih baik lagi,” ucap papi memberi nasihat.
“Masalahnya, dia tidak bisa di hubungi Pi, nomornya tidak aktif lagi.”
“Percayalah, Netta itu pintar, dia anak baik, Papi percaya padanya, dia akan kembali padamu,” kata Papi raut wajahnya terlihat sangat yakin, solah -olah beliau punya jaminan kalau Netta akan kembali padaku,
sebagai anak, aku ingin percaya pada Papi, tetapi sebagian dari hati ini. Menunggu Netta pulang dalam situasi seperti berat.
“Aku tidak ingin ke kantor dulu Pi, lagi banyak pikiran.”
“Ok, tidak apa-apa Nak, istirahat saja, biar papi yang gantikan kamu di kantor, Papi juga sudah lama tidak mampir ke sana, Restauran hari ini lagi di pakai untuk acara pernikahan, jadi tidak begitu sibuk,”ujar Papi.
Saat asik mengobrol dengan Papi, ketukan pintu kamarku terdengar lagi,
Kak Eva datang, ia menatapku dengan tatapan cemas, aku tahu itu, mereka semua pasti mengkhawatirkan ku, mereka pasti takut aku kembali gila dan melarikan diri dan menjadi gembel jalanan, tetapi aku tidak akan melakukan itu lagi.
Aku belajar dari kesalahan yang sudah aku lakukan, merusak hidup tidak akan bisa menyelesaikan masalah, menggunakan barang setan itu, saat ada masalah tidak akan bisa melupakan masalah, yang ada membuat masalah yang makin besar, menyakiti hati orang –orang terdekat saat itu, menyebabkan Mami sakit.
Jalan satu-satunya sebagai lelaki lebih baiknya hadapi dan jalani sendiri.
“Tan, apa kamu menjadikan perkataan Edo dan Tante jadi beban pikiran kamu lagi?”
“Itu sudah pasti kak,” jawabku jujur, lebih baik jujur dan berbagai beban pikiran dengan orang terdekat agar beban terasa ringan.
“Coba kamu telepon lagi, “ucap kak Eva memberi saran.
“Justru tidak aktif, maka itu aku jadi pusing kak,” ujar ku.
Kak Eva mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya, menelepon Netta, tapi hasilnya nihil, tidak ada, bahkan nomor itu tidak aktif lagi.
“Iya…tidak aktif.”Kak Eva menatapku dengan tatapan iba.
Saat kami saling asik mengobrol di kamarku, terdengar teriakan suara Arnita sampai ke kamarku, ia memanggil Mami.
Aku berlari ke bawah, ternyata Mami tiba-tiba kondisinya drop lagi, ia mengalami kejang-kejang dengan pupil mata terlihat berwarna putih dari mulut mengeluarkan busa.
“Mami ….!
Ayo bawa ke rumah sakit,” teriak kak Eva, ia tahu kondisi dan penyakit Mami, karena itu bagian dari pekerjaannya selama puluhan tahun.
Dengan cepat aku mengeluarkan mobilku, Papi menggendong Mami masuk ke dalam mobil , Kak Eva juga ikut masuk, kami melarikan Mami ke ke rumah sakit, untung jalan tidak macet hari ini, jadi kami bisa dengan cepat memberi pertolongan sebelum terlambat, tidak berapa lama akhirnya tiba di rumah sakit, di bawa ke ruangan, beberapa orang petugas dokter langsung menangani Mami.
Kami bertiga duduk lemas diluar ruangan, jarum jamnya sepertinya lambat berputar, hampir satu jam kami menunggu di luar, kami belum mendapat kabar dari keadaan Mami, tidak lama kemudian seorang dokter perempuan akhirnya keluar dari ruangan Mami.
“Apa yang terjadi, Dokter?”
“Ibu sedang istirahat, Beliau sudah melewati masa kritisnya, sepertinya meminum obat dengan dosis yang banyak, apa sedang ada masalah di rumah? Apa Ibu anda tidak diawasi?” Tatapan dokter wanita itu membuat kami saling menatap juga dengan bingung, karena Mami selalu dalam pengawasan kak Eva.
“Maksud dokter apa? Mami saya berusaha-“
“Iya, besar kemungkinannya, karena ada beberapa obat yang masuk, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang di derita saat ini.”
Kak Eva serasa tidak percaya mendengar Mami meminum obat sebanyak itu, kami tidak pernah berpikir kalau Mami se putus asa itu.
“Aku tidak seharusnya tidak bilang ke Mami tadi,” kata kak Eva.
“Memang kakak ngomong apa?” Aku penasaran.
“Tadi aku bilang kamu banyak pikiran karena Netta tidak balik lagi ke Indonesia, saat itu Mami hanya diam, aku tidak seharusnya meninggalkannya,” kata Eva menangis sesenggukan.
“Sudah Nang… sudah, tidak apa-apa, kita tidak boleh menyalahkan diri sendiri, mulai saat ini mari kita saling mendukung,” kata Papi mengusap-usap pundak kak Eva.
Bersambung....