
Melajukan motor ninja milikku, melaju tanpa tujuan awalnya, tidak diduga aku malah berakhir di Bandara.
Bila saat ini kamu pergi dan kita berpisah, jangan pernah kamu lupakan semua kenangan indah yang pernah kita lalui bersama walau hanya sementara, bukan hati ini tak sakit, bukan hati ini tak hancur, bukan pula hati ini tidak sedih, namun hanya kepasrahan yang mengiringi.
Flash on
Saat ini aku berada di Bandara, entah kenapa hatiku enggan beranjak dari tempat ini, sebelum Netta datang, aku tidur disini sejak kemarin sore, saat pergi dari rumah, aku marah karena kak Eva mengatur-atur hidupku, sebenarnya hanya hal kecil saja, hal yang biasa juga kak Eva bersikap begitu padaku, tapi posisinya hatiku saat itu lagi rapuh, serapuh-rapuhnya, maka masalah sedikit saja bisa jadi besar.
Jam 06: 00
Aku melihat mobil rombongan beberapa mahasiswa sudah tiba, aku sengaja tidak menunjukkan diriku pada Netta. Benar saja
perempuan manis itu terlihat menatap sekeliling kearah Bandara, saat semua teman-temanya diantar keluarga, Netta hanya melihat kearah luar, tanpa ada yang mengantarnya, hatiku sebenarnya sangat sedih melihat.
Ia mengharapkan aku datang, saat ia masuk Metal Detector, pemeriksaan barulah aku keluar, dan berdiri di pintu masuk.
“Bang…!
wajahnya bersinar terlihat sangat gembira, melihatku datang ia mengarahkan ponselnya, maksudnya agar aku mengangkat, sayang ponselku mati karena sejak keluar dari rumah, aku tidak membawa cargeran.
“Sana masuk,”
kataku mengunakan punggung tanganku.
Tapi sepertinya Netta tidak ingin pergi sebelum berpamitan.
Ia mendekati salah petugas, terlihat ia mengarahkan jari-jari telunjuknya ke arah ku dan mengatupkan kedua telapak tangannya di dadanya, tanda memohon agar di izinkan menemui ku.
Berlari keluar lagi menghampiriku, merangkul pinggangku dengan erat, ia tidak perduli dengan tatapan orang pada kami berdua.
“Terimakasih karena abang sudah datang, aku tadi sangat sedih saat abang tidak datang,”
ucap Netta dengan mata tidak bisa membendung air matanya.
Aneh, aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, lidahku terasa kaku dan otakku serasa tumpul, padahal banyak yang ingin aku ucapkan sebenarnya.
Bahkan, pelukan hangat dari Netta, aku tidak membalasnya.
“Abang harus jaga diri, jaga kesehatan, iya,”
kata Netta, aku hanya diam tidak menyahut.
“Ta, buruan panggil temannya dengan tangan menunjuk arloji yang melingkar di tangan teman Netta.
“Pergilah, temanmu sudah menunggu di sana,” kataku.
“Baiklah, aku pergi bang, aku harus check-in karena pesawatnya jam tujuh sudah berangkat.”
“Baiklah.”
Merangkul tubuhku sekali lagi.
Netta masuk lagi untuk mendaftar, aku masih berdiri.
Tapi, saat Netta berjalan masuk ke ruang tunggu, dari situlah aku merasakan kesedihan yang sangat dalam.
Netta menoleh ke belakang dan melambai lagi padaku, berjalan meninggalkanku, saat itulah aku merasakan rongga dadaku sangat sakit.
Melihat punggungnya semakin menjauh dan menghilang di balik tembok bangunan, saat itu juga aku baru menyadari kalau Netta tidak akan aku lihat selama tiga tahun, waktu yang lama menurutku.
Aku merasakan mataku mulai panas, untung kaca mata hitam selalu ada di kantong jaket ku, saat air mata itu tumpah pada akhirnya aku bisa menyembunyikan di balik kaca mata yang aku pakai .
Kini, aku menyesali diriku, kenapa saat ia memeluk tubuhku, kenapa aku tidak ikut membalas pelukannya?
Kenapa otakku lemot tadi? menyadarinya, melihat sekeliling rasanya seperti aku terdampar ke alam yang berbeda saat ini, bagian hatiku rasanya sakit, gilanya lagi, aku ingin memeluk Netta saat itu juga, aku berharap ia balik lagi menemui ku, agar aku bicara baik dengannya.
Sikap acuh ku tadi pasti disalah artikan Netta, ia pasti berpikir kalau aku tidak perduli padanya, ingin rasanya aku berlari meminta maaf lagi padanya.
Kenapa setelah ia pergi baru aku menyadari kalau aku harus melakukannya?
Sayang Netta sudah masuk keruang tunggu, tidak mungkin keluar lagi untuk menemui ku.
Iya Tuhan, aku menyesal, aku menyesal tidak menemuinya beberapa hari ini, harusnya aku bicara baik –baik dengannya.
Aku mondar-mandir menoleh kedalam untuk mengharapkan hal yang tidak mungkin, tidak mungkin Netta balik lagi.
Hingga akhirnya pesawat itu terbang menuju langit membawa Netta jauh ke belahan benua lain, bahkan aku tidak bertanya di mana tempatnya.
Aku berjalan lunglai kearah motorku, rasa penyesalan awal dari bencana dalam hidupku, aku duduk lama seperti orang gila di sana, menghabiskan setengah hari.
Melihat pesawat membawa Netta pergi, dadaku rasanya remuk dan hampa, aku menangis duduk di atas motorku, tidak perduli lagi tatapan orang padaku, aku pikir, aku bisa mengatasi dan mengurus perasaanku, aku tidak pernah berpikir akan sesakit ini, aku tidak pernah berpikir di umurku se dewasa ini, aku akan menangis hanya karena cinta, tapi nyatanya aku lebih lemah dari yang aku bayangkan, aku menumpahkan air mataku saat Netta pergi, lelaki lemah.
Oh tenyata perasaan tidak memandang umur, walau sudah tua, ataupun masih muda, kalau perasaanmu terluka tetaplah terasa sakit.
Aku tidak tahu, apa aku bisa mengatasi perasaanku saat ini nanti dan kedepannya. Sebab apa yang terjadi saat ini tidak semudah seperti yang aku bayangkan.
Menghidupkan Motorku, berlama-lama di Bandara membuat rongga dadaku semakin sesak, aku melajukan kendaraan, melaju dengan cepat, ini mungkin hal gila yang aku lakukan, aku membawa motorku dengan kecepatan tinggi, menyalip kanan- kiri, tidak perduli dengan apapun, aku tidak bisa mengatasi hatiku, mataku terasa berat , aku terus melaju, padahal sudah punya firasat kalau aku akan ada masalah nantinya, tapi aku menghiraukannya.
Melaju terus, dan terus hingga aku sadar aku berada di Bandung, sudah hampir sore, berhenti untuk mengisi perut, tapi tidak mengisi bensin motorku lagi. Hingga larut malam, aku menyudahi petualangan, dan niat kembali, satu hari aku habiskan tanpa arti, melirik jam yang melingkar di tanganku.
Jam 24:10.
Jalanan sudah sepi.
Gila, nasib malang selalu menghampiriku, bensin habis di jalan pasupati Bandung, persis di jembatan layang.
Tempat yang terkenal dengan tempat Favorit para manusia nekat, yang sering melukai korbannya dengan parang-parang panjang.
Oh baguslah, kataku ketawa kecut, saat motorku berhenti karena kehabisan bensin.
“Tempat yang bagus untuk mati, paling aku di lenyap kan dan dilempar ke sungai di bawah jembatan,”
kataku berucap pelan.
Benar saja, mereka keluar kira-kira empat orang di tangan masing-masing sudah parang, balok kayu.
Tidak menunggu lama.
” Oi... sini,sini dompet lu, kunci motornya, hapenya,”
mengarahkan balok kayu itu ke arahku.
“Ambil saja, motor itu kehabisan bensin.” kataku masih duduk dengan sikap pasrah.
“Keluarin dompet lu sini sama ponsel cepat, cepat gertaknya dengan lantang, dan sikap buru-baru, bau arak menyeruak dari mulut busuknya.
“Tidak ada isinya, ponselnya mati.” jawabku dengan bersikap tenang, bukan tenang sebenarnya, lebih tepatnya pasrah karena frustasi.
“Keluarkan aku bilang, blegug sia…!”
Aku ogah menuruti gertaknya, sama saja cari kematian sendiri.
Paak....!
Hantaman melayang ke kepala ku bagian samping.
Satu hantaman keras yang membuatku langsung tumbang.
Akhirnya tumbang di sini, tadi aku pikir kematian ku, saat aku naik motor ugal-ugalan dari Jakarta tadi siang, ternyata di sini,
kataku tertawa kecut, aku tergeletak di pinggir jalan, dengan luka di bagian kepala.
Bersambung....