Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Vallentin Day


Masih duduk di kopi shop menikmati segelas kopi yang aku pesan.


“Kamu gak mau kopi Dek?”


“Gak, aku lapar sebenarnya, tapi  absen dulu, baru kita pulang,” ujar Netta.


“Baiklah, aku tunggu di dalam mobil.” Aku membayar kopi pesanan dan menunggu Netta dalam mobil.


Saat menunggu Netta, tiba- tiba aku melihat Tivani Chan istri Candra keluar dari rumah sakit.


“Apa dia bekerja di sini juga? Bagaimana dengan Candra?”


Aku merogoh kantung celanaku dan menelepon nomor Candra, tetapi belum aktif.


‘Apa dia masih melarikan diri?’ tanyaku dalam hati.


Aku penasaran dengan Tivani Chan, jadi aku keluar dari mobil  untuk melihatnya, tetapi dia sudah menghilang di balik gedung rumah sakit.


“Cari siapa Bang?”


Si Borneng sudah berdiri di depanku.


“Dek … apa Tivani Chan bekerja di rumah sakit ini juga?”


“Setahuku tidak Bang. Tapi aku mendengar ada penambahan dokter di bagian saraf.”


“Mungkin dia,” ujar ku.


“Memang dia ada di sini? Bagaimana dengan Bang Candra?”


“Entahlah, jika dia masih kabur, masa, istrinya sudah langsung kerja,” ucapku penasaran.


“Justru itu lebih baik Bang, dari pada stres memikirkan masalah, lebih baik mengalihkan  dengan pekerjaan,” ujar Netta, seolah-olah ia ingin mengatakan itu pengalamannya, saat kami bermasalah dulu.


“Satu minggu sudah setelah pernikahan mereka. Kenapa Lah si Candra, kasihan istrinya belum malam pertama, suaminya sudah kabur. Tante pasti sudah gila perasaannya sekarang,” ucapku.


“Sebenarnya Bang ….” Netta menggantung kalimatnya.


“Apa?” Tanyaku menatap wajahnya serius.


“Kita  masuk dulu.”


“Apa kamu tahu dia di mana?”


“Ya.”


“Dek ….? Kenapa kamu tidak bilang saat semua panik mencarinya.”


“Bang, biarkan dia menenangkan diri sebentar, dari pada dia gila, kasihan dia sebenarnya Bang.  Kalian berdua sebenarnya sama loh Bang di jodoh kan, kalian sama nasib nya, bedanya dia sama dokter,” ujar Netta.


“Hidupku lebih rumit Dek, tolong jangan ungkit lagi,” ujar ku.


Entah kenapa setiap  mengingat masa laluku, rasanya aku geram sendiri.


Tetapi benar kata Netta.


Tidak akan ada masa depan tanpa masa lalu, Netta mengingatkanku dan berkata seperti ini;


“ Anggaplah masa lalu itu sebagai kaca spion saat kita berkendara, boleh di lihat hanya sesekali untuk mengingatkan kita untuk kendaraan di belakang, jika terus dilihat dan pikirkan maka kita akan  kecelakaan.” lebih tepat nya inspeksi diri dari masa lalu.


“ Baiklah, lupakan tentang mereka dulu, kini tentang kita.”


“Kita kenapa?” Netta menaikkan kedua alisnya.


Aku mengambil buket bunga dan kotak coklat dari jok belakang.


“Ini untukmu, selamat Valentine day,” ujar ku memberikan ke tangannya.


Lalu aku menyalakan mesin mobil.


“Itu aja?” Tanya Netta menahan senyum.


“Ya, memang apa lagi?” Tanyaku pura -pura tidak tahu.


Aku memang tidak  bisa mengatakan kata-kata romantis seperti orang orang, lidahku terasa  makan andaliman satu genggam saat ingin mengucapkan kata-kata manis.


“Tidak ada kata-kata romantis?”


“Tidak bisa Dek, aku tidak  biasa mengatakannya,” ujar ku sok sibuk dengan setir di tanganku.


“ Baiklah aku saja. Selamat  Hari kasih sayang Hasian,” ucap Netta mendaratkan satu kiss di pipiku.


“Kenapa ya lelaki orang Batak itu tidak pernah bisa romantis, kaku bangat.”


“Kami tidak romantis, tetapi sekali mencintai satu wanita setia,” balasku.


Lelaki Batak itu  jarang bisa romantis, apa lagi  yang lahirnya masih asli  dari kampung, tetapi walau kami tidak bisa romantis, tetapi sekali mencintai wanita  setia.


“Dek… tahu gak orang batak itu kenapa jarang  bercerai?”


“Karena dilarang dari Gereja.”


“Salah,” jawabku.


“Karena sinamot mahal,” jawabku bercanda.


(Sinamot>Mahar atau harga untuk membeli wanita  Batak)


“Gak semua berpikir seperti itu Bang, memang karena dilarang, walaupun  harus ada perceraian biasanya prosesnya panjang dan melelahkan,” ujar Netta.


Melihat wajah Netta mulai rada kesal, aku mengalihkan pembicaraan kami.


“Eh … tadinya lapar mau makan di mana?”


“Itu ada.”


Menunjuk makanan  cepat saji yang berlambang orang tua, Netta walau dia seorang dokter ia tidak bersikap lebay yang banyak larangan. Kak Eva perawat, Tante Candra bekerja di Puskemas dua orang yang lebay  menurutku.


Banyak bangat larangannya, tidak boleh makan itu dan ini, tidak boleh pegang itu, banyak kumannya, kata-kata itu dulu yang sering aku dengar di rumah kami saat Kak Eva jadi perawat, tetapi saat ini sejak  Netta jadi dokter sudah mulai berubah.


Tetapi, tante Candra masih belum . Karena setiap kali ia datang ke rumah orang ia akan membawa tissue melap semua peralatan makan, sendok, gelas, sebelum ia gunakan.


“Dek … kamu kan dokter kenapa makan  makanan  cepat saji?”


“Dokter juga manusia kali Pak Jonathan Situmorang.”


“Ya, tapi kan tidak sehat,” ucapku memancing pendapatnya.


“Tidak papa Bang, kalau hanya sekali-kali, kecuali tiap hari baru penyakit. Semua makanan itu akan jadi penyakit jika  mengkonsumsinya secara berlebihan, dan jadi vitamin jika pintar mengatur pola makan.”


“Tapi ini tidak ada lagi gizinya bu dokter,” ucapku setengah berbisik, mengangkat satu potong dada ayam.


Borneng satu ini cari perkara’ awas sampai di rumah ku gigit kau’ ujar ku dalam hati.


“Apa  gunanya?”


“Nyanangin perut Yang lapar,” ucap Netta santai, lalu menggigit  potongan ayam di tangannya


Aku tertawa renyah mendengar jawaban simpel dari Netta, setelah perut kenyang barulah aku mengajaknya  bicara.


“Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk pulang?”


“Aku belum dapat Cuti bang, rekanku ada dua orang yang ngambil cuti menikah, jadi aku  belum bisa mengajukan cuti, nanti kalau bisa, kita baru pulang, ya?”


“Ya sudah, mau gimana lagi, sabarlah,” ujar ku.


“Bagaimana kalau kita kencan malam ini, Hasian?” tanya Netta.


“Boleh, kemana?”


“Monas.”


“HAA?  Kok Monas?”


“Percaya gak Bang, selama di Jakarta aku belum pernah masuk  dalam monas?’


“Monas tutup Dek malam.”


“Kita duduk di luar pagarnya saja, kan, rame orang jualan.”


“Baiklah.”


Kami  menuruti permintaan Netta.


Netta itu simpel  dan apa adanya, berbeda denganku yang terkadang masih suka  ribet soal tempat makan,  makanya kalau kami makan di luar Netta yang selaku aku minta yang milih, kalau aku kelamaan  berpikir. Benar kata Netta. hidup sudah ribet jangan hal kecil tambah bikin ribet lagi.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


akak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)