Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Dia Wanita yang Bisa Menjaga Kehormatannya


Kini, kami tinggal berdua, aku menunggu menonton televisi di kamar merebahkan tubuhku di ranjang, pikiran sudah ngelantur kemana-mana, apalagi saat semburan shower di kamar mandi, menambah suasana semakin hot.


Netta keluar dari kamar mandi.


Aku mulai merasa gelisah berharap malam ini tidak di tolak lagi.


Ia tersenyum sangat manis, aku bisa pastikan senyuman manis itu satu pertanda baik untukku malam ini.


“Sini sayang, tidur sini kita,”


kataku menepuk-nepuk bantal di sebelah ku.


Aku tidak menduga Netta menurut, tidak ada sifat malu-malu kucing seperti yang aku pikirkan sebelumnya.


“Lampunya di matikan saja iya,”


bisik nya lembut di kupingku, membuat bulu roma di tubuhku bergelidik.


“Baiklah, tentu saja,”


kata ku sigap, dengan semangat empat lima, tentu saja hatiku melompat kegirangan.


Kerja keras selalu membuahkan hasil yang manis juga.


Suara jam beker membangunkan ku, saat membuka mata, jam ternyata sudah jam delapan pagi,


badanku terasa sangat lelah Karena memaksanya bekerja keras tadi malam.


Bangun kesiangan,


untung hari minggu, malas untuk bangun, melirik di samping Netta tidur, rambutnya terlihat lepek karena tadi malam ia juga bermandikan keringat.


Melihat wajah polosnya, aku mengelus pundaknya dari belakang.


Ia wanita berharga yang mampu menjaga martabatnya sebagai wanita,


ia memberikan seutuhnya untukku.


Kelopak-kelopak berwarna merah yang mengotori seprai putih di ranjang


membuktikan ia gadis berharga.


Walau jaman sekarang hal itu tidaklah terlalu di permasalahkan kebanyakan lelaki, tapi mendapat istri yang bisa menjaga mahkotanya sampai pada suaminya,


itu satu hal kebanggaan untuk seorang wanita.


Melihat Netta yang masih tertidur pulas, tidak tega untuk membangunkannya, memungut celana pendekku yang tercecer di lantai, membersihkan diri di kamar mandi, aku putuskan membuat serapan pagi karena seperti biasa, Bi Atun tidak akan datang kalau hari minggu.


Sisa pesta ulang tahun masih berserak.


Membuat serapan pagi dulu, sebelum bekerja keras membereskan semua yang berantakan itu.


Walau jarang memasak, tapi aku masih bisa menyiapkan menu sehat untuk Netta,


untuk memulihkan stamina karena tadi malam kami berdua sangat bekerja keras dan terasa masih lelah.


Mungkin suara Netta saat ini bisa jadi parau, karena tadi malam entah berapa lama ia berteriak –teriak bahkan kuku panjang miliknya melukai lengan dan punggungku.


Tapi aku bisa memakluminya, itu pertama kali untuknya, jadi wajar ia panik dan takut, bahkan tubuhnya mungkin terkejut.


Untuk memulihkan tenaganya, aku membuat salad buah.


Tidak terlalu sulit untuk membuat menu serapan sehat yang satu ini.


Netta dan aku juga menyukainya, kerena sehat untuk tubuh.


Aku hanya perlu memotong-motong buah kiwi, anggur, melon,apel, dan sebagai tambahannya Nata de coco, dagingnya saja, potongan buah-buahannya kecil, bentuk dadu, dan memasukkannya ke dalam wadah.


Kemudian mencampurnya dengan saus.


Sausnya juga campuran mayo, yoghurt.


Sekarang campurkan saus, dengan wadah buah, dan di atasnya tinggal aku campurkan parutan keju.


Salad buah siap disantap.


Baru berkutat sebentar di dapur, Netta datang dengan wajah memerah bagai udang rebus ,


aku maklum akan hal itu, tidak ingin membuatnya tambah malu, maka itu aku tidak menggodanya.


“Sudah bangun ?


sini serapan.”


“Wah… salad buah, pasti enak.” Netta menarik kursi dan duduk.


Matanya tidak berani menatapku,


perlakuan Netta seakan aku telah mencuri sesuatu yang berharga dari hidupnya.


“Jangan menatapku seperti itu,


itu membuatku malu,”


kata Netta menutup wajahnya dengan telapak tangan.


‘Kenapa harus malu?


Apa kamu melakukan hal yang memalukan Ta?”


Aku bertanya dengan senyum kecil, mencoba menatap kedalam matanya, tapi lagi-lagi Netta semakin menunduk.


“Pokoknya, jangan menatapku seperti itu,


itu membuatku makin malu, jangan bertanya kenapa, abang Nathan cukup menurut saja,” ucap Netta.


Membuat senyum mendengar permintaanya.


aku hanya ingin bilang sama kamu,


terimakasih karena mau memaafkan ku dan mau menerimaku lagi,


tadi malam aku mau bilang seperti itu, tapi kamu menangis terus membuatku jadi serba salah.


Jadi aku tidak mau banyak bicara,” kataku.


“Menangis lah, sakit tau!”


kata Netta dengan bibir manyun.


“Itu hanya sebentar, Ta,”


kataku meyakinkannya.


“Aku tahu bang,


iya ampun…


kita jangan membahasnya lagi, nanti ujung-ujung ntar minta nambah lagi,”


kata Netta.


Aku ngakak mendengarnya, ia terlihat masih takut-takut.


“Emang gak mau lagi nambah?”


Tanyaku bercanda.


“Aiiiss,


abang, jangan membahasnya lagi.”


Katanya dengan telapak tangan tanda stop.


“Kok kamu masih malu-malu saja sih Ta, aku pikir setelah malam ini, kita sudah tidak canggung lagi.”


Kataku memburu wajahnya yang sedari tadi menunduk.


“Aku masih malu-malu kucing bang,” ia mengakui malu-malu kucing, tapi mau,


aku tertawa mendengar penuturannya , ia juga mengeluh tentang bagian yang menurutnya sangat sakit, Netta bilang rasa sakit itu, membuatnya sedikit trauma.


Istriku memang masih polos, dan kadang sifatnya masih terlihat seperti anak-anak, banyak orang bilang, kalau saat aku bersama Netta, sifat ku berbeda, katanya aku sering banyak tertawa, seakan lepas dari karakter ku yang biasa,


kata orang karakter ku yang biasa pemarah, dan tidak punya toleransi.


Tapi, apa iya?


aku juga tidak tahu, tapi satu yang pasti,


aku saat ini sangat bahagia bersama Netta.


Perubahan sikapku itu semua karena cinta.


Walau kadang aku masih ada rasa takut dan was-was,


aku takut Mami datang marah-marah lagi,


karena saat aku izin sama Mami, izin ingin tinggal bersama Netta. Mami menolak keras, tapi Papi mendukungku, mungkin papi yang melarang Mami datang ke tempatku,


tapi sepertinya ia akan datang nanti.


aku takut kalau Mikha juga datang lagi mengusik keluarga kami.


Kedua wanita itu selalu mengganggu pikiranku.


Aku berharap Netta cepat hamil agar, Mami bisa berhenti marah-marah pada Netta.


Gila… aku baru juga menanam sahamnya, sudah langsung mengharapkan tumbuh, seandainya seperti menanam cabe, hanya di tanam bibitnya, lalu hanya di siram


kalau saja hanya seperti itu, kalau ingin punya anak, aku sudah menyiramnya setiap malam.


Tapi untuk mengharapkan punya anak hanya Tuhan yang berhak memberikan keturunan pada semua manusia,


walau masih banyak yang membuang bayi, bila di lihat di berita.


Terkadang, tidak ada yang tahu rencana Tuhan.


Terkadang orang yang benar-benar ingin punya anak tidak dapat keturunan, tapi orang yang tidak menginginkan malah di kasih dengan cepat.


Tapi siapa yang tau rencana Tuhan.


“Bang, bang!”


panggil Netta menjentikkan jari-jarinya di depan mataku.


“Apa?”


“Abang ngelamun in apa sih?pasti mikirin yang tidak-tidak iya?”


kata Netta sewot.


Aku terbangun dari lamunan panjang ku, buru-buru menghabiskan serapan dan bergegas membereskan perabotan-perabotan makan yang masih berantakan.


Hari ini aku menghabiskan waktu berdua dengan Netta, mungkin juga siang akan membujuknya untuk ronde kedua.


Aku sudah membayangkan sejak tadi, mencoba membujuknya dengan lembut, mudah-mudahan rasa sakit itu tidak ada lagi nanti


Berharap Netta juga tidak malu-malu kucing lagi.


Bersambung....