Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Akhirnya Kesampaian


Akhirnya Kesampaian


“Iya ampun Bang, kita kan tidak pernah makan mie instan, bagaimana mau buat stok?”


Kata Netta kali ini ia benar-benar frustasi.


“Bagaimana sih Ta, bukannya bilang dari tadi tidak ada, jadi orang ini tidak nungguin


jadi kelaparan, harusnya ngomong dari tadi tidak ada biar mereka beli di luar,


ini sudah jam berapa?” kataku bernada marah.


Netta terlihat terdiam, matanya mulai berair, bendungan dalam matanya hampir saja mau tumpah.


“Terus bagaimana pak,


tidak jadi kita masak?”


Intan meletakkan panci penggorengan yang tadi ia ambil untuk merebus mie instan.


Ia masih berdiri dengan canggung saat aku memarahi Netta.


Dalam suasana tegang seperti itu, tiba-tiba Reno balik lagi.


“Kopi udah…Bu?”


Reno melihat sekeliling dapur, melihat suasana yang masih tegang.


“Kopi lagi kamu minta Reno! kamu lihat kerjaan kamu nih…kamu sudah tumpahin semuanya, dari mana lagi ada kopi, sudah kamu tumpah in?” kataku.


“Maaf pak, aku beli di luar saja, Iya,”


Reno keluar dengan takut-takut.


“Kayaknya Intan pesan di luar saja iya, Pak,”


kata wanita cantik itu dengan sikap sopan.


“Iya, Intan pesan di luar saja,” kataku membereskan semua kekacauan itu lagi.


Netta terlihat diam, ia merasa bersalah, ia benar-benar menahan tangisan.


Apa aku terlalu berlebihan? kasihan melihat wajahnya, aku membatin, tidak tega sebenarnya melihat wajahnya sedih.


“Aku beli makan di luar saja dah, sudah lapar bangat,” kataku berdiri.


Meninggalkan Netta, ia masih di dapur duduk di kursi makan memijat kepalanya.


“Ta, kamu kesini dulu.”


“Apa lagi bang,


kepalaku sakit badanku lemas,”


keluh Netta dengan mata sayu.


“Sini dulu,


terlihat sangat berat, ia menurut berdiri dan mengikuti ku.


Di atas meja sudah ada tiga kue ulang tahun tertata cantik.


“Selamat ulang tahun Kak Netta”


Intan menyodorkan salah satu kue ke hadapannya dengan lilin sudah di nyalakan,


di sambut tepuk tangan dan ucapan selamat ulang tahun serentak dari kami, kejutan untuk Netta.


Netta terlihat kebingungan menatap semua orang satu persatu.


“Apa-apaan ini!?”


Netta merangkul pinggangku dengan erat, ia benar-benar menangis sesenggukan, air mata yang ia tahan-tahan tadi akhirnya tumpah juga,


kali ini.


“Abang Nathan jahat bangat sih, mengerjai aku,”


kata Netta, ia kembali menangis, tangannya semakin erat di pinggangku.


“Maaf kak,


tadi kami mengerjai kakak, itu tadi pak Nathan yang menyuruh,


kami hanya mengikuti perintah bapak,”kata Intan masih berdiri di depan kami.


Tangannya semakin kuat melekat di pinggangku dengan bahu yang semakin terguncang-guncang, sepertinya, kami sukses mengerjainya.


“Kalian sukses mengerjai aku,” katanya belum melepaskan tangannya.


“Hei, tiup dulu lilinnya,”


kataku dengan tawa lepas.


Rasanya puas mengerjainya.


“Ta, itu tiup dulu lilinnya mereka benar-benar tidak sabar lagi,”


kataku berusaha melepaskannya dari dadaku.


“Aku tidak mau, aku malu, aku berantakan.”


Netta semakin menangis.


“Baiklah, aku meminta maaf,” kataku terpaksa mengatakan itu di depan para karyawan ku, mengelus rambutnya dan menenangkannya sebentar


“Baiklah tiup sekarang lilinnya,” pintaku pada Netta.


Matanya memerah, wajahnya juga terlihat memerah, menyeka air di ujung matanya baru ia meniup lilin.


Tiga kue dari tiga orang yang berbeda, satu dari pegawai ku, pengacaraku, ia tidak bisa hadir tapi ia menitipkan kue juga,


dan yang paling spesial tentu saja dari aku, suaminya.


“Maaf iya kak, tadi si bos yang merencanakan semuanya, kami hanya mengikuti skenarionya, Bos yang merencanakan semua,”


“Kayaknya aku juga harus minta maaf, karena mengerjai.


Selamat ulang tahun iya


Istriku sayang, mudah-mudahan apa yang kamu cita-citakan tercapai,”


kataku mendaratkan bibir di keningnya.


“Romantis oi”


ledek seorang pegawai manager di kantor.


“Iya anak muda.


Maklum saja om,” timpal pak Romi salah satu pegawai juga.


Aku terpaksa membuang gengsi ku di depan para karyawan dan senior yang lebih tua dari kantor, walau mereka pegawai yang bekerja di perusahaan ku, tapi aku selalu menghormati mereka, apalagi di luar jam kantor seperti saat ini.


“Terimakasih untuk kejutan ini, saya benar- benar terharu, ini ulang tahun yang paling berkesan, karena saya dikerjain habis-habisan, siapapun yang merencanakannya, ia sukses membuatku frustasi tadi ,” kata Netta di sambut tawa dari kami semua.


Aku terpaksa membuat Netta sibuk di dapur, karena dekorasi di ruang depan baru mau di kerjakan, Netta sudah keburu pulang, terpaksa buat skenario yang sedikit menguras emosi dan air mata, butuh sedikit pengorbanan karena tanganku terpaksa sengaja aku buat luka agar skenarionya semakin dapat dan pas.


Di ruang depan sudah tersaji semua menu makanan, jadi kata-kata kelaparan itu tentu saja hanya kebohongan, karena tiga hari sebelumnya aku sudah reservasi restauran yang siap antar menu pesanan.


Mereka semua bisa begadang sampai pagi, menghabiskan malam minggu di tempat kami jika anak-anak mau, karena malam ini malam minggu.


“Semuanya sudah tersedia ternyata, tadi bilang kelaparan itu juga bohongan?”


Netta melotot padaku.


“Iya dong namanya juga prank,”


kataku mengedipkan mataku.


Netta memicingkan bibirnya, dan satu cubitan keras mendarat di pinggangku, membuatku berwuaoh kesakitan.


“Ayo kita makan dulu, pasti sudah lapar,”


ucap Netta dengan sigap mempersiapkan semuanya, dengan cekatan ia menjadi seorang nyonya rumah yang sangat ramah.


“Selamat ulang tahun iya kak, kata Bi atun tiba-tiba nongol .


“Bibi juga ikut ngerjain aku?”


Tanya Netta melihat wanita paruh dengan wajah manyun.


“Maaf kak, abang Nathan yang menyuruh saya.”


“Baiklah kalian semua sukses mengerjaiku,”


kata Netta.


“Ayo Bi makan dulu, bungkus kuenya bawa untuk bapak dan untuk anaknya,”


kata Netta menyisihkan satu kue tart yang ukuran yang paling kecil untuk di bawa bi Atun pulang.


Itu juga yang membuatku jatuh hati pada Netta, hatinya sangat baik, tutur katanya sopan dan lembut,


ia juga selalu ramah pada semua orang.


Berbeda jauh sama orang –orang yang ada di rumah Mami,


para wanita di rumah kami suaranya tinggi pakai ngegas kalau lagi ngomong,


tapi kalau Netta, ia akan selalu lembut setiap kali menjawab pertanyaan,


ia lebih banyak mendengar tapi sedikit bicara.


Kalau Mami justru kebalikannya, sedikit mendengar tapi banyak kata-kata yang keluar, dan kebanyakan dari setiap omongannya berasal dari katanya si anu.


Artinya belum pasti kebenaranya, tapi sering kali mami sudah menceritakan kemana-mana.


“Berhenti memandang in bini lu terus Bro, memang apaan?


lihatin terus,” kata Bonar Lelaki berambut kriting itu juga datang.


Aku kepergok menatap Netta , aku memuji sikapnya yang ramah, sopan pada pegawai ku, walau mereka anak buah dari suaminya, tapi ia bersikap ramah dan baik.


“Tidak,


aku hanya memastikan ia menyambut tamu dengan baik,” kataku mencari alasan.


Acara kejutan ulang tahun berjalan dengan sukses, semua tamu sudah pulang, hanya Bi Atin yang masih sibuk menyapu dan beres –beres, padahal sudah jam 23: 00.


“Bi, pulang saja, besok saja di kerjakan,” pintaku menyuruhnya pulang.


“Besok’ kan hari minggu bang,”


Kalau hari minggu Bi atun tidak masuk,


aku sengaja hari minggu tidak menyuruhnya masuk, karena aku dan Netta punya waktu berdua, kalau lagi libur.


“Tidak apa-apa, biar besok saya yang mengerjakannya dengan Netta, Bi,”


kataku, aku juga ingin berdua dengan Netta hari ini.


“Baiklah kalau begitu Bang”


Bu Atin membawa kresek berwarna hitam pulang.


Kini kami tinggal berdua, aku menunggunya menonton televisi di kamar, merebahkan tubuh di ranjang.


Netta keluar dari kamar mandi.


Aku mulai merasa gelisah, berharap malam ini tidak di tolak lagi.


Ia tersenyum sangat manis, aku bisa pastikan senyuman manis itu satu pertanda baik.


Akhirnya kerja kerasku berhasil juga.


Suara jam beker membangunkan ku, saat membuka mata, jam ternyata sudah jam delapan pagi, untung hari minggu, badanku terasa sangat lelah, karena memaksanya bekerja keras tadi malam.


Bersambung....