
Tidak pernah ada di pikiranku sedikitpun kalau aku akan memiliki dua anak kembar, keluarga kami memang ada riwayat kembar, mulai dari mami dan kembarannya tante candra, lalu tulang Bogor anak pertama mereka dua laki-laki, tetapi saat ini, mendengar Netta akan hamil anak kembar aku senangnya luar biasa. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana serunya melihat anak-anak itu nanti, kalau satu menangis yang satunya pasti ikut menangis juga.
‘Ah … gak sabar lagi melihat kalian berdua ucapku dalam hati melirik foto USG di tanganku, , perasaan gembiraku tidak bisa terbendung , kalau saja keluarga tidak ada di rumah, aku sudah joget-joget ceria saat itu.
Netta ahlinya bikin kejutan, setelah ia memberiku kejutan tentang kehamilan nya beberapa bulan lalu, kini ia juga memberiku kejutan dengan bayi kembar kami, lagi-lagi aku tidak tahu.
Karena saat foto USG pertama di sana belum begitu jelas. Namun, yang kedua ini … di sana sudah di jelaskan kalau bayi dalam rahim Netta ada dua.
Salut sama Kak Eva, Arnita mereka sangat kompak menjaga rahasia, sama seperti saat Netta hamil, mereka sangat kompak memberiku kejutan, mereka bertiga bukan seperti eda ( ipar) lagi, terlihat seperti tiga sabahat yang saling membantu, sama Tivani juga mereka kompak.
“Mami cucumu akan kembar,” ujar Kak Ev joget-joget di depan mami, ia memancing mami marah, jujur, mami itu sangat trauma dengan anak kembar, ia takut seperti mereka nantinya kalau sudah besar saling menyakiti dan saling menjatuhkan satu sama lain.
Mami pernah bilang sama kami kalau ia dan tante Candra selalu menyakiti satu sama lain, menganggap saudara kembarnya musuh terbesarnya, tragis memang kalau ada yang seperti itu. Tetapi kembali lagi pada orang tua, kalau kedua orang tua selalu mengajarkan dengan kasih dan tidak membeda-bedakan satu sama lain, tidak akan ada yang namanya persaingan antara saudara, aku yakin dulu oppung kami mungkin membeda-bedakan kasih sayang sama mereka berdua, makanya sudah besar saling menyakiti.
“Memang kenapa kalau kembar, baguslah … ucap mami, tetapi raut wajahnya berkata lain.
“Tenang Mi, mereka laki-laki dan perempuan, pasti tidak akan rebutan cowok,” canda papi.
Mami memukul lengan papi dengan kesal, seperti yang di ketahui tante dan mami sempat sama-sama suka sama papi.
“Ya, benar Pi mereka juga tidak akan rebutan gaun pesta,” ujar kakak Eva.
Arnita tertawa lepas saat mami ngambek.
“Eee … ngambek ni ye.”Kak Eva semakin menggoda mami.
“Ah …! Sip ma babami!”
(Ah diamlah mulutmu !) Mami marah sama kakak Eva meledek.
“Mami tidak senang dapat cucu?” Tanya Arnita.
“Mami senang, senang bangat.”
“Lalu kenapa mami hanya diam saja tadi.”
“Mami hanya mengantuk.”
Semua teman-teman sudah pulang tinggal keluarga kami yang masih duduk ditiker, saat kami duduk, si milon seperti biasa dia akan tidur di pangkuan Netta.
“Milon, kamu punya saingan, majikanmu akan punya baby,” goda Arnita. Milon semakin menenggelamkan wajahnya di perut Netta.
“Nanti yang jadi anak pertama laki-laki saja,” ujar papi.
“Kembar, senang bangat mendengarnya, tidak terbayang nanti bagaimana repotnya … terkadang satu bayi saja, sampai empot-empotan,” ujar Kak Eva., menyentuh pipi Jeny.
“Tenang, ada papi nanti yang jadi baby sister keduanya,” ucap papi, mendengar hal itu Jeny langsung berdiri, ia datang ke pangkuan papi, seolah-olah ia ingin berkata ‘ Aku tidak mau berbagi oppung’ matanya melirik sinis kearah perut Netta. Arkan , Jeny, Deon memang sangat dekat dengan papi. Tetapi kali ini, aku sudah berani mengedipkan mata sama Jeny. Aku ingin berkata sama ke empat keponakanku
Si kembarku akan merampok oppung mereka.
“Eeee … bukan cuman oppungmu gendut, oppung semuanya kali,” ledek Arnita.
“Ya, itu kan oppung Gina juga,” ujar tante Ros menunjuk bayi Arnita yang digendong suster.
Jeny menggeleng lalu memeluk leher papi dengan erat, mendaratkan bibirnya ke pipi papi. Jika disuruh memilih antara bapaknya dan papi, Jeny lebih memilih oppungnya karena lae jarang di rumah kebanyakan di luar kota, jadi dekatnya sama papi.
“Awas kau gendut … itu, kan, papiku,” ujar Arnita merebahkan tubuhnya di pangkuan papi, sesuatu hal yang tak terduga di lakukan sama tantenya. Ia menarik rambut Arnita mengigit kepala Arnita dengan greget.
Kami semua tertawa ngakak, aku baru lihat ada bayi ngamuk semarah itu, ia seperti kakak Eva, galak dan gendut.
Netta tertawa lepas melihat kemarahan Jeny, ia tidak mau berbagi.
“Parah ya kalau kalau wanita rebutan laki-laki, nekat,” Kak Eva lagi, ia melirik mami.
“Ckkk ….” Mami berdecak kesal.
Malam itu kami semua masih berkumpul di rumah kami, Bi Atun sampai di angkut ke rumah kami, agar bisa membantu beres-beres karena nya rumah tidak boleh capek lagi, keluarga kami sedang berbahagia, kalau biasanya keluarga selalu masak bersama, kali ini, aku sengaja memesan menu khusus dari restauran papi agar keluarga bisa santai tanpa harus masak.
“Mamak Paima, injak dulu jempol kaki edamu ini, biar langsung nular,” ujar tante sana inang bao Nely.
“Tidak usah, bou sudah nular kok,” ujar Lae Rudi, kami semua kaget.
“Eda sudah isi?” Tanya kakak Eva kaget.
Inang bao itu mengganguk, terkadang, ada juga orang yang seperti mereka, tidak suka mengumbar kehamilan, sama seperti lae Rudi dan inang bao itu. Bahkan inang itu merasa malu untuk menjelaskan kapan hamil.
“Sudah berapa bulan?” tanya Arnita.
“Baru dua bulan Eda.”
“Bah … dang dipaboa hamu adong kabar baik Mang, buat jo borasnya sian dapur Gres,” ujar tulang.
(Bah … kenapa gak kasih tahu ada kabar baik Nak, ambil dulu beras dari dapur Gres) ujar tulang.
Senang rasanya mendengar lae Rudi langsung dapat momongan, tidak mengalami seperti yang kami alami lama dalam penantian, kedua tulang kami menabur beras di kepala mereka berdua ikuti mami ,papi dan tante.
“Wah … pahoppu ni oppung Saut nungga marniakkon be sude, tinggal si Gres nama, Ho andingan Gres muli?”
(Wah cucu oppung Saut, sudah pada punya anak, Gres ni yang belum, kamu kapan Gres) Ujar bapa uda Kembar.
“Aku masih lama bapa uda, aku mau seperti kakak Netta, jadi dokter.”
“Ya, kakakmu dapat beasiswa Nang, dia juga pendidikan di luar negeri, bisa gak kau seperti itu?”
“Bisa bapa uda.”
“Abang Rudi sudah memasukkan ku dari dulu Les bahas Inggris,” ujarnya sambil bersandar di punggung lae Rudi.
“Bah, baik kalilah abangmu itu,” ujar uda.
“Ya, kalian gak tau dia tinggal di rumah si Rudi sekarang, kemana abangnya ke situlah dia ikut, hanya tinggal kami berempat yang tinggal di rumah,” ujar Bapa uda.
Salut sama Lae Rudi karena ia baik, sampai-sampai Gres merasa nyaman tinggal dengan abangnya, bahkan sangat akrap sama istri Rudi.
“Wah, kau tinggalkan mama sama bapa, bukannya tambah jauh sekolahmu kalau kamu tinggal di rumah abangmu?” Tanya tante Ros.
“Kalau, berangkat ke sekolah sama abang, pulangnya aku yang bawa motor, abang naik kreta api ke kerja.”
“Tadinya mereka berdua juga minta tinggal sama abangnya, marah-marah edamu, hanya si Gres yang tinggal sama mereka.”
Lae Rudi sudah baik, tetapi juga mendapatkan istri yang baik seperti Nely istrinya, aku berharap bumil-bumil cantik ini tetap sehat baik dengan Tivani yang saat ini sedang menjalankan bayi tabung mereka.
Bersambung.