
Tante memang sangat keterlaluan, bagaimana mungkin ia menginginkan Netta karena ia jadi dokter.
“Netta lebih baik jadi menantu di rumah kami saja,” ucapnya Tante dengan yakin.
“Tante tidak salah? Tante mau mempermalukan Candra, dia calon Dokter, orang hebat banyak wanita yang mengejar-ngejar di luar sana, masa mau menjodohkan sama kakak iparnya,”balas Eva.
“Nathan tidak pantas mendapatkan Netta, tidak bisa memberinya keturunan, tidak bisa memberinya kebahagian, dia akan menderita seumur hidupnya jika balik ke keluarga ini, Netta sudah hidup sengsara dari kecil, sengsara saat menikah, masa hari tuanya nanti akan sengsara juga?”
Biasanya aku gampang emosi dan gampang mengamuk mendengar kata tidak bisa membahagiakan membuat kepalaku serasa ingin meledak, badanku rasanya meriang, apa yang dikatakan tante rasanya benar, aku diam membatu menimang omongan tante.
“Terus…! Apa Candra mau menerima bekas Nathan, nanti apa kata keluarga sama semua orang,” ucap kak Eva.
“Tidak tahu ini si Mama, maksudnya apaan…!?” kata Candra, wajahnya terlihat bingung.
Hatiku sedikit lega, tadinya aku pikir Candra setuju dengan ide gila Mamanya, tapi sepertinya pemikiran dan ide gila itu hanya dari Tante dan ambisi Tante semata.
Kadang orang tua berpikir itu hal yang terbaik untuk anak-anaknya, menurut pemikirannya, tapi belum tentu itu yang terbaik untuk anaknya.
“Aku yang tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kamu, jadi kamu diam saja,” bentak Tante sama Candra.
Ia menunduk, merasa tidak enak padaku.
“ Aku tidak mau ma, aku punya pilihan sendiri,” kata Candra.
“Lagian mana ada Halak Batak begitu Tan, sudah kayak sinetron Ikan terbang saja si Tante ini,” ujar Kakak Eva.
“ Aku hanya memberi yang terbaik untuk Netta.”
“Mama bukanya memberi yang terbaik, tetapi memisahkan dua orang yang disatukan Tuhan,” ujar Edo.
Mereka menolak ide gila yang di pikirkan orang tuanya, Candra dan Edo orang yang berpendidikan tinggi, wajar ia menolak ide tante.
Merasa tidak mendapat dukungan, Tante marah ia menatap tajam pada kedua anaknya, padahal mereka di bawa ke rumah kami berharap dapat dukungan dari anak-anaknya, mereka berdua menentang keinginan Tante.
“Dengar iya! Mama yang mati-matian yang menyekolahkan kamu, jadi harus menurut apa kata Mama
” Tante memaksakan kehendaknya pada Candra, ia persis seperti pemikiran Mami, pemikiran yang kuno.
“Tante apa bedanya sama Mami, dulu juga Mami yang memaksa Nathan untuk menikah dengan Netta tapi ujung-ujungnya di paksa berpisah.
Tapi begitu sudah jadi Dokter di perebutkan jadi menantu lagi, jadi kalian berdua kakak beradik sama gilanya,” kata Eva terlihat sangat kesal.
Kali ini, Mami hanya menunduk tidak berani menatap kami, kini ia yang menyesali perbuatanya.
“Biarkan abang Jonathan Ma, mereka sudah punya kehidupan sendiri, membiayai sekolah anak itu sudah kewajiban orang tua, bukannya keluarga kita ini keterlaluan sama Netta?
Apa Bedanya Mama sama Mamak Tua, kalau seperti itu, berarti Mama tidak tulus membantunya, tapi ada kemauan di balik Mama membantu membiayai kuliah kuliah Netta kalau begitu.
Apa Mama tidak berpikir nanti Netta malah membenci keluarga kita, baik keluarga bang Nathan,” kata Edo, tiba-tiba ia berpikir sangat dewasa, tadinya ia hanya duduk menyimak, tapi saat memberikan pendapatnya semua terdiam mendengarkan penuturannya.
“Apanya maksud si Edo ini?” kata Tante tidak suka mendengar penolakan dari anak-anaknya.
“Ma, aku tidak tahu iya berapa juta Mama membiayai uang kuliah Netta , tapi coba Mami pikir, kalau beneran dia sudah berpisah dengan bang Nathan, apa Mami pikir dia masih mau sama anak namborunya? model namboru seperti kalian, Mak tua sama Mama, samanya aku tengok parbada, dan mata duitan.
Kalau Mama ingin dia menantu untuk balas budi, aku yakin dia akan memilih bayar sebanyak Mama kasih, Netta itu pintar Ma dapat beasiswa, tidak mungkin dia bisa dapat pertukaran mahasiswa kedokteran ke keluar negeri kalau dia tidak pintar, harusnya kita yang malu sama dia, jika dia sudah berpisah dengan abang, mungkin dia sudah di lirik dengan bule tampan di Jerman,” kata Edo membuat kami semua terdiam.
“Kalau seperti kalian model mertua, kalau aku jadi Netta aku sih enggak, jangankan untuk mertua, untuk tetangga saja aku ogah,”ucap Edo ketus.
“Kok kamu ngomongnya begitu sih?” Tante menatap anak yang berambut plontos itu dengan tatapan tajam, seperti banteng melihat kain merah.
“Benar gak kak Eva? Kalau kakak jadi menantu apa kakak mau mertua seperti Mama dan Mamak Tua,” tanya Edo menatap kak Eva yang dihiasi senyum yang tertahan.
“Tidaklah, aku juga tidak mau Do, makanya hati-hati nanti kalian kalau sudah pilih istri, langsung ceritakan bagaimana galaknya Mama kita ini,” ucap Kak Eva.
“Benar Kak, kalau tidak … gak usah menikah sekalian kasihan anak orang sengsara,” ucap Edo mengedipkan mata pada Kakak.
Tante niatnya ingin anak-anaknya membenci kami, sayangnya mereka bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, aku senang dapat sepupu seperti mereka, mungkin, jika di keluarga lain anak-anaknya pasti membela Mama mereka walau salah, tetapi Edo dan Chandra tidak terhasut omongan Tante.
Saat mengungkapkan pendapatnya otak kami semua terbuka, baik Tante juga seperti itu, ia jadi diam, memikirkan apa yang dikatakan Edo, untung anak Tante yang berpikir waras.
Edo menjadi abdi Negara, Dokter tentara yang bertugas di Magelang, ia liburan saat Tante mengadu ia di pukuli sama kami, Edo minta ikut, niatnya mau ngasih pelajaran samaku. Tapi ternyata Tante yang berbohong, untungnya lelaki berbadan tegap ini di bawa ke rumah kami, jadi keadaanya lebih tenang .
“Iyalah, Mama ini kadang bikin orang salah paham, benar kata kak Eva, tidak bisa kah kita jadi satu keluarga, harusnya Mama kasih kami contoh, untuk saling dekat dengan saudara, bukannya memberi contoh perselisihan, entah apa pun masalah aku lihat kalian berantem mulu dari tadi.
Masak apa kalian kak? Lapar aku,” kata Edo saat itulah ketegangan itu berangsur pulih, memang harus beginilah saudara.
“Langsung makanannya kamu pikirkan Do, Mama belum selesai bicara.”
Tante marah saat melihat Edo berdiri.
“Apa lagi yang ingin mama bicarakan, diskusi dulu Mama sama Mak tua, bagaimana mengambil hati Netta, biar balik ke Indonesia, Mama tau waktu aku bertemu dia bulan kemarin, banyak bule ganteng temannya, jadi tidak mudah membawanya pulang ke Indonesia, apalagi melihat Mama sama Mama tua bertengkar seperti itu,” ucap Edo.
“Kamu ketemu Netta Do?? Kapan dimana?” Kak Eva penasaran bukan hanya dia aku juga seperti itu.
“Nantilah aku ceritakan kita makan dulu, pantang pulang sebelum makan, jangan jalan sebelum perut kenyang prinsip tentara,” kata Edo berjalan ke arah dapur.
Mendengar hal itu, jantungku langsung lemas, menipis sudah harapanku, ternyata Edo bertemu dengan Netta bulan lalu di Jerman, saat Edo ingin membeli peralatan kesehatan.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)