Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Progaram bayi


 Anak pelengkap  kebahagian dalam rumah tangga itu  sangat benar, aku pikir aku kuat bahkan lebih kuat dari Netta, ternyata aku yang lebih rapuh.


Saat aku pulang dengan Netta, aku hanya diam banyak rasa yang berkecamuk di dalam dada.


“Abang kok diam saja, ada masalah?”


‘Gak … hanya mengantuk saja.”


“Kalau mengantuk biar aku yang menyetir.”


“Tidak usah, masih  bisa.”


“Apa teman-temanmu ada yang menyinggung mu?”


Aku menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Netta.


“Ya. Nantilah kita bicara, saat tiba di rumah.”


“Oh, sepertinya sangat penting,” ujar Netta.


Tidak berapa lama,  tiba di rumah kami, perjalanan lancar karena suasananya sudah malam. Setelah selesai membersihkan wajah dan berganti pakaian Netta  naik ke tempat tidur.


“Ayo ceritakan ada apa?” Tanya Netta.


Kalau malam sebelumnya Netta yang  bercerita tetapi kali ini aku yang  bercerita.


“Dek  … aku sedih  bangat tadi.”


“Memang ada apa, ada yang meninggal?” Tanya Netta menatapku serius.


“Bukan meninggal tetapi aku sangat sedih saat melihat  mereka semua sudah punya anak.”


“Ya … elaa Bang, aku kirain apa.”


“Kamu juga pasti sedih tadi kan? Aku melihatmu mengendong anak si Bonar.”


“Ingin, rindu pasti ada Bang, tetapi tidak sampai  sedih bangat seperti yang abang pikirkan.”


“Tapi buktinya saat tante kamu menangis, Dek.”


“Sebenarnya aku menangis bukan karena tidak punya anak, atau belum punya anak Bang, aku menangis lebih  ke sifat namboru itu, dia seolah -olah mengejekku, ia masih membenciku,” ujar Netta.


“Tapi kalau misalkan kita tidak punya anak kamu tidak sedih?”


“Bang  …. aku sudah beberapa kali bilang sama abang, jangan  biarkan jadi beban pikiran.”


“Sudah enam tahun loh Dek.”


“Bang … justru aku  berpikir kita  masih pengantin baru loh.”


“Pengantin baru dari Hongkong ….!” ujar ku  merasa jengkel.


Netta malah tertawa. “Coba abang pikirkan, walau kita sudah menikah enam tahun, tetapi selama itu kita belum seutuhnya menjadi pasangan suami istri  seperti saat ini. Kita  melakukan hubungan suami istri saat pernikahan dua tahun, lalu LDR an berapa tahun. Jadi aku merasa  benar- benar jadi istrimu sesungguhnya baru satu tahun ini, jadi aku benar- benar baru menikmati seorang istri satu tahun belakangan ini,  makanya aku  baru merasa seperti baru menikah satu tahun dengan abang, sisanya aku  merasa seperti pacaran.


“Jadi, kamu tidak bosan?”


“Tidaklah Bang, abang kenapa harus takut sih, kalau misalkan aku tidak bisa hamil, kita bikin bayi program. Sekarang jaman sudah canggih kan?”


“Terkadang aku sangat iri melihat teman dan suka tersinggung mendengar omongan keluarga,” ujar ku.


“Makanya aku bilang sama abang, tanggapi dengan santai, jika kamu berpikir positif alam sadar mu akan memproses, maka abang akan mengalami hal positif juga. Jika kamu bersikap santai orang lain juga akan bersikap santai padamu.”


Mendengar penuturan Netta hati ini memang sangat lega, karena selama ini Netta memang selalu bersikap tenang  menangapi komentar orang lain, berbeda dengan aku yang lebih cenderung  naik gula darahku setiap kali orang bertanya.


“Kalau misalkan kita merencanakan bayi, memang sudah pasti berhasil  Dek?”


“Tingkat keberhasilannya sangat tinggi Bang, kata dokter seniorku yang aku ajak bicara dia bilang sejauh ini semua pasien yang  dia tangani berhasil. Tapi. Begini Bang tetapi siapa yang bisa melawan kuasa Tuhan …. Kalau misalkan Tuhan bilang nanti saja belum saatnya, maka itu yang terjadi, kalau misalkan kita program sekarang, tetapi tidak berhasil , berarti Tuhan belum mengizinkannya,” ucap Netta.


“Lalu harus bagaimana?”


“Kita sabar dulu saja Bang, anggaplah pernikahan ini masih baru, kalau  misalkan satu tahun lagi belum hamil baru kita mulai merencanakan bayi program, ini lihat cara kerjanya seperti ini, aku sudah membawanya dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Netta berdiri menuju laci meja rias dan mengeluarkan beberapa lembaran, memintaku membacanya.


Hatiku sedikit ada harapan setelah Netta menjelaskan  bagaimana cara kerjanya, intinya, uang harus banyak. Tetapi tidak masalah sebenarnya karena aku dan Netta masih sama-sama bekerja dan kami mampu melakukannya. Tetapi kembali seperti yang ia bilang kalau yang Kuasa belum merestuinya maka tidaka akan berhasil.


“Dek … sebenarnya tadi yang membuatku sangat sedih itu, karena almarhum tulang.”


“Loh …. apa hubungannya sama bapak?”


Aku menceritakan anjuran yang di berikan Kevin dan Bonar.


“Mungkin aku juga tarallang sumpah  kali Dek.”


“Memang abang  bersumpah apa sama Bapak?”


“Begini Dek ….”


Aku menceritakan semua  tentang hari itu, setelah tiba di rumah kami, otakku tiba-tiba  mengingat sangat jelas hari sebelum tulang meninggal. Seolah-olah saat itu tulang sudah tahu kalau beliau akan dipanggil Tuhan, saat itu aku duduk di harbangan di huta.


Tulang datang dan aku ingat jelas, di tangan tulang ada jeruk pangir atau jeruk purut yang ia genggam kuat di telapak tangannya hingga jeruk purut itu mengeluarkan aroma yang khas lalu tulang mengarahkan ke hidungnya. Ia melakukannya beberapa kali saat  beliau duduk di sampingku.


Aku   mengingat tulang mengatakan seperti ini’


“Bere …. huboto do borat roham manjalo si Netta, alai molo  boi marpangidoan Tulang …. jaga ibana da bere.”


(Bere> Keponakan)


(Tulang tahu perjodohan ini berat untukmu bere , tetapi kalau bisa tulang minta tolong …. jagalah dia bere) ujar tulang ku saat sebelum beliau meninggal


“Iya Tulang,” jawabku seadanya.


“Bere … molo tangis si Netta, manang di murukki nattulangmu, di habunian dohot do au tangis, boru sasado ibana, boru hasian tappukni pusu-pusuku doi Bere ….”


(Bere …. kalau menangis si Netta kalau misalkan dimarahin mamanya,  di tempat tersembunyi aku ikut menangis, dia anak perempuanku satu-satunya, kesayanganku, jantung hatiku bere) ujar tulang saat itu, wajah tulang sangat jelas saat itu.


Mata Netta berkaca-kaca saat aku menceritakan obrolanku bersama  almarhum tulang saat itu.


“Tolong … jangan menangis lagi dong Dek,” ujar ku memohon,  butiran-butiran  kristal  bening mulai berjatuhan dari  pipi Netta.


“Aku … jadi ke ingat lagi Bang sama bapak,” ujar Netta menangis sesenggukan.


Aku memeluknya dan kami berdua sama- sama menangis.


“Maafkan aku ya Dek, kalau aku menyakitimu di masa lalu,” ucapku memeluk tubuhnya semakin erat.


Ya Bang,” jawab Netta.


Apa kalian tahu? Sekuat dan setangguh  apapun seseorang lelaki , ia akan menunjukkan sisi kelemahannya di depan wanita yang ia cintai, itulah yang aku rasakan saat ini, di depan keluarga aku tidak pernah menangis melawan dan membangkang ya … tetapi di hadapan Netta malam itu, aku dan  Netta sama - sama menangis. Bedanya Netta menangis pakai suara kalau aku menangis tanpa suara.


 Bersambung .....


Bantu like dan komen ya kak


terima kasih telah mengikuti cerita ku..