
Masih membahas tentang acara papi yanga akan mengajak teman-teman saat kuliah di Bali, teman-teman papi banyak yang sudah tinggal di luar negeri dan di berbagai kota di Indonesia
Mungkin papi juga orang yang punya banyak teman di masa lalu, terlihat dari cara mereka menanggapi undangan papi, mereka mau datang saat papi mengundang teman-temanya.
Mertua Arnita ternyata serius dengan tawarannya, orang tua Juna malam itu menelepon papi lagi, menawarkan hotel mereka untuk di pakai menginap untuk teman-teman papi.
“Tidak apa-apa Pak, anggap saja saya sedang promosi,” ujar mertua Arnita.
“Baiklah, Pak saya akan membicarakan dengan Jonathan dulu, apa dia sudah sempat pesan hotel apa tidak,” ujar papi mencari alasan.
Papi tipe orang tidak suka meminta dari besan, apa lagi yang gratisan, ia sangat menjaga harga diri anak-anaknya. Pada mertua kakak Eva juga papi seperti itu, ia tidak mau merepotkan besannya.
Sangat berbeda dengan tanteku yang ingin menumpang tenar karena besannya kaya raya, tetapi pada akhirnya di rendahkan dan disepelekan.
“Bagaimana ya Mang, papi tidak mau kalau gratis”
“Jangan gratis amang boru, kita minta setengah harga saja, biar kami yang bayarin,” ujar Netta
“Oh, mantap sukses reunian papi ni.” Wajah papi berseri-seri saat Netta bilang akan membayar biaya hotel.
“Baik bangat kau Hasian”
“Kan, ada abang,” bisik Netta di telingaku.
“Ujung-ujungnya aku juga”
“Kan, uang suami uang istri juga”
“Lalu gaji istri …?”
“Gaji istri di tabung untuk sekolah si buah hati, Hasian,” bisiknya lagi mendengar hal itu, aku langsung bersemangat dan selalu setuju apapun yang dikatakan si borneng.
“Amang-amang teal nai, dohot hotel pe pola dibayarin”
“Aduh … aduh gaya kali, hotel pun dibayarin,” ujar mami merasa kepanasan.
“Tenang Pi, dari aku semua sovenirnya dan kaos reunian nya,” ujar Kak Eva, karena ia juga punya usaha percetakan dan sablon pakaian. Mendengar itu makin gerah lah di rasa mami.
Tiba-tiba Arnita menelepon lagi.
“Pi, menantu mu bilang untuk semua makanan untuk acara papi itu biar kami yang bayar dan tiket mereka pulang pergi yang papi pesan akan dapat diskon,” ujar Arnita.
“Mauliate boru hasian”
Makin semangat lah papi tetapi mami kami mendidih hatinya, karena kami semua anak-anak dan menantunya yang membayar semua tidak keluar sedikitpun uang papi.
Pagi itu kami semua mengumpul di rumah kami, untuk membantu papi untuk mengadakan acara reunian dengan teman-temannya saat sekolah dulu.
Kami semua menantu anak-anaknya sangat mendukung, karena papi baru kali ini mau melakukan hal itu. Kak Eva dan lae juga datang
Mami merepet panjang lebar saat kami mengumpul kami hanya diam menahan tawa.
“Aku ingin pulang saja kalau begini, gak kalian hargai aku,” ujar mami karena kami mengacuhkannya saat ia merepet.
“Mi, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai,” ujar papi,
“Molo kacang disuan ko, kacang do na tubu”
(Kalau kacang kamu tanam, maka kacang yang akan tumbuh) lanjut papi lagi ia menggunakan umpasa atau pepatah dari bahasa Batak untuk menasihati istrinya.
“Apa maksudnya?” Tanya mami masih merajuk kayak anak kecil, ia membelakangi papi dengan tangan melipat di dada, kami yang melihatnya ikut menahan tawa.
“Beginiloh boru ni Raja, aku hanya ingin mengungkapkan kebahagian dan berbagi berkat dengan kebahagian dengan teman-teman satu perjuangan dulu, jika kita memberi mereka sedikit kegembiraan dengan membayar tiket mereka ke sini, mereka pasti akan mendoakan yang baik-baik untuk kita dan anak-anak kita Mi, doa cara kita untuk berkomunikasi sama Sang Pencipta kita, semakin banyak orang yang mendoakan kita dengan tulus, semakin banyak berkat yan akan dapat”
“Itu sama saja papi itu pamer,” balas mami lagi.
“Yang aku beli tiketnya itu orang yang ekonominya kurang beruntung Mi”
“Tetapi seminggu kemarin kamu sudah bantu mereka kirim uang untuk bantu modal”
“Apa salahnya membantu teman disaat kita mampu mi, toh juga kita tidak akan miskin dan kekurangan, justru berkat akan semakin mengalir untuk kita Mi.
Jadilah berkat untuk sesamamu kan begitu,” ucap papi lagi.
Kami beruntung punya seorang bapak yang luar biasa seperti papi, anak-anak dan menantunya sangat hormat padanya, karena sikapnya yang selalu rendah diri, papi selalu jadi panutan untuk kami semua.
“Merajuk nenek- nenek,” goda kakak Eva.
“Merajuk ni yeee …” goda Arnita, dia tidak mau ketinggalan setiap ada acara, walau ibu mertuanya dan suaminya melarang tetap saja mau ikut, padahal jalan juga terkadang sudah gampang lelah karena kehamilannya, tetapi setiap kali mami ingin ke Bali selalu ikut datang, mau tidak mau Juna ikut mengawalnya.
“Sip baba munai!”
“Diam mulut kalian!”
Kami semua semakin ngakak, saat papi membujuknya seperti membujuk Arkan kalau marah.
“Oppung boru merajuk, kasih eskrim saja pung Doli,” ucap Arkan kami semua semakin tertawa.
“Ya, belikan dulu oppung boru eskim Mang,” ucap papi sama Arkan.
“Ayo Tulang, kita beli eskrim, biar oppung gak ngambek lagi.” Arkan menarik tanganku.
“Tanya oppung dulu mau rasa apa?”
“Pung … mau rasa apa? Kata bapak kalau lagi marah-marah harus makan eskream biar hatinya adem,” ujar ponakanku Arkan.
Ia mendekati mami lalu mengusap-usap pipi mami yang sedang marah.
“Peluk, peluk oppungnya, biar gak marah,” pinta mamanya lagi.
Bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu mengusap pipi mami.
“Jangan marah-marah Pung, kata papa kalau marah- marah cepat tua,” ucap Arkan, Deon anak Juna dan Arnita ikut melakukannya saat di bujuk mamanya
Mami langsung gak marah saat Jeny cucu perempuannya ikut-ikutan jalan kearahnya dan ikut mengusap-usap pipi mami.
“Nungga … sip namai ido ubatna pahoppu nai,” ujar papi.
(Sudah, dia akaan diam cucunya adalah obatnya) ucap papi
Benar saja saat ketiga cucunya berebut duduk di pangkuannya, mami langsung jinak, ia membawa mereka jalan-jalan di tepi pantai di depan Villa, hal yang paling di sukai mereka bertiga karena bisa bermain pasir, melihat cucunya di bawa ke tepi pantai papi langsung khawatir, ia keluar dari Villa menggulung celananya, lalu membantu mami menjaga mereka bertiga, pembicaraan tentang reunian seketika berhenti karena cucunya karena untuk mereka berdua kebahagian cucu lebih penting.
“Aku berharap tahun depan cucu mami dan papi bertambah jadi lima, tentunya dari Eda baikku ini satu,” ujar Kak Eva merangkul Netta.
“Amin,” jawab Arnita mengusap perutnya yang buncit.
‘Amin ‘ jawabku dalam hati, aku yakin dan percaya setiap doa orang yang percaya akan dijawab Tuhan bukankah dikatakan dalam kitab;
Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu
Karena setiap orang meminta menerima dan setiap orang mencari mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan
(Matius7:7-8)
Bersambung …