Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Hidup di jalanan itu keras kawan


Jika banyak orang mengatakan rumah adalah tempat teraman bagi mereka, tetapi bagiku, rumah keluargaku bagai  neraka bagiku.


Bagaimana tidak? ibu  yang melahirkan ku telah menghancurkan hidupku, bukan hanya hidupku, tetapi Mami juga menyakiti hati istriku, Sebenarnya aku tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan mami.


Dulu ia yang memaksaku menikah dengan Netta, dulu ia  bilang  untuk mengikuti tradisi adat temurun di keluargaku.


Lalu kenapa mami sekarang berubah? Apa Mami tidak takut pada roh para orang tua yang sudah meninggal, apa Mami tidak takut pada roh tulangku , abangnya Mami, Apa dia tidak merasa bersalah pada ayahnya Netta?


Pikiran-pikiran itulah yang menghantuiku belakangan ini, membuatku enggan untuk pulang.


Bahkan otak-otakku panas memikul semua beban pikiran ini,  mungkin jika  orang lain yang menghancurkan hidupku aku akan membalasnya.


Tetapi kali ini yang merusak hidupku Mamiku sendiri, wanita yang melahirkan ku ke dunia ini.


Aku marah tetapi tidak bisa membalasnya, untuk membalas perbuatan Mamiku, aku merusak hidupku, itulah caraku membalas perbuatan keluargaku, gila memang!


Satu minggu aku memilih hidup di jalanan, jadi tukang parkir, wajahku yang berubah dekil dan kumal, itu sebabnya tidak ada yang mengenaliku, ada beberapa orang yang aku kenal misal anak-anak kantor, tapi mereka tidak tahu kalau tukar parkir itu aku, aku merasakan bagaimana hidup di jalanan.


Badanku tidak seperti dulu lagi terawat dan atletis, aku yang sekarang kurus karena kurang makan, tidur di pinggir jalan, di gigit nyamuk membuat seluruh badanku gatal-gatal dan jadi korengan.


“Hei anak baru! enak bangat lu  ambil lahan kita!”suara itu membangunkan ku yang sedang tiduran.


Pak …!


Segerombolan anak fungki sekitar lima orang dengan gaya rambut jambul berwarna biru dan anting bulat di lobang kupingnya, tato menghiasi seluruh lengannya.


Salah seorang dari mereka memukulkan gitar ke hidungku, karena katanya aku jadi pak ogah di lahannya dia.


“Jangan memukul orang sembarangan,” aku tidak terima dipukul.


Walau gembel, aku masih punya harga diri, walau ada lima aku memang ahli bela diri, mematahkan tangan kelima orang itu hal yang muda bagiku.


“Jangan coba-coba mengusikku bodoh, gue tidak suka di usik,” aku memberi mereka pelajaran.


Aku hidup di jalanan  seperti saat ini, semata hanya ingin memberi Mami pelajaran, kalau hidup anaknya saat ini sudah rusak, karena ulahnya yang mata duitan.


“Ampun-ampun bang, aku tidak akan melakukannya lagi, tapi kalau aku sudah emosi susah untuk meredakannya, hidungku berdarah   karena ulah para  gembel sialan itu.


Aku mengambil batu dan memukul kepalanya hingga  berdarah.


“Jangan coba-coba menggangguku kalau sedang tidur,” kataku mendorong tubuhnya yang terluka.


Keempat temanya terlihat ketakutan, membawa temannya yang terluka dan meninggalkanku.


“Wah … hanya abang saja yang berani mengusir mereka, padahal orang-orang itu sering sekali memalak tukang jualan yang disini, kalau tidak mereka akan mengambil jualan kita, di makan, tapi tidak bayar ,” ujar seorang tukang jualan gerobak buah, yang menjajakan dagangannya di sampingku.


“Abang sudah makan belum?” bapak tua itu memberikan bekalnya untukku, rasanya tidak tega menerimanya.


“Sudah pak, tidak perlu makan saja, aku tidur lagi saja,” kataku.


“Ini saja ini jualan bapak saja, bapak sangat terbantu kalau abang duduk disini, gembel-gembel yang tadi tidak mengusik bapak lagi, tapi sebaiknya abang pindah tempat saja, aku yakin mereka akan memanggil teman-temannya yang lain nanti, untuk membalas yang tadi, mereka terkenal brutal bang.”


Pak tua itu sudah memperingatkan ku, tapi aku tidak menghiraukannya.


Benar saja, dua jam kemudian mereka sudah datang membawa segala macam alat tawuran batu, kayu, bahkan terang-terangan menenteng parang.


“Wah benar kan kataku, aku sudah bilang mereka datang juga,” kata si bapak dengan wajah ketakutan.


“Bapak pergi saja menjauh dari sini, biar aku yang hadapi mereka.”


Si bapak yang tadinya lagi makan ia bangun,mendorong gerobaknya menjauh, kalau ia masih dekat denganku, aku takut ia jadi sasarannya.


“Hei, lu mukul teman gue iya, lu sudah berani, iya!”


Aku tidak takut sedikitpun, tiga orang lelaki preman yang pernah duduk  nongkrong denganku datang membantuku saat itu.


Antara anak pangki Vs preman .


“Kenapa lae, kenapa ubur-ubur jalanan ini pada kesini.”


Salah seorang yang mengaku dari lampung, ia tidak sedikitpun merasa gentar, ia menggaruk pinggang, aku tahu apa yang terselip di pinggangnya.


“Gue gak mau cari masalah ama lu pada, serahkan lelaki itu kesini, kite mau gue cincang dia!” Teriak lelaki yang berpenampilan yang lebih banyak umbul-umbulnya.


“Dia itu teman kita, lu pada mau ngapain?” kalau yang satu ini ucok gendut dari Medan, ia salah satu kelelawar juga, orang yang bekerja di malam hari di tempat sepi dan memepet korbannya, mereka ini bekerja berkelompok.


“Kita tidak mau macam-macam, tapi kita hanya mau lelaki itu, karena dia sudah melukai teman kita,” katanya sok berani.


Aku bersikap tenang, tidak merasa takut sedikitpun, kalau bisa di lawan akan aku lawan, tapi kalau kalah paling pingsan dan mati, perkara hidup selesai, sikap pasrah yang bodoh .


“Dia melukainya tadi, karena dia duluan’kan, memukul gitar ke wajah dia’ kata gembel yang tidur tidak jauh dari dekatku, di bawah jembatan, jadi tempat para gembel berkumpul, walau sering kali di rajia polisi tapi balik-balik lagi-balik lagi berkumpul.


Akhirnya keributan tidak terhindarkan, puluhan orang menghadapi empat orang.


Hidup jadi gembel jalanan  ngeri kawan … nyawa serasa tidak ada harganya, itulah yang aku lihat saat itu.


“Jangan macam-macam aku tidak ingin keributan, kalau masih sayang nyawa kalian sebaiknya mundur manusia-manusia tidak jelas,” kataku berdiri.


Baru juga ingin mendekat, suara mobil polisi datang, semua orang kocar-kacir termasuk aku yang tidak mau berurusan dengan polisi termasuk Beny.


Melihat ada-ada tanda keributan, mungkin ada yang melaporkan ke polisi, aku lari secepat mungkin, ada beberapa anak-anak pangki yang ketangkap, aku dan ketiga lelaki itu berlari bagai kuda.


Berpencar, hingga sampai di Johar Baru, di sana tempat nongkrong baru, di sini gembelnya lebih banyak.


Saat  duduk di sana seseorang  menghampiriku, saat menoleh ada beberapa polisi termasuk Beny dan Papi.


“Hey …!”


Aku terduduk melihat papi dan kakak Eva, Mami, Beny melihatku dengan tatapan tidak percaya.


“Jonathan? Apa itu kamu?” Papi mendekat.


“Iya Pi, itu benar dia, iya ampun kenapa jadi seperti ini, kamu punya rumah, kamu punya keluarga kenapa memilih  hidup di jalanan, kenapa merusak hidupmu si Jonathan!” Teriak Kak Eva.


“Berisik” kataku, bagun dengan kaki terpincang –pincang, karena saat lari kemarin, aku terjatuh dan pangkal kakiku terluka.


“Jonathan jangan pergi lagi nak ayo pulang, kita akan memperbaiki semuanya,” Papi terlihat menahan tangisan melihatku yang berubah jadi gembel.


“Rumah dan  hidup di jalanan  lebih enak di sini,” kataku kesal.


Mami mematung melihatku seperti itu,  ia menangis, kak Eva juga seperti itu, mereka semua melihatku dengan tatapan kasihan, aku tidak menyukainya, aku tidak suka di kasihani.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)