Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Sulitnya menemui Netta


Oh, Tuhan aku tidak tahan lagi, tidak ingin menambah masalah, aku memutuskan pamit pulang.


“Tulang, Nantulang,


aku pamit pulanglah, aku mau balik ke Bogor lagi Ke rumah Tante,


menemui Netta.”


“Baiklah.”


Tulang ikut berdiri saat aku berdiri.


Aku pamit, tapi demi apapun’ raut wajah tulangku, tidak begitu senang melihat kedatanganku.


Aku harus menemui Netta, kalau masalah kami tidak cepat diselesaikan, maka perpecahan keluarga akan terjadi,


jika aku dan Netta sampai berpisah, maka bisa dipastikan keluarga besar kami akan berpecah.


Aku merasa ujian hidup hari ini menguras emosi, aku jauh-jauh datang dari Bogor ternyata Netta di bawa tanteku ke Bogor, ngapain aku datang ke Bekasi kalau ia di Bogor?


Hadeh…!


Aku terpaksa kembali Ke Bogor, melajukan mobil kembali lagi ke Kota Hujan.


Menarik nafas panjang beberapa kali, datang ke rumah tanteku akan jadi hari yang lebih buruk lagi, dari rumah tulangku.


Tante tidak pernah akur sama kakaknya, Mami, mereka berdua, selalu salah paham dan selalu bertentangan pendapat.


Kadang hal kecil dibuat besar, dan untung kami anak-anaknya tidak ikut campur.


Terakhir Tante datang ke rumah kami pas tahun baru, moments yang harusnya saling bermaafan malah mereka berdua saling menyindir satu sama lain, ujung-ujungnya bertengkar, itulah kelakuan Mamiku dan Tanteku.


Hal yang biasa.


Datang kerumahnya saat situasi kami sedang buruk dengan Netta aku sudah bisa pastikan Ia sudah menghasut Netta, tapi aku percaya pada Netta, ia orang pintar yang tidak akan terpengaruh.


Tapi saat ini aku khawatir pada diriku sendiri.


Setelah sekian lama menempuh perjalanan ke Bogor, akhirnya tiba di rumah Tante.


Rumah besar berlantai dua bercat putih rumah tanteku.


Memarkirkan mobil agak jauh dari rumah Tante, aku takut saat melihat mobil, tiba tidak membukakan pintu.


Sebelum turun dari mobil, lagi-lagi aku menarik nafas panjang, aku tahu akan menghadapi hal yang berat.


Menekan bel, anak perempuan tante Lamtiar namanya, ia membukakan pintu untukku.


“Bang Nathan?


Mari masuk bang.”


“Tante ada dek?”


“Mama sama bapak ke arisan bang’ mari masuk bang.”


Anak perempuan yang satu ini sangat berbeda dengan tanteku, setidaknya ia tidak mengikuti jejak Tante si Jabir,


Lamtiar anak satu-satunya perempuan, ia baik dan ramah, ia masih seorang pelajar jurusan keperawatan, keluarga tanteku semua bekerja di bagian kesehatan.


Tanteku seorang Bidan dan abangnya yang pertama sekolah Kedokteran.


Tiar sangat berbeda dari semua saudara laki-lakinya, abang-abangnya mengikuti sifat tante, sombong dan tidak mau mengalah.


“Netta ada di rumah gak, dek’ kan ikut mama arisan bang, tidak lama kok paling bentaran juga pulang,


ayo bang, duduk, abang mau minum apa?”


“Apa saja dek.”


Baru saja menjatuhkan panggul di sofa di teras rumah, Candra anak tante yang paling besar datang dari rumah.


“Abang Nathan mau ngapain kesini?” katanya mulai cari perkara.


“Mau bertemu Tante.”


“Mama tidak ada, abang pulang saja,” katanya dengan gaya yang songong duduk di depanku dengan kaki di goyang-goyangkan.


“Sudah lu diam saja.”


Bentak ku marah.


“Lah, ini rumah saya, suka-suka saya mau ngomong,


abang tidak malu menunjukkan mukamu lagi di depan Netta, setelah apa yang di lakukan selingkuhan mu sama Netta?.”


Aku mengepel tanganku dengan kuat, aku sudah tahu akan seperti ini, aku sudah mempersiapkan mental ku untuk berhadapan dengan mereka semua.


“Gue gak mau berdebat Can, lu lebih baik diam saja,”


kataku mulai tidak tahan lagi.


Saat Tiar datang bawa minuman dalam satu tegukan habis, karena menahan emosiku yang ingin meluap.


“Emang abang bisa apa? lelaki setengah perempuan.”


“Dengar…!


lu lebih baik diam saja kalau tidak tahu masalahnya, lu yang manusia jadian-jadian karena sampai saat ini gue belum pernah lihat punya pacar.”


“Apa maksud lu, lu mau fitnah gue?” sahut candra mulai ikut panas.


“Gue mau bilang Rian kirim salam sama Lu,


lu kenal’kan?


lu itu lebih busuk dan lebih hina, jadi jangan tunjukkan jati diri lu,


mulut lu kayak perempuan, jangan urus- urusan gue, kalau lu gak mau identitas lu gue bongkar,”


Kataku marah, karena aku tahu tidak ada manusia yang sempurna , semua orang punya kelemahan.


“Gue gak gak takut, abang mau ngomong apaan, abang kalau tidak bisa menjaga Netta jangan di paksakan, gue siap mendampinginya.”


“Lu gak malu ngomong seperti itu, dasar gila,”


kataku satu bogem mentah akhirnya lepas juga, aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku tidak menduga kalau ia mengatakan kata-kata seperti itu, menyuruh aku dan Netta pisah, agar ia bisa menggantikan posisiku.


“Memang tidak ada perempuan lagi yang kamu dapatkan, iya!”


Kataku berteriak emosi.


“Bukannya tidak bisa, karena ada perempuan baik-baik, anak tulang lu sendiri tapi


tapi di sia-siakan, lu bodoh, tidak bisa menjaga istri sendiri.”


Ucap Candra membalas pukulan ku.


Adu hantam tidak terhindarkan lagi, aku dan Candra berduel,


Tiar menelepon Tante agar cepat pulang.


Kami berdua jadi tontonan orang yang lewat dari depan rumah, itu karena Tiar teriak-teriak mencoba menghentikan kelakuan norak kami berdua.


Saling baku hantam, hal yang memalukan sebenarnya, bibirku pecah dan ia juga.


“Jangan berani ngomong macam-macam lagi.”


Mendorong tubuhnya hingga terduduk di lantai, untungnya ia mau berhenti karena tetangga dan orang lewat depan rumah menonton kami berdua.


Kami berdua berhenti sendiri, sama-sama merasa malu, ia menunduk mengusap bibirnya.


Aku juga diam mengusap bibirku yang pecah dan merapikan pakaianku yang berantakan, karena lelaki tidak sopan ini menariknya dengan kasar.


Aku merasakan bibirku berdenyut perih karena bogem keras dari Chandara, tidak menyangka orang kayak dia bisa meninju dengan sangat keras juga.


Niatku hanya menemui istriku, kenapa begitu sulit?


aku hanya ingin hubungan kamu bisa baik, aku hanya ingin bicara berdua dengan Netta, kenapa jadi ribet seperti ini.


Bertemu dengan si Candra saat ini, bagai mimpi buruk, aku bibirku semakin berdenyut.


“Sudah kalian berantemnya?


Lihat…malu bang diliatin orang. Abang-abang semua orang menonton kalian.”


Kata Tiar.


“Maaf dek abang tidak bisa menahan diri,” Kataku menyesal, karena membuat gadis manis ini jadi malu pada tetangga.


“Tadinya, teman-temanku mau datang kesini, mau jemput aku, jadi tidak mau datang karena kalian bertengkar,”


katanya dengan wajah marah melihat kami bergantian.


“Memang mau kemana?


biar abang antar saja, tante juga belum datang.”


“Boleh bang aku dan teman-teman ada survei orang-orang dengan bahaya merokok, maksimal 10 orang, abang boleh satu iya?.”


Tiar wajah memelas.


“Terus, kamu jadinya mau diantar apa mau wawancara saya ni?”


“Wawancara abang saja.”


“Tapi tunggu aku ambil obat, kalian dua perlu aku obatin dulu.


Berlari kecil mengambil kotak obat, mengolesi obat ke bibir dan megompres pipiku dengan batu es.


“Tidak usah..!”


Chandra meninggalkan kami berdua, ia masuk dengan bibir pecah dan pelipis bengkak, aku tahu tante akan murka bila melihat itu nanti.


Netta kamu ngapain sih, kenapa susah sekali bertemu denganmu, aku hanya ingin melihatmu, aku merindukanmu.


Tidak melihat hanya hitungan minggu, bagai satu tahun bagiku.


Bersambung....