Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Marhata Sinamot


Masih di desa Dolok Martahan.


Baru pertama kali ini, aku melihat ada keluarga pihak perempuan tidak banyak tuntutan saat ingin pesta, apa yang kami pikirkan tentang keluarga calon ibu mertua Rudi,  semuanya salah.


Calon ibu mertuanya keluarga yang sangat baik dan rendah hati,  keluarga mereka juga ekonominya lumayan menurutku, mantan guru,  anak-anak dan menantunya juga  seorang guru.


Intinya mereka  mendesak untuk mempercepat pernikahan hanya ingin mengabulkan permintaan mama mereka yang ingin melihat ana-anaknya semua menikah,  barulah ia pergi dengan damai.


“Aku minta maaf Eda, kalau  keluargaku selalu mendesak, jadinya Bang Rudi marah,” ujar Nely, dia datang secara pribadi menjelaskan semuanya pada Netta.


“Baiklah, aku mengerti Eda, jangan khawatir, ito Rudi hanya lelah saja, nanti dia akan bicara dengan eda,” ucap Netta menenangkan hati wanita berambut  gelombang tersebut.


“Baiklah Eda, aku pulang dulu” Ia pamit, sementara lae Rudi masih tidur, bukan karena marah hanya saja ia lelah.



Aku dan Netta duduk di lapo dekat rumah.


“Ternyata keluarganya baik ya, Dek”


“Ya Bang, maka itu aku menentang ito Rudi saat dia ingin menyerah, tidak banyak wanita seperti dia , baik sama orang tua dan calon ibu mertuanya, aku berharap dia tidak berubah setelah mereka menikah”


Kami semua merasa sangat bersyukur, karena pihak perempuan tidak banyak permintaan, mereka justru tidak meminta sinamot yang berlebihan, mereka bilang yang penting pesta bisa berjalan dengan baik,  karena keluarga  pihak parboru bicara sopan dan tidak neko-neko, keluarga kami jadi simpati.


“Sudah Lae, jangan marah lagi, kasihan calon inang bao itu, dia jadi merasa tidak enak sama semua keluarga kita,” ucapku sama lae Rudi, ia baru bangun


“Ya Ito, kasihan eda itu, dia  juga pasti tidak menginginkan buru-buru seperti itu.” Netta juga menasihati Lae Rudi.


Kami masih duduk di lapo dekat rumah.


“Baiklah, aku juga tidak marah lagi, aku mengerti posisinya dia, "ucap Rudi.


“Lalu bagaimana dengan kebaya Eda, jas ito juga  belum selesaikan?’


“Nanti aku akan bicara lagi sama Nely”


“Kalau belum Lae,  biar kita cari butik saja, aku ada teman di Jakarta nanti kita pesan yang sudah ada, , gampang, jangan jadi beban,” ucapku menghibur, aku sudah bisa bayangkan  otak Lae Rudi sudah pasti berputar-putar bagai baling-baling kipas.


Tetapi ia sangat beruntung tulang dan papi yang mengurus semuanya. Jadi Rudi bisa  merasa lega.


                                *


Hari itu semua keluarga kami berbagi tugas, menghubungi bagian tenda pesta , alat-alat pesta mempersiapkan  kayu bakar, pinahan, beruntung dari pihak perempuan ikut membantu dan memberikan dukungan dan masukan pada kami, jadi keluarga pihak laki dan perempuan, kompak dan jauh dari segala gosip dan persoalan.


“Semua keluarga sibuk, kita ngapain Dek?”


“Aku bingung mau  mengerjakan apa”


“Tanya dulu calon edamu Ma Paima,, bagaimana dengan pakaiannya untuk martumpol nanti.” tante Ros mengingatkan Netta.


“OH, bou benar”


Netta menelepon calon pengantin perempuan,  karena dalam adat Batak, menjelang pesta, ia tidak boleh kemana-mana lagi begitu juga dengan Lae Rudi mereka akan dipingit istilahnya,  diam di rumah , kalau ada acara baru bisa keluar.


“Bagaimana kebaya eda untuk martumpol sudah ada?” Tanya Netta menelepon .


“Sudah eda, aku pinjam punya kakak sepupu yang baru menikah”


“Oh baiklah, selamat satu, kini tinggal ito Rudi”


Orang yang menjahit pakaian lae Rudi juga belum mengerjakan, karena memang rencananya masih  ada beberapa bulan lagi.


*


Maka acara martuppol juga acara berjalan dengan baik, untuk kebaya kedua pengantin juga   teman Lyra, istri Aldo merekomendasikan butik milik temannya di Medan, untuk  Kebaya dan Jas pengantin, jadi semua masalah bisa diatasi.


Acara satu demi satu berjalan baik, mulai dari Marhusip, Martumpol Marhata sinamot dan ini yang paling penting, sebelum ke keluarga datang ke rumah pihak perempuan kami keluarga diskusi tentang sinamot atau harga yang di berikan untuk Nely.


Dalam adat Batak, semakin tinggi sekolah  seorang gadis Batak, semakin tinggi juga harga yang ditawarkan orang tua pihak perempuan.


Banyak juga  orang tua Batak yang hanya memikirkan uang dari pada kebahagian  pernikahan anak mereka.


Tidak usah jauh-jauh, mami dulu saat Kakak Eva menikah, dia juga meminta harga yang sangat tinggi pada keluarga suami kakak Eva, karena dia seorang perawat.


Aku masih ingat mami  bertengkar sama papi soal sinamot. Jadi mami salah satu contoh orang tua Batak yang mematuk harga sinamot.


“Mereka tidak mematok harga sinamot, jadi berapalah yang kita kasih?” Tanya tulang Gres saat berunding di rumah.


“Kasihlah lima juta tidak ada sekolahnya, hanya tamatan smanya … sudah beruntung dia dapat polisi, dari kita semuanya, ulos, ikan  mereka hanya tinggal hadir saja,” ucap mami.


“Jangan begitu mami, jahat kali pikiran mami ini, giliran sama anak orang begitu, dulu sinamotku kau minta selangit, padahal hanya perawat biasanya aku,” ucap  Kak Eva mami langsung  kena skatmat.


“Kau, langsung ungkit-ungkit semuanya,"ucap mami kesal


“Makanya mami jangan asal ngomong pikirkan perasaan keluarga pihak  perempuan," Balas papi membela Kakak Eva.


“Jangan menilai harga seorang wanita dari sekolahnya saja Bou … dia mengorbankan sekolahnya demi mengurus orang tua, itu satu pengabdian yang luar biasa, tidak banyak orang yang melakukan itu,” ujar Netta.


“Ya, betul aku setuju sama Eda Netta,” balas kak Eva lagi.


“Tapi  mintanya tidak banyak mama Paima."Mami melirik Netta.


“Namboru, jika kita bikin keluarga mereka hormat, orang juga akan menghormati kita dan menghormati keluarga  calon mertua si Rudi,” ujar Netta.


“Benar Bou, aku tidak mau orang lain menganggap mama ini sebelah mata lagi, justru saat ini, sebenarnya aku ingin mengundang semua sekampung ini dan kampung tetangga, aku sudah sepakat sama ito Netta ,” ujar Lae Rudi.


“Lae benar,  Netta sudah dokter, Lae Rudi polisi, buktikan pada semua orang kalau keluarga   Mama Saut atau oppung Atika sudah berhasil,” ucapku lagi.


Ibu mertuaku dan Lae yang tadinya hanya diam, akhirnya tersenyum.


Netta pernah cerita padaku kalau semua  tetangga dan orang yang di kampung dari dulu selalu menganggap keluarga Netta rendah, tetapi kini sudah saatnya, untuk membuktikan kalau mereka sudah  berhasil.


Bukan untuk pamer, tetapi  ini salah satu satu pembuktian kalau ibu mertuaku walau seorang janda berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)