
Netta dan almarhum Nando punya impian yang mulia untuk kampung halamannya, ia beberapa kali mengungkapkan impiannya padaku untuk membuka sebuah posko kesehatan di kampung halamannya, Netta bilang ; Ada banyak orang tua di kampungnya yang kurang memperdulikan kesehatan tubuh mereka, lebih memilih bekerja keras dan tidak punya waktu untuk periksa kesehatan ke puskesmas ataupun ke klik, setelah sakit barulah datang ke rumah sakit.
Maka jauh-jauh hari, Netta sudah mempersiapkan alat kesehatan dan obat-obatan yang akan di bawa ke kampung , sebelum pulang juga ia sudah berkordinasi sama Candra dan Tivani kalau ia akan mengadakan pengobatan gratis di kampung, Candra dan Tivani mendukung.
Maka itu, hari minggu di Gereja sudah ada pemberitahuan kalau hari senin akan diadakan pemeriksaan dan pengobatan gratis di samping rumah oppung kami, maka hari senin pagi ,kami sudah menyediakan tenda di lapangan di samping rumah oppung.
“Bapak Paima tambahin saja tikar Mang, takutnya banyak yang datang yanng periksa,” ucap papi saat kami dan lae-laeku menyusun berapa kursi dan empat meja.
“Tidak banyak kali Pi, warga kampung ini, paling berapa rumah.” Aku berpikir hanya berapa orang yang datang.
“Ya, Lae mana tau, dari kampung atas sama bawa datang kan sudah di kasih tau di Gereja ,” ujar Parasian.
“Memang mereka mau lae?”
“Pasti …”
“Ah … nantilah, ini saja belum ada yang datang
Tivani dokter gigi, Candra dokter spesialis bagian dalam dan Netta dokter umum dan kakak Eva perawat formasi yang sangat lengkap.
Mami meminta mereka memakai seragam dokternya agar lebih yakin masyarakat.
“Pakailah jubah dokternya,” ucap mami, semua keluarga kami duduk di bangku di tenda.
“Memang harus mak Tua?” Tanya Candra.
“Haruslah Mang, takutnya nanti warga ini tidak ada yang datang dipikirnya kalian hanya jualan obat”
“Ya, benar itu, pemikiran di kampung sama di kota itu beda Mang, terkadang kalau di kampung kita berbuat baik saja dicurigai, karena mereka tidak bisa baca hanya dengar gosip-gosip,”ujar tante Ros.
Mereka bertiga memakai seragam dokter dan stetoskop menggantung di leher, Netta terlihat sangat cantik dan berwibawa saat memakai baju kebesaran dokter miliknya.
Mata inang mertuaku dan Lae Saut, berkaca-kaca melihat Netta memakai seragam dokter, ini pertama kalinya mereka melihat secara langsung Netta memakai seragam dokter.
“Mak … bereng jo Borumi si Netta bagakkian”
(Ma, lihat dulu anak perempuanmu itu, cantik bangat,” ujar lae yang duduk di kursi bersama inang mertua dan istrinya.
“Olo Mang, bagak kian ibana, bangga hian au”
( Ya Nak, cantik kali dia, bangga sekali aku)ujar mama mertua mengusap sudut matanya.
Aku tahu apa yang mereka rasakan, melihat anak sukses dan melakukan hal yang baik untuk sesama, itu sangat membanggakan untuk keluarga, terutama untuk seorang ibu.
“Sini keluarga dulu yang diperiksa pertama,” ujar papi, meminta mami untuk duduk di meja Tivani.
“Kok aku …?”
“Mami perlu memeriksa gigi.” Papi menarik lengan mami untuk duduk di kursi.
Semua keluarga tertawa, saat papi memaksa istrinya jadi istrinya sebagai pasien, pertama.
“Ma … tuson hamu,” panggil Netta.
Lae saut dan inang mertua langsung berdiri, lalu duduk di depan meja Netta, aku juga ikut penasaran, apa yang akan dilakukan si borneng sama inang. Pertama ia memeriksa tensi, ia benar-benar memperhatikan kesehatan inang.
“Ma … gak mama minum obat yang aku kirim itu?” tanya Netta setelah mengecek kesehatan inang.
“Ya, beberapa hari ini, gak mama minum Nang, aku lupa”
“Mama pusing gak?”
“Ya”
“Mama itu tekanan darah rendah Ma, makanya pusing.”
Layaknya dokter ia juga menulis di kertas dan meminta inang ke meja kak Eva sebagai pengambilan obat, aku menahan tawa saat lae Saut, Rudi dan laeku yang lain ikut-ikutan mengantri untuk diperiksa kakak mereka.
“Bah … Ito Tika sahit aha?”
(Wah … ito Tika sakit apa?) Tanya Netta tertawa melihat abang pertama mereka ikut ingin diperiksa sama Netta.
(Sakit kerongkonganku ito, periksa dulu aku,” ujarnya serius.
Melihat Lae saut ikut pasien Netta, tulang meledek lae.
“Karena kurang merokok itu bapak Tika … banyakkin lagi merokok biar hilang penyakitnya,” ujar tulang dari Bandung.
Kami semua tertawa, tetapi aku tahu, dari raut wajah lae itu, ia hanya ingin merasakan bagaimana diperiksa adiknya yang seorang dokter, untungnya Netta mengerti hal itu, ia memeriksa lae dengan senang hati.
“Coba ito kepal tangannya, maaf keluarkan lidahnya.”
Lae itu melakukan apa yang diminta Netta, ia juga memeriksa pupil mata Lae saut, lalu wajah Netta serius.
“Apa ito, sering sakit di ulu hati?”
“Ya”
“Ito, ada Mag, jangan banyak minum kopi ito”
“Haaa …! Benar kan kataku, aku bilang juga begitu.” Inang Bao, istri lae langsung bereaksi.
“Ya, ito ada mag”
“aku sudah bilang sama itomu eda, di jugul dia gak percaya kali samaku,” ujar lagi.
“Ini resepnya To, aku bikin yang bagus, di minum sampai habis,” ujar Netta.
Aku menahan tawa, saat semua laeku mulai dari lae Rudi sampai yang terkecil ikut-ikutan mengantri ingin di periksa dr. Netta.
“Memangnya kalian sakit?” tanya Netta tertawa melihat lae kecilku ikut mengantri.
“Ya, Kakak sakit kali kepalaku dari kemarin sore.” Lae Andreas memegang kepala.
“Aku juga” Lae lamhot memegang perut.
“Oh Baiklah.” Netta membuka laci lalu, mengeluarkan jarum suntik, lalu mengangkat ke atas dan menyetil ujung jarum.
“Amang … oi amang jeksi do dang dia au.”
“Ya ampun jarum suntik ternyata aku tidak mau.” Mereka semua langsung berdiri dan kabur.
Kami semua tertawa ngakak melihat mereka ketakutan karena melihat jarum suntik, bahkan Rudi yang seorang polisi ikut kabur.
“Ayo, katanya mau periksa.” Netta berdiri.
“Ah … kakak janganlah pakai jarum suntik, tadi abang gakpun disuntik, giliran kami disuntik.” Parasian protes.
“Kalau anak-anak sama remaja memang harus disuntik,” ujar Netta.
Inang mertuaku sampai ketawa melihat si Parluhutan bersembunyi di belakang inang.
“Dek … mereka hanya ingin di periksa sama kamu, hanya ingin di periksa sama kakaknya yang dokter,” ujar ku.
“Ya Kak, anak-anak itu hanya penasaran,” balas Tivani.
“Ya sudahlah, sini!” Netta menyimpan jarum suntik ke laci,
“Tapi ke sinilah, sebagian kakak juga ingin periksa gigi kalian apa ada yang busuk apa tidak,” ujar Tivani.
“Abang jugalah, masa ngantri sama kakak Netta semua,” ujar Candra.
Jadi mereka berbagi, aku meminta lae kecilku diperiksa sama Netta, setelah di periksa candra sama Tivani aku meminta Netta memeriksa adik-adiknya, karena yang mereka inginkan, bukan memeriksa kesehatan, tetapi hanya ingin merasakan diperiksa kakaknya yang seorang dokter, aku tahu dalam hati adik-adik Netta, pasti sangat bangga, dan akan memamerkan ke temannya kalau mereka punya kakak dokter.
Tidak lama kemudian, kursi yang kami sediakan itu sudah penuh dengan orang-orang yang akan periksa kesehatan, benar kata papi, orang yang datang ke posko pemeriksaan kesehatan gratis itu membludak, kursi sampai tidak muat. Sebagai suami dari dr. Netta aku ikut merasa bangga melihat Netta melakukan misi kebaikan, kesabarannya dan sikap lembutnya membuat orang yang diperiksa merasa bahagia.
‘Terimakasih Hasian atas sikap baikmu, mudah-mudahan kamu mendapat hal yang baik juga’ ucapku dalam hati.
Bersambung ...