Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Pengajuan Cuti Netta Di Terima


Bali


Pukul 05:00


Melihat Netta masih tertidur pulas  meringkuk di bawah selimut, aku memutuskan bangun sendiri di temani si milon gembul, binatang berbulu lebat ini selalu bangun cepat,  setiap kali ia mendengar ada suara, Karena saat kami tinggal di Bali Netta membiarkannya tinggal di rumah, ia takut si milon  pergi pantai dan terbawa ombak, maka  itu si borneng beli rumah nyaman untuk si milon, yang di tempatkan di dalam rumah.


“Milon sini temani aku olah raga,”  panggilku mengajak keluar.


Berlari sepanjang tepi pantai menikmati angin pantai Bali,  dan melihat matahari terbit, setelah beberapa putaran, duduk bersama si milon di tepi pantai.


“Milon  cantik ya matahari terbit itu,” ucapku menatap si milon yang duduk di sampingku. Sayang, si milin cuek tidak menyahut omongan tuannya.


Melihat  cakrawala mengintip di ufuk timur,  membuatku  bersyukur pagi itu,  karena masih di beri kesempatan melihat keindahan karya Tuhan, setelah selesai olah raga,  aku mengajaknya  masuk kembali  ke rumah, tetapi si borneng masih tidur, tidak biasanya ia seperti itu, mungkin  ia benar-benar kerja keras kemarin dan ditambah lelah tadi malam.


"Baiklah tidurlah sebentar lagi, nanti aku bangunkan."


Karena  nyonya rumah kami masih tidur, aku terpaksa  yang memegang dapur saat ini, menyiapkan serapan untuk kami bertiga, milon duduk di dekat jendela kaca dapur, menatap burung-burung yang berterbangan di tepi  pantai, kalau saja ia dilepas mungkin ia akan berlari mengejar burung-burung tersebut.


“Milon kamu diam di situ, aku mau cuci piring dulu,” ujarku, mulai jadi inem di dapur,  mengenakan clemek bermotif kupu-kupu lalu mulai mencuci piring dan memasak air panas.


Milon selalu menjawab setiap kali  kami ajak bicara, dengan aungan dan gongongan yang kecil dan aku percaya itu bahasa untuk menjawab.


                                   *


“Selamat pagi Hasian, selamat pagi milon,” sapa Netta ia datang ke dapur saat kami berdua duduk menikmati pemandangan pantai sama si milon.


“Pagi juga Hasian, mau susu apa kopi …?”


“Susu panas”


Menyeduh segelas  susu cokelat hangat dan roti bakar, untuk Netta, kami bertiga duduk santai.


“Bang  bagaimana kalau cuti ku ditolak.” Netta memulai obrolan.


“Coba saja Dek ajukan ulang”


“Abang temani aku hari ini ya”


“Untuk apa  …? Tumben pengen di temenin”



“Nanti kita bicara sama-sama saja sama tulang itu, aku yakin kalau dia melihat abang langsung percaya.” Netta mengajakku menemaninya untuk bertemu dokter seniornya lelaki yang ia panggil tulang.


“Baiklah, aku akan datang, tapi pagi ini aku ada rapat penting, setelah rapat selesai, baru aku datang ke rumah sakit”


“Baiklah.” Netta setuju.


Netta samapi meminta ikut menemaninya bicara sama dokter, mengenai pengajuan cuti yang ia ganti lagi, karena bulan pernikahan lae Rudi di ganti kami semua jadi repot apa lagi yang bekerja di instansi pemerintahan seperti tulang kembar, mereka akan repot kalau dadakan seperti rencana pernikahan seperti itu.


Saat Netta ingin berangkat kerja, nantulang, ibu mertua menelepon Netta.


“Halo aha Omak …?”


(Halo apa Mak?)


“Speaker,”bisikku pelan. Netta melakukannya,  aku yakin ada hal yang sangat mendesak makanya inang   mertuaku sampai menelepon, karena biasanya  beliau jarang menelepon, kami yang selalu menelepon tanya kabar duluan.


“Bohado ake Inang …” Suaranya terdengar sangat cemas, kami saling menatap.


(Bagaiamana ini Nak)


“Boha haroa Mak? Adong masalah?”


(Ada memangnya Mak, ada masalah?)


“Itom si Rudi, marbadai dohot si Nelly, tangis-tangis ibana ro jabu na bodari”


“Si Rudi, bertengkar sama si Nelly, nangis-nangis dia datang ke rumah kita tadi malam” Ujar Ibu mertua.


“Gara-gara apa Inang?” tanyaku mengarahkan suara ke arah ponsel Netta.


“Waduh … kenapa lae sampai bicara seperti itu? “


“Gak taulah aku amang”


“Mungkin lae hanya tertekan inang, sabarlah inang ya, jangan khawatir”


“Mak, songonon mai, aupe  makkataipe annon tu ito, hubujuk pe annon da Mak”


(Mah .. gini saja, nanti aku bicara sama ito Rudi, aku bujuk pun nanti dia)


“Olo, inang denggan ma dokkon tu itomi sotung maila hita, da inang”


“Ya Nak, bicaralah baik dengan itomu, jangan sampai malu kita,” ujar mama mertua lagi.


“Olo Mak, andon hu paboa pe tu oma, naeng berangkat kereja au da mak”


(Ya ma, nanti aku beritahukan sama mama, aku mau berangkat kerja)


“Ya Inang, baiklah.” Ibu mertua menutup sambungan telepon.


Aku tahu Lae Rudi pasti pusing memikirkan semuanya, jangankan ia, kita aja pusing, kalau sudah di minta buru-buru.


Menurut cerita ibu mertua, Lae Rudi bertengkar sama calonnya karena selalu di desak dari kampung untuk menikah, sementara ia sediri  belum ada cuti dari pekerjaan, aku bisa membayangkan betapa  pusingnya Lae Rudi saat ini.


“Begini jadinya kalau calon pengantinnya satu kampung, ada masalah sedikit langung  melebar ya,” ucap  sama Netta.


“Ya Bang, apalagi calon eda itu sudah seperti  menantu di rumah mama,  kata mama dia selalu membantu mama, sayang kalau sampai gagal”


“Ya, kita harus bantu mereka”


“Maka itu ayo kita   bicara sama wakil direktur rumah sakit itu, langsung kita ceritakan kejadian seperti itu”


Mendengar penjelasan Neta aku membatalkan rapat pagi ini, berangkat ke rumah sakit bicara langsung sama Dr. Tagam, dokter yang akan membantu kami tahun depan melakukan bayi tabung.


Tiba di rumah sakit, kami berdua langsung ke ruangan dokter tersebut. Kami masuk dan di sambut hangat sama dokter senior  Netta, bukan hanya seniornya saat ini, lelaki yang sudah terlihat beruban itu bahkan dapat jabatan penting di rumah sakit.


“Ada apa  Bere, kenapa minta bertemu denganku, bawa suami pula, apa kalian akan mempercepat tanggalnya?”


“Oh, bukan Dok, ada yang lebih urgent saat ini,” ucap Netta.


“Ada apa?” Ia menatapku.


“Saya ingin minta cuti Dok”


“Untuk apa?”


Setelah kami jelaskan panjang lebar, beliau sangat pengertian, bahkan  ia menawarkan bantuan, ia menawarkan  catering untuk pernikahan lae,  karena ia punya saudara juga di  Samosir yang punya usaha catering,  yang bisa mengani paket untuk pesta adat.


Wajah Netta sangat gembira saat keluar dari ruangan wakil direktur.


“Terimakasih ya hasian”


“Untuk apa?” Tanyaku.


“Kalau aku tidak mengajak abang tadi, mungkin tulang itu tidak kan memberikan cuti selama itu untukku, abang pinta dalam hal menyakinkan orang”


“Abangkan sudah biasa  menghadapi orang Dek”


“Ya, karena itu aku bawa kamu tadi, karena aku tahu abang sudah biasa memimpin rapat besar, sudah biasa persentasi jadi …  karena abang pengajuan cutiku bisa di terima”


“Baiklah aku juga hari ini libur kerja, ayo kita pulang ke Jakarta.” Netta tersenyum bahagia saat cuti kerjanya akhirnya di setujui.


Memang enak jika di tempat kerja punya orang dalam, apalagi orang menganggap kita sebagai keluarga, mungkin kalau tulang itu tidak wakil direktur d rumah sakit, aku yakin Netta tidak akan  semudah itu mendapat cuti panjang, aku berharap pernikahan lae Rudi bisa berjalan lancar dan tidak ada masalah, berharap pertengkaran mereka berdua dengan calon istrinya tidak benar-benar serius.


 Bersambung


Hai kakak semua Jangan lupa like dan Vote ya, kasih kasih hadiah juga agar Pariban Jadi Rokkap bisa dapat Fromosi. Terimakasih banyak