
Setelah bercerita horor sepanjang malam, akibatnya kami berdua bangun kesiangan, apesnya lagi aku dan Netta lupa menyetel alarm.
Setelah jam enam pagi, aku terbangun karena panggilan alam, karena tadi malam aku menahannya aku takut ke kamar mandi, cerita Begu Ganjang yang diceritakan Netta benar-benar menyeramkan menghantuiku malam itu, belum lagi sebelumnya aku mencium bau jeruk purut, buah yang kesukaan almarhum tulangku, jadi ketakutan ku berlapis malam itu.
Aku yang terbangun duluan, saat melirik jam aku terlonjak panik, karena tadi malam Netta bilang ia ada operasi di jam pagi.
Netta masih tidur, padahal jam enam ia sudah rapi.
“Dek … bangun, kamu shift pagi kan?”
“Jam berapa Bang?” tanya Netta matanya masih sangat berat.
“Jam enam.”
“HAAA!?” Netta mengambil jurus langkah seribu.
Ia masuk ke kamar mandi hanya membasuh wajahnya dan menggosok gigi.
“Aduh Bang, aku telat …!” Teriak Netta berjalan tergesa-gesa.
“Maaf Dek, aku juga ketiduran tadi,” ujar ku.
“Abang bertemu Klien jam berapa?”
“Jangan pikirkan aku, kalau aku mah gampang bisa aku tunda, cepatlah biar aku antar,” ujar ku menuju ke dapur menyeduh segelas susu hangat dan memanggang roti untuk serapan Netta.
“ Aku gak usah mandi Bang, nanti saja di rumah sakit,” ujar Netta dari dalam kamar.
“Baiklah.”
“Bang …. ikat rambut yang tadi malam mana?”
“Memangnya aku pakai ikat rambut ada-ada saja borneng ini,” gumam ku pelan, tetapi jika Netta sudah panik akan selalu seperti itu.
“Lihat di kamar mandi!”
“Oh … ketemu.”
“Bang … tas kerjaku mana?”
“Lihat di atas meja!”
“Oh … iya,” ujarnya lagi.
“Sini serapan dulu!”
Netta datang ke dapur. “Oh … aku telat Bang, aku makan di mobil saja ya.”
Meneguk susu dalam gelas sampai tandas memegang roti membawa ke dalam mobil.
Karena Netta buru-buru aku sampai kehilangan konsentrasi menyambar kunci mobil dan berlari keluar.
Saat aku menutup pagar.
“Bang …!” Teriak Netta tertawa ngakak, ia menunjuk kearah bawahku ternyata aku lupa pakai celana, aku hanya memaki celana boxer, celana kolor bermotif Doraemon.
“Astaga ! Sial!”
“Gak usah di ganti Bang ! Aku sudah telat.”
“Tapi aku hanya pakai celana ko-”
“Abang tidak usah turun nanti dalam mobil saja,” potong Netta.
Berhubung karena Netta yang memaksa, terpaksa aku menyetir hanya menggunakan celana kolor.
“Aku berharap aku tidak ada sesuatu yang memaksaku keluar dari mobil ini.”
“Jangan khawatir tidak ada Bang,” balas Netta, ia mengeluarkan tas make-upnya dan memoleskan bedak dan lipstik di bibirnya, baru juga merasa tenang sedikit tiba-tiba.
“Astaga …!”
“Kenapa ada yang ketinggalan?” Tanyaku melirik Netta.
“Aku pakai sendal kamar mandi,” ujar Netta.
Kami berdua hanya tertawa menertawakan apa yang kami alami pagi itu, itu jauh lebih baik dari pada menyalahkan satu sama lain.
Saat Netta ingin buru-buru, ternyata kami di hadang macet, karena itu hari Senin, karena senin itu hari langganan macet.
“Macet Dek, bagaimana ini?”
“Ya mau gimana lagi, paling nanti aku dapat teguran.” Netta mengeluarkan ponselnya dan menelepon ke rumah sakit mengabari kalau ia tidak bisa ikut dalam team operasi pagi itu.
“Ini semua gara-gara Tante Candra,” ujar ku.
“Kalau saja tante tidak membuatmu sedih kemarin, kamu tidak akan menangis,” ujar ku menjadikan tante Candra si parbada bolon itu jadi kambing hitam.
“Itu karena Begu Ganjang Bang, coba kita tidak cerita tentang dia. Kita pasti bisa tidur,” ujar Netta terkekeh.
Demi menghindari macet aku membawa dari arah gang niatnya agar bisa memotong jalan untuk menghindari macet, tetapi kesialan menimpa kami lagi, mobilku kempes karena ban belakangnya terkena potongan besi.
“Sial! Sial!”
“Bang aku naik ojek saja ya!”
“Netta ….! Bagaimana dengan kolor ku, bagaimana aku untuk mengganti bannya dengan pakaiannya seperti ini?”
“Nanti aku minta abang- abang itu bantuin abang, aku pergi dulu,” ujar Netta ia terpaksa menumpang ojek pangkalan membawanya ke rumah sakit.
Aku merasa kesialan pagi ini double dan beruntun, aku masih diam dalam mobil setelah meminggirkannya di tempat yang lebih aman, setelah menunggu beberapa menit dan pikiran lebih tenang.
‘Bodoh amat dengan tatapan orang dengan kolor ku; ucapku dalam hati.
Aku keluar dari mobil untuk mengganti ban yang bocor, saat mengerjakannya aku mendengar suara cengengesan beberapa pelajar yang melihat kolor Doraemon ku.
“Tertawa lah kalian semuanya, aku akan bersikap bodoh amat,” ujar ku mengerjakan dengan cepat.
Setelah beberapa menit akhirnya bisa mengganti ban mobil dan buru-buru meninggalkan tempat tersebut, kembali ke rumah sebelum berangkat ke kantor, karena di rumah kami tidak ada asisten rumah tangga maka aku dan Netta yang mengerjakan sama -sama.
Sebelum berangkat ke kantor aku membereskan rumah terlebih dulu, Netta tidak pernah memintaku membereskan rumah atau mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi aku yang melakukan sendiri, semua karena cinta. Aku tidak tega melihat Netta capek pulang kerja dan capek lagi di rumah.
Mengambil hati Netta dan mungkin istri-istri di luar sana, caranya sangat mudah, cobalah untuk mengerti pasangan kita atau hargai dia, saat ia lelah mengerjakan pekerjaan rumah, aku akan membantunya mengerjakan apapun yang bisa aku kerjakan, misalkan menyapu atau melap kaca, seketika raut wajah Netta akan berubah cerah lagi.
Intinya istri itu hanya perlu di hargai dan dimengerti, banyak lelaki Batak yang selalu gengsi jika mengerjakan pekerjaan rumah, baru di minta pegang sapu saja ia sudah merasa harga dirinya jatuh, tetapi karena aku mencintai Netta perasaan seperti aku buang. Aku belajar dari papi, dulu saat Bu Atun pulang kampung papi akan memasak untuk kami, dan mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan, beliau menghiraukan omongan orang lain yang menyebut papi lelaki rumahan. Justru dari papi lah kami belajar banyak hal dan aku menerapkannya dalam rumah tanggaku apa yang aku lihat dari papi selama ini.
Setelah membereskan rumah Netta meneleponku.
“Bagaimana Bang?”
“Sudah, aku sudah di rumah, bentar lagi mau berangkat ke kantor.”
“Syukurlah Bang, tadi aku sempat khawatir abang tidak mau keluar dari mobil karena kolor doraemon abang itu,” ujar Netta sembari tertawa.
“Dek ..”
“Ya Bang.”
“Tadi teman-temanku saat kuliah ingin mengajakku reunian malam ini kita mau pergi gak?”
“Kalau abang mau, ayo.”
“Tapi …. apa kamu siap? Mereka nanti akan bertanya itu lagi, aku tidak mau kamu menangis seperti tadi malam.”
“Tidak apa-apa Bang, kalau orang lain yang bertanya Kapan punya anak? Sudah punya anak berapa?” pertanyaan seperti itu kupingku sudah tebal, aku menangis karena namboru tadi malam bukan bertanya. Tapi lebih tepatnya mengejek,” ujar Netta.
“Jadi kita pergi nanti malam yakin kuat mental?”
“Yakin … jemput aku saja nanti sore,” ujar Netta.
Aku berharap aku dan Netta dikuatkan dalam menjalani ujian berat ini, enam tahun pernikahan tidak memiliki momongan hal yang sangat berat untuk kami, terlebih untuk sendiri.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)