
Anak Kampung Yang Sudah Naik Daun
Toni bergegas mengeluarkan mobilku, terpaksa aku di gotong ke dalam mobil.
Penampilanku sudah sangat berantakan, sekilas terlihat seperti korban tabrak lari karena banyaknya noda yang mengotori wajahku dan pakaianku.
Anak-anak menggotong ku ke mobil, wajah pak Matiu dan anak yang membuat aku celaka terlihat merasa bersalah, itu bukan salahnya , melihatnya merasa bersalah seperti itu membuatku merasa kasihan, mungkin ia salah satu pekerja sipil yang tidak pulang selama seminggu yang di katakan anak-anak, aku khawatir pak Matiu memecatnya, lelaki bertubuh kurus itu selalu tegas pada anak buahnya, aku tidak ingin hal itu terjadi, itu bukanlah kesalahannya, kejatuhan material dari atas bangunan itu hal biasa.
Maka itu, pentingnya para orang yang melintas untuk selalu berhati-hati, dan para pekerja selalu mengunakan standar keamanan.
Sebelum mobil itu bergegas meninggalkan proyek, lelaki yang berpenampilan dekil itu masih saja terus menunduk merasa bersalah.
Tiba-tiba rasa iba ku muncul.
“Pak Matiu sini!”
“Iya pak Nathan,” lelaki itu mendekat.
“Tolong di selesaikan dengan cepat malam ini iya, pekerja itu jangan diapa-apain biarkan ia meneruskan pekerjaannya, itu bukan salahnya, ini beli makan dan rokok nanti untuk anak-anak, menarik sepuluh lembar uang lembaran warna merah dari dompetku.
“Maaf pak,”
kata lelaki itu dengan kepala menunduk .
“Mari pak sini,” ia berlari kecil kearah mobilku.
“Tidak apa-apa, teruskan pekerjaan bapak.”
“Maaf pak, terimakasih,” menundukkan kepalanya beberapa kali, pada akhirnya mobil itu meninggalkan proyek.
“Kemana pak, ke rumah sakit apa ke rumah?”
Toni bertanya, ia ingin memperjelas lagi.
“Rumah sakit.”
Jawab Netta.
“Rumah.”
Jawabku.
“Baiklah ke rumah pak”
Netta akhirnya mengalah, aku tersenyum licik.
Karena aku tidak pernah kalah.
Jalanan lancar saat mobil putih milikku menyusuri jalanan Ibukota.
Toni mengantar kami saat hari sudah mau subuh, jadi Jakarta belum dikepung macet.
Akhirnya tiba di rumah, Toni terpaksa membopong ku ke kamar, karena kepala dan pundak ku terasa teramat sakit.
“Terimakasih Pak Toni,”
kataku meringis menahan sakit.
Netta mengantar Toni sampai keluar gerbang, dijemput seorang pekerja bangunan naik motor, untuk membawanya kembali ke proyek.
Suara gerbang kembali tertutup . Netta masuk ke kamar membawa handuk kecil dalam baskom, tidak perlu banyak bicara, ia hanya diam dengan tatapan mata tegas, kalau sudah seperti itu, itu artinya ia lagi marah, aku sudah tau banyak dengan sikap dan kebiasaan Netta, kalau ia sedang marah sebaiknya didiamkan sebelum ia akan bertambah marah.
Mengganti pakaianku dengan yang baru, pakaian yang bernoda itu ia rendam di dalam ember untuk menghilangkan noda berwarna merah itu.
“Ayo…!”
“Kemana?”
kataku bingung menahan sakit.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
“Haa…!?”
“Tadi aku bila”-
“Tadi aku tidak ingin memaksamu didepan karyawan mu, aku tidak ingin berdebat didepan mereka, aku tidak ingin membantah mu di depan mereka, tadi aku tidak ingin mereka menganggap mu takut istri, maka itu aku menurut saja abang di bawa ke rumah.
Sekarang hanya kita berdua, ayo ke rumah sakit,”
keluarlah aslinya, ia wanita yang tegas bahkan sangat galak kalau tentang kesehatan.
Aku masih memegang pundak ku yang terasa sangat sakit.
Netta menarik tanganku, ingin memapahku berdiri.
“Tunggu…tunggu mau kemana kita?”
kataku dengan bingung, baru juga lima menitan panggul ku mendarat di ranjang sudah disuruh berdiri lagi sama Netta,
“Ke rumah sakit.”
“Apa?
aku sudah bilang kita berobat disini saja,”
“Dengar iya abang !Jonathan Alexsander Situmorang, aku belum jadi DOKTER, membawamu ke rumah ini bukan ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini, itu sama saja aku melihatmu dan hanya menonton mu kesakitan, jadi… ikut aku sekarang ke rumah sakit.”
Aku tertawa, merasa lucu saat ia marah menyebut nama lengkap ku dengan nafas terengah-engah, ia juga sepertinya menahan amarah.
“Baiklah Ibu Nettania boru Nainggolan , kamu mau bawa aku ke Rumah sakit naik apa subuh-subuh seperti ini?
Lagian kenapa tidak tadi sekalian kita ke rumah sakit, kalau ujung-ujungnya kamu juga harus memaksaku ke rumah sakit?”
“Hadeh…!
Ia menarik napas panjang, berdiri dengan kesal di depanku dengan tangan berdecak pinggang.
“Awas, awas aku itu kesakitan Netta, bukan tambah dimarah-marahin, aku butuh dimanja disayang, bukan diomeli begini, tambah sakit jadinya kan, aduuuuuh.”
Ingin sedikit bermanjaan.
“Ayo pegang tanganku, aku akan memapahmu keluar,”
Netta merangkul lenganku.
“Jam segini mana ada mobil Netta?
Taxi juga belum lewat subuh-subuh begini Netta! yang ada pocong dan kuntilanak , sundal bolong, itu yang keluar,” kataku kesal.
“ ha…ha nenek gombel, nenek gayung,”
kata Netta lagi menimpali.
“Iya sudah, jadi aku mau tidur saja,” kataku.
“Aku yang membawa mobilnya bang,”
“Apa?
dengar iya Ta, jangan bercanda aku lagi sakit ini.”
“Iya, aku tidak bercanda, aku sudah bisa bawa mobil, aku sudah lulus belajar menyetir, hanya belum mengurus SIM saja.”
“Haduh Ta, kamu bawa sepeda saja masih goyang kanan- goyang kiri, bagaimana mau bawa mobil sih? jangan bercanda,”
“Siapa yang bercanda, ayo,”
ia menopang badanku lagi dengan sikap memaksa.
“Kamu tidak berniat mau menghilangkan nyawa kita’kan Ta?”
“Tidak Bang, ayo,”
kata Netta, kali ini otakku tidak mampu bekerja, rasa sakit yang aku rasakan membuatku kehabisan tenaga untuk berpikir, aku pasrah walau pun akan mati nantinya, karena tindakan Netta.
Oh Iya Tuhan, padamu aku berserah jikapun harus mati hari ini, biarkanlah, karena Netta yang melakukannya, bagaimana mungkin ia bisa bawa Mobil, bawa sepeda saja ia masih senggol kiri senggol kanan.
Kataku memilih menurut saja dan menutup mata.
Hingga Netta memapahku masuk kedalam mobilku,aku masih menutup mataku duduk diam di jok depan, di samping jok kemudi.
“Ta, apa kita sudah mati?”
“Abang apa sih bilang mati mati dari tadi,” kata Netta sewot.
“Kok aku gak merasakan dentuman keras gitu?”
“Makanya abang buka mata,” kata Netta
“Gak mau, aku takut buka mata, karena aku pikir jika buka mata, tiba-tiba sudah di persimpangan antara Neraka dan surga, aku takut mengetahui aku dibawa kemana,” aku bergurau masih dalam posisi menutup mata.
“Dasar stress.” Rutuk Netta.
Tiiiiiiit`
Tiba-tiba ia meng klakson panjang, membuatku kaget dan terbangun, Benar Mobilnya sudah jalan.
“Haaa…! mobilnya beneran jalan?”
“Terbang”
kata Netta kesal, masih dengan tatapan fokus ke arah jalanan.
“A-a-aku serius Ta, kamu bisa bawa Mobil?
Kapan?
dimana belajarnya?
sama siapa?”
Disela rasa sakit yang aku rasakan, aku terkejut dengan Netta yang bisa mengendarai mobil, padahal dulu waktu aku ajak olahraga naik sepeda, ban sepedanya tidak stabil, saat ia naiki karena ia grogi, kini anak kampung par Dolok Martahan itu terlihat tenang mengendarai mobil berwarna putih Lexus.
“Nanti kita bahas, abang lebih baik tutup dan tidur,” kata Netta.
Kenyataan bisa membawa mobil itu membuat jantungku makin berdetak lebih cepat, aku berpikir kami tidak akan selamat, ternyata Netta sepertinya sudah mahir mengendarainya ,bahkan memarkirkan di depan rumah sakit yang sempit ia bisa, mengambil celah untuk parkir.
Netta keren. Anak kampung yang naik daun.
Bersambung....