
Masih di rumah mami.
Karena Netta tidak ada di rumah, aku tidak pulang ke rumah kami, aku memilih mengungsi sama si milon ke rumah mami, tanpa si borneng rumah kami terasa hampa dan kosong, Milon juga sering sekali murung kalau tidak Netta.
n
Milon
Mami berpikir aku bertengkar sama Netta sampai -sampai, aku sama si milon minggat dari rumah. Sungguh pemikiran mami yang kuno, kalau aku bertengkar dan minggat masa harus bawa si milon minggat juga, mungkin, mami merasa seperti mereka dulu, jika bertengkar dengan papi akan kabur dari rumah, kini ia juga berpikir aku seperti mereka dulu. Netta tidak seperti itu, ia punya sikap elegan dalam memberi pelajaran untuk pasangan.
Di kamar, aku hanya menatap foto Netta di wallpaper layar ponselku.
"Rindu kalipun aku," gumamku pelan dan tertidur
\*
Mendengar aku ada di rumah, Juna dan Arnita disuruh databg sama mami, mereka semua berpikir, aku dan Netta bertengkar karena kami pergi ke rumah mantan
Saat makan malam tiba, aku di panggil turun untuk makan malam, masih diam, mendadak seperti anak lelaki yang manja yang ditinggal ibunya pergi.
Aku melihat Juna menyeggol tanga Arnita untuk bicara.
“Bang, aku minta maaf ya …. harusnya aku gak marah-marag sama kalian tadi malam, biar eda gak ikut marah,” ujar Arnita merasa bersalah.
“Ya Lae, tidak seharusnya aku meminta lae, untuk menemaniku,” ujar Juna juga.
“Bukan karena itu, kita makan dulu,” ujarku menyendok lauk ke dalam piring,walau tidak makan satu harian tidak lantas membuatku lapar.
Aku masih diam tidak bersemangat karena dari tadi siang aku menelepon nomor Netta terus menerus sampai batrainya habis, lalu ketiduran.
Saat makan tidak berselera tiba-tiba papi berkata;
“Jangan khawatir, tadi Netta lagi ikuti seminar makanya tidak mengangkat teleponmu,” ujar papi.
Aku terdiam, menatap papi dengan penasaran, semua mata terarah padaku.
“Kok papi tahu? Kapan papi telepon dia? Sekarang dimana?” Aku mencerca papi dengan banyak pertanyaan.
“Satu-satu Bang, sabar,” ujar Netta tertawa.
Mereka semua sudah tahu, kalau aku cinta mati sama Netta, maka setiap ada masalah yang menyangkut Netta pasti ikut membantu. Di satu sisi keluarga tidak ingin aku gila kembali seperti dulu-dulu.
“Netta tadi telepon papi, teleponmu katanya tidak aktif”
“Hapeku mati habis daya, Pi”
“Ya, makanya Netta telepon kamu, dia bilang tadi rombongan mereka dari Jakarta, sudah terlambat, masuk dalam acara buru-buru hapenya tingal dimobil, munggin saat ini mereka sudah di Bali,” ujar papi.
Seketika raut wajahku berubah cerah, lauk dan sayur yang tadinya tidak enak, sekarang tiba-tiba terasa enak saat mendengar alasan Netta tidak menjawab panggilanku ketahuan aku langsung mendadak lapar.
“Jadi kamu dari tadi kayak ayam sakit karena Netta tugas ke Bandung?” Tanya mami.
“Aha ... sai nippu do manang na naboho naking, sai maoto sehera manuk na peokon ho”
[Adu … aku pikir terjadi sesuatu, soalnya dari tadi diam terus kayak ayam sakit) ujar mami.
Aku diam saja dan fokus menyendok nasi ke mulut, mata mereka semua tertuju padaku, sikap diamku berarti ya.
“Hu pikkir do manang marbada hamu”
(Eee … aku pikir kalian berantaam) ujar mami lagi merepet dia.
“Alai ni suruh mama Deon ro tuson, dang na pengantin baru hamu dang pola sosongon nibe”
(Padahal sudah di suruh mama Deon datang ke sini, bukan pengantin baru lagi kalian, gak usah kayak begitu lagi ) ujar mami.
“Mami ini. Repot kalipun, harusnya mami senang orang ito ini , akur,” ujar Kak Eva team pembelaku kakakku
“Ya, mami senang, tapi Bapak yang satu ini ... terlalu manja kali sama istrinya. Heppot,” balas mami lagi.
Aku memilih makam dengan diam menahan tawa melihat mami merepet.
“Tapi Bang, saat aku menemani bapa uda kontrol ke rumah sakit, katanya teman Eda ada yang kecelakaan dan barusan kata bapa uda telepon aku sudah meninggal, makanya saat kami ke situ semua membicarakan Eda Netta, katanya dokter itu sabahatnya”
“Situmorang lagi, padahal uda mau nikahloh bulan dua belas ini,” ujar Kak Eva.
Jantungku semakin berdetak dengan cepat.
“Eee … kasihan sekali. Kakak lihat orangnya? ” tanya Arnita.
“Tidak, tetapi bapa uda Brayen kenal, saat uda di rumah sakit, dia sering menjenguk bapa uda. Bahkan sampai mengenalkan calon katanya sama bapa uda”
“Memang bapa udamu kenal?” tanya papi.
“Dia dokter di sana juga katanya, makanya bapa uda sama inang uda nangis mendengar dokter marga simorang itu kecelakaan”
“Amang tahe ngeri nai … naing magoli muse, bohama nuaeng rohani omak nai ake”
“Ya ampun sedih bangat … padahal mau nikah lagi, bagaimana perasaan mamanya itu ya.” ujar mami ikut sedih.
“Dia dokter di situ Kak?”
“Ya dan calon istrinya dokter di situ, kalau tidak salah dia ikut penerima beasiswa ke Jerman”
“APA?”
Mendengar ikut ke Jerman aku yakin kalau itu Nando.
“Apa abang kenal?”
“Apa namanya Nando?” Tanyaku kaget.
“Iya kalau gak salah”
“Astaga Netta ….!”
“AHA?” Aku berdiri kaget, mereka semua ikut panik.
“Aku tahu Netta akan kaget dan shock mendengar ini, dia bukan hanya sahabat Netta menyebut sahabatnya itu seperti malaikat. Apa kalian tidak mengenalnya?"
Mereka semua menggeleng, aku membuka layar ponselku dan menunjukkan foto Nando saat kami pergi bersama dengan calon istrinya.
“Oh … ini! Waktu Kakak lahiran dia juga datang kan sama kakaknya?” Tanya Arnita.
“Ya … Eda bilang, dia dan kakaknya banyak membantunya dan berjasa dalam hidupnya, bahkan kakaknya dokter itu yang mengarahkan eda Netta ke sana,” ujar kak Eva.
“Bah ido, eka mah dah melayat molo songonido”
(Oh, begitu ayolah melayat kalau begitu)Ujar mami
“Aku akan terbang ke Bali Pi,” ujarku panik.
“Loh … untuk apa, tunggu di sini saja,” ujar mereka.
“Aku tahu Netta akan shock jangan-jangan dia sampai pingsan nanti, dia membutuhkan aku menemaninya"
Karena aku tahu betapa dalamnya persahabatan mereka berdua, Dulu memang aku selalu cemburu padanya karena perhatiannya pada Netta , aku pikir setelah Netta menikah ia tidak perduli lagi pada Netta, tetapi seiring berjalannya waktu, ketika cinta tak harus memiliki Nando, menjadikan Netta sahabat yang tidak terpisahkan di mana ada Netta di situ ada Nando.
Aku meninggalkan meja makan, aku tidak menyentu makananku lagi, perasaan Netta jauh lebih
“Tapi tidak harus ke sana Mang, dia juga pasti akan pulang kan?”
“Operasinya malam katanya tadi Pi”
Aku menelepon Netta tetapi sayang tidak diangkat aku semakin panik,a ku mendunga hal-hal yang mengerikan.
‘Apa Netta tahu Aldo meninggal lalu dia … dia menangis, lalu shock dan pingsan. Apa dia masih marah padaku?’
Pikiran itu terus saja menghantui pikiranku, aku seperti orang gila mondar madir berjalan sambil mencoba menelepon kembali. Karea tidak bisa aku berniat berangkat ke Bali .
.
..
Bersambung
Bantu like dan Vote iya kakak agar masuk rank Pariban Jadi Rokkap. Terimakasih banyak Kakak.