Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Dapat pasu-pasu dari tulang


Setelah pulang dari pesta pernikahan Candra, semua keluarga kami masih berada di rumah, untuk pertama kali rumah kami di datangi keluarga  sebanyak saat itu.


 Setelah selesai  membahas tentang tante Candra, semua baru sadar sudah malam, sementara borneng  sibuk di bagian dapur dengan  kedua Edanya.


Kak Eva dan Arnita akhirnya paham tentang adat, mereka belajar banyak dari Netta. Maka saat di rumahku sebagai hula-hula, mereka berdua lah yang  melayani.


“Duduklah kamu mama Paima  di sini, biarkan mereka yang membereskan itu,” ujar tante.


“Mereka tidak tahu selak beluk rumah ini Bou,” sahutnya dari dapur.


“Kita makan di restauran! Bapak Paima  yang akan traktir kita semua,” ujar tante Ros bergurau.


“Boleh Tante, ayo,” jawabku santai.


Ternyata borneng  punya pemikiran lain, jika  orang tua datang pertama kalinya datang ke rumahnya anak-anaknya  apalagi tulang, orang yang dihormati.  Kata Netta  harus di jamu makan dengan hormat.


“Janganlah Bou! Ini pertama kalinya bapa uda sama  bou ke sini, masa makan  di luar, aku masaklah, sudah aku pesan ayam kampung empat ekor. Lagian, ada yang ingin abang bicarakan nanti,” ujar Netta.


“Hope attong  mama Ester, holan na mangan direstoran ido di pikiriho!”


(Kaupun mama Ester, hanya  makan di restorannya kau pikirkan) celetuk mami.


Di sambut tawa dari kami semua.


Bagaimana tidak tertawa, dari  mulai pesta mami tidak banyak bicara, giliran tante Ros  bercanda saja, mami langsung bereaksi


“Aku hanya bercanda Kak,” ujar tante Ros.


“Ah … belajarlah ito mama Ester dari si Netta, kalau datang hula-hula ke  rumahmu, harus dijamu makan, masa aku datang ke rumahmu malah di suruh traktir makan di restauran,” ujar tulang kami yang dari Bandung.


“Kan, ito anggota dewan, banyak duit,” balas tante.


“Ah … biarpun, padahal awak pengen makan masakan mu nya  datang ke rumahmu, malah dipalak awak, untuk traktir makan di restauran.”


Kami semua tertawa mendengar cerita tulang.


Semua keluarga sangat senang sama tante Ros, ia orangnya baik dan homoris,  berbeda bangat sama tante Candra dan mami.


Aku menghampiri Netta ke dapur,  sebagai tuan rumah ia sangat sibuk mengatur  untuk makan malam untuk semua keluarga, tidak tanggung-tanggung ia sampai memesan empat  ekor ayam kampung  ke penjual langganannya.


“Apa Dek, memang aku mau  mengatakan apa?”


“Katanya kita mau  minta pasu-pasu sama tulang.”


“Lah … bukannya, kita mau ke kampung.”


“Bang, sekalian saja, sama semua tulangmu, mumpung   kita berkumpul di sini sama bapa uda dari Bandung,” ujar Netta.


“Memang bisa Dek, bukannya kita datang ke rumahnya?”


“Ga papa Bang,” ujar Netta dengan yakin.


Di rumah kami saat itu ada empat tulangku, yang kandung ada dua  tulang dari oppung kakak beradik  ada dua dari Bandung.


Harusnya kami yang datang ke rumah tulang untuk minta pasu-pasu, tapi karena posisinya  tempat mereka  jauh-jauh dan aku sama Netta juga kerja. Jadilah di rumah kami  minta dengan sopan.


                  *


Setelah selesai makan malam.


“Jadi apala ahama haroa nai sidohonnonmu bere?”


(Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan bere?)tanya tulang kami dari Bandung.


“Jadi begini Tulang … Sebenarnya kami yang harus datang ke rumah tulang untuk minta pasu-pasu,  tapi kami ….” Aku melirik Netta yang duduk di sampingku.


“Marpangidoan dohot unduk di roha,” bisik Netta.


(Meminta dengan hormat)


“Ya, kami dengan kerendahan hati meminta tulang untuk memberi kami makan,  biarlah di tempat kami ini sekalian,” ujar ku.


“Bah. Nauli boi bere,” ujar tulang dari Bandung.


(Oh … bisa bere )


Aku sangat senang, tadinya aku sudah sempat jantungan, karena bicara sama tulang itu harus hormat, aku berpikir permintaan kami kurang sopan.


Jadi malam itu  semua keluarga menginap di rumah kami, kecuali Ka Eva  karena ia punya bayi,  malam itu …  rumah kami pertama kalinya ramai seperti itu, kembali seperti saat di kampung  tidur  bersama di rumah utama.


Karena tidak muat para wanita pindah ke kamar sebagian, tetapi sepanjang malam itu tidak ada yang tidur,  mereka cerita mengenang masalah kecil tertawa, ceria  itu yang terjadi.


Jarang-jarang keluarga kami bisa berkumpul, karena jarak dan waktu jadi jarang kami bisa berkumpul , hanya waktu ada acara saja. Apalagi setelah meninggal oppung, serasa semakin menjauh semuanya.


Benar kata orang-orang,  saat orang tua masih hidup anak-anaknya  bisa berkumpul, jika sudah meninggal semuanya akan berpencar, maka itulah  selalu diadakan arisan dalam orang Batak, tujuannya sebenarnya untuk bisa berkumpul sama sanak saudara minimal sekali dalam sebulan.


Saat kami sedang  terbawa suasana gembira, suara bel pintu terdengar.


“Siapa bertamu jam segini?” Tanya papi.


“Mungkin itu Rudi Amang boru, tadi dia nanyain bapa uda.”


“Iya hapeku lowbat  Nang … bukalah pintunya,” ujar tulang Gres.


Saat pintu di buka.


Lae Rudi, Gres anak tulang yang paling besar dan kedua   adiknya du borong ke rumah kami.


“Bah … ro hamu sude!” seru tulang kaget.


(Wah … kalian datang semua)


“Si Vian gak bisa tidur nangis mulu, hape bapa uda juga gak aktif aku borong  mereka semua,” ujar lae Rudi.


Ternyata lae Rudi juga membawa  tuak dan bier jadilah malam  itu semakin ceria.


“Bah … Pak polisi bawa Bier.  Bekas rajia ini Rudi?” tanya tante Ros bercanda.


“Gaklah bou  … minumlah dulu  kamput itu, biar enak badan bou,” ujar Rudi.


Laeku yang satu ini sangat perhatian sama semua keluarga.


Mendengar ada kamput, bier jaman dulu, para ibu -ibu  berebut karena  minuman  itu berkhasiat meringankan tubuh, bisa  bikin tidur nyenyak juga.


Suana tenang, damai, jika tidak ada tante Candra, coba ia ada sudah pasti bertengkar,  selalu  mengungkit  masalah yang sudah lewat.


 *


Saat pagi tiba.


Nantulang kami yang  memasak sendiri  ikan masnya, Netta tidak diperbolehkan membantu, mereka bilang hanya meminjam dapur


Akhirnya kami  di sulangi atau disuapi tulang, apa yang kami inginkan akhirnya tercapai, ulos dipakaikan ke kami dan kami mendapat pasu-pasu dari tulang, tinggal  ziarah ke almarhum tulang yang di kampung.


Semoga rencana kami berjalan lancar semuanya.


Bersambung....


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak ke Facebook dll.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat