Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mabuk


Netta masih  mengobati luka di kening Candra, sementara lelaki berkulit putih itu masih terus saja mengoceh,  omongan orang saat mabuk, ia bercerita panjang lebar walau kurang jelas, ia mengungkap kan semua ke kami uneg uneg nya,bagaimana tante candra sampai memaksanya harus menikah,bagaimana sikap Tivani ke ia sebelum menikah dan setelah menikah, ia seperti orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya bahkan berpikir yang terbaik untuknya, padahal ia berpendidikan tinggi. Biasanya adalah kebenaran itulah yang terjadi.


Kami semua belum tahu apa alasan Candra sampai harus lari tepat di hari  di mana ia seharusnya menyempurnakan pernikahan mereka. Candra  meninggalkan  istrinya sebelum malam pengantin.


Karena itulah keluarga Tivani sangat marah, karena Tivani memilih pulang ke rumah orangtuanya, membuat masalah semakin melebar. Apalagi mereka dari keluarga terpandang.


“Kau kenapa kabur dari rumah sih!” ujar ku marah.


Jiwa Batak ku langsung keluar, tiba-tiba mata Netta langsung mengeluarkan laser, ia menatapku dengan tajam,  melihat tatapan tajam Netta , aku langsung  melempem.


“Maksudku … kenapa  kamu lari dari rumah?”


“Wanita itu, menghinaku”


“Siapa maksudmu? Istrimu?” Tanyaku terkejut.


“Memangnya dia bilang apa Bang”


“Ta … dia bilang aku lelaki lemah dan pengecut”


Dari pengakuan Candra malam itu, Tivani meminta   tidur di hotel setelah acara di rumah selesai, ia beralasan tidak bisa tidur kalau banyak orang. Jadi meminta Candra membawa istrinya ke hotel di Bogor, tiba di dalam kabar hotel Tivani marah-marah ia mengatakan menyesal menikah dengannya, ia  bilang tante sampai memohon-mohon padanya agar menikah, karena sudah terlanjur memamerkan semua keluarga dan teman.


“Jadi kamu memukulnya?”


“Tidak Bang, justru dia melempar wajahku dengan kotak tissu” Ia menunjuk tulang pipinya yang membiru.


“Astaga! Kalian belum satu hari menikah sudah KDRT,” ujar ku.


“Memang Abang Candra bilang apa?”


“Aku tidak bilang apa-apa Ta, aku mendiamkannya. Ia bertambah ngamuk, dia wanita yang  galak Ta, aku tidak suka padanya,” ujarnya dengan suara tidak jelas.


“Abang mabuk, tidurlah kita akan membawamu pulang”


“Jangan. Jangan bawa aku pulang”


“Kalau kamu di sini akan sakit Bang”


“Uaak …”


Melihat dia ingin muntah dengan cepat aku menyeretnya dari jok belakang membawanya keluar, ia muntah, melihat ia seperti perutku bergejolak, aku  menjauh.


Netta dengan sabar menepuk-nepuk pundak Candra.


“Abang …  ada pakaian bersih gal?”


“Ada di tas belakang!”


“Ambilkan Lah, kita harus membawanya ke rumah”


“Rumah siapa?”


“Rumah mami mertua, kalau kita tidak mengganti pakaiannya, bisa-bisa  mami mertua mengamuk.” Netta  ingin mengganti pakaiannya.


“Biar aku saja, seret dia kearah sini. Astaga dia menjijikkan!” Aku menutup hidung


“Kalau abang jijik, biar aku saja, sudah biasa”


“Biasa kalau di rumah sakit Borneng. Ini … ah sudahlah,” dengan perasaan jijik aku mengganti pakaian Candra.


Setelah berganti pakaian barulah aku gotong lagi ke dalam mobil, kalau kami tidak datang menjemputnya entah apa yang akan terjadi padanya, wajahnya banyak luka bogem, kata penjaga bar ia rusuh saat mabuk.


“Ayo bawa ke rumah mami, kalau ke rumah kita nanti bou salah paham pada kita”


“IYa kamu benar Dek”


Sudah satu malam saat kami keluar dari bar, walau rumah kami lebih dekat dari lokasi bar, tetapi aku tidak mau nanti tante salah paham pada kami berdua.


Candra duduk di belakang. Aku dan Netta duduk di depan, aku terpaksa mengikat tangannya karena tidak mau diam.


Ia  terus saja bergerak seperti orang yang habis memakan barang gila tersebut, aku menatap Netta dan ia juga menatapku.


“Apa abang memikirkan apa yang aku pikirkan?” Tanya Netta dengan wajah prihatin.


“Dia sudah  melakukannya, makanya, lihat hidungnya,” ujar ku.


Apa yang di lakukan Candra sama persis seperti yang aku lakukan dengan menyakiti diri sendiri, dengan ia melalukan itu ia berpikir akan memberi mamanya pelajaran. Ia tidak tahu kalau ia sudah sekali mencobanya akan sulit melepaskan dirinya.


“Sepertinya dia baru mencobanya Ta”


“Apa dia dipaksa Bang, makanya dia luka-luka?”


“Aku tidak tahu Ta, setahuku ada dua kemungkinan dia suruh mencoba gratis, orang akan memakainya akan mencarinya dan akan ketergantungan”


“Aku lihat pupil matanya dia belum lama memakainya, dia muntah tadi bisa jadi tubuhnya bereaksi” ujar Netta.


“Dia muntah tadi ada bagusnya?” Tanyaku pada ibu dokter tersebut.


“Biasanya barang seperti itu mudah larut bang”


Melihat tubuh Candra yang mulai meringkuk dan menggigil, aku takut ia over, mungkin di bar tadi ia dicekocokin bersama alkohol tercium dari aroma muntahannya.


Untung sudah pagi, jalanan sudah lengang kadi  perjalanan menuju rumah mami, lebih cepat, setelah ber kendara tiga puluh menit akhirnya tiba juga di rumah mami.


Sebelumnya aku sudah mengabari kak  Eva agar membuka pagar, diam-diam agar mami dan yang lainnya  tidak   terbangun.


Saat kami tiba, aku  menelepon kak Eva, wanita bertubuh gembrot itu terlihat cemberut, ia mungkin kesal karena aku mengganggu tidurnya, tubuh kakak Eva memang gebuk belakangan ini karena ia memberi asi pada putrinya.


Seketika raut wajahnya panik , saat aku keluar dari mobil menggendong tubuh  Candra yang gemeteran.


“Apa yang terjadi, Eda?”


“Nanti aku jelaskan Da, tolong pinjamkan aku peralatan mu”


Kak Eva berlari ke kamar atas membawa kotak peralatan dan aku menggendong  Candra ke kamar bekas Arnita.


“Ini Da”


Netta melakukan keahliannya sebagai dokter, sementara kak Eva bertindak sebagai perawat, kedua wanita  bekerja sama, Netta memberi sebuah suntikan sementara kak Eva  berlari membawa wadah, ia sudah tahu obat apa yang di berikan Netta untuk meyelamatkan Candra.


Baru lima menit, Candra muntah , auto langsung bergelidig melihatnya tidak ikut-ikutan cuci perut aku memilih keluar.


Saat mereka berdua lagi mengurus Candra, suara memanggil di depan.


Aku membukanya, ternyata tante Candra.


‘Astaga harusnya  aku tidak mengabarinya tadi’ ucapku dalam hati.


Saat kami masih di bar tadi aku sudah mengabari si Lasria memberitahukan kalau kami membawa Candra ke rumah  mami, maksudku mengabari agar mereka merasa tenang, bukan malah datang  saat itu juga. Kalau sudah seperti ini akan ada keributan yang terjadi, sia-sia kami tadi bersikap pelan-pelan


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


akak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)