
“Bodoh kamu! ia tidak bisa punya anak, apa yang kamu harapkan.”
“Bou…!
bang Jonathan masih bisa disembuhkan.”
kata Netta dengan yakin,
Aku sangat beruntung dalam keadaan seperti ini, Netta berani membela kami, ia berani mengutarakan kalau itu salah, ia juga berani mengatakan kalau itu benar. Itulah Netta Ku.
“Jadi maksudmu kamu tidak akan berpisah dengan Jonathan?”
tanya Tante.
Sepertinya benar, Tante sangat menginginkan Netta untuk anaknya Candra.
“Aku tidak pernah berpikir sedikitpun, ingin berpisah dengan Jonathan Bou, hanya inang mertuaku yang memaksanya, aku dan bang Jonathan ingin tetap bersama.”
“Jonathan punya wanita lain di luar sana, ia punya gundik.”
Kata Tante dengan marah, terlihat sangat emosi dan kesal pada Netta, karena Netta selalu saja membela kami.
“Bou semua orang pernah melakukan kesalahan, wanita itu kekasih bang Jonathan sebelum kami menikah, tapi aku percaya, kalau abang Jonathan tidak punya hubungan lagi dengan wanita itu, hanya wanita yang tidak mau melepaskan bang Jonathan, karena banga Nathan sudah membawaku menemuinya langsung, dan bang Jonathan bicara jujur denganku, aku percaya padanya, karena wanita itu tidak berhasil menghasut rumah tangga kami, karena itulah ia menghasut bou, memberikan banyak uang, dan menyogok dengan barang-barang mahal, dan memberikan perhiasan, bou langsung tergoda.”
“Tapi Jonathan tidak bisa punya anak, apa kamu masih bertahan juga, apa yang kamu harapkan, hartanya lagi?,”
tanya Tante.
“Jonathan masih bisa sembuh bou, jangan khawatir,”
kata Netta.
Tante langsung mendumal kesal, melihat Netta yang terus saja membelaku, membela keluarga kami yang di rendahkan, padahal tante Candra sudah menggosip ke sana –kesini menghasut semua keluarga agar kami didukung berpisah.
Tante sifatnya tidak jauh dari sifat Mami, tukang gosip dan suka menambah-nambahin cerita.
Tulangku juga terlihat diam dengan keputusan Netta, ia tidak ingin berpisah denganku, walau Mami sudah berbuat jahat dan kejam dengannya, ia ingin memberikan Mami kesempatan untuk berpikir, selama ia di Jerman nanti, Netta ingin, Mami memikirkan apakah Mami masih ingin kami berpisah atau tidak.
“Baiklah bulan berapa kamu pergi. Nang?”
Tulang Bandung bertanya lagi.
“Saya akan berangkat, dua hari lagi Bapa uda.”
“Apa??”
terdengar suara serentak dari semua keluarga.
“Maksudnya dua hari ini, apa dua bulan ini?,”
lagi-lagi menatap dengan tatapan melongo, termasuk aku, saat Netta mengungkapkan akan pergi, karena marah aku tidak bertanya kapan ia tepatnya akan berangkat.
“Dua hari lagi bapa Uda”
kata Netta,
“Bah, hatop mai, nungga siap haroa sude?”
(Wah, cepat bangat memang sudah beres semuanya?)
Suara-suara orang dalam rumah seperti suara lebah, saling bicara mengutarakan pendapat masing-masing
“Biarkanlah ia pergi, kalau bisa jangan kembali ke rumah ini”
“Ia wanita yang kuat, tegar, sabar,”
Para ibu-ibu arisan yang datang ke rumah saling bicara satu dengan lain, memuji Netta menyumpahi Mami.
“Siiitt, kita jangan berisik kita dengarkan bagaimana keputusan Netta”
Tulang menghentikan suara-suara yang seperti lebah.
“Jadi surat-suratnya sudah lengkap?” Tulang dari Bandung bertanya lagi.
“Iya bapa uda, paspor semuanya, dari pihak kampus sudah yang mengurusnya, jadi kami tinggal berangkat.”
“Oh, jadi dua hari ? mau berapa orang kalian yang berangkat dari Jakarta?”
“Hanya 5 orang udah.”
“Tidak perlu pendampingan orang tua?”
“Tidak perlu, salah satu Dosen yang akan mengantar kami nanti.”
Jawab Netta.
“Ok baiklah, jadi kamu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Jonathan, tapi kamu bilang tidak ingin berpisah, itu artinya kamu masih kembali bersama Jonathan, Begitu?”
“Iya, keinginanku, aku masih berharap bang Jonathan menungguku,”
kata Netta melihat ke arah ku.
Aku marah, Netta tidak memberitahukan kalau Netta akan pergi dua hari lagi, bagiku semua terlalu cepat bagai mimpi.
Akhirnya tiba juga giliran ku, karena dari tadi aku seakan terlupakan hanya Netta jadi topik utama, padahal aku juga aktor utamanya di sini.
“Bagaimana Bere, bagaimana pendapatmu?”
“Kalau Netta ingin pergi, biarkan sajalah tulang, kalau Mami ingin kami berpisah aku terima,”
kataku menatap Mami.
“Bah, Kamu jadi ikutan seperti itu, padahal Netta sudah bilang ia akan kembali,”
kata Tulang bekasi.
“Netta menyuruhku melakukan hukum taurat kelima Tulang’ harus hormat dan patuh pada orang tua, jadi aku melakukannya,
Mami ingin aku berpisah dengan Netta aku akan melakukannya, karena aku anak yang patuh dan hormat pada orang tua.
Aku ingin lihat, habis ini mami mau melakukan apa untuk hidupku, mungkin ia juga merencanakan sesuatu untukku, jadi aku akan terima apapun.”
Kataku putus asa.
“Jonathan kamu harus memutuskan apa yang baik untuk hidupmu.”
Tante yang dari Bandung menatapku.
“Semua ini terjadi karena Mami tante, jadi aku akan mengikuti apapun yang dikatakan mami padaku, kalau Mami ingin aku hancur, ia ingin aku gila, jadi biarkan saja.
Netta tidak usah kemabli nanti ke rumah ini, kalau kamu sudah jadi Dokter, kasihan kamu, aku juga tidak akan menunggumu. tiga tahun itu sangat lama untukku, jadi tidak usah berharap untuk kembali padaku.
Pergilah! aku tidak perduli lagi.”
Semua keluarga saling menatap.
“ Itu… lihat Ta! apa kamu masih bertahan dengan anak tidak sopan itu?”
ucap tanteku.
Ingin rasanya aku berdiri dan melempar tante dengan piring, tapi Netta tahu ia manarik tanganku.
“Jangan terpancing emosi.”
Bisik Netta pelan.
Papi sudah terlihat sangat pucat, Mami menunduk malu di hadapan keluarga, tumben Mami bisa merasa malu seperti itu, biasa ia tidak perduli.
Tapi kali ini tatapan matanya begitu kosong.
Aku menolak Netta untuk kembali datang ke rumah kami, aku menyuruhnya untu tidak kembali, aku juga bilang tidak menunggunya.
“Jadi itu keputusanmu, Jonathan?” Tulang bertanya untuk terakhir kalinya,
“Iya tulang, biarkan Netta meneruskan cita-citanya, aku tidak melarangnya dan tidak akan menunggunya.”
“Bah, nungga gila be bayon…” (wah udah kali ini orang) suara tulang bogor terdengar kesal.
Papi menatapku dengan dalam, kak Eva juga, hanya kedua orang ini yang tahu bagaimana aku sangat sayang sama Netta.
Aku mendukungnya dan menyetujuinya pergi, bukan aku tidak merasa sedih atau tidak merasa kehilangan.
Tapi itulah caraku mencintai Netta.
Semua diam, aku tahu mereka semua memakiku dengan kata-kata kasar, karena sikapku yang tidak peduli pada Netta.
Tidak apa-apa bagiku, hatiku sangat sedih, tapi aku tidak menunjukkan pada mereka semua.
Aku akan mengatasi perasaanku sendiri.
Sudah sangat larut malam, arisan akhirnya bubar, Netta tidak ikut lagi ke rumah tulang ke Bogor, tapi ia ke rumah di Depok.
Untung sebelumnya aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah, jadi Netta pulang ke rumah, tidak menemukan sisa-sisa kejadian hari naas itu, aku yakin saat ia melihat barang-barang yang hancur dan sisa-sisa potongan rambutnya, aku yakin ia akan sedih dan mengingat kejadian yang memilukan, di mana ia dipukuli oleh dua wanita gila.
Netta pulang ke rumah, aku memilih tinggal di rumah Mami, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Hidup seperti biasanya. Mami tidak mau keluar dari kamarnya, Mami tidak mau bertemu denganku.
Suasana saat ini, sudah berubah seperti kuburan, sunyi dan hening.
Arnita sejak kejadian itu, tidak tahu di ungsikan kemana, sedangkan kak Eva pulang kerumahnya
di meja makan, hanya aku dan Papi yang makan dengan diam.
Aku tahu papi mencuri pandang melihatku.
“Tan kamu tidak apa-apa Nak?”
“Tidak apa-apa Pi, tenang saja, aku tidak mati gara-gara itu,”
kata sok tegar.
Walau rasanya rongga dadaku terasa sesak mengingat Netta akan meninggalkanku dan pergi dua hari lagi.
Bersambung....