Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Di Tahan Di Bar


“Lu kami tahanan, panggil saudara lu, buat bayar ini tagihan,”


ucapnya tegas.


Ini memalukan, kalau keluarga sampai tahu aku di sini, tapi aku tidak mau juga ditahan.


“Pinjamkan aku ponselmu, aku menelepon keluarga.”


Dengan berat hati aku menelepon kak Eva untuk menolongku.


“Halo Jonathan kamu dimana sih?”


“Kak…a-a-“


“Ada apa Tan?”


suaranya terdengar sangat cemas di ujung telepon.


“Kakak lagi dimana?” Aku bertanya.


“Di rumah Mami Tan,


iya ampun kamu dari mana saja, kami sampai lapor polisi, karena kamu menghilang selama berhari-hari,


kamu baik-baik saja kan, tidak terjadi apa-apa’kan Tan?”


“Kak dengarkan aku dulu, bawa uang tiga pulu juta, tolong bebaskan aku dari sini, aku ditahan di Bar karena tidak bisa bayar tagihannya.”


“Haa di tahan di Bar??”


“Suara kak Eva meninggi dan kaget.”


“Kakak tidak usah heboh, ini alamatnya, cepat aku sakit.”


“Baiklah Tan.”


Menunggu sekitar satu jam, akhirnya kak Eva datang juga , ia tidak sendirian, ada Papi dan lae juga suami kak Eva.


Aku malu sebenarnya melihat abang iparku, karena orangnya baik dan sangat pengertian.


Tidak banyak bicara, orangnya tidak neko-neko, aku menghormatinya.


“Tan, iya Tuhan apa yang terjadi, kenapa badanmu seperti ini?”


tanya kakak Eva kaget, ia kaget melihatku yang tampak berbeda, aku berubah jadi gembel baru, ia menghampiriku.


Aku duduk di salah satu kursi dengan kedua kaki diangkat, karena semua badanku terasa sangat gatal,


baik bagian kakiku juga, terpaksa kaki diangkat juga keatas kursi agar bisa di garuk-garuk.


“Itu bereskan dulu tagihannya, tidak usah hiraukan aku,” kataku, tapi tangan tidak berhenti menggaruk.


Papi tidak mengatakan apa-apa, ia hanya diam melihatku, tapi tatapannya melihatku dengan kasihan.


Tagihannya sudah di lunasi, baru aku di perbolehkan keluar dari Bar.


“Tan mobil kamu dimana?”


Kak Eva bertanya, saat kami tiba di parkiran.


“Hilang.”


“Haa??”


Aku melihatnya memegang dadanya, antara emosi yang tertahan dan rasa kecewa terlihat sangat jelas di wajahnya, ia masih berdiri bengong menatapku, dengan kasar ia menyingkirkan air matanya.


“Sudah, biarkan, nanti saja di rumah,” kata suaminya.


“Aku duduk di jok paling belakang saja, Papi saja yang didepan sama Lae,”


kataku membuka pintu belakang dan tidur di jok belakang.


“Kenapa tidak duduk sama kakak saja Tan?”


“Aku empat hari tidak mandi, nanti kakak pingsan.”


Ia menggerutu kesal, aku tidak suka melihatnya kalau ia masih mengoceh nanti sepanjang jalan pulang, aku akan turun di jalan.


lagi-lagi Laeku memenangkan kak Eva, ia mulai panas melihatku.


Papi hanya diam, sibuk dengan pikirannya, ia tidak mengatakan apapun, tapi aku tahu ia sangat kecewa dan sangat sedih, hanya saja ia tidak mengatakannya, tapi aku bisa tahu itu.


Dalam mobil perjalanan pulang, tidak ada suara manusia yang terdengar dalam mobil, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya suara mesin mobil yang menderu halus, sepanjang perjalanan saat kami pulang.


Aku tahu, semua orang pasti kecewa padaku karena kelakuanku yang tiba-tiba sangat berubah.


Baru dua minggu kemarin aku terkena masalah besar di daerah Bandung,


hampir kehilangan nyawa karena ulahku sendiri, tidak melihat bensin motorku yang hampir habis hingga akhirnya motornya mati persis di sarang penyamun.


Hampir kehilangan nyawa dan kehilangan ponsel, dompet dan identitas ku.


Selepas itu, kini aku kehilangan mobilku, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena rasa gatal yang menyiksa ini, aku tidak melihat cctv dan bertanya lebih rinci, siapa pelakunya tadi aku langsung buru-buru pulang.


Aku takutnya Bonar semua dalang semua ini, otaknya sudah rusak, ia nekat melakukan apapun tanpa ada rasa bersalah,


begitu juga denganku, entah apa yang ia berikan padaku hingga aku bisa di sana selama empat hari.


Aku yakin ia membuatku nge-fly terus-terusan, bangun tidur di cekokin lagi.


Aku takutnya, ia memberiku obat penahan lapar atau semacam penahan vitamin yang membuat merasa kenyang selama seharian, atau campuran minumnya ada tambahan lain yang ia racik untuk mendapat rasa dan sensasi baru.


Karena aku alergi parah pada obat-obatan tertentu dan vitamin tertentu, ada beberapa jenis obat tida cocok dengan tubuhku, misalkan obat pusing yang di jual di warung tidak cocok denganku.


Tapi kali ini, aku tidak tahu apa yang di berikan si Bonar gila padaku, gatalnya tidak nahan, bahkan sekarang benjolannya sudah ada airnya, seperti cacar air.


Tidak tahan lagi, ingin rasanya aku ingin menggaruknya sampai terluka.


Hampir satu jam lebih menempuh perjalanan dari Bar ke rumah Mami, akhirnya tiba.


Rasa lapar telah menyiksaku


Aku tidak tahu berapa hari aku tidak makan, cacing dalam perutku sepertinya sudah mati lemas, karena tidak di kasih makan


Mobil berhenti, aku langsung turun melengos masuk, tidak perduli kanan –kiri


tidak ada kata-kata menyapa, menuju dapur, Bi atun lagi masak ikan Mas di Arsik, masakan khas Batak kesukaanku


Wanginya saja sudah membuatku makin lapar


“Aku makan Bi lapar,” kataku duduk di meja makan.


“Oh iya bang.” dengan sigap wanita itu menyiapkan satu piring besar, dua potong ikan Mas arsik warna yang kuning, membuatku semakin ingin makan dengan lahap.


Aku tidak menyadari kak Eva, Mami , papi dan lae, menatapku dengan heran, mereka semua berdiri tidak jauh dari tempat aku makan, mereka tidak sabar lagi ingin mendengar ceritaku selama menghilang empat hari,


pada akhirnya di tahan di salah satu Bar, kerena tidak sanggup membayar tagihan minumannya


Mereka pasti bertanya, uangnya tidak mungkin hanya untuk sekedar membeli minuman.


“Bang tangannya belum di cuci,”


kata Bi atun mengingatkanku, raut wajahnya juga terlihat heran, kalau biasanya aku orang sangat bersih dan rapih, tapi kali ini, jangan tanya, aku seperti gembel yang tidur di jalanan, rambutku sudah mulai memanjang, begitu juga jambang, yang mulai tumbuh di wajahku.


“Oh iya Bibi benar,”


kataku melihat tanganku kotor, berdiri sebentar dan mencuci tangan, padahal aku sudah melahapnya setengah piring, baru wanita itu mengingatkanku


Itu artinya, setengah kuman dari tanganku masuk ke lambung ku


Aku melihat kak Eva menghela nafas panjang, tidak ada yang berani bersuara saat aku makan, melihatku makan dengan lahap, tidak diduga Papi ikut-ikutan duduk di depan ku.


“Bi aku juga makan, melihat Nathan makan lahap, jadi ingin makan juga, melihat cara ia makan, aku yakin masakan Bibi sangat enak,”


ucap Papi bergurau.


Padahal aku tahu makna dari ucapan Papi, tapi Bi Atin menganggap sebagai pujian dari majikan, ia tersenyum tersipu-sipu saat Papi memuji masakannya.


“Bibi aku nambah lagi,” kataku seperti orang tidak makan satu bulan, Papi terdiam melihatku.


Perut harus di isi banyak, melihat tatapan kak Eva yang melihatku seperti mangsa yang siap ditelan, aku harus makan banyak, agar siap menjawab pertanyaan mereka.


Bersambung....