Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kamar Presiden suite


 DI Hotel.


Saatnya kami menjalankan rencana, jika pikir-pikir lucu juga jika kami ikut mengurus masalah Ranjang Candra.


Saat aku ingin membangunkan Netta dan Tivani yang masih tidur dalam mobil, lagi -lagi uda polisi itu meneleponku.


“Tunggu sebentar uda menelepon.” Aku menjauh dari mobil.


“Ya Uda”


“Sudah di mana kalian Jo?”


“Di halaman hotel uda”


“Bagus, urus dulu mereka, bila perlu ajarin dulu si Candra itu bagaimana caranya menjinakkan istrinya, kamu kan sudah berpengalaman Jo”


‘Waduh … bapa uda ini makin dalam pembahasannya, jangan-jangan dia bertanya juga nanti, berapa ronde si Candra ’ aku membatin.


“Dia sudah mengerti pasti, uda”


“Dia tidak mengerti Jo,  si Candra itu lembek, bila perlu ajarin semuanya,” ujarnya tegas.


“Waduh” Aku merasa tidak enak, karena Candra bukan anak kecil. Aku tahu, apa yang di rasakan Candra. Ia tidak mau menyentuh istrinya saat itu, bukan karena ia takut, tetapi ini lebih ke hati dan kenyamanan. Jika kita melakukan dengan wanita yang kita suka semuanya akan begitu  menyenangkan. Tetapi kalau kita diminta melakukan dengan wanita yang tidak kita sukai, rasanya akan hambar, apa lagi modelnya kayak Tivani galak dan judes.


“Kenapa Jo?”


“Baik uda akan aku bantu”


“Gini jo …. wanita itu, jika dia sudah menyerahkan tubuhnya pada lelaki, dia akan jinak. Percaya sama uda. Jika malam itu mereka berhasil melakukan kewajibannya lihat saja  mulutnya tidak akan gampang lagi mengatakan pisah, ganti rugi biaya pernikahan, dia akan  mempertimbangkan semua perkataanya”


“Baik Uda,” jawabku tanpa protes lagi.


“Baiklah, habis ini kalian makan malam, pokoknya Uda, sudah reservasi satu meja untuk makan malam kalian, di restauran di samping hotel”


‘Oh … apa yang direncanakan uda ini?’ aku jadi ikut penasaran.


“Ok siap uda”


“Baik Jo”


Ia mematikan teleponnya, Candra mendekat.


“Bapa uda bilang apa Bang?”


“Dia meminta kamu menyempurnakan pernikahanmu"


“Kenapa masalah ranjang ku juga jadi urusan orang"


Wajah Candra terlihat sangat kesal saat bapa udanya atau adik bapaknya memaksanya haru melakukan malam itu, aku bisa mengerti  kemarahan Candra,  melakukan hubungan hubungan sumi istri itu rahasia kedua pasangannya, seharusnya tidak ada perlu ikut campur keluarga. Tetapi di sisi lain kemarahan uda itu ada benar juga.


Tivani menganggap rendah Candra, kalau rayuan manis kata-kata gombal tidak akan berhasil merayunya, karena itulah bapa udah sampai ikut turun tangan.


“Dia hanya membantumu Can, bapa uda itu tidak ingin keluarga kita di rendahkan, aku yakin,  jika kamu bisa empat ronde Tivani tidak akan menganggap mu sepele lagi”


“Memangnya diukur  dari situ?” Candra menahan tawa.


Aku merasa lega, saat ia tidak marah.


“Ya, coba saja, tidak salah, kan, dia hak kamu. Apa  perlu malam ini kita berdua makan sate kambing?” Tanyaku bercanda.


Candra tertawa mendengar candaanku.


Saat kami berdua  sedang bercanda, Tivani dan Netta juga bangun.


“Kok ke sini?” Tanya Netta bingung.


“Ya, kenapa kita tidak cari hotel yang lebih mewah?” Tanya Tivani. Pertanyaannya lari dari jalur.


“Maksudku kenapa kita tidak pulang ke rumah, keluarga kita pasti menunggu,” ujar Netta.


“Macet bangat Dek, kalau dipaksakan kita bisa nyampe rumah subuh,” ujar ku mengedipkan mata pada Netta.


Kode yang aku berikan ternyata dimengerti Netta, ia tidak bertanya lagi.


“Lalu kita mau ngapain ke sini?’ Tanya Tivani.


“Mau istirahatlah masa mau  konser? Atau barang kali, kamu berenang di laut ancol . Sana!” ujar Candra menjawab istrinya.


“Sewot! Aku nanya doang,”balas  Vani pada suaminya, aku dan Netta hanya  menahan tawa melihat perdebatan pasangan pengantin baru itu.


Kalau biasanya pengantin baru akan mesra dan manja-manjaan, kalau Candra dan istrinya saling perang kata.


‘Hadeeh … bagaimana mau  berhasil kalau  mereka saling menyerang’ aku membatin.


“Ya sudah kalau mau di sini. Angkat koperku dari mobil,’ pungkasnya  berjalan duluan masuk  ke lobby hotel.


“Sudah angkat saja,” bisik pelan.


“Lihat kelakuannya, dia pikir aku pembantu apa”


“Kamu bagaimana .... Kalau kamu  menginginkan sesuatu, kamu harus  menunjukkan sikap baik , agar dia melunak. Kalau kamu galak-galak yang ada … kamu disuruh  tidur di sofa, "ujar ku.


Candra diam, dengan  terpaksa ia mengangkat koper besar milik istrinya, saat kami ingin check-in . Seorang petugas hotel menghampiriku


“Bapak Jonathan?”


“Ya, Mari pak saya antar ke kamar bapak”


Aku melirik Jonathan dan memberinya tanda, agar Tivani tidak curiga kalau kami merencanakan sesuatu malam itu.


"Silahkan Pak ini kuncinya"


"Baik Mbak terimakasih"


Kami dibawa ke lantai lima, aku membuka pintu.


Tidak tangung-tangung  uda itu memesan  kamar tipe Presidential suite.


Kamar Presidential suite jenis kamar hotel terbaik dan paling mahal, bahkan tidak semua hotel memiliki tipe kamar seperti itu.


'Pak polisi totalitas banget membantu Candra'


Bapa uda sudah tahu gaya mahal hidup Tivani maka, untuk kali ini, ia juga memberikan yang terbaik.


Fasilitas yang ditawarkan Kamar itu,  tentunya yang terbaik, mulai dari interior, pemandangan dari kamar, sangat cocok untuk pengantin baru yang akan bulan madu seperti aku … eh … seperti Candra dan Tivani.


“Ini kamar  untuk kalian,” ujar ku mengedipkan mata pada adik sepupuku yang satu itu. Kalau biasanya aku mak Jomblang saat kuliah,  kalau saat itu, aku  dapat lencana baru yakni pawang malam pertama.


“Wah  … keren! Tivani menyingkapkan gorden dan disambut pemandangan pantai Ancol, Kilauan lampu menghiasi  pantai tersebut. Saat dilihat  dari jendela samping, menatap jauh, tampak lampu-lampu seperti bintang dari arah di Tanjung Priuk.


Kami bertiga hanya berdiri diam, melihatnya berdecak kagum melihat pemandangan yang indah tersebut, si Borneng sepertinya masih ngantuk, ia berdiri di samping dan satu tangannya melingkar di lenganku, mulutnya beberapa kali menguap.


“Hei Borneng. Kamu jangan tidur dulu, kita masih ada acara,” ujar ku, Candra ikut tersenyum.


“Acara apa?” Tanya Netta belum peka.


“Kita mau makan dulu Ta,” ujar Candra. Ia selalu memanggil nama Netta, jika  kami di luar, tetapi kalau mengumpul ia akan panggil Kak. Bagiku apapun panggilan Candra tidak ada masalah.


Tivani berbalik badan lagi dan mendekati kami bertiga.


“Ya, sudah ini kamarku kalian keluar,” ujarnya dengan angkuh.


“Ini kamar kalian berdua dan kamar kami berdua di sebelah,” ucapku menjelaskan.


“Eeeiii! Kamu tidak ada niat mau satu kamar denganku kan?” Ia memulai memancing Candra marah.


“Maaf ibu Tivani dengan berat hati aku katakan …. Kita satu kamar,” ujar Candra ia masuk dan duduk si sofa.


“Eee dengar Ya ….”


“Benar. Karena kamar tidak ada lagi yang kosong, kamu tahu kan, sekarang malam minggu, kamar hotel pasti penuh”


“Cari hotel yang lainlah!”


“Kamu mau hotel yang standar yang biasa? Ini hotel terbaik yang kami pilih,” balas Candra mulai melakukan perannya.


“Ya, baiklah. Kita makan aku lapar,” ujarnya kemudian.


Aku membuka pesan dari uda tadi, setelah meletakkan barang-barangnya kami turun untuk makan malam. Badan rasanya sudah tidak nyaman karena tidak mandi. Namun, demi membantu Candra aku menahan diri.


Karena Tivani wanita yang keras kepala, sombong, judes maka butuh proses untuk menjinakkannya, kami makan malam dulu biar kuat tenaga untuk nanti malam.


Bersambung..


Jangan lupa like, Vote dan share ya Kakak karyaku


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cured King(TERBARU


ntang kecil untuk Faila (tamat)


-Aresya(TERBAR