
Masih tentang pengobatan gratis yang diselenggarakan keluarga kami, awalnya tulang ragu dengan rencana pengobatan yang dilakukan Netta, karena ia tahu bagaimana karakter orang-orang di kampung mereka.
Tetapi Netta bukan orang yang gampang menyerah, apa lagi untuk untuk acara sosial.
Saat Netta mengungkapkan keinginannya ingin melakukan pengobatan malam itu, tulang Gres sempat melarangnya dengan mengatakan seperti ini;
“Nungga be Inang, loja ho annon, akka jolma si jugul di huta on”
“Sudahlah itu Nak, capek kau nanti, orang -orang yang susah diaturnya di kampung ini,” ujar tulang Gres.
“Bapa Uda, ini satu nazarku saat aku masih sekolah ke dokteran, dan ini juga impian sahabat terbaikku, Aldo Situmorang dokter muda yang aku ceritakan saat kecelakaan di Jakarta,” ujar Netta hari itu.
“Tapi … Boru, mereka tidak tahu niat baik orang, lihatnya saja mulut mereka yang menghina adik-adikmu selama ini,” ujar tulang Kembar.
“Perbuatan Baik yang kita lakukan , tidak perlu kita harapkan dari manusia itu sendiri Bapa Uda tetapi dari Tuhan, jika kita berbuat baik sama orang yang menzalimi kita, aku yakin berkat yang akan kita terima dari Tuhan berlipat ganda,” ujar Netta.
“Baiklah Inang, kalau itu yang kamu mau, tetapi percayalah tidak akan datang mereka nanti,” ujar tulang malam itu.
Makannya aku juga, sedikit menyusun kursi hari itu, tetapi siapa menduga, orang yang akan datang sangat banyak, bahkan kami harus meminta penahan tenaga medis juga hari itu.
Bahkan malam itu, suara tangisan bayi masih terdengar di rumah ibu mertuaku, ibu hamil yang di tandu sore itu, ia sudah mengendong anak pertamanya di pangkuannya.
Sebenarnya kami meminta mereka untuk menginap malam itu di rumah kami, mungkin karena melihat keluarga kami yang begitu banyak, inang itu merasa tidak enak hati, ia meminta pulang.
Aku dan Lae Rudi mengantar pulang ke kampung atas rumahnya jauh dari rumah sakit.
“Bagaimana mereka untuk berobat dan kontrol ke rumah sakit kalau rumah mereka jauh dan jalanan rusak begini?” tanyaku sama Lae Rudi setelah kami pulang mengantar mereka.
“Ya, begitulah kehidupan di kampung lae, maka itu sering sekali wanita hamil di kampung itu melahirkan seadanya, bahkan dulu saat aku masih kecil, banyak yang melahirkan di rumah di bantu si baso atau dukun beranak,” ujar lae Rudi.
Mendengar cerita seperti itu, jujur aku miris mendengarnya, sekarang aku semakin paham kenapa dulu Netta dan Aldo ingin mengumpulkan dana gotong royong untuk membangun jalan dan klinik di kampung mereka.
“Sedih juga mendengarnya”
“Lae tau gak, ito Netta juga lahirnya di dekat mata air di ladang oppung itu, kalau mama dulu cerita sedih dengar cerita saat melahirkan dia, lahiran sendiri, dipotong sendiri tali pusarnya dan dibawa pulang sendiri sama mama,” Ujar Rudi.
Mataku melotot mendengar cerita Lae Rudi, tidak terbayang bagaimana hebatnya ibu mertuaku dan Netta bisa bertahan, dalam situasi seperti itu.
“Itu serius … maksudku inang lahiran sendiri?”
“Ya, setelah setengah jalan, baru bapak datang menjemput mama karena khawatir, mama pulang lama”
“Wow … itu perjuangan yang luar biasa.” Aku sampai mengusap bulu kuduk di tanganku membayangkan proses ke lahiran si borneng
‘Pantas saja dia kuat dan baik hati, orang dia lahir mata air’ ucapku dalam hati, aku baru tahu, karena Netta tidak pernah cerita tentang bagaimana cerita kelahirannya.
“Baiklah lae, aku mengerti keinginan besar Netta, aku coba untuk bicara sama tulang bandung agar ia bisa membawa nanti untuk rapat dewan dan meminta kepala daerah Samosir untuk memperbaiki jalan”
**
Besok paginya, kami masih memasang tenda pengobatan, sengaja aku dan Candra lebih pagi untuk menyusun kursi untuk tempat duduk orang akan periksa. Saat kami sedang beres-beres Netta dan Tivani juga sudah bangun.
“Semangat bangat ya ibu-ibu dokter ini,” ujar Candra.
“Melihat ibu ini semangat, aku juga jadi ikut semangat,” balas Tivani.
“Apa yang kamu kasih sama Tivani, dia bisa berubah begitu?” bisikku saat kami berdua duduk istirahat.
“Tidak ada Bang, mungkin karena aku tampan”
“Idih … makan tuh tampan,” timpal si gendut kak Eva ia ikut duduk di samping kami.
“Benar Kak”
“Dengar ya, hanya satu yang benar bisa bisa mengubah karakter seorang wanita, cinta yang tulus dan pengertian. Lihat Tivani dia sangat cantik putih, tinggi, sebelas dua belas sama eda Netta, apa kalian pikir mereka hanya melihat ketampanan kalian?” tanya Kak Eva.
“ Ya Mungkin”
“Tidak, aku yakin Tivani menerima cinta yang tulus darimu To, dia percaya padamu”
Candra akhirnya tersenyum. “Dia sebenarnya anak yang baik, mungkin, selama ini dia terlalu dimanjakan sama papinya karena dia anak satu-satunya”
Saat lagi duduk mengobrol Tivani datang.
“Kamu senyum-senyum, ayo lagi ngomongin apa cewek cantik ya …?”
Ia menggelitik Candra dan bercanda, selama di kampung Tivani selalu bermesraan di sama suaminya, walau di depan papi dan di depanku sebagai haha doli atau abang ipar yang harus di hormati. Tetapi kami semua paham dan tidak langsung menegurnya dengan terang-terangan, karena Tivani belum terlalu mengerti kata ‘ Subang’ atau (Pantang) . Karena dalam Adat Batak ada juga istilah ‘mar Bao’ itu tidak boleh bicara berdua. Misalkan Lae Arkan suami kakak Eva dan Netta itu dalam adat Batak di kampung Netta tidak boleh bicara, dulu, kalau hanya mereka berdua dalam satu ruangan, makannya sering sekali Netta merasa sungkan sama Lae Arkan karena mereka Mar Bao.
Tetapi Si Borneng, boru Batak Asli, sudah pasti tahu kata subang atau pantang, makannya ia selalu bersikap sopan, saat bersama keluarga besar kami, apa lagi di depan itonya atau di depan lae Saut dan di depan tulangnya saudara laki-laki dari inang mertua, ia tidak mau bercanda atau tertawa ngakak. Tapi kalau saat kami berdua barulah ia selalu bercanda padaku, itulah bedanya boru Batak dan Boru Si Leban.
Saat kami duduk beristirahat di atas rumput di tengah lapangan kecil itu, Netta masih sibuk merapikan meja-meja dan memisahkan obat-obatan, beberapa menit kemudian orang-orang yang kemarin belum diperiksa sudah duduk di kursi memegang nomor antrian masing-masing, pengobatan gratis akhirnya berlanjut lagi. Tetapi hari ini tidak secapek yang kemarin lagi, karena beberapa petugas kesehatan dari dinas kesehatan setempat akhirnya datang membantu.
Netta mengusulkan agar dinas kesehatan agar sekali sebulan untuk melakukan kunjungan kesehatan ke kampung pelosok. Anjuran Netta di terima dengan baik satu misi mereka akhirnya berhasil.
Malam itu, kami juga mengusulkan gagasan kami sama tulang, meminta agar menelepon pemerintahan daerah, ia melakukannya ia menelepon dan mengirimkan foto-foto jalanan yang rusak yang aku foto dan aku rekam, kami Eva sebagai ahli sosmed ia juga punya usulan agar memposting jalanan rusak di media sosial masing-masing mencoba menggunakan kekuatan media sosial dan meminta semua teman-temannya untuk bantu share tidak sampai satu hari ada tanggapan, mereka berjanji akan meninjau kembali jalanan yang rusak menuju kampung Netta sampai ke kampung atas.
Impian Netta dan Aldo akhirnya mulai terwujud, Netta terharu saat dapat kabar kalau mereka akan mengajukan dana perbaikan jalan ke pemerintah pusat, aku ikut senang saat impian si Borneng dan sahabatnya berhasil.
Bersambung …