Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Arti sebuah mimpi


Satu minggu di rawat di rumah sakit, Mami kembali pulang, kami tidak ada yang membahas tentang kejadian hari itu, cukup kami bertiga yang tahu kalau merasa putus asa.


Tapi saat dirawat di rumah sakit, Mami kerap menangis katanya, Mami bermimpi melihat oppung doli, atau Bapaknya Mami dan bapaknya Netta, dalam mimpinya kata Mami kedua lelaki itu tidak mau mendekati dan selalu menjauhinya, walau ia sudah menangis ingin mendekat, tapi mereka meninggalkannya sendiri.


Menurut kata orang tua jaman dulu, terkadang mimpi itu gambaran kejadian yang akan datang, walau tidak semua terjadi, tapi katanya bermimpi dengan orang yang sudah tiada punya arti tersendiri, terkadang mimpi kebalikan dari kejadian yang  akan kita alami.


Walau Mami menganggap mimpi itu sebagai teguran, atau bentuk kemarahan oppung doli, Namun bagiku, mimpi hanyalah bunga-bunga tidur.


Aku berharap Mami masih panjang umur dan bisa melihat kami punya anak .


“Aku ingin pulang sekalian ziarah ke kuburan abang bapak Netta dan ke kuburan bapak juga, temenin aku pulang, Tan,” kata Mami, memohon padaku, mendengar kata pulang, apalagi ke kampung Netta, membuatku tidak bersemangat.


“Aku tidak bisa pulang Mi, aku banyak kerjaan di kantor,” ucapku mencari alasan, kembali ke kampung itu akan mengingatkanku sama Netta nantinya, aku tidak mau tersiksa sendirian, ke rumah kami saja yang di Depok aku hanya pulang sekali sebulan, hanya memastikan  tamannya di rawat dengan baik, ada orang yang aku gaji untuk merawat tanaman Netta, aku tidak mau kembang-kembang kesukaan Netta mati tidak terawat,  saat ia pergi aku meminta orang untuk menjaganya dan merawat tamanan miliknya.


Apa lagi disuruh ke kampung halaman Netta, tentu saja aku tidak mau.


”Kak Eva saja, aku tidak mau.” Aku menolak.


Tapi Lae, suami kak Eva menatapku ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


“Itomu tidak bisa lae,”ujar suami Kak Eva juga.


“Kenapa? Arkan? biar Nita sama bibi yang jaga,” kataku belum tahu apa yang terjadi .


“Masalahnya, itomu lagi hamil Lae,” ujar Laeku.


“Haa?? Wah aku tidak tahu, selamat kak Eva,” kami semua terkejut, karena kakak tidak pernah cerita.


Kak Eva terlihat malu-malu di depan kami, akhirnya keinginannya terwujud juga.


“Berapa bulan?” Tanya Mami


“Baru  beberapa minggu Mi.”


“Kakak jangan capek lagi, nanti perawat untuk Mami biar aku cari lagi,” ucapku aku tidak mau kakakku terlalu capek, kak Eva melihat suaminya.


“Itu, aku bilang Lae, tapi itomu susah kali dibilangin, laelah dulu yang menasehati itomu itu,” ujar Laeku, pantas saja  belakangan ini laeku sangat perhatian sama istrinya, ternyata mau ada anggota baru di keluarga kami.


“Jangan kak, kakak harus banyak istirahat, nanti kayak sebelumnya lagi,” kataku.


Kakak sudah dua kali keguguran karena kecapean, harusnya belajar dari situ, tapi ia selalu mementingkan keluarganya dari pada dirinya sendiri.


Menurutku itu salah, utamakan apa kata suami dan diskusikan.


“Terus bagaimana Tan, kamu tidak bisa temenin Papi?”


Kriiing …!


Kriiiing...!


Ponsel milik Mami berdering, Papi mengangkat telepon.


“Halo.”  Papi menyapa si penelepon, tiba-tiba raut wajahnya berubah panik lalu Papi  berkata ;


“Apa? kapan?” Papi menatap kami bergantian, terakhir ia menatap Mami, melihat sorot mata Papi aku merasa ada sesuatu yang terjadi.


“Ada apa Pi, kok Papi diam begitu?” tanya Ka Eva.


“Mami jangan panik iya, tetap tenang, ambilkan minum Bi tolong…,”ucap  Papi membuat kami semua diam.


“Inang sudah pergi,”ucap  Papi mencoba menenangkan Mami, tidak lama kemudian, akhirnya tangisan itu pecah, ia menangis dengan keras dan terus meminta maaf.


Ternyata benar mimpi Mami selama beberapa hari ini,  ia melihat oppung doliku dan tulangku bapak Netta dalam mimpinya, tetapi anehnya saat meminta mendekat mereka menjauh.


Ternyata mereka mereka berdua mau menjemput oppung boruku bukan Mami.


Mamanya Mami meninggal walau sudah tua tapi rasa penyesalan selalu ada, apa lagi Mami melakukan kesalahan besar, mencoba memisahkan kami dengan Netta dan ia belum sempat meminta maaf.


‘Bagaimana dengan Netta? Apa dia tahu oppung kami telah meninggal?’ dadaku selalu sesak setiap  memikirkannya.


Semua panik, telepon sana- sini, handphone semua penghuni rumah tidak berhenti berdering, Mami memaksa ingin pulang saat itu juga, dengan keadaan sakit seperti itu Mami harus di jaga seorang perawat, kak Eva lagi hamil, tidak mungkin membawanya ikut pulang, aku meminta bantuan Lina mencarikan perawat hari itu juga, biar besok bisa di bawa pulang, Papi dan aku tidak akan bisa mengurus Mami dengan keadaan seperti itu, untungnya ada kerabat Lina yang mau jadi perawat Mami.


Setelah mengurus semua perlengkapan,  besok harinya  kami pulang.


Sepanjang perjalanan Mami hanya menangis ia selalu bilang kalau Mami menyesal.


Rasa penyesalan datang saat orang yang kita sayangi sudah tiada, dan belum sempat berbaikan, itu satu hal yang menyakitkan, tetapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa  menghalangi  dan menunda kematian.


“Sudah dong Mi, jangan menangis lagi, yang ada nanti Mami ikut menyusul inang pergi,”


ucap Papi terlihat lelah melihat Mami yang sejak berangkat dari rumah tidak berhenti menangis.


Perawat baru yang merawat Mami terlihat kebingungan karena Mami terus saja menangis , hal itu juga membuat tensinya naik.


“Aku merasa bersalah Pi sama Inong(Inong: mama) banyak permintaanya yang belum aku lakukan,” ucap Mami.


“Sudah Mi, kalau ingin menangis, nanti sampai di rumah, kalau Mami menangis di sini yang ada tensi Mami naik,  Mami nanti pusing dan makin parah di sini, kita juga yang repot,” kataku ikut merasa pusing.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya tiba di Sibolangit, terakhir aku ke tempat itu saat aku membawa Netta ke Jakarta sehabis menikah, dadaku bergemuruh ada sesuatu yang berpacu di dalam sana, berdetak dan terasa nyeri, hanya satu kata yang bisa  aku katakan saat ini  … RINDU ….


Bayangan saat aku bersama Netta, beberapa tahun lalu terasa nyata, aku berdiri di mana saat aku berdiri dengan Netta dulu, membayangkan ia duduk membaca buku dengan tatapan acuh melihatku.


Aku sangat merindukannya, rasa rindu itu semakin menyiksa saat kapal menyebrangi Danau Toba.


Hari itu aku masih ingat, saat aku duduk di atas kapal bersamanya, aku belum begitu perduli pada Netta, aku belum  menyadari perasaan cinta padanya, saat itu aku hanya menganggap Netta tidak lebih sekedar sepupu, tetapi hari ini aku ingin gila karena merindukannya.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)