
Setelah makan malam selesai, melihat sikap dingin Candra pada istrinya aku berpikir tidak ingin ikut campur, karena itu urusan hati.
Karena tidak ada yang bisa memaksa perasaan, atau pada siapa kita akan jatuh cinta, cinta itu terkadang datang begitu saja tanpa kita sadari, dan cinta juga tidak mengenal tempat dan rupa, itu definisi cinta menurutku. Begitu juga dengan Candra walau Tivani, cantik bak artis Korea dan kaya, tetapi belum tentu Candra langsung jatuh cinta padanya segala sesuatu itu butuh proses.
Aku berpikir Candra dan Tivani, butuh waktu untuk saling mengenal pribadi masing-masing, aku tahu itu berat untuk Candra, tiba-tiba dipaksa harus menikah dengan wanita yang sama sekali belum ia kenal, lebih parahnya lagi mereka di pertemukan beberapa hari sebelum pernikahan, itupun hanya acara saat minta izin sama tulang Gres
Namun, tidak begitu sama borneng, saat aku ke dapur untuk mengambil gelas Wine mengekor dari belakang.
“Bang, kamu harus menasihati Bang Candra, jangan bersikap dingin seperti pada Tivani, ditinggal kayak seseorang nanti baru yahoo,” ujar Netta mengedipkan mata padaku. Aku tahu, kata-kata itu untukku
“Kau, menyindirku, Borneng”
“Ya, begitulah
“Aduh … malas mengurusi rumah tangga orang lain Dek”
“Dia bukan orang lain Bang, dia sepupu kita”
“Kasihan amang boru itu , makin sakit nanti,” bujuk Netta lagi.
“Baiklah, nanti akan aku bilangin”
Setelah makan malam selesai, aku mengajak mereka untuk minum anggur merah atau wine, biar suasananya maki romantis, untuk pengantin baru.
Aku memang senang menyimpan merek wine tertentu, jika ada acara atau tamu yang datang aku akan mengeluarkannya.
“Ayo kita mengobrol di luar biarkan Tivani sama Netta di rumah.” Aku mengajak Candra mengobrol
Candra setuju ia membawa gelas wine miliknya keluar.
“Aku tahu Bang Jonathan mau mengatakan sesuatu padaku, katakan saja”
“Netta meminta untuk menasihatimu, dia bilang jangan terlalu dingin pada Tivani, karena dia katanya berusaha lebih baik demi kamu, itu kata Netta,” ujar ku, duduk diluar di bangku taman.
Candra tertawa renyah.
“Dia bersikap baik, karena dia merasa bersalah, dia malu kalau aku sudah mengetahui siapa dirinya”
“Can, ayolah dia sudah istrimu sekarang”
“Aku tahu Bang, aku tidak akan mempermalukannya atau menceraikannya, hanya karena hal itu, mungkin bagi abang , sikap ku ini kekanak-kanakan, tetapi hati ini perih Bang, perih.” Candra sudah mulai lancar bicara karena ia mulai mabuk. Tetapi, apa kalian percaya apa yang diucapkan seseorang saat mabuk sering kali hal yang sebenarnya.
Itulah yang dilakukan Candra saat ini, tadi pagi aku bertanya padanya, tetapi ia tidak jujur, tetapi kali ini ia menceritakan semua kebenaran itu padaku.
“Memang ada apa? Sudahlah,” bujuk ku kali, aku tidak menyangka ia akan bisa mabuk padahal baru juga ia minum satu gelas.
“Dari tadi pagi aku berpikir, semakin aku pikirkan semakin aku merasa rendah, aku selalu menjadi anak yang baik dari dulu, tetapi apa ini yang aku dapat …?”
Akhirnya aku paham setelah ia menceritakan semuanya, wajar sebenarnya ia bersikap dingin seperti itu, ia bilang kalau ia belum pernah melakukanya dengan wanita manapun, bahkan selama ia pacaran pun ia selalu menjaga dirinya
Aku percaya itu, karena tante selalu mengawasi anak-anaknya dengan ketat, dan mereka semua penurut, ia mengaku miliknya masih tersegel rapi dan ia masih perjaka tulen saat menikah dengan Tivani.
‘Kasihan juga ni anak, dia masih perjaka tingting tetapi Tivani wanita yang bebas’ ucapku dalam hati.
Mendengar itu aku merasa prihatin padanya, pantas saja ia terlihat begitu kecewa, saat ia bisa menjaga diri dengan baik ternyata mamanya sendiri yang memberikan wanita yang tidak seperti yang ia harapkan.
“Dari tadi malam aku terus berpikir. Kenapa mamaku seperti itu? Kenapa tidak memberikan yang terbaik untuk anaknya,” ujarnya lagi, matanya sudah mulai memerah.
“Ayolah Bro, kita lupakan tentang hal itu, cobalah belajar menerimanya dengan lapang dada, coba lihat dari hatinya jangan dari fisik lagi”
“Ini bukan tentang fisik Bang, aku tidak butuh cantik, kaya, populer, aku hanya ingin, wanita yang bisa nyaman denganku, bisa teman berbagi duka dan suka, aku tidak perlu yang cantik dan kaya”
“Kamu bisa membimbingnya Can”
“Aku sempat berpikir bagaimana tiba-tiba datang orang lain ke dalam rumah tangga kami, yang mengaku lelaki di masa lalunya, aku harus melakuka apa?”
Aku terdiam, aku tidak tahu lagi mau kasih jawaban apa untuk lelaki baik ini, aku bukan lelaki yang baik seperti Candra yang bisa menjaga dirinya sampai pernikahan.
Aku justru kebalikannya, di usia remaja aku sudah menikmati surga dunia.
Aku sadar diri, aku memang sangat nakal di masa lalu, apa yang dikatakan Candra, bahkan aku dulu melakukannya, saat kuliah mantan kekasihku menikah. Karena kesal aku menemui suaminya dan aku mengaku kalau yang pertama mencicipi tubuh istrinya, dari situlah awal pertengkaran mereka dan berpisah.
Setelah Candra mengatakan itu, tiba-tiba saja aku mengingat hal itu,
Aku masih ingat ia mengatakan banyak sumpah serapah padaku karena ulahku, ia berpisah dengan suaminya.
‘”Ya, aku baru ingat wanita itu, aku harus minta maaf padanya,” gumam ku pelan.
“Abang bilang apa?”
“Can, aku pernah melakukan itu pada orang lain,” ujar ku, aku dan adik sepupu, akhirnya saling curhat.
“Laku apa mereka berpisah?” Tanya Candra penasaran.
“Ya”
“Itulah yang aku takutkan Bang, dia, kan, anak orang kaya Raya pebisnis, pasti banyak saingan bisnis orang tua Tivani. Saat aku dan dia membina rumah tangga, tidak terbayang bagiku, kalau ada laki-laki yang berkata seperti itu padaku”
“Bapak mertuamu tidak akan membiarkan hal seperti itu pada anak satu-satunya”
“Laki-laki itu sama gilanya sama mama"
“Bapak Mertua bilang biar enak di dengar,” ucapku memperingatkan Candra
“Nantilah, aku belum bisa memangilnya bapak mertua”
“Can, kamu sudah mulai mabuk, kita tidur saja”
Aku tidak tahu, kalau ia juga sama kayak Netta, baru minum sedikit saja sudah mabuk.
Aku menyadari satu hal , kalau rumah tangga Candra kebalikan dari rumah tanggaku, aku dan Netta akulah yang jadi brengseknya, tetapi di rumah tangga Candra, justru Candra yang bisa menjaga diri dengan baik.
“Bang, tunggu dulu, aku ingin mengungkapkan semua yang aku pendam dalam hatiku, aku ini anak yang baik, selalu menuruti kata orang tua, selalu berprestasi di sekolah. Lalu kenapa seperti ini …?” Ia mulai mengoceh panjang lebar mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya.
“Baiklah katakan semuanya, aku akan mendengarnya”
“Abang, dekat ke sini agar kamu bisa mendengar apa yang kan aku katakan, karena selama ini tidak ada keluarga yang mau mendengar ku,” ujarnya mengutarakan perasaan yang ia pendam.
Aku bertidak sebagai abang yang baik untuknya duduk diam di samping Candra mendengar curhatannya, jadi, intinya ia kecewa karena ia lelaki yang masih perjaka sampai pernikahannya.
Salut sama Candra, jaman sekarang mana ada lelaki yang seperti itu. Apalagi kalau sudah tinggal di kota Metropolitan. Namun, Candra berbeda ia anak yang baik, tetapi pasangannya malah sebaliknya.
Aku berharap Tivani bisa mengobati rasa kecewa di hati Candra
.
.
.
.
Bersambung
Bantu like dan vote iya kakak
Jangan lupa mampir ke
..
.
.
.
.
Menikah Dengan Abang Ipar
Bab 22
Setelah Alisa pulang, supir menelepon Farel yang saat itu berada di ruang penyelidikan.
“Hallo” Farel mengangkat teleponnya dengan semangat, Farel yakin kalau Alisa sudah pulang. Farel tidak tahu karena perbuatanya yang meninggalkan Alisa di jalanan, telah terjadi hal besar di rumahnya.
“Pak Farel, Bapak harus segera pulang, terjadi masalah besar di rumah Pak”
“Ada apa?”
“Ibu Dinar, melempar Baby Akmal ke lantai dan terluka, saat ini berada di
rumah sakit dan belum sadarkan diri”
“Apa?” Wajah Farel menegang.
“Lalu …”
“Ibu sudah pulang saat ini, ibu belum sadarkan diri juga”
“Baik Pak Bayu, saya datang”
Farel yang sudah mengetahui kalau Alisa sudang pulang, ia berdiri dan meninggalkan ruangan interogasi tanpa mengatakan apa-apa, ia menyambar jaket kulit di atas meja dan keluar.
Polisi wanita yang menginterogasinya hanya bisa diam dan melihat Farel meninggalkan ruangan.
Bahkan kata permisi tidak keluar dari mulut Farel, tetapi mereka semua hanya diam, mereka tahu kalau Alisa sudah pulang itu artinya para rekan kerjanya yang menuduhnya sudah melakukan kesalahan.
“Pak Farel, bapak mau kemana?” tanya seorang polisi saat Farel keluar buru-buru.
“Urusan kalian, nanti kita selesaikan,”
ucap Farel tegas, jari-jarinya menunjuk semua polisi yang menuduhnya. Lalu ia berlari ke parkiran mobil untuk pulang.
“Ah, gila kenapa istrinya, pulang segala sih, kenapa tidak menghilang saja selamanya, biar lelaki kurang ajar ini mendapat hukumannya,” bisik polisi yang tak lain adalah bawahan Farel yang tidak menerima kalau Farel yang jadi atasan mereka.
“Ah, tenang, masih ada cela yang lain untuk kita gunakan untuk menyeretnya turun dari kursinya,” balas seorang polisi yang berpenampilan seperti preman, Ia orang paling keras menolak Farel sebagai atasan mereka.
Menurutnya masih banyak orang yang masih waras yang bisa diangkat jadi pemimpin mereka.
Namanya Bimo seorang polisi yang bertugas jadi polisi intel yang banyak menangani kasus kriminal. Dia orang yang tidak suka dengan Farel dan selalu ingin menyingkirkan Farel dengan alasan tertentu.
Farel melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sebelum ia tiba ia menelepon Bayu untuk tidak membiarkan orang lain mengetahui tentang, kejadian yang menimpa keluarganya,
Farel tidak tahu kalau Dr. Faisal sudah melihat dan mendengar semuanya dan lelaki itu, tidak akan tidak tinggal diam, melihat baby Akmal terluka seperti itu membuat sangat sedih, sementara Alisa dalam ruang perawatan, ia juga belum sadarkan diri setelah tadi pingsan, setelah melihat Akmal terluka dan belum bangun.
Farel merasa hidupnya masih belum tenang.
Ia mengeluarkan heard blutut dari saku celananya memasang ke kuping lalu ia menelepon Bayu.
“Pak Bayu, belum ada yang tahu, kan, tentang yang terjadi?”
“Maaf Pak, seorang lelaki yang mengantar Ibu mengetahui semuanya,” ujar Bayu, ia bicara pelan dan berjalan ke arah luar, agar Faisal tidak mendengar pembicaraannya dengan Farel .
Tetapi Bayu tidak tahu, kalau Faisal sudah mengetahui kebenaranya, bahkan ia sendiri bertanya pada Siti asisten rumah tangga Farel, orang melihat kejadian.
“Siapa?”
“Kalau tidak salah namanya dr. Faisal Pak Farel”
“Apa? Kenapa lelaki keparat itu ada di sana?”
“Dia yang mengantar Ibu pulang Pak,” ujar Bayu takut.
Farel sadar ia dalam masalah, ia memutar balik kendaraanya ke arah pulang ke rumah, ia berpikir lebih baik mengamankan sang kakak sebelum ada yang melaporkan kejadian.
Farel tiba di rumah, tetapi rumahnya kosong, ia semakin yakin kalau sudah terjadi hal besar di rumah.
Lalu ia menekan nomor ibunya.
“Ibu di mana?”
“Farel kamu sudah pulang Nak syukurlah aku_”
Belum menyelesaikan kalimatnya Farel sudah membentaknya dengan pertanyaan
“Aku tanya ibu dimana …?” wanita tua itu sampai terkejut saat Farel membentaknya.
“Kami ada di rumah Nak”
“Ibu , kenapa jadi pembohong sih, aku di rumah, ibu tidak ada”
“Farel, itu … ibu sama Mbak mu -”
“Ibu cukup katakan kalian di mana?” Suara farel meninggi membuat wanita itu ketakutan.
“Kamu tolong jangan marahin Mbak mu itu semua kesa_"
“Ibu anak itu hampir mati, ibu masi membelanya juga, sebentar lagi polisi akan mencari dia”,
Mendengar Dinar dicari polisi, wanita sombong itu masih bersikap angkuh karena ia pikir Farel juga akan membelanya.
Setelah mendapatkan alamat ibu dan Mbaknya ia menuju sebuah hotel mewah di daerah Jakarta.
Saat baby malang yatim itu sedang berjuang hidup di rumah sakit, sang pelaku sedang menikmati hidup dengan santai di hotel mewah, tidak ada raut wajah takut tersirat di benaknya tidak ada kata penyesalan yang keluar di bibirnya.
'Sakit jiwa memang kamu mbak' Farel membatin.
Ia selalu berpikir apa yang ia lakukan itu tidak masalah. Karena setiap masalah yang dilakukan wanita gila itu selalu dapat diselesaikan. Ada Ibu yang selalu membelanya ada sang adik yang selalu membantunya setiap kali ia mendapat masalah. Lalu apakah kali ini kasusnya akan selalu sama?
“Enak hidup lu, saat anak itu berjuang mati hidup di rumah sakit kamu hidup santai di sini”ujar Farel marah.
“Farel tolong mbak mu tadi hanya terbawa emosi,” bela sang ibu seperti biasa.
“Ibu! Apa ibu tahu, anak itu belum sadarkan diri? Kenapa wanita kok kejam begini!” Farel menatap tegas pada kakak perempuannya.
“Kenapa kamu harus peduli, toh juga mereka bukan anakmu," balas dinar masih dengan raut wajah cuek bebek tanpa dosa.
“Dengar mbak Dinar, dia anak istriku, artinya anakku juga, walau aku kecewa, tidak sekalipun niatku menyakiti kedua anak itu. Aku tidak sekejam Mbak.
Dengar. Aku yakin dokter yang menanganinya akan melaporkanmu, jadi pergilah sementara waktu, sampai aku menyelesaikan kasus ini, berdoalah agar anak itu tetap hidup agar Mbak tidak masuk penjara,"ujar Farel ia muak juga melihat kelakuan sang kakak.
“Aku tidak mau pergi, aku hanya menyuruhnya diam, tidak ada niat untuk memukulnya”
“Tidak ada niat, tapi kamu melakukannya Mbak! Kamu membanting bayi usia empat bulan, di mana hatimu sebagai manusia” Farel berteriak marah.
Sedangkan ibu Farel terlihat ketakutan melihat Farel marah besar.
"Baiklah, kemana mbak mu akan pergi?” tanya Ibu akhirnya.
“Aku tidak mau Bu.” Dinar masih menolak pergi.
“Baik, sebentar lagi aku juga akan di pecat dari kepolisian karena aku hampir membunuh Alisa tadi, jika kamu tertangkap kamu akan diproses hukum dan aku pastikan aku tidak bisa membelamu.
Jika anak itu meninggal kamu akan membusuk di penjara selamanya, pikirkan itu, aku hanya ingin menyelamatkan Mba, ingin menyelamatkan keluarga ini,” ujar Farel.
Setelah dibujuk dan dijelaskan Farel tentang hukuman yanga akan ia terima Dinar, akhirnya ia bersedia melarikan diri keluarga negeri
Apakah baby Malang Akmal akan selamat, setelah di banting bibi jahanam tersebut?
Ikuti kisahnya hanya di Noveltoon Gratis tanpa koin
Bersambung ...
Bantu review dan sub donk kakak agar ceritaku masuk rang. Terimakasih
.