Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Memberi Perhatian untuk Bawahan


Aku sama Bayu masih duduk di ruangan ku, melihat lelaki kurus  itu sedih karena perasaan cinta di tolak sang pujaan hati.


Sebenarnya hal lumrah ia sedih, menurut Ronal tadi,  mereka  merencanakan kejutan itu sudah jauh-jauh hari.


“Pak Bayu …. begini. Kamu kan tahu saya bukan tipe bos yang suka ikut campur hal pribadi karyawan.”


“Ya Pak.”


“Maksud saya, jika misalkan kamu mengatakan perasaanmu di cafe atau di luar sana, saya tidak tahu, tidak akan ikut campur.”


“Maafkan saya Pak.”


“Tidak. Saya tidak marah, maksud saya, saya peduli sama kamu, saya ingin bantu, jika bisa dibantu.” ucapku lagi.


“Tidak usah Pak saya ditolak,” ucapnya sedih.


“Jangan patah hati …. Bro, ditolak hal biasa dalam percintaan. Memang  ada apa alasannya menolak mu? Jangan lihat saya sebagai Bos Mu, ceritakan sebagai sesama lelaki,” ujar ku membujuknya.


“Tadinya …  di mau Pak, setiap kali aku ajak pulang naik motor saya, dia mau, saya ajak makan dia mau.”


“Ternyata?”


“Sepertinya dia hanya memanfaatkan ku,” ujarnya sedih.


Sebagai sesama lelaki aku merasa kasihan, memang terkadang jaman sekarang banyak wanita yang hanya memanfaatkan atau aji mumpung. Tetapi dari sudut pandang yang lain, Nina cantik masih muda, pasti akan memilih yang tampan juga. Tetapi masalahnya. Jangan  memanfaatkan orang lain, kalau memang tidak suka jangan kasih harapan palsu.


“Pak Bayu, saat dulu sebelum perusahaan kita bangkrut, saya sudah pernah bilang, jangan pernah pacaran sama satu kantor.


Tujuannya  untuk menghindari hal yang seperti ini. Jika kalian bertengkar atau pun putus efeknya  pasti tidak nyaman satu sama lain, berimbas ke pekerjaan.”


“Maaf pak saya salah.”


“Pak Bayu, jika Nina menolak mu,  mungkin dia bukan yang terbaik untukmu. Saya yakin, Tuhan akan memberikan jodoh yang lebih  baik untukmu, karena kamu orang baik Pak Bayu. Dia memaafkan mu selama ini, gak apa-apa itu akan menambah pahalamu.”


“Dia  menghinaku dan mengejekku  tadi Pak, itu yang membuatku tidak terima,” ujar lelaki asal Semarang tersebut.


“Pak Bayu,  Jika ada yang menghinamu dan mengejek mu, padahal kamu tidak  berbuat hal yang salah.  Bukannya kamu yang bilang saat itu, kamu akan mendapat pahala yang berlipat?”


“Ya Pak, mengucapkan ternyata gampang, setelah terjadi padaku, rasanya sakit.” Matanya berkaca-kaca.


“Jalan terbaik … lupakan dia, jangan mau dimaafkan lagi,” ujar ku


Merasa kasihan.


Aku suka kesal sama wanita yang mau memanfaatkan lelaki dengan kecantikannya, menurutku itu sikap rendah. Itulah yang terjadi sama Bayu sama Nina. Selama ini aku pikir mereka ada hubungan, karena  ia selalu  diantar pulang kerja sama Bayu,  beberapa kali aku lihat dijemput ke kontrakannya. Karena Nina mengontrak di tempat mami.


Di jemput, diantar di bayarin makanannya, wajar kalau Bayu  berharap.


Hai’ Para wanita di luar sana, jika kalian punya tampang cantik sedikit saja, janganlah langsung bersikap sombong, pria itu, singkat dalam menyimpulkan perasaannya pada lawan jenis.


“Aku  malu Pak melihat semua orang kantor, karena dia menghinaku,” ujar Bayu.


“Jangan tunjukkan kelemahan mu padanya, buktikan pada Nina kalau dia tidak penting, buat wanita yang  menolak mu menyesal,” ucapku.


Kata-kata semangat yang aku berikan padanya sepertinya membuatnya bertambah semangat.


“Lalu apa yang akan aku lakukan Pak?” tanyaku padaku.


“Cuekin dia, anggap dia tidak penting. Bisa?”


“A- a …._”


“Jika kamu bisa melakukannya aku akan memberikanmu hadiah,” ucapku.


“Haaa? Hadiah apa Pak?”


“Rahasia, jika kamu berhasil melupakannya dalam satu bulan ini bulan depan saat gajian aku akan memberikannya.”


Ia tersenyum bersemangat. “Baik Pak.”


Netta juga sudah pernah mengingatkanku untuk memberinya hadiah sebagai apresiasi untuk pekerjaannya, aku  berharap perhatian  kecil yang aku berikan padanya  bisa membuatnya termotivasi.


Setelah Bayu keluar dari ruangan ku, tiba-tiba aku teringat istri tercinta.


‘Hari kasih sayang ….? Kapan aku merayakan dengan Netta?’ Otakku memikirkan.


“Oh  astaga! Tidak pernah.”


                                 *


Tiba di rumah sakit, masih ada waktu  beberapa jam lagi sebelum shift jaga Netta berakhir, memilih duduk  kopi shop di gedung rumah sakit, saat aku duduk dari kaca jendela cafe, aku melihat Netta berjalan di koridor rumah sakit dengan jubah dokternya.


Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat melihatnya berjalan, ia tampak  mengobrol sambil berjalan dengan rekan sesama dokter, rambut hitamnya terurai  tertiup angin  menutupi wajahnya yang manis, sesekali ia menyipilkan rambutnya ke belakang kuping.


Mataku  masih terfokus ke arah istriku sampai-sampai kopi tanpa aku sadari sudah tersaji di hadapanku.


“Selamat hari kasih sayang, hasianku,” gumam ku pelan.


Senyuman manis istriku membuat hati berdebar, kalau biasanya duduk sendirian di cafe hal yang paling aku benci. Namun, sejak ada Netta di hidupku jangankan satu jam menunggunya, berjam-jam pun aku sabar.


“Dokter di sini memang cantik Pak,” ujar ibu pemilik stand.


“Ya Bu,” jawabku mengalihkan pandangan dari Netta.


“Ibu bisa kenalkan sama dokternya kalau  Mas mau, mereka sering mampir ke sini,” ucapnya lagi.


“Ya Bu.”


Aku hanya  tersenyum sopan sama ibunya.


‘Istriku juga dokter  di sini Bu’ ucapku dalam hati.


Saat mengaduk kopi dalam gelas, tiba-tiba telapak tangan hangat menutup mataku dari belakang, dari wangi parfumnya nya saja aku bisa menebak kalau itu Netta.


Parfum flowerbomb  Aua, parfum bau harum   bunga  itu,  aku yang memberikannya, sebagai hadiah untuk kelulusannya, Jadi, aku tahu kalau itu Netta. Aku hanya diam sembari tersenyum saat ia menutup mataku.


“Kok abang gak  penasaran?”


“Aku sudah tahu, kalau itu kamu Borneng.”


“Oh … abang sudah tahu  ya,” ujar Netta tertawa, lalu menarik kursi di depanku.


“Oh … pacarnya  Mas nya, dokter di sini, toh, pantas saja,” ujar ibu tertawa.


“Bukan pacar Bu  … Ini bojoku.”


Ibunya semakin tertawa.” Lah … Masnya  ndak .. ngomong sih.”


“Ntar aku ngaku, ibu pikir aku pamer.”


“ Lah … gak papa, kan, istrinya benaran dokter di sini, pantesan mas menatap  dokternya terus dari tadi, sampai  di foto lagi, ternyata istrinya toh. Untung gak ibu laporin ke satpam depan, aku pikir Masnya mengambil foto orang lain sembarangan.


‘Lah … ketahuan dah’


Netta hanya tertawa saat ibunya bercerita kalau aku mengambil  gambarnya diam-diam, lucu juga rasanya, saat kita  ketahuan diam-diam mengambil foto istri sendiri.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)