
“Keluarkan aku bilang,
blegug sia…!”
Aku ogah menuruti gertakannya, sama saja cari kematian sendiri.
Paak....!
Hantaman melayang ke kepala ku bagian samping,
Satu hantaman keras yang membuatku langsung tumbang.
'Akhirnya tumbang di sini, tadi aku pikir kematian ku saat aku naik motor ugal-ugalan dari Jakarta tadi siang, ternyata di sini,'
kataku tertawa kecut, aku tergeletak di pinggir jalan, dengan luka di bagian kepala.
Mengambil semua yang aku miliki dompet, jam, ponsel, bahkan sepatu yang aku pakai.
Jalanan memang sangat sepi saat itu, kebetulan habis diguyur hujan juga dan sudah larut malam.
Karena saat malam sepi saat seperti inilah mereka keluar dari persembunyian.
Mataku masih terbuka saat seorang dari mereka ingin membuka pakaianku. Saat itulah aku samar-samar melihat sorot lampu mobil mengarah ke kami, aku mendengar suara dentuman di arahkan ke udara, dan suara-suara keras berlari menghampiri, hingga akhirnya aku tertidur panjang, sudah aku bisa tebak aku berakhir di mana nantinya.
Bandung.
08:15 .
Bau harum bunga kertas menari-nari di hidungku, bukan hanya itu, wangi bunga rose juga, aku mengendus kan hidungku, aku bisa hapal wangi-wangian bunga karena di rumah kami, Netta menanami banyak aneka bunga berwarna-warni.
Oh… Netta, nama itu memporak-porandakan hatiku.
Aku mencoba membuka mata, nuansa putih bagian langit-langit, wangi aneka bunga semakin jelas, dan menyegarkan hidung, aku mengerjapkan mataku beberapa kali.
Matikah’ aku?
Ini surga’ apa neraka?
Neraka panas di bakar, ini pasti surga.
Apa orang seperti aku masuk surga?
Hal tidak mungkin, kataku tertawa tipis, saat menduga-duga, antara neraka dan surga.
Aku belum menoleh ke samping, hanya menatap kearah atas, aneh aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi hari itu, kakiku kaku terasa sangat dingin.
“Bapak sudah bangun?”
tanya seorang gadis geulis dengan suara yang lembut,
berpakaian putih dan ada bandolan putih di pakai, di atas kepala.
Wah, di surga ada suster juga toh?
kata tersenyum lagi.
Bapak kenapa di tanya malah senyum Eeeuh..!”
Tiba-tiba seorag lelaki berkumis tebal berpakaian seragam polisi nongol di depan wajahku.
“Aiss busyet… tuan Takur India,”
dengan sikap menekan kepala kebelakang, kehadirannya dan papan nama yang tertulis di dada, dengan nama Marjono menyadarkan ku kalau aku bukan di antara neraka dan surga.
Aku baru menoleh kesamping jendela rumah sakit di buka, dan bau harum itu dari jendela, kuntum bunga mengintip dari balik jendela dan hawa dingin, bukan karena dari pendingin ruangan, tapi dari suasana kota Bandung yang dingin.
“Bapak di rumah sakit di Bandung,”
ucap pak polisi berkumis tebal itu.
“Bandung?”
“Iya, bapak tidak ingat?
Tadi malam bapak di cegat para berandalan di jembatan Senopati,
untung kami berpatroli sampai ke sana, beruntung bapak, padahal baru –baru ini ada juga seorang anggota tentara di habisi di daerah itu,”
kata pak kumis, maksudku pak Polisi.
“Mana ponselku?”
“Oh... Tidak beruntung pak, saat kami lepaskan tembakan dan kami mengejarnya, para berandalan itu hanya melemparkan jam, sepatu, tapi tidak untuk ponselmu dan dompet.
Bahkan salah seorang dari mereka nekat terjun ke sungai.”
“Boleh aku meminjam ponsel bapak?
“Boleh, boleh. Mangga…!”
Aku terdiam menatap ponselnya, bukan karena aku lupa nomornya, tapi karena aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit,
telepon kak Eva?
aku baru marah padanya kemarin. Menelepon Mami, untuk saat ini tidak akan kulakukan.
Hanya Papi satu-satunya, tapi untuk menelpon sendiri rasanya berat.
“Ayo sok…telepon saja?
masih banyak pulsanya.”
“Bapak boleh tidak, bapak yang meneleponnya?
bilang saja, saya di rumah sakit di ceritakan kejadiannya,
saya minta tolong, pak”
“Baiklah.”
Pak polisi berkumis memanggil perawat yang berwajah ayu tadi.
“Kamu yang meneleponnya, kamu sudah biasa kan mengabari keluarga orang –orang yang kecelakaan, kalau aku yang meneleponnya , nanti aku di kira tukang tipu, dikira modus.
Eh…tapi motor kamu ada di kantor, ambil saja dari sana.”
“Pak, saya minta tolong lagi , motornya pakai saja dulu pak, nanti saya ambil kalau saya sudah sampai di Jakarta, kalau tidak, saya titip di kantor polisi saja dulu pak, kalau bapak tidak mau pakai.”
“Wah motor Ninja gaya anak muda, tentu saja saya mau, terlihat keren kalau bapak pakai, tapi kamu harus tanda tangan surat kalau motornya kamu titipkan ke saya, ntar di kira atasan saya memakai barang bukti.”
“Baik pak, berikan saja suratnya, aku akan tanda tangan, yang penting keluarga saya tidak tahu,
sangat memalukan aku dapat masalah di jalanan karena kehabisan bensin, itu satu kedunguan yang memalukan,”
kataku menggaruk kepala.
“Iya juga sih, soalnya motor mewah seperti itu sudah tanda pengingat tanda bensin habis, ada juga tanda pemberitahuan, ia akan mati di titik mana.”
“Aku mengabaikannya, pak.”
“Lagi putus pacar, iya?”
Polisi berkumis itu menebak.
“Ditinggal pacar masih mending pak, ini ditinggal istri pada saat lagi sayang-sayangnya.”
“Haa?
Kasihan! Jadi curhat jadinya.”
Ia tertawa terkekeh sambil berdiri dan pergi, dikira aku bercanda.
“Sudah pak, saya sudah mengabari keluarganya, saya sudah menjelaskan semuanya nya,”
kata perawat.
Meninggalkan ku sendiri di dalam kamar rumah sakit.
Dalam satu kamar itu kebetulan aku sendiri penghuni, rasa sakit di kepala dan di kakiku tidak ada apa-apa, di banding rasa sakit dalam hatiku.
Netta lagi apa?
Rasa itu datang lagi, rasa sepi yang menyesak rongga dadaku.
Apa aku bisa baik baik saja tanpa dia nantinya?
Entahlah, biar waktu yang menjawab, aku hanya mencari banyak kegiatan untuk pelarian pikiranku.
Saat ini aku menunggu Papi datang membawaku kembali ke Jakarta.
Tadinya tidak ingin memberitahukan mereka kalau saja manusia berandalan itu tidak mengangkut ponselku dan dompet, aku bisa mengatasi masalah ini tanpa harus memberi tahu mereka. Karena di samping jarak dari Jakarta ke Bandung lumayan jauh, aku sedang tidak berhubungan baik dengan keluarga.
Kalau seharusnya keluarga lah tempat mengadu paling utama saat kita mengalami musibah, tapi untuk kali ini suasananya berbeda dari yang biasa, karena akibat dari keluarga lah aku mengalami masalah ini.
Kini aku menunggu Papi membawaku pergi.
Aku berharap hanya Papi yang datang, aku tidak ingin dilihat Mami dan dilihat kak Eva dalam keadaan seperti ini, aku paling tidak suka di kasihani, dan aku tidak mau di anggap lemah.
Bersambung....
Untuk kakak kakak pembaca,mohon bantu ya Like dan share,biar semangat menulisnya dan makin banyak pembacanya.
Terima kasih