
Tidak terasa usia kehamilan Netta sudah memasuki tujuh bulan, sesuai permintaan keluarga kami akan mengadakan acara mambosuri dalam adat Batak yang di kenal dengan cara tujuh bulanan atau baby shower
Seperti dalam adat Batak, acara mambosuri atau tujuh bulanan, biasanya dikerjakan dari pihak perempuan, maka kami mengundang inang mertua datang ke Jakarta, kedatangan kali ini spesial karena lae Saut dan istrinya ikut datang ke Jakarta.
Menurut Netta, Lae Saut atau bapak Tika baru pertama kali ke Jakarta.
“Jumat nanti, biar aku yang yang jemput inang ya Dek, kamu gak usah ikut”
“Ya.” Jawab Netta.
Ia sudah mulai kesusahan saat jalan dan sering mengeluh sakit pinggang, tetapi Netta masih kerja walau kerjanya hanya duduk di bagian catat mencacat, ia tidak mau manja. Melihat Netta kesusahan jalan, rekan-rekan Netta meminta mengajukan cuti hamil lebih awal, tetapi Borneng memilih untuk tetap kerja, karena ia masih merasa mampu.
*
Hari itu pulang kerja, kami mampir ke rumah mami.
Tetapi dalam situasi seperti ini, terkadang mami membuat orang emosi, aku dan Netta memang sudah sepakat kalau ia akan melahirkan secara sesar tetapi mami berpikir lain.
“Nanti … kalian sudah memikirkan rumah sakit tempat melahirkan,” ucap mami.
“Masih terlalu cepat mi, memikirkan itu, nantilah, dokter Netta sudah menyinggung soal itu juga”
“Dia normal, kan”
“Nantilah Mi, kalau aku, tergantung mana yang baik, Netta bilang ingin operasi saja, aku mendukung”
“Kenapa harus operasi, Eva, Arnita semuanya normal dan aku juga normal, rasanya kurang keibuannya kalau operasi,” ujar mami.
Emosiku langsung naik ke ubun-ubun, mendengar ucapan mami, mami selalu membawa pikiran kolotnya.
“Mi … jangan kolot deh, melahirkan normal dan sesar sama saja,” ujar Arnita.
“Gak tau ni si mami kenapa sih selalu ikut campur, itu urusan ito sama eda, menurutku yang penting, bayinya dan ibunya sehat” ucap Kak Eva, merekalah yang selalu team pembela kami.
Papi juga menatap tajam sama mami, mereka tahu kalau aku sudah marah.
“Ya, sudahlah, mami tidak mau ikut campur lagi,” ucapnya setelah melihat wajahku yang mengeras.
Aku tidak pernah membantah ataupun melawan ucapan mami, tapi terkadang ada perasaan kesal juga mendengar omongan mami, terkadang mami itu ... tidak pikir-pikir dulu sebelum bicara.
“Ya, sudahlah, kami pulang dulu, hari jumat inang datang sama Lae,” ucapku mengajak Netta pulang.
Mata mereka semua menyalahkan mami yang membuatku marah, tetapi, percayalah kemarahan ku hanya sebentar saja. Kami pulang.
Saat Netta duduk dan ingin berdiri, milon dengan sigap memberikan punggungnya untuk pegangan Netta, kini doggy jantan itu sudah tumbuh tinggi besar dan selalu lebih agresif menjaga Netta.
Kemanapun Netta pergi milon selalu mengikuti, bahkan ayam peliharaan Netta tidak boleh mendekat, langsung dikejar sampai lari terbirit-birit.
Malam itu saat Netta sedang tidur-tiduran, milon memeluknya dari belakang, bahkan saat aku ingin memeluk ia menyingkirkan tanganku pelan-pelan dengan kakinya. Netta tertawa melihat perhatian hewan berbulu itu, aku yakin mion dan si kembar akan punya hubungan dekat nanti, saat mereka lahir.
Netta selalu menjelaskan pada milon kalau bayi dalam perutnya ada dua perempuan dan laki-laki meminta milon untuk menjaga mereka.
Milon selalu menjawab dengan longlongan kecil dan selalu mengendus-endus perutnya bahkan aku terkadang merasa si milon yang lebih sering mengelus perut Netta.
Wajah terlihat sedih, doggy memang binatang peliharaan yang setia dan pengertian.
“Milon, sini …” Netta memanggilnya lebih dekat. “ Milon mungkin waktu bermain kami berdua, akan berkurang untuk kamu, tetapi kami masih sangat menyaingi kamu,” ujar Netta.
Ia memperlakukan si milon seperti manusia, aku yakin hewan berbulu lebat itu mengerti, ia selalu melihat wajah Netta saat bicara, sini kakimu kamu rasakan tendangan kaki mereka.” Netta mengarahkan kaki si milon ke perutnya, ia menggonggong lagi, ia akan begitu saat merasakan tendangan kaki mereka.
“Sudah sanalah tidur di kasurmu, kami juga mau tidur,” ucapku menunjuk kasurnya Milon tidur di rumah, tetapi ia juga punya akses sendiri kalau ingin melihat keluar bahkan ia binatang yang sangat cerdik dan bersih, ia akan menggunakan kamar mandi untuk buang kotoran, ia juga melap kakinya sebelum masuk ke dalam rumah.
“Bang, apa milon nanti dapat menerima anggota baru di rumah kita?”
“Kenapa?”
“Terkadang aku takut, aku takut dia cemburu”
“Jangan khawatir, aku lihat dari perhatiannya selama ini padamu dia sangat sayang”
“Makanya aku selalu bicara berdua dengannya dan memperkenalkan mereka berdua secara pribadi, cuman, mami mertua meminta si milon dititipkan di tempat penitipan untuk beberapa bulan,” katanya.
“Gak, usah justru itu nanti membuat dia merasa di tinggalkan dan stres”
“Lalu bagaimana dengan Bou”
“Omongan mami jangan semua dimasukkan ke dalam hati, percaya padaku dia akan baik sama si kembar, kalau milon tidak suka sudah dari pertama kamu hamil dia menjauhi kita”
“Terus apa yang kita bilang sama Bou, nanti mama juga akan datang”
“Biarkan saja, jangan bicara apa-apa, nanti biarkan aku yang bicara sama mami, jangan banyak pikiran Dek, kalau kamu ada yang tidak cocok dalam hatimu katakan padaku jangan dipendam, aku tidak mau kamu stres Hasian”
“Baiklah,” ucap Netta.
Aku jadi suami yang siaga untuk Netta, karena ia sudah kesusahan untuk bergerak, kalau ke kamar mandi aku selalu mengawasinya takut jatuh, sebelum kami tidur aku selalu membawa air minum ke kamar, agar ia tidak perlu ke dapur. Karena Netta belum mau memakai asisten rumah tangga, jadi, aku yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari ngepel rumah, masak, kalau untuk menyetrika kami pakai jasa, karena aku tidak tahu bagaimana cara menyetrika pakaian.
Beruntung saat menikah dengan Netta kami berdua sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama, maka saat ia hamil, aku yang mengerjakan semuanya sendiri, aku tidak memperbolehkan si Borneng melakukan pekerjaan rumah.
“Apa kakimu sakit?”
“Suka pegal, kalau sudah malam”
“Sini, biar aku urut.” Saat aku mengurut kaki Netta milon juga mengurut sebelah kaki Netta.
Kami berdua tertawa melihat perhatian hewan berbulu itu, bahkan ia selalu mengerti kalau di suruh.
“Milon, ambil kain lap di dapur, di atas meja makan yang warna merah,” ujarku lagi. Ia berjalan ke dapur dan membawa kain lap berwarna merah .
“Pintar Milon sini, duduk, nanti ibuku akan datang dan iparku, kamu jangan galak-galak ya,” ucap Netta.
Semoga perjalanan ibu mertua dan lae lancar selamat tiba di Jakarta.
Bersambung