Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Selalu Minta Izin suami


Candra  dan Tivani akhirnya sepakat pulang, apapun yang terjadi dengan mereka nanti, aku berharap mereka berdua bisa menyelesaikannya masalah rumah tangga mereka, tidak perlu ada campur tangan orang lain.


Memang tidak enak jika orang Lain tahu tentang masalah rumah tangga kita. Sering  masalahnya yang kecil akan besar jika sudah sampai  ke  telinga orang lain.


Setelah mereka pergi aku baru merasa lega,  saat mereka di rumah kami tante sudah menelepon beberapa kali memastikan Candra tidak kabur, setelah mereka di rumah tante mau kabur mau bertengkar  biarkan saja.


Saat aku lagi belanja, Kak Eva menelepon.


“Ito. Nanti tidak lupa, kan?”


“Lupa apa?”


“Memang eda nggak kasih tahu?”


“Tidak”


“Hari ini, papi ulang tahun”


Aku mengingat, benar hari itu papi ulang tahun, biasanya aku selalu mengucapkan,  atau kami akan mengajak papi makan di luar, tetapi untuk kali ini aku lupa.


“Ya, aku lupa Kak”


“Tidak usah diucapkan, nanti saja sekalian, kasih kejutan sama papi”


“Baiklah, nanti sore pulang kerja kami ke rumah”


Seperti biasa kakak Eva dan Arnita yang selaku punya ide untuk hal-hal seperti itu.


“Siapa Bang?” Memegang dua bag.


“Kak Eva, memang kalian mau bikin rencana apa?” Tanyaku penasaran.


“Eda Eva yang tahu. Tapi aku sudah membeli kado untuk amang boru”


Netta memamerkan  hadiah yang di beli,  alat kesehatan  sebuah bantal alektrik yang bisa dibawa kemana-mana,  bantal yang berbentuk huruf U itu kata Netta bisa memperlancar aliran darah.


Itu  karena papi  belakangan ini mengeluh badannya sering terasa pegal dan tangannya suka terasa kebas.


“Wah …  menantu yang baik  kamu.” Aku memujinya


“Untuk abang juga ada satu, bisa dibawa ke kantor”


“Kamu membeli untuk kami, lalu kamu membeli apa-apa untuk kamu?’ Tanyaku.


“Tidak apa-apa sebagai gantinya  …..”Ia menggantung kalimatnya.


“Apa?”


“Sebagai gantinya … aku kirim uang buat adik-adik di kampung, ya”


“Boleh Dek, itu gaji mu”


“Aku sudah bilang padamu Bang, uangku , uangmu juga dan begitu sebaliknya”


“Baiklah, baik kirim lah”


“Terimakasih Hasian.” Netta tersenyum  gembira.


Netta selalu meminta izin padaku kalau ia mengirim uang ataupun memberikan sesuatu pada laeku dan ibu mertuaku, walau sebenarnya itu gajinya dan bisa saja ia memberikannya dengan diam-diam. Netta tidak melakukannya.


“Kenapa harus memberitahuku kalau kamu ingin mengirim uang, kamu ingin pamer Ya,” ujar ku pura-pura.


“Pamer maho, au dang olo martangan pudi di botoho do … Jonathan Alexsander Situmorang.”


(Pamernya kamu bilang, aku tidak  mau mengasih ke keluarga dengan sembunyi-sembunyi . Tahu kamu Johathan Alexsander Situmorang) ujar Netta  merasa dongkol padaku


Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang lagi kesal.


Memang harus begitulah kalau sudah berkeluarga, tidak perduli itu hasil gaji kamu ataupun tabunganmu, intinya kalau sudah menikah wajib tahu pasanganmu, karena  hal itu rawan sekali jadi biang permasalahan dalam keluarga


Dulu kak Eva juga  seperti itu , ia membantu keluarga kami  dengan uang tabungannya. Suaminya baik tidak mengatakan apa-apa, tetapi hal itu bocor pada ibu mertuanya dan suaminya tidak bisa membela karena ia tidak tahu menahu.


“Lalu kenapa kamu tidak membeli untuk kamu Hasian?’ Tanyaku  mencubit pipinya.


“Bajuku yang kamu beli itu  masih  banyak dan masih muat, mungkin adik-adik di kampung tidak  membeli baju”


 Netta  setiap kali membeli pakaian  ia akan melihat harganya dulu baru ia coba, aku memintanya belanja ia hanya memilih beberapa  potong pakaian untuk di pakai kerja, aku  geram kali melihatnya padahal aku yang bayarin.


Melihat yang selalu irit belanja, aku yang greget sendiri, jadi, aku beli  ia sampai  sepuluh potong pakaian  untuknya, ia  marah padaku saat itu tetapi tetap saja  di pakai.


Netta itu  bukan tipe wanita yang  boros  beli pakaian  baik untuk tas, jadi, setiap kali kami belanja aku yang selalu meminta ia untuk beli.


Tetapi biar irit beli pakaian, ia selalu tampil elegan setiap  kali  berangkat kerja, dari Netta aku banyak sekali belajar, bukan merek yang terkenal yang membuatmu  percaya diri. Tetapi pakaian yang nyaman saat dipakai di tubuh.


 “Abang mau beli apa lagi?”


“Ini sajalah, kamu saja tidak beli apa- apa, masa aku harus belanja lagi”


“Tidak apa-apa Bang, kamu itu direktur dan harus  tampil lebih keren dari anak buah mu,” ujarnya  kata-kata itulah yang selalu ia katakan,  padaku.


“Kamu juga dokter Borneng, bertemu dengan  banyak orang, bagaimana kalau mereka bilang baju yang kamu pakai jelek,” ujar ku memancing.


“Dokter tidak perlu pakaian yang  mahal, perrhiasan dan dandanan juga kadang dihapus juga”


“Aku selalu kalah cerdas  soal hal begituan dari  Netta, jadi  akhirnya mengalah, mungkin hanya Netta  wanita yang punya sifat kayak begitu. Biar juga suaminya yang traktir ia tetap tidak mau ambil banyak-banyak.


“Belilah satu untukmu, masa gak beli apa-apa”


“Ini sudah ada dua.” Mengangkat  kedua bag alat kesehatan itu.


“Katanya, untuk papi dan untukku”


“Sudahlah sama saja. Ayo kita makan saja aku lapar,” ujarnya ia menolak beli pakaian baru lagi.


“Hadeeeh … kamu aneh Dek, tinggal ambil saja apa susahnya, toh juga ada gaji  suamimu yang mempu yang membelanjakannya”


“Aku akan membeli apa yang aku butuhkan Hasian … aku tidak mau boros, sayang uangnya”


                       *


Saat duduk memesan makan, ia   sibuk  dengan layar ponselnya.


“Bang, aku kirim berapa?”


“Terserah Dek”


“Jangan terserah, bilang saja pendapatmu berapa”


“Baiklah kirim saja  sepuluh juta  biar aku transfer dari m bankingku saja” kataku mengirim dari ponselku.


Aku pernah janji sama Netta sebelum kami menikah dulu, kalau aku akan  membantu sekolah adik-adik Netta dan membantu ibu mertuaku, jadi setiap bulan aku mengasih uang bulanan untuk di kirim ke kampung. Jadi yang dikasih Netta  kali ini di luar  yang aku kirim dan Lae Rudi juga selalu tiap bulan ke kampung.


Ia menunjukkan sikap berbakti pada orang tuanya, dan   lae Rudi  juga menunjukkan tanggung jawab sebagai abang.


Ibu Mertuaku  ibu yang beruntung karena anak-anaknya saling membantu.


Walau adik-adik Netta masih banyak, dengan mereka saling membantu semua terasa ringan.


Bersambung....


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA Untuk share ke media sosial kalian, kakak juga bisa mampir ke akun Facebookku


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


Selalu LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain