Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
gagal dapat jatah


Gagal dapat jatah.


Malam itu aku dapat hukuman dari Netta, di usir dari kamar setelah melanggar  kesepakatan, perjanjian itu aku yang memulainya, berharap Netta tidak bertemu teman- teman kuliahnya. Tetapi siapa yang menduga hukuman itu malah berbalik padaku.


Saat ia memintaku tidur di luar, aku masih berusaha membujuknya, berharap ia melunak. Karena penampilan Netta  yang cantik dan sexy malam ini, aku sudah menghayal tinggi sampai ke langit ke tujuh, tetapi tiba-tiba disuruh tidur diluar, itu mengejutkanku, kenapa juga Juna mengajakku saat malam jumat ke rumah mantan, padahal malam jumat itu malam yang paling aku nanti, karena waktunya aku biasanya ganti oli.


Aku masih berdiri di balik pintu kamar Netta setelah ia menutup pintu.


“Hasian, aku hanya menemani si Juna,” bujuk ku sekali lagi.


“Tetapi dia juga mantanmu, kan?”


“Tapi aku putus baik-baik dengannya”


“Mantan tetap mantan Bang, tidak peduli berpisah baik-baik atau perang dunia ketiga dulu”


“Juna yang mengajakku”


“Ya, tetapi wanita itu sama-sama mantan kalian dua kan?”


“Yang minta maaf Juna bukan aku, aku hanya menemaninya,” jawabku lagi”


“Baiklah … begini saja.” Kepala Netta  mendongak dari balik pintu.


“Abang boleh tidur di sofa tetapi …  satu bulan, abang harus puasa,” ujar netta.


Satu malam saja sudah kesal apa lagi satu bulan, tetapi masa ya … aku harus tidur sama si milon di luar.


Hasrat yang sempat naik tadi dan tidak tersalurkan membuatku uring-uringan.


Apa kalian tahu ….?” Jika hasrat tubuh lelaki sudah naik mencapai ubun-ubun tetapi tidak disalurkan, itu akan membuat sakit kepala dan uring-uringan seperti yang aku rasakan saat itu.


Aku duduk si sofa memikirkan dua pilihan sulit tersebut, tiba-tiba Netta keluar dari kamar, aku sudah sempat senang.


‘Pasti dia gak tega memintaku tidur diluar, dan siborneng ini juga pasti ingin di kelonin juga’ ucapku dalam hati.


Tetapi  hanya  berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


“Dek … kepalaku jadi sakit kalau seperti ini,” ujar ku saat ia ingin ke kamar lagi.


“Mau aku ambilin obat sakit kepala?”


“Bukan obat itu … tetapi ini beneran,” ujarku menjepit ular keket di bawahku, ia  mulai menggeliat saat melihat Netta  berdiri di depanku dengan pakaian lingrei  sexy tersebut.


“Ah … abang alasan, bilang saja tidak mau tidur diluar,” ucapnya tidak peka.


“Ini beneran BORNENG! Aku sakit kepala”


“Bang tidur di luar tidak akan membuat sakit kepala, paling masuk angin,” ujarnya polos.


“TAUAH GELAP ….!” Ujar ku kesal menuju  kamar mandi.


Dari pada aku tersiksa karena keinginan tubuhku tidak tersalurkan lebih baik aku tuntaskan di kamar mandi, aku masuk ke kamar mandi berniat menuntaskannya dengan sabun mandi.


Bermain solo pun jadilah dari pada tersiksa sendirian, sudah nasip punya istri polos tidak tahu menahu soal urusan ranjang.


Aku terpaksa mengguyur kepalaku yang panas dengan shower, belum juga mulai. Netta sudah menganggu lagi.


“Bang … ngapain di kamar mandi?”


“Sudah kamu tidur sana melihatmu membuatku tersiksa”


“Baiklah NETTA  …. kamu tidur saja”


“Tapi jangan mandi,  kan, sudah malam, katanya sakit kepala. Jangan marahlah,” ujarnya dengan suara melembut


Hilang rasanya konsentrasi ku untuk menuntaskannya di kamar mandi, ingin rasanya aku gigit sendal lalu guling-gulingan di depan Netta, saking gondoknya, setelah mengeringkan kepala dengan handuk. Aku  mengangkat selimut dan bantal menuju teras dan si Milon.


“Bang!”


“Apa?” Tanyaku kesal.


“Mau tambahan selimut lagi gak?”


“Untuk apa?” Tanyaku mulai dongkol


“Nanti mana  tau ada yang datang ke sana”


“Bodo amat,” jawabku sok berani


“Aku mengeluarkan si milon dari kandangnya membawanya tidur bersamaku di sofa di teras.


“Kamu jangan tidur ya Milon, lu harus jagain tuanmu saat tidur,” ujar ku sama  doggy berwarna coklat tersebut. Emang dasar doggy diajak tidur bersama ia malah masuk lagi ke kandangnya.


“Kamu itu tidak setia, ya! Ku Jagal kau nanti baru tahu rasanya,” ujar ku kesal, aku mengambilnya  dari kandang membawanya tidur  bersamaku di sofa. Karena tidak biasa tidur di sofa ia enggan naik ke atas sofa.


Netta memang mendidiknya tidak naik ke sofa di rumah kami, ia selalu duduk di tempatnya sendiri dan di lantai,  makanya saat aku ajak  tidur di sofa ia selalu turun dan tidur dilantai.


Aku merasa sangat tersiksa saat tidur di luar,  belum angin  malamnya semakin dingin menusuk tulang dan mataku sedikitpun tidak bisa terpejam,. Sumpah demi apapun,  aku tidak akan menemui namanya mantan walau di Juna si Kampret memaksaku menemaninya.


Antara jengkel, marah, takut, keinginan tubuh tidak tersalurkan bercampur aduk jadi satu.


‘Bagaimana kalau ada hantu numpang tidur di sampingku?’ tanyaku dalam hati, aku melirik ke lantai milon setia menemaniku, tetapi kasihan ia tidur di lantai tanpa alas.


“Hei Milom, kamu tidur disini, sini aku peluk, kita pakai satu selimut,” ujarku mengajak binatang berbulu itu bicara terus menerus sampai ia terganggu tidur.


Karena aku sempat marah-marah tadi pada Netta aku jadi malu memohon padanya, saat aku  menutup kepalaku dengan selimut tiba-tiba aku merasa seperti ada seseorang yang melintas.


“Gila ini tidak benar, bodo amatlah. Milon sana tidur di rumahmu,” ujarku ia masuk ke kandangnya dan aku kabur ke dalam rumah.


Aku memilih pilihan kedua saja, urusan nanti biarlah urusan nanti. Aku tidur di sofa di dalam  rumah saja, aku penasaran dengan Netta, saat aku menekan pegangan pintu kamar kami ternyata bu dokter itu benar-benar disiplin dengan sebuah janji, ia mengunci pintu kamar dan membiarkanku di luar.


Biar sudah di dalam rumah tetapi mataku tak kunjung terpejam,  bagian bawahku masih belum redah, melihat Netta sudah tidur aku pergi ke kamar mandi menuntaskan semuanya di kamar mandi, berkat  bantuan sabun mandi, menjelang pagi barulah aku bisa tidur.


Tetapi apa yang aku alami hari ini satu pelajaran untukku, jika  sudah menikah  berpikirlah panjang dalam setiap mengambil tindakan, karena  biasanya penyebab pertengkaran dalam rumah tangga pasti karena orang ketiga.


Aku tahu Netta pasti marah tetapi ia bukan tipe wanita yang suka meledak jika saat marah, ia akan menghukum dengan caranya sendiri, salah satunya seperti saat ini


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA Untuk share ke media sosial kalian, kakak juga bisa mampir ke akun Facebookku


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


Selalu LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain