Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Meninggalkan kost Netta


“Jangan coba-coba untuk menyentuh Netta, kamu berurusan denganku Mikha.” kataku menutup teleponnya.


Netta mengangkat kedua alisnya, menatap dengan tatapan yang susah aku jabarkan.


“Bagaimana Ta, apa kamu mau tinggal bersamaku?,”


aku mencoba memastikan sekali lagi.


“Tapi… hubungan kalian tadi’kan belum pasti,” kata Netta, membuat dadaku semakin serasa sesak.


“Saya sudah beberapa kali menemuinya sebenarnya Ta, ingin menyelesaikan masalah ini, tapi ia tidak mau, aku sudah berusaha, karena itu juga aku butuh dukungan mu, jika kita bersama, saya yakin masalah ini akan berhasil.


Demi apapun, aku berharap Netta percaya padaku kali ini, aku berharap ia mau menerima permintaanku.


“Kita akan pikirkan hal itu nanti, tapi aku ingin pindah dari sini dulu.”


“Ok, baiklah.”


“Aku sudah menyuruh sekretaris ku tadi, untuk mencari rumah yang pas untuk kamu tempati.”


Tidak jauh dari Kampus Netta, aku memang sudah lama mengincar satu rumah untuk kami tempati, tapi karena yang punya rumah tidak mau menjualnya, dan harganya juga selangit, aku menundanya, tepatnya satu bulan lalu, yang punya rumah meneleponku, kalau rumahnya mau di jual.


Marlina mengurus rumahnya, atas nama Netta, aku membelikan ia rumah sebagai hadiahku untuknya.


Niatnya ingin memberikannya saat ulang tahunnya, tapi ulang Tahun kami berdua masih lama.


Terpaksa aku memberikannya sekarang, aku sudah menyuruh orang kantor merenovasi, jadi hunian yang Minimalis dan elegan,


aku melihat Netta suka tanaman, maka di depannya sengaja aku suruh di buat taman jenis kembang.


Rumah itu juga di lengkapi kolam renang minimalis, di samping rumah.


Aku berharap wanita kalem ini menyukai pemberianku kali ini.


Barang miliknya yang kami beresin hanya tiga tempat, buku pakaian dan barang tambahan lainya.


“Kipas baling-baling nya tidak di bawa Ta?”


kataku mengangkat dua alisku di kedipkan padanya.


“Haa..haa itu kipas yang sudah batuk-batuk, itu punya kost bang,”


ia tertawa lepas.


Karena beberapa kali kipas baling –baling itu berputar tersendat-sendat, belum lagi bayangannya bikin pusing sangat mengganggu karena berputar di bawah bayangan sinar lampu dalam kamar.


Netta tertawa lepas, saat aku meledek kipas baling-baling Doraemonnya.


“Tunggu disini Ta, biar aku yang angkatin barang-barangnya,” kataku.


Niatku, ingin sedikit memanjakannya.


“Tidak usah, abang angkat yang enteng saja, biar saya yang bawa dusnya yang berat.”


“Hahaha!


Tidak, kamu mau taro mana wajah suamimu.”


Netta tertawa kecil mendengarnya.


Saat kejadian di gerebek sore tadi, membuat Netta sedikit membuka hatinya padaku, saat aku tidak membiarkan orang-orang yang merendahkannya bebas begitu saja.


Aku memberi pelajaran pada orang yang memfitnahnya dan orang yang menghinanya tadi.


“Tunggu iya bang, biar yang punya kost seperti itu, aku tetap harus izin pada yang punya kost,


sekalian balikin kunci kamarnya,” kata Netta bergegas.


“Harus, iya?”


“Iyalah, kita ini orang yang sudah dididik sopan santun dari kecil, dan harus menghormati yang lebih tua,” kata Netta.


kata-katanya seakan menyindirku, karena aku memang sempat membentak dan mengancam yang punya kost tadi, tapi semua itu karena emosi.


“Baiklah, tapi aku ikut iya?”


“Tapi tidak ada lagi perdebatan, iya!”


Netta memberi peringatan keras.


Netta juga mengingatkanku agar tidak ada lagi pertengkaran, dan sikap menekan, anak yang punya kost, Riski terlihat sangat takut dan malu tadi,


ia beberapa kali memarahi kedua orang tuanya.


“Baiklah saya mengerti,” kataku, padahal dalam hati, ingin rasanya aku memarahi lagi yang punya kost, karena saat Netta dan aku datang tadi, ia sudah izin baik-baik dan di iyakan,


kenapa tiba-tiba ada pengerebekan seperti itu, kalau saja Pak RT nya, sudah bicara baik-baik pada orang yang mendatangi kami, tidak akan ramai seperti tadi.


Hingga tiba di depan pintu rumah yang punya Kost, kebetulan rumahnya menyatu dengan kost,


Lantai dua dan tiga di jadikan kost khusus putri.


“Hei pak masuk-masuk pak, Riski terlihat sangat canggung, tidak Ki, saya nunggu di mobil saja, istri saya yang ingin mengembalikan kunci,” kataku.


Niat tadi ingin ikut masuk, jadi batal melihat dua perempuan barbar itu duduk di rumah pak RT.


Niatnya tadi aku ingin meminta maaf, karena sempat membentak bapak yang punya kost.


Netta juga terlihat tidak berapa lama mengembalikan kuncinya, ia langsung keluar.


“Kok, gak jadi masuk bang?”


“Malas, ada wanita barbar itu di sana, tadinya aku ingin minta maaf pada bapaknya Riski, karyawan di kantorku, maksudku agar ia gak sungkan besok bila masuk kantor.”


“Iya saya juga buru-buru keluar, tadi pak RT nyuruh saya duduk dan bicara baik-baik, tapi saya menolak biarkan ia menanggung sendiri,


biar kapok,”kata Netta ia juga terlihat ikut geram .


“Berarti saya gak salah menuntut dia, iya, kan?” aku menatap Netta.


“Tidak, kedua orang itu memang sombong, saat aku pertama datang bang.


Besok mungkin akan rame di Kampus, dengan adanya kejadian ini,” kata Netta.


“Ayo pergi’ tadi pak RT menyuruhku membujuk abang, malas melakukanya, ia juga mata duitan,” Netta sewot.


Walau suasana sudah malam, tapi masih banyak orang yang menonton, saat mobilku keluar dari rumah kost itu.


“Kamu tidak sedih Ta, meninggalkan kost mu?” kataku bercanda.


“Tidak sih bang, aku sedih saat meninggalkan rumah bou minggu kemarin, aku sedih karena aku merasa gagal jadi seorang menantu yang baik, untuk bou,” kata Netta.


“Bukan salahmu Ta, itu salahku dan salah Mami.”


Menyinggung soal kejadian saat itu membuat suasana jadi kembali canggung, kini hening dalam mobil, kami berdua sibuk dalam pikiran masing-masing.


“Aku lapar, kita makan malam dulu iya.”


Aku memecah keheningan dan kecanggungan dalam mobil.


“Rumahnya masih jauh gak Bang?


Aku sakit perut nih, kita Ke rumah dulu.”


“Tidak sih, tidak jauh dari Kampus, sesuai permintaanmu, rumahnya tidak jauh dari kampus.”


“Kita ke rumah dulu saja iya bang.”


“Ta, waktu itu aku lihat kamu mengajar mata salah satu mata Kuliah di kelas, apa yang terjadi?,” tanyaku penasaran.


“Abang kapan melihatku? Matanya menatapku dengan tatapan kaget .


“Percaya tidak percaya, saya sering mampir ke Kampus kamu Ta,”


“Masa sih, kok gak pernah bilang?”


“Kalau aku bilang kamu juga akan bersikap cuek, kan?”


“Aku menjadi asisten Dosen bang di kampus, aku bantu-bantu Dosen, lumayan buat tambahan,”kata Netta.


Jujur dalam hatiku, melihat kerja kerasnya dan semangatnya untuk menyelesaikan kuliahnya, sebagai suaminya, aku sangat bangga dan ikut terbawa perasaan, melihat kerja kerasnya,


aku kadang malu padanya .


“Terus, boleh aku bertanya lagi?”


“Iya.”


“Malam itu kamu berpenampilan seperti itu dari mana?


Sejak saat itu aku merasa lelaki yang paling bodoh di muka bumi ini, saat aku datang ke kantor administrasi, katanya uang kuliahmu sudah lunas satu tahun,


Apa Itu?”


Aku sudah sangat ingin menanyakan hal itu pada Netta saat itu, tapi setiap kali aku ingin mengungkit, aku merasa takut dan tidak pantas, karena aku suami yang berselingkuh.


Bagaimana aku menasehati pasanganku untuk tetap setia, padahal sendirinya juga berselingkuh.


Tapi apa Netta juga melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan, apa ia menjadi wanita simpanan lelaki berkantong tebal seperti yang di teriakkan wanita bertubuh gemuk tadi?


dari mana ia membayar uang kuliah sebanyak itu?


Ah… aku merasa gerah dan gelisah, AC dalam mobilku padahal menyala, tapi memikirkan hal itu aku merasa kepanasan.


Bersambung...