Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Dia Pergi


Sudah! Sudah malu kita!” kata Papi menatap tajam pada Mami.


Tapi, aku merasa Lutut ku tidak bertenaga lagi, mendengar Netta memilih jalan itu membuatku tidak percaya.


Aku tidak mengira keegoisanku akan merusak rumah tanggaku.


Oh Tuhan aku tidak menginginkan perpisahan ini.


“Netta, ayo inang minta maaflah pada Mertuamu dan perbaiki sikapmu agar masalah cepat selesai,” semua keluarga membujuk Netta agar berbaikan.


Tapi, ia wanita yang keras dan tegas, bahkan tegas pada dirinya sendiri.


“Maaf Bapa Tua, aku tidak bisa, mungkin ini yang terbaik untuk aku, untuk bang Jonathan, untuk bou juga,” kata Netta dengan tenang.


Semua keluarga berusaha, mulai dengan omongan yang berbeda, yang membujuk lembut, sampai yang keras.


Netta tetap pada pilihannya


Ia tidak mau lagi, Netta benar-benar marah, bagaimanapun semua orang tua membujuknya, ia tidak mau, ia tetap pada pendiriannya.


“Baiklah ini sudah terlalu malam, kalian bicarakan pelan dari hati ke hati.


Tulang pulang dululah, sudah malam soalnya.”


Tulang dan keluarga yang lain beres-beres dan izin pamit pulang.


Hingga semua keluarga pulang menyisakan kami.


Kini hanya kami yang duduk di ruang tamu, tidak ada yang menduga kata-kata berpisah dan memisahkan itu akan keluar dari Mami.


Papi terlihat shock dengan ucapan Mami, ia diam, apa lagi saat Netta tidak mau di bujuk untuk berbaikan.


“Terus sekarang Netta maunya bagaimana?” Papi menatapnya dengan tatapan tidak berdaya lagi, aku tau Papi pasti merasa sangat sedih jika kami harus berpisah.


“Aku ingin pergi dari rumah ini malam ini, Amang boru.”


“Apa harus begini?"


Ta, apa tidak bisa di perbaiki, tidak ada dalam sejarah keluarga kita berpisah seperti ini.”


“Iya amang boru, aku minta maaf.”


“Apapun masalahnya, mari kita bicarakan dulu. Aku selaku mertuamu meminta maaf mewakilkan Mami, Ta.”


“Tidak amang Boru, saya juga tidak bisa jadi menantu yang seperti di inginkan Bou, dan belum bisa istri yang baik buat bang Jonathan,” kata Netta.


Aku diam membatu, lidahku terasa kaku, hanya ingin bilang ‘agar jangan pergi’ itupun lidahku kaku,


“Pernikahan kalian baru satu tahun lebih Netta, akan jadi omongan keluarga dan orang lain, bagaimana Ini Tan?


Bagaimana Ini Ta?”


“Mungkin abang Jonathan bisa menjelaskan amang, apa yang sebenarnya terjadi, bou juga tau, dan baru-baru ini bou juga sepertinya bertemu dengannya.”


“Katakan apa sebenarnya yang terjadi.”


“Jonathan masih tetap sama pacarnya sampai sat ini Pi,”


Kata Kak Eva.


“Apa....!


A-pa, bagaimana mungkin, kamu juga seperti itu Tan?”


“Empat hari yang lalu juga bou menemuinya dan mendukung hubungan mereka,” kata Netta.


“Apa!?”


Kami semua terkejut, Mami terlihat panik, aku sendiri terkejut, saat kau ingin menjauh dan ingin memperbaiki kesalahan yang aku perbuat, kenapa Mami malah mendorongku, lebih jauh kedalam lagi.


“Apa maksudnya Mi?”


Papi memegang jantungnya sepertinya ia shock. “Apa yang kalian lakukan semua, Ini sangat mengecewakan, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi, ibu dan anak, kalian sama buruknya,” bentak papi terlihat sangat kecewa.


“Saya sudah bilang Tan, putuskan hubungan kalian sebelum makin menjadi masalah besar, ini, kan akibatnya,” kata Kak Eva marah. “


Terus maksudnya Mami apa menemui Mikha, ia wanita selingkuhan Nathan Mi, itu kesalahan, kenapa malah menemuinya?” Kak Eva mendesak Mami.


Apa Maksudnya Mi, aku sendiri berusaha ingin lepas, aku ingin mengakhirinya kerena satu kesalahan, tapi kenapa Mami malah mendorongku masuk lagi?”


“Bukan seperti itu, awalnya saya ingin memberi Netta pelajaran, menyuruh wanita itu tinggal di rumah ini, agar Netta cemburu.”


Akhirnya Mami mengakui semuanya.


“Mungkin kamu Benar Ta, kamu harus pergi dari rumah ini, ini bukan tempatmu, kamu tidak pantas mendapatkan semua perlakuan buruk ini, aku yakin Tuhan akan mengirim mu keluarga yang baik di luar sana, keluarga yang tidak mendewakan uang , keluarga yang menempatkan kasih di atas segalanya.


Kalau manusia sudah menjadikan uang di atas segalanya susah.


"Ta, maafkan amang borumu ini karena tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin aku meminta maaf pada almarhum Lae( bapak Netta), karena saya tidak bisa menepati janji untuk menjagamu di rumah ini, saya pikir kalau namboru yang jadi mertuamu akan menjagamu, tapi tidak terpikirkan akan seperti ini,” Papi mengusap air matanya.


“Pi, bukan seperti ini, menyelesaikan masalah, saya juga tidak ingin berpisah, tidak ada niat sedikitpun, aku akan memperbaikinya,” Aku berharap tidak ada perpisahan.


“Kamu…!


ia membentak sangat Marah.


“Kamu menikahi boru almarhum tulangmu Jonathan, ingat perjuangan kita untuk pesta kalian, jika berpisah seperti ini kata-kata orang tentang pernikahan yang akan membawa kesialan, akan jadi kenyataan.


kamu juga punya saudara perempuan, bagaimana kalau saudaramu yang di perlakukan seperti ini?


Papi menatap tajam ke arahku.


“Pergilah Ta.


Tenangkan pikiranmu,” kata papi terlihat seperti orang putus asa, beliau berdiri dan meninggalkan kami masih duduk di ruang tamu.


Mami hanya diam tidak bicara lagi,


“Ta, kamu tidak akan pergi, kan?


Keluarga akan malu kalau kamu akan pergi” Kak Eva menatapnya.


“Aku akan pergi kak, aku sudah memutuskannya.”


Netta juga berdiri, ia masuk ke kamar dan membereskan pakaian nya.


Tanganku gemetaran, aku merasakan dadaku terasa sesak dan susah bernafas, aku masih berdiri mematung melihat Netta membereskan pakaiannya, memasukkannya kedalam Koper.


“Jangan pergi Ta, aku minta maaf.”


Akhirnya kata-kata itu lolos juga, dari bibirku.


Ia berbalik badan menarik nafas panjang.


“Aku pergi, untuk memberimu waktu berintrospeksi diri bang, jika abang ingin aku kembali, berjuanglah dan aku ingin lihat apa kamu ingin berkomitmen untuk membangun rumah tangga kita, dan di sisi lain biarkan aku menyembuhkan lukaku.


jika kamu sudah siap datanglah kembali,” ucap Netta dengan tenang tidak ada tangisan, tidak terlihat kesedihan di wajah itu.


Aku yang merasa ketakutan, aku takut tidak melihatnya lagi , aku yang takut kehilangan Netta.


Tapi ia seperti sudah menunggu hari ini, ia tidak terlihat seperti seorang yang bertengkar dengan suaminya.


“Apa kamu tidak memberiku kesempatan?”


“Iya itu kesempatan yang aku berikan, bereskan semua kekacauan yang abang sebabkan.” Netta sudah bersiap untuk pergi.


“Ini sudah malam Ta, tidak bisa kamu besok saja perginya?”


“Hari esok akan punya masalahnya sendiri bang, hari ini, biar di selesaikan untuk hari ini,” kata Netta punya prinsip


Jam sudah bertengger 23:00, aku sebenarnya bukan lelaki yang rajin berdoa, tapi kali ini aku memohon lewat doaku pada Tuhan agar hati Netta di lunakkan.


Tapi sepertinya doaku belum berhasil. Netta sudah menyeret kopernya.


Aku menatapnya, kerongkonganku seakan di penuhi batu dan pasir tidak mampu untuk bicara.


“Aku akan pergi bang, jaga dirimu baik-baik.”


“Biarkan aku mengantarmu?”


“Tidak usah, aku akan panggil taxi,” Netta menarik kopernya turun ke bawah.


Tidak, tidak boleh berakhir seperti ini, aku buru-buru mengangkut kopernya, membantunya turun.


Dibawah tidak ada orang lagi, kak Eva sudah pulang ke rumahnya, Mami dan Papi sudah masuk ke kamarnya.


Saya pikir Netta langsung pergi dengan kemarahan, ternyata ia mengetuk kamar Mami, tapi Mami tidak mau membukanya.


“Bou, aku pergi dulu iya,


jaga kesehatan bou,” kata Netta di depan pintu.


Mami tidak membuka pintu ataupun menyahutnya.


“Amang Boru aku pergi, iya!”


Papi keluar dari kamar, menatap Netta dengan tatapan sangat sedih.


“Hati-hati Netta, membawa Netta ke depan taman, mengobrol agak lama, Netta terlihat hanya mengangguk, aku melihat Papi memberinya amplop, awalnya Netta tidak mau menerima, tapi papi menjelaskan melihat kanan- kiri, takut mami melihatnya akhirnya Netta menerimanya.


Papi sepertinya memberi uang tanpa sepengetahuan Mami.


“Ayo aku akan mengantarmu,” kataku mendekat.


Tapi tidak diduga tatapan papi sinis menatapku.


Beliau salah paham berpikir aku mengantar Netta dengan senang hati.


Ia akhirnya masuk ke dalam mobil dan menurut, aku mengantarkan istriku meninggalkanku, aku mengantarkan istriku meninggalkan rumah.


Siapapun yang melihat akan salah paham, karena aku mengantarnya untuk pisah rumah.


Bersambung