Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Keburukan Mertua Terungkap


“Sekalian Bou, amang boru… aku mau pamit”


Semua terdiam karena kepergian Netta belum ada yang tahu selain aku.


“Aku ingin Ke Jerman, aku dapat kesempatan, terpilih pertukaran mahasiswa KeDokteran antara Indonesia-Jerman.


Hanya orang yang terpilih, dan yang sudah di seleksi yang dapat kesempatan, jadi saya ingin pergi,


saya minta maaf sama Bou, dan bapa uda, tidak memberitahukan kalian sebelumnya, hanya abang Jonathan yang aku kasih tahu ,


doakan aku bapa, uda dan bou, semua yang disini, saat aku kembali nanti ke Indonesia,


aku ingin menjadi seorang Dokter.”


Saat itulah, aku tidak bisa menahan air mataku, Nettaku akhirnya akan pergi.


“Baguslah, pergilah inang, jemput lah cita-citamu, jadilah seorang Dokter yang hebat, agar tidak ada yang merendahkan mu lagi.


Maafkan bapa udamu, karena saya tidak pernah tahu keadaan selama ini, tapi Bapa uda akan mendukungmu pergi kali ini, Biarpun bapa uda harus jual barang-barang bapa uda untuk membantumu.


Junjung ma inang goarni Amongmi, jadi maho anak na hebat, asa unang leas rohani jolma mamereng ko. (Jadilah kebanggaan almarhum bapakmu jadilah Dokter yang hebat, agar orang tidak sepele melihatmu ,”


kata Tulang bekasi, mengusap matanya dengan punggung telapak tangannya.


Tiba-tiba suasana sangat hening . Mendengar nasehat tulang yang dari Bekasi Netta tiba-tiba menangis, Tulang Gres yang di Bogor mendekat memeluk Netta dengan sangat haru.


Hujan air mata terjadi di rumah kami, langit Jakarta seakan tahu rasa sedih di rumah kami, karena sejak tadi pagi hingga siang hari ini, langit mendung.


“Maafkan bapa uda boru, bapa uda tidak pernah tahu kalau kamu mengalami hal buruk selama ini,


karena kamu tidak pernah cerita sama kita, kamu menyimpan semua sendiri,” kata Tulang Gres, memeluk Netta di dadanya, mengusap-usap kepalanya layaknya seorang Bapak pada anak perempuan. Sangat haru,


Pengakuan Netta tentang semua perlakuan Mami selama ini, dan perlakuan Arnita menggemparkan pomparan op Daut Situmorang.


Netta mengungkap semua di depan keluarga, saat Mami meminta uang sinamot, yang di berikan untuk keluarga Netta, Semua menggeleng tidak percaya dengan perlakuan Mami, bahkan Papi ikut kaget, tidak pernah menduga kalau Mami meminta uang yang di berikan pada Mama Netta, saat kami menikah,


Netta orang yang berani, ia berani membongkar semua karena ia merasa ia benar, karena yang di ungkapkan itu semua benar apa adanya, Mami tidak membantah, ia hanya menunduk malu.


“Bah, dang husangka songonon hamu ito.”


Kata Tulang yang dari Bandung, beliau orang yang paling sepuh, yang paling Tua dalam kumpulan keluarga besar kami.


Tulang ini yang jadi Ketua dalam kumpulan arisan ini.


(gak menduga sifatmu begini ito)


“Mangaramotima sahalam abang, salah ma au, minta maaf ma ua, audo nian gattim jadi bapak ni si Netta, ala dang huboto songoni hassitna di taon si Netta selama on, di jabuni na mora on, martangima sahalam bang, mamereng ma si malolongmu tu boru on, ramoti ma ibana, lao na ma ibana tu nadao, mandapothon cita-citana, asa boi sada Dokter na hebat ibana anon, si jujung goarmu,”


kata Tulang yang di Bekasi


(Doakanlah kami abang, minta maaflah aku abang, akulah seharusnya gantimu sebagai bapak untuk Netta, aku tidak tau Netta mengalami hal yang buruk di rumah orang kaya ini, dengarkanlah dan melihat rohmu, jagailah dia, karena ia akan pergi jauh, untuk menggapai cita-citanya, agar ia bisa jadi Dokter yang hebat, yang bisa membawa nama abang).


“Maafkanlah bapa uda juga inang, aku juga ikut merasa sangat sedih , sungguh, aku tidak menduga aku sesedih ini mendengar ceritamu ini Boru, tapi bapa uda yakin, kamu akan sukses menjadi Dokter, rasa sakit dan penderitaan yang kamu rasakan, akan jadi kekuatan untukmu, dan Bapa uda yakin, kamu akan orang akan di berkati kemanapun, kamu melangkah, jadilah anak yang rendah diri dan takut Tuhan, Bapa uda salut, dengan perjuanganmu untuk mencapai cita-citamu, aku bangga sebagai bapa udamu, karena kamu bisa terpilih jadi yang terbaik.”


Kata Tulang yang dari Bandung.


“Pergilah inang. Namboru juga mendukungmu, dari awal juga aku bilang sama almarhum bapa, agar tidak ada perjodohan ini, karena aku tahu bagaimana busuknya kelurga ini,”


kata Tante Candra selalu jadi bomerang.


“Aku juga tahu, bagaimana busuk dan gila kakak sama uang, ia rela menukar kamu dengan wanita murahan itu, karena banyak uang , aku tahu.


Pasti ia menawarkan uang banyak sama kakak, kakak itu gampang di hasut dengan uang, kakak malu kan sekarang?


Ia mengaku hamil, tapi anak orang lain yang di bawa, lebih parah lagi, kamu selalu menuduh netta rusak.


Sekarang lihat!


siapa yang rusak Jonathan kan!


Rasakan karma mu sekarang.


Kamu pikir kamu akan dapat cucu lagi dari Jonathan, tidak akan ada wanita yang menikah dengan Jonathan, hanya Netta yang bisa jadi menantu mu, yang mau menerima kekurangan Jonathan, tapi sekarang itupun kamu usir.”


“Dang boi songoni Ito, kakakmu doi ( Tidak bisa begitu ito kakakmu itu,” semua orang menasehati tante Candra, yang menyumpahi kami, seakan ia puas mendengar penderitaan ku.


Aku mengepal tanganku, ingin rasanya aku melempar piring berisi puding buah itu ke wajah tanteku, teganya ia ngomong seperti itu, padahal Mami juga kakak kandungnya.


“Jangan seperti itu Bou, jangan membawa semuanya, Amang mertuaku, amang boru, orang yang baik,kak Eva wanita hebat dan baik, baik Bang Jonathan orang baik,


bou memang salah bukan berarti semuanya salah Bou’ karena itu aku bilang, kalau bou ingin kami berpisah aku menerimanya, tapi aku tidak ingin berpisah dengan bang Jonathan, aku sudah bilang sama Jonathan aku akan datang kembali, tunggulah aku kita akan kembali bersama, begitu juga dengan Bou


Kertas yang bou paksa aku tanda tangani aku tidak akan menandatanganinya, sekarang semua keputusan ada sama bang Jonathan, apakah ia mau menunggu selama itu, atau apa ia akan mencari yang lain.


Saat aku datang nanti baru kita bicara lagi.”


Kata Netta.


“Ta kamu jangan bodoh, kembali ke keluarga ini lagi,enak bangat dong orang ini, sudah sukses kamu jadi Dokter pasti di terimalah jadi Menantu, waktu susah kamu dihina direndahkan saat jadi Dokter baru di terima jadi menantu.”


“Aku tidak ingin berpisah Bou, apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh pisahkan manusia, aku ingin tetap bersama dengan bang Jonathan, itu keinginan saya.”


“Bodoh kamu! ia tidak bisa punya anak, apa yang kamu harapkan.”


“Bou, bang Jonathan masih bisa di obati.” kata Netta dengan yakin,


Aku sangat beruntung dalam keadaan seperti ini, Netta berani membela kami, ia berani mengutarakan kalau itu salah, ia juga berani mengatakan kalau itu benar. Itulah Netta Ku


Barsambung....